
Seorang pria besar tergeletak di lantai dengan darah yang menyelimuti dirinya.
Acasha datang di saat yang tepat dan berhasil membunuh pria besar itu, disisi lain, Rana hanya bisa terdiam, dia menerima terlalu banyak serangan dan luka.
"Hey... Hey gadis manis... Sadarlah..."
Rana hanya melihat ke arah Acasha tanpa mengucapkan satu kata pun. Tanpa pikir panjang Acasha membotong tubuh Rana dan keluar dari jendela kamar.
Disaat yang sama, sekelompok prajurit datang memasuki kamar itu.. Tepat disaat Acasha keluar dari jendela.
Melihat para Prajurit itu sedang memeriksa jasad pria besar tadi, Acasha langsung melompat keluar dari kamar itu dan jatuh di tumpukan jerami.
"Heyy.. Rana.. Bertahan sebentar oke?.. Kita akan sampai di rumah dan kau akan beristirahat."
Acasha berlari dengan tubuh rana berada di pundak nya.
Disisi lain, Evie dan Oris sedang berhadapan dengan sesosok penyihir tua yang sangat kuat.
Oria dan Evie tidak mampu menandingi penyihir tua itu.
"Hey Oris, apa apaan dia ini."
"Dia sangat kuat, kita tidak bisa menghadapinya, tapi kita juga tidak bisa kabur, sialan."
Pria tua itu berjalan perlahan ke arah Oris dan Evie dengan memegang sebuah buku di tangannya.
Pria tua itu kembali melayangkan serangan serangan nya.
BRAAKKK...
Serangan bola bola itu mengenai berbagai tempat di ruangan ini, "Pria tua sialan" Teriak Oris sembari berlari menyerang penyihir itu.
Oris berlari ke arah penyihir itu, dengan sebuah pistol di tangan nya, Oris mulai menembaki penyihir itu dengan sangat kesal.
DOORRRR.....
DOORRRR....
Peluru itu melesat dengan sangat cepat, Oris kembali menembaki penyihir tua itu dengan cekatan.
Namun semua usahanya sia sia, Penyihir itu dengan mudah membelokan peluru peluru yang menyerang nya.
"Ekhemm.. Sudah selesai??.. Sekarang giliran diriku hahaha.. "
Teriak penyihir itu dengan lantang nya.
Penyihir itu membuka buku yang ada di tangannya.
"Ahhh.. Sial, pria tua itu mulai menyebutkan hal hal aneh" ucap Evie.
Penyihir itu terus mengucapkan mantra mantra nya, menandakan serangan nya akan segera dimulai.
Oris tentu tidak tinggal diam, dia melepas pistol di tangan nya dan berniat memukul sang Penyihir.
"Hiaaaattt.. " teriak Oria dengan kencang nya.
Oris hampir mendaratkan tinju nya di wajah sang Penyihir itu namun dirinya tertahan oleh sesuatu.
Sebuah akar pohon melilit kakinya," Apa apaan ini." Oris tidak dapat beranjak dari tempat itu, akar akar ini terlalu kuat.
Disaat yang sama, Penyihir tua mendekati Oris dengan senyum di wajahnya.
"Bagaimana ketua pasukan terkuat mesir berada disini?" tanya Penyihir dengan nada tertawa, Oris ingin melayangkan tinju nya kepada Penyihir tua itu, namun akar akar itu menahan tubuhnya.
"Darimana kau tahu tentang diriku, baj*ngan tua." penyihir itu hanya tertawa saat mendengar Oris.
Disisi lain, Evie mengendap endap di antara runtuhan bangunan, berniat memberi serangan kejutan, namun niatnya hilang setelah si Penyihir mulai bicara.
"kau pikir dengan topeng baja itu kau bisa menyembunyikan identitas dirimu? Aku telah mengetahui nya, kalian adalah penyebab hancur nya keluarga besar itu." ucap penyihir
"Apa??.. Penyebab kehancuran keluarga besar?
Evie yang berada di belakang penyihir itu kebingungan dengan kata katanya.
Penyihir itu menatap wajah Oris dengan teliti, seakan akan dia mengenal pria yang merupakan panglima pasukan itu.
