Broken Mind Eric's Diary

Broken Mind Eric's Diary
November Rain



Eric Sohn


Mereka mengenalku dengan nama itu, tapi seseorang memanggilku berbeda lalu menyita perhatianku.


Seseorang itu menjadi satu-satunya orang yang bisa membuatku tertawa lepas, membuatku lupa akan rasa kesepian dari seorang anak blasteran, yang tinggal berjauhan dengan kedua orang tuanya.


Hoonie~


Begitu aku memanggilnya. Entah kenapa rasanya ingin sekali menunjukkan sisi manjaku padanya. Itu karena dia selalu membuatku nyaman dan hangat saat di dekatnya.


Aku punya seorang kakak laki-laki yang usianya sangat jauh dariku, itu membuat hubungan kami tak seperti saudara pada umumnya.


Tapi ketika bertemu Hoonie, rasanya aku menjadi seorang adik yang sesungguhnya.


Dia juga punya kembaran, namun sudah dipanggil sang Pencipta beberapa tahun lalu. Hoonie bilang, aku sangat mirip dengan mendiang kembarnya itu, mungkin itu salah satu alasan dia memperlakukan ku seperti adiknya.


"Kamu harus jadi temanku! Namaku Younghoon."


Kalimat pertama yang dia ucapkan, saat pertama kami bertemu. Itu saat aku menjadi murid baru di kelasnya, sungguh kenangan yang tak bisa dilupakan.


Tak disangka, kami jadi sedekat ini setelah kalimat ajaib itu keluar dari mulutnya. Bahkan bukan hanya sekedar menjadi temannya. Aku juga masuk ke dalam circle persahabatannya dengan Hyunjae dan Juyeon si berandalan.


Awalnya mereka tak mau menerimaku berada di sisi Hoonie, namun dia tak pernah menyerah dan selalu menyertakanku kemanapun mereka pergi.


Aku ingat, suatu hari tak ikut mereka ke tempat karaoke untuk merayakan hari ulang tahun Juyeon. Tiba-tiba Hyunjae datang ke rumahku dan mengajakku pergi, padahal dulu dia yang paling badmood saat aku menempel pada Hoonie.


Tapi sekarang berbeda, kami sangat dekat. Saking dekatnya kami berani membongkar rahasia masing-masing tanpa merasa canggung sedikitpun, tentu saja itu semua berkat usaha Hoonie, agar teman-temannya terbiasa dan menerimaku.


Lama kelamaan, hubungan pertemanan kami yang didasarkan saling percaya kini menjadi persahabatan yang luar biasa. Bahkan sudah seperti keluarga cemara.


Kami saling menegur ketika salah satu membuat masalah, tentu saja kata-kata kasar dan makian selalu jadi bumbu penyedap. Namun beberapa jam kemudian, naruli kami yang bah seperti keluarga ini kembali akur seolah tak pernah terjadi apapun.


Di antara mereka, tentu saja aku lebih dekat dengan Hoonie. Kami hampir tidak pernah cek-cok satu sama lain, walaupun aku pernah menyakiti hatinya dengan mulut biadab ku ini. Hoonie tetap memaafkanku, dengan senyum manis yang menenggelamkan matanya.


Semua yang kuceritakan di atas adalah salah satu memori yang tertinggal di benakku, bahkan takan bisa kulupakan untuk seumur hidupku.


Kini kami tinggal bertiga saja di bulan november ini. Aku, Juyeon dan Hyunjae.


Kisah empat sekawan yang pernah kami tulis bersama telah berakhir. Roda kehidupan manusia yang kami gambarkan kini goyah dan tak seimbang, karena salah satu rodanya sudah berhenti berputar. Dan laju kehidupan kami pun melambat.


Kemana Younghoon?


Pertanyaan itu seolah menjadi senjata tajam yang menusuk hingga ke jantung. Luka yang perlahan mengering kembali terbuka hanya karena seseorang menyebut namanya.


Salah satu diantara kami bertiga, tak ada yang bisa menjawab pertanyaan itu. Bukan tidak mau, tapi untuk sekedar membuka mulut saja rasanya berat dan begitu menyesakkan dada.


Kami lelah menangis, karena mengingatnya tidak akan pernah ada habisnya. Bahkan aku sempat tak sadarkan diri saking terhanyut saat menyelami kenangan tentangnya.


"Eric, tenanglah!"


Seruan Juyeon dan Hyunjae samar-samar terdengar, saat aku menangis sejadi-jadinya. Pada akhirnya mereka mengerti, kalau kepergian Younghoon begitu membuatku trauma.


Cukup simpan Younghoon dan segala kenangan tentangnya, di dalam hati.


Awalnya kupikir semua akan berjalan lancar seperti sebelumnya, tapi ini terlalu berat untuk ku. Untuk tersenyum saja, rasanya tak pantas kulakukan.


Luka ini terlalu dalam kawan.


.


.


...----------------...