
Atma Corp
Beberapa pria dengan pakaian jas hitam berjalan menelusuri lorong lorong ruangan, ditemani oleh beberapa personel tentara bersenjata lengkap dibelakang nya.
Ruangan demi ruangan dilalui nya, suara decitan sepatu mereka membuat suasana sekitar semakin senyap.
Di malam ini, entah apa yang akan mereka lakukan, para pria itu hanya berjalan melewati para ilmuwan dan pekerja dengan percaya diri, hingga sampailah mereka di ujung ruangan.
Pintu perlahan terbuka dan berdiri dua wanita dengan pakaian putih yang sudah menunggu kedatangan mereka.
"Jadi ini dia." ucap salah satu pria tadi dengan wajah menoleh kepada sebuah tabung raksasa dengan wanita didalamnya, wanita itu adalah Evie.
"Sudah dimana perkembangan gadis cantik ini?" tanya pria itu dengan nada perlahan, kemudian Ashley memberikan sebuah papan dengan beberapa kertas didalamnya.
"Jadi, kau sudah tahu siapa kandidat selanjutnya, kalian berdua tahu kita tidak bisa hanya berharap kepada gadis cantik itu bukan."
"Iya tuan, Saya dan Rebecca sudah mendapatkan orang nya." seru Ashley
Perpustakaan Kota
Terlihat seorang wanita dengan seragam berwarna coklat tengah merapikan buku, dengan tangannya dia menaruh buku buku itu di rak di depannya.
Dia adalah Aya, namanya adalah Aya Afisha, Aya adalah penjaga perpustakaan kota sekaligus teman dari Evie.
"Huft... Mana masih banyak banget bukunya, Evie juga kemana sih, di chat di telepon tapi engga di angkat, kan aku jadi repot kerja sendirian." gumam nya.
Aya kemudian kembali menuju pos jaga nya, disaat itu juga seseorang dengan perawakan besar terlihat mencari sesuatu.
"Oh hay kamu, apa kamu tahu dimana penjaga perpustakaan ini?" tanya pria itu dengan wajah penuh penasaran.
"Saya sendiri, maaf tapi ada perlu apa ya?"
Balas Aya dengan bingun.
Pria itu kemudian memperkenalkan namanya kepada Aya dan menawarkan sesuatu.
"Ini kartu nama saya, saya adalah anggota dari perusahaan teknologi Atma Corporation. Simpan ini baik baik, saya akan menghubungi anda beberapa jam kedepan."
Aya yang kebingungan kemudian menanyakan maksud dari perbuatan pria itu, "mohon maaf, tapi saya tidak bisa melakukan nya. Kita bahkan tidak pernah bertemu."
Tanpa memalingkan wajahnya dan sambil berjalan perlahan, pria itu berbicara, "Saya bukan orang jahat, cukup jawab telepon nanti dan anda akan paham." ucap pria itu kemudian pergi dalam sesaat.
Aya yang masih heran kemudian melanjutkan pekerjaan nya, "Hari ini aneh, kenapa seorang dari Atma memberikan kartu namanya? Udahlah, dari pada memikirkan dia, lebih baik lanjut kerja."
Prancis - Kota Piana
34 SM (Sebelum Masehi)
BRUAKKK...
Seorang pria melempar sebuah botol wine ke lantai dengan keras.
"Sialan, operasi kita terungkap, kini mereka tahu keberadaan kita di kota ini." ucap Six dengan nada tinggi.
Evie kemudian mengambil Shield Of Life yang ia dapatkan disaat pertempuran terakhir. "Tetapi kita berhasil merebut satu Stone Of Life nya, aku tahu ini bukan artefak yang Mandisa inginkan, tetapi seditidaknya kita mempunyai salah satu artefak itu."
"Lalu, apa yang akan kita perbuat sekarang, kita tidak akan bisa masuk kedalam pemerintahan, itu jelas." tanya Rana
Seisi ruangan seakan senyap, Evie dan yang lain tengah memikirkan jalan agar rencana mereka tetap berjalan. Kini mereka tidak bisa bergerak bebas, pemerintah Prancis tentu akan melabeli mereka sebagai buronan kota.