Setelah lama menunggu dan penyihir tua itu sedang sibuk dengan Oris, Evie memutuskan untuk menyerang nya dari belakang.
Evie dengan sigap mengambil ancang².
"Okeh.. Okeh.. Aku siap, aku siap" setelah yakin dengan niatnya, Evie langsung berlari ke arah penyihir itu.
Evie melompat dan melayangkan tendangan nya ke arah wajah penyihir tua itu.
BRAKKK...
Tendangan Evie mengenai wajah penyihir itu dan membuat terpental ke ujung ruangan bersamaan dengan buku yang dia pegang.
"Waaww..apakah aku benar benar sekuat ini? Hehehe.. Sepertinya aku mulai suka dengan pria ini."
Melihat penyihir itu jatuh, Evie kemudian memotong akar akar yang tengah menjerat Oris.
"Terimakasih, sekarang kita pergi dari sini."
Ucap oris
Saat sedang beranjak keluar dari tempat itu, sebuah serangan bola energi melesat ke arah mereka.
Oria dengan cepat memegang tubuh Evie dan menjadikan tubuh nya sebagai perisai untuk menangkis serangan bola energi itu.
Wushh..
Bola energi itu memantul ke arah lain saat mengenai perisai yang tengah berada di tubuh Evie.
"Seperti dugaanku, ayo Kyros, kita pergi."
"Bisa bisanya kau menjadikan diriku sebagai tameng, dimana jiwa kemanusiaan mu hahh.."
"Ayolah, kita bahas itu nanti, sekarang ayo pergi." Oris dan Evie kemudian pergi dari ruangan itu, meninggalkan sang penyihir yang sedang terkapar akibat serangan Evie.
Safe House
Acasha tengah mengobati kuka Rana akibat serangan tadi, Rana yang kini masih belum sadar dengan luka luka yang masih berada di tubuhnya. "Ayolah Rana, jangan buat kami cemas."
KREEKKKK...
Suara pintu terbuka, Evie dan Oris sudah sampai di safe house.
"Jadi Oris, apa itu tadi, bagaimana jika perisai nya tidak memantulkan serangan nya??"
Oris hanya tertawa kecil mendengar ocehan Evie.
" Acasha, semua berjalan lancar?" tanya Oris.
"Semua baik baik saja, meskipun ada skenario yang tidak ingin aku lihat." Acasha pun menceritakan semua kejadian tadi.
Disisi lain, Evie masih memikirkan tentang ucapan penyihir tua tadi. "Apa maksud pria itu, dia bilang tentang kehancuran keluarga besar."
Namun Evie tidak memikirkan hal itu dan memilih beristirahat sambil mendengar cerita Acasha.
2025 - Atma Corporation
Dua orang gadis tengah berjalan melewati lorong lorong laboratorium, mereka adalah Ashley dan Rebecca.
"Apa kamu yakin ini waktunya? Apakah akan terlalu berbahaya mengeluarkan Evie dari MEMORIES?" tanya Rebecca
"Aku belum yakin, tapi kita sangat perlu informasi yang lebih banyak tentang bungker itu, dan semoga saja Evie sudah mendapatkan nya."
"Terakhir kali kita mengeluarkan nya dari MEMORIES tidak berlangsung lancar, Evie hampir kehilangan nyawa nya."
Ashley dan Rebecca sampai di sebuah ruangan dan memasukki nya. Didalam terlihat berbagai mesin dan tabung tabung besar.
Rebecca memandangi tabung tabung besar itu dengan tatapan matanya, diikuti oleh Ashley disamping nya.
"Ada saatnya kita akan menggunakan mereka, tidak sekarang, tapi suatu hari nanti kita berdua akan memakainya, mereka sudah mulai menyadari kehadiran kita di dunia itu." ucap Rebecca
"Kau benar, ini tidak sesuai rencana, mereka pasti akan menemukan Evie disana, itu pasti. Mereka satu langkah didepan kita, dan Atma Corporation hanya mempunyai satu harapan, Evie Crane."
Ashley berjalan keluar dari ruangan itu, meninggalkan Rebecca yang masih memandangi tabung tabung besar disana.