
34 SM (Sebelum Masehi).
Mesir kini dikuasai oleh seorang ratu yg bernama Cleopatra, setelah insiden pembantaian Ptolemi XIII dan para pasukannya, membuat Ishaq menjadi orang kepercayaan Cleopatra serta tangan kanan nya dan sering melaksanakan tugas tugas Cleopatra.
Kerja sama antara Cleopatra dan Ishaq berhasil membuat kerajaan mesir kembali berjaya, mereka kini ditakuti dan disegani oleh kerajaan kerajaan lain.
Namun dengan kekuasaan itu justru menjadi awal mula sebuah konflik besar.
Yulius Kaisar yang sudah membantu Cleopatra dalam ambisi nya untuk menguasai mesir, kini justru ingin lebih berkuasa dan bebas bergerak dalam peta kekuasaan nya.
Cleopatra yang sudah berhasil menjadi sosok paling dipuja oleh masyarakat mesir kini mulai membuat peraturan peraturan yang hanya menguntungkan dirinya.
Peraturan itu antara lain seperti menjadikan dirinya sebagai Ratu seumur hidup, keuntungan dagang yang ia dapatkan sebesar 80%, dan memberikan pajak yang sangat tinggi untuk rakyat nya.
Peraturan itu jelas membuat Yulius Kaisar yang sudah membantu Cleopatra dalam ambisi nya untuk menguasai mesir mulai merasa tidak dianggap sebagai pendamping nya, karena semua peraturan itu diusulkan tanpa melibatkan Yulius Kaisar.
"Apa apaan ini.....kenapa dia yang semakin berkuasa, padahal aku yang telah membuat nya duduk di kerajaan itu."
Perancis - kota piana
Acasha dan Rana kini tengah menjalani tugas mereka.
Acasha bergelantung di sebuah menara penjaga, berniat untuk menyusup dan mencari informasi tentang Crown of life.
Acasha memegang pisau di tangannya dan juga sebikah pisau di mulut nya dan berniat membunuh salah satu penjaga di menara itu.
Perlahan ia turun dengan tali tali yang terikat di tubuh nya.
Srakkk....
Acasha menebas bagian belakang leher penjaga itu dan dengan sigap Acasha menangkap badan penjaga itu dan menyembunyikan nya tubuh nya kedalam sebuah tumpukan jerami di atas menara.
Tidak lama Rana kemudian turun dari atas menara.
"Baiklah satu selesai, sekarang bagaimana?"
Tanya Acasha
"menurut Oris, artefak itu berada di dalam castil ini, tepatnya di dalam kamar siege sialan itu."
"Maksudmu Thomas. Ini akan sedikit sulit, kamar itu dijaga oleh para Prajurit nya, dan mereka memakai senapan, bukan pedang."
Seru Acasha
Rana kemudian mencari jalan, mencoba agar mereka tidak terlihat dari para penjaga.
"Bingo. Aku menemukan nya. Kita bisa melewati atap kamarnya." ucap Rana
"Masuk lewat atap nya dan kita akan membuat kebisingan yg akhirnya kita justru dikepung dari luar. Cerdas sekali." Acasha membalas
"Kita alihkan perhatian mereka dulu Acasha, kali ini pakai otakmu cantik."
"Oh ya hehe..... Aku tidak bisa berfikir disaat seperti ini."
Acasha mengambil sebilah pisau dari belakang punggungnya, sedangkan Rana perlahan berjalan menuju atap kamar siege Thomas.
"Hmm.... Aha, ketemu." Acasha melihat tumpukan tong yang tersusun dibawah bangunan.
Acasha melepaskan anak panahnya dan membuat tumpukan tong itu terjatuh.
Sontak para penjaga berlarian, mengecek ke bagian bawah castil.
Rana terlihat mengacungkan jari jempol nya.
Rana perlahan masuk ke dalam kamar siege Thomas. Ia perlahan mengendap endap melalui jendela kamar dan berhasil masuk.
Rana melihat sesosok pria dengan badan besar dan dipenuhi tato disekujur tubuhnya.
"Tunggu... Apa..... Ini bukan siege nya kan? Apa apaan dengan tato itu dia bisa memanggil dirinya siege."
Rana perlahan mendekati pria besar itu dengan sebilah pisau ditangan nya, pria besar itu terlihat tidak menyadari kehadiran Rana dibelakang nya yang sudah siap untuk menikam dirinya. Tidak. Dia sudah mengetahuinya.
Sebuah palu mendarat tepat di kepala Rana dan membuatnya terpental cukup jauh. Pria besar itu sudah menyadari kehadiran Rana sejak tadi dan menunggu waktu yang tepat untuk menghajarnya.