Kerajaan Mesir - Kota Bursaid
Sekelompok prajurit dengan senjata lengkap terlihat memenuhi area gerbang kota, di antara para Prajurit itu, berdiri seorang wanita, itu adalah ratu Mandisa.
"Mohon maaf ratu, kami sudah melakukan pencarian, tetapi prajurit kami masih belum menemukan para bandit itu." seru salah satu prajurit.
Telah terjadi aksi penyerang di wilayah Bursaid, ratu Mandisa dan para Prajurit nya terlihat sedang sibuk mencari pelaku dan mengamankan wilayah.
"Pastikan kalian menutup pintu keluar kota, tidak ada yang boleh keluar dari wilayah ini." seru Mandisa
Para bandit itu menyerang kota dan mengambil harta serta ternak orang orang, Mandisa yang kini sendiri merasa kalau para bandit itu mempunyai suatu rencana.
"Gerbang kota sudah tertutup rapat, tidak ada yang akan keluar ataupun masuk, satu satunya jalan keluar hanyalah mendobrak secara paksa." seru Mandisa kepada beberapa panglima pasukan nya.
Mandisa perlahan mengangkat kepalanya, memejamkan mata dan berkata "God's Way, panggil mereka."
Tidak butuh waktu lama, para pasukan God's Way dengan kuda yang perkasa mulai menyisir pelosok kota dan mencari para bandit itu, Mandisa sadar kalau mereka bukan sekedar bandit, mereka adalah orang orang yang lebih berbahaya, para Equides.
430 SM (Sebelum Masehi)
Era ini adalah kutukan bagi para Spartan dan Athena, perang berkepanjangan terus menerus terjadi. Bangsa mesir yang saat itu dipimpin oleh Ptolemi X melihat pertempuran antara Athena dan Spartan bisa memberikan mereka sebuah keuntungan.
Dengan perang itu, bangsa Yunani akan melemah secara kekuatan ataupun ekonomi, Mesir yang melihat hal itu sontak menganggap kalau ini adalah kesempatan untuk mulai invasi terhadap Yunani.
Dengan fokus para Spartan yg kini teralihkan oleh Athena, ini juga membuat pertahanan Yunani melemah.
Ptolemi X bersekutu dengan ras antah berantah yang disebut sebagai Equides. Ptolemi dan pasukan mesir serta para Equides akan melakukan penyerangan saat para Spartan dan Athena berperang.
Disaat kedua pihak itu mulai melemah disitulah Mesir dan Equides meloncarkan serangan mereka.
Strategi itupun dijalankan, pasukan Mesir dan Equides bersembunyi di atas pegunungan, memantau jalannya pertarungan para Spartan dan Athena.
Pertarungan itu berlangsung sangat lama, baik Spartan atau Athena terus menerus melontarkan serangan, bola api, anak panah, gajah, seakan perang ini tidak akan pernah berhenti.
Hingga pada tengah malam, para prajurit dari Spartan dan Athena mulai kelelahan, mereka perlahan mundur dari medan perang dengan perlahan.
Kesempatan ini kemudian dilihat oleh Mesir dan Equides, disaat para Spartan dan Athena berjalan mundur menuju tenda masing masing.
Pasukan Mesir dan Equides turun dari atas pengunungan dengan kuda mereka dan senjata senjata mereka yang mengerikan.
Spartan dan Athena sontak terkejut melihat mereka. "Si... Siapa mereka?" tanya para prajurit Spartan. Pasukan Mesir dan Equides masuk ke area pertempuran.
Mereka tanpa ragu menyerang pasukan dari kedua belah pihak secara brutal. Dengan pedang yang besar, Equides membelah pasukan Spartan satu per satu, dan pasukan Mesir menembakan ribuan anak panah kepada pasukan Athena.
Melihat hal itu, para Athena mundur dari medan perang dan berlari menuju benteng mereka, tetapi tidak dengan para Spartan, dengan rasa percaya diri yang tinggi, para Spartan justru memberikan perlawanan balik kepada Equides.