
Hoonie~
Selamat tahun baru.
Maaf... aku tidak bisa setiap hari menulis di buku harian ini. Tapi rasanya ada yang kurang, jika satu hari saja aku tak membagi kisahku padamu.
Aku akan berusaha menulis, selama aku masih bisa mengingat hari-hari yang telah berlalu.
Taehyung Hyung bilang... Meski tidak mungkin, tapi dia sangat ingin menemukanmu dari diri orang lain, aku juga berpikiran sama karena setiap orang memiliki raungan yang berbeda.
Jangan tersinggung, kami mengatakannya karena sangat merindukanmu. Bukan untuk mencari penggantimu.
Tapi beberapa jam sebelum tahun baru, aku menemukannya. Seseorang yang memiliki raungan yang sama denganmu. Secara fisik berbeda tapi deruan nafasnya sama. Siapa lagi kalau bukan Haru.
Walaupun kami bertukar cerita untuk pertama kalinya, aku merasakan kenyamanan yang berbeda saat berada di dekatnya. Tapi entah kenapa itu malah membuatku takut.
Pada akhirnya aku, Hyunjae dan Juyeon menghabiskan malam tahun baru bersamanya.
Keesokan paginya aku bangun sendirian di tempat tidur, dan kupikir itu semua hanya mimpi. Tapi dia kembali sambil membuka tirai dan mengucapkan selamat pagi.
"Selamat pagi Eric."
Aku hanya bisa memperkuat kelopak mataku agar tertutup. Sinar matahari pagi yang masuk dari jendela kamar, begitu menyilaukan mata.
Haru menarik-narik selimut ku, berniat untuk membangunkanku. Tapi aku terlalu malas menyambut hari ini.
"Biarkan aku di tempat tidur lebih lama lagi!"
Tanpa sengaja aku merengek padanya, seketika aku bangun dan duduk. Di hadapanku, Haru sedang berdiri membelakangi lalu memakai hoodie warna birel miliknya.
"Kau mau pulang?"
"Ya, aku harus bekerja."
Dia menjawab tanpa memperlihatkan wajahnya padaku.
"Kerja? Jadi kau kuliah, mengambil kelas karyawan seperti Hyunjae?"
Mendengar pertanyaan ku itu, akhirnya Haru berbalik dan memperlihatkan wajahnya yang begitu fresh. ditambah dengan penampilannya yang rapi. Membuat mata ngantukku seketika menjadi segar, sepertinya aku tidak perlu mencuci muka lagi. Haha.
"Tentu saja kelas reguler. Aku hanya bekerja di waktu luang saja."
"Apa pekerjaanmu?"
Semua tahu, kalau aku bukan tipe orang yang selalu ingin tahu urusan orang lain. Tapi anehnya, jika itu tentang Haru rasanya aku mulai penasaran, dan ingin mengorek kehidupannya.
"Bisa dibilang aku ini supir. Tapi aku hanya mengantar dan menjemput orang-orang tertentu, lalu mendapat bayaran di akhir bulan."
"Abodemen?"
Haru mengangguk saat aku menebak pekerjaannya. Jujur aku sangat salut pada mahasiswa seperti dirinya dan juga Hyunjae. Mata kuliah saja sudah membuat pusing dan sibuk, ditambah harus bekerja pasti rasanya sangat melelahkan.
"Kapan kau selesai?"
"Kenapa? Kau sudah mulai merindukan ku?"
"Cih!"
Bukannya menjawab, dia malah membuatku kesal. Aku yakin Haru pasti tahu kalau aku begitu penasaran, jadi dia mengerjai ku lagi.
Kami keluar dari kamar hampir bersamaan. Saat itu wangi masakan mulai menyeruak, masuk ke dalam hidungku. Masakan siapa lagi, kalau bukan buatan kak Jihye.
"Anak-anak waktunya sarapan!"
Teriaknya dari arah meja makan di lantai satu.
Aku pikir semua akan berkumpul di sana untuk sarapan, tapi saat aku keluar dari kamar mandi Haru sudah pergi. Aku kecewa, karena dia pergi tanpa pamit padaku.
Kalau dipikirkan kembali, kenapa aku harus merasa kecewa, iya kan Hoonie. Kami juga baru kenal belum 24 jam.
Selesai sarapan, Juyeon harus pulang karena ditelpon oleh keluarganya yang datang dari luar kota. Satu jam kemudian, Hyunjae juga ikut pergi karena harus bekerja.
Haaah... lagi-lagi aku sendirian.
Kak Jihye mungkin menangkap ekspresi wajahku yang tertekuk, beliau lalu duduk di sampingku.
"Orang yang bernama Haru itu, kau menyukainya?"
Pertanyaan kak Jihye sudah bisa ku perkirakan, aku hanya mengangguk untuk menjawabnya.
"Baguslah. Aku harap kalian bisa berteman dengan baik."
Aku masih saja menekuk wajahku karena merasa bosan. Kak Jihye juga pasti akan kembali ke rumahnya setelah membereskan rumah ini.
Sebisa mungkin, aku harus menahannya lebih lama.
"Menurut kakak, Haru orang yang seperti apa? Aku dengar dia dan Hoonie berteman saat masih kecil. Kak Jihye bisa memberitahuku?"
"Ya benar. Dulu dia adalah anak yang penuh semangat, rajin dan juga tepat waktu."
"Hanya itu?"
Ekspresi kak Jihye tiba-tiba berubah, beliau memukul kepalaku dengan sendok yang sedang dia rapikan.
"Kuatkan dirimu. Jangan sampai kau menyukai Haru dari sudut pandang yang berbeda!"
Kak Jihye memberiku teori yang panjaaaang lebar. Dia pikir aku akan menyukai Haru, seperti aku menyukaimu. Aku sempat khawatir, tapi itu tidak akan pernah terjadi.
Tenang saja Hoonie, aku ini setia padamu.
.
.
...----------------...