"Wanita bodoh, kau pikir aku tidak akan curiga saat para penjaga itu turun kebawah hah?"
Bentak pria besar itu
"Aarghhh... Sialan, it..... Itu tepat mendarat di kepalaku."
Rana mencoba berdiri, berniat melawan pria besar itu dengan kondisi kepalanya yang mengeluarkan darah.
"Wanita j*lang ini kuat juga ternyata, baiklah jika itu keinginan mu, padahal aku ingin membuat dirimu sebagai boneka pemuas, tapi apa boleh buat, kau akan mati disini!"
Rana berlari ke arah pria didepan nya, ia mengeluarkan sebilah pisau dari balik punggung nya... Wushh..... Rana melompat ke arah pria itu, pria besar itu dengan mudah menghindari serangan Rana dengan melompat ke sisi kiri.
Pisau milik Rana akhirnya mengenai lantai kamar dan sontak membuat pisau nya patah. Melihat hal itu pria besar tadi langsung mengayunkan palu nya ke arah rana....
BUAKK...
Serangan palu itu kini mengenai bagian perut dari Rana, tidak cukup sampai disitu, pria itu memegang leher Rana dan melempar nya ke dinding ruangan yang sontak membuat kaca kamar itu pecah dan menarik perhatian para penjaga yang berada di bawah kastil.
Acasha yang juga mendengar hal itu langsung melihat keadaan, betapa kaget nya dia saat melihat Rana yang tengah terpojok oleh seseorang pria besar itu.
Acasha langsung menuju kamar siege dengan melompati bangunan bangunan kastil.
"Bagaimana?..... Apa kau masih hidup?.... Ahh kau masih hidup rupanya." pria besar itu mengankat palu dengan kedua tangannya "WANITA SEPERTI DIRIMU TIDAK AKAN BISA MEMBUNUHKU SIALAN!" bentak pria besar itu.
Dia kemudian mengayunkan palu ke arah kepala Rana yang tengah terbaring lemas.
BRUAKKK.....
"Hey Oris, apa yang kita lakukan disini?"
Tanya Evie
"Ini tugas kita, Acasha dan Rana sedang mencari informasi tentang seorang siege di kastil utama, kita ditugaskan untuk menyusup kedalam pertemuan para petinggi Perancis sekarang." jawab Oris
Oris kemudian memberikan Evie sebuah jubah berwarna putih polos dan sebuah buku besar.
"Hey.. Apa ini, ini terlihat menyeramkam."
"Ini jubah para pendeta, mereka juga hadir di pertemuan ini dan akan melakukan ritual didalam sana, dan buku itu... Itu hanya buku kosong Kyros, kau tidak perlu membuka nya."
"Sialan... Aku masih tidak suka berada didalam raga lelaki ini, nama diriku itu sudah bagus Evie, jauh lebih baik dari Kyros atau apapun itu."
Seru Evie dalam hati.
Evie dan Oris memakai jubah dan berjalan menuju sebuah gereja besar di dekat pelabuhan.
Terlihat banyak sekali penjaga dan prajurit yang bersiaga, beberapa prajurit berjaga di atas atap sembari memegang senjata laras panjang, dan sebagainya lagi bersenjatakan pedang besar.
"Ini pasti pertemuan yang sangat penting." ucap Evie dalam hati. Saat mereka berdua tiba di depan gerbang, para prajurit langsung membuka pintu, tanda penyamaran kami berhasil.
"Lihat?... Mereka dilarang untuk memegang seorang pendeta, itu sebabnya ini adalah cara paling mudah untuk masuk kesini.
Setelah mereka berdua masuk, mereka langsung bergabung dengan kelompok pendeta lainnya agar tidak terlihat mencurigakan.
Saat mereka bergabung sekelompok orang keluar dari balik panggung, saat mereka keluar semua tamu yang ada didalam ruangan seketika berdiri seakan memberi hormat. Tidak lama seseorang dengan baju besi lengkap dan terlihat keluar dari panggung. Oris yang melihatnya seketika terdiam, tatapan matanya tertuju pada orang itu.
"Tunggu... Dia sepertinya tidak asing... Itu... Itu.. Tidak mungkin itu dia, dia seharusnya sudah tewas dalam insiden itu." seru Oris dengan nada rendah.
"Insiden?... Insiden apa dan siapa dia?"
Tanya Evie dalam hati.
"Apa.... Apakah dia benar benar...dia itu........
Yulius Kaisar?... " seru Oris dengan nada rendah dan tangan yang gemetar.