
"Dia mulai menindas dirimu, dia mulai memerintah tanpa memperdulikan dirimu, dia lebih berkuasa dari dirimu, padahal dia bisa duduk di tahta itu berkat dirimu, lekas, kenapa engkau masih memilih setia kepadanya?"
"......................."
"Mesir tidak perlu Ratu, Mesir tidak perlu pemerintahan, peraturan, dan para penguasa, Mesir akan jauh lebih baik dan engkau akan lebih dihargai jika engkau mampu menghilangkan semua aspek pemerintahan di wilayah ini"
Perancis - kota Piana
BRUAKKK...
Rana berguling ke belakang untuk menghindari pukulan paku itu, pria besar itu tanpa basa basi kembali mengayunkan palu besarnya itu.
Rana dengan sigap menghindar dari setiap serangan nya, "Aku tidak bisa terus mengindar." ucap nya dengan nada lemas.
Rana mengambil pisau dari samping tubuhnya, ini adalah pisau terakhir nya, dan ini adalah kesempatan terakhir nya.
"Apa apaan... Masih mau melawanku? Sebenarnya aku tidak tega membunuh seorang wanita, tapi mau bagaimana lagi haha.. "
Rana lagi lagi berlari ke arah pria besar itu, pria besar itu merespon dengan ikut berlari ke arah Rana.
Rana melempar pisau nya ke arah pria besar itu, melihat serangan Rana pria itu langsung menepis pisau dengan palu nya.
"Ini dia kesempatan ku"
Saat pria itu menangkis pisau nya, Rana langsung melompat ke arah pria itu.
STRAKKK...
Rana menjepit leher pria itu, dan memutar badannya kebelakang tubuh nya, ini sontak membuat Pria besar tercekik.
"Arhh.. Ap... Apa apaan." seru pria itu melihat Rana berada di balik leher nya.
Rana dengan sisa tenaga yang ia punya merapatkan kedua kakinya sehingga sang pria itu tidak bisa bernafas.
"Sekarang siapa yang akan mati baj*ng*n."
Saat pria besar itu mulai kehabisan nafas, tangan pria itu kemudian berusaha menggapai palu besar milik nya, dan ya.... Pria besar itu berhasil mengambil palu besar milik nya dan tanpa lama, pria besar itu langsung mengarahkan palu itu ke belakang lehernya.
Pukulan palu itu mengenai bagian atas kepala Rana dan membuat lilitan kakinya terlepas dan jatuh tersungkur ke lantai.
Melihat Rana terjatuh, pria besar itu langsung memukul perut Rana dengan palu miliknya hingga Rana terpental hingga ujung ruangan.
Pria besar itu yang dalam keadaan lemas dan sudah kehabisan nafas kembali mendekati Rana dengan membawa palu besarnya.
Rana yang sudah terluka parah, dan kehabisan tenaga berusaha sekeras mungkin untuk berdiri dan memberikan serangan kepada pria besar itu.
Mereka berdua dengan keadaan parah masih mencoba membunuh satu sama lain lalu....
TRENGGG....
Acasha masuk kedalam ruangan dengan membawa sebuah pedang panjang dan langsung mengarahkan pedang nya ke kepala pria besar itu.
"Cih... BERIKAN KEPALAMU KEP*R*T!!!"
SRAKKK....
Acasha Memasukan pedang nya tepat di kepala pria besar itu.
Darah bercucuran dari kepalanya, membasahkan pedang dan juga wajah Acasha. Acasha dengan tubuh berlumur darah berlari menghampiri Rana yang terbaring di ujung ruangan.
"Rana... Hey Rana... Kamu masih hidup kan?"
"per.... Pertanyaan sialan ap... Apa itu."
"Baguslah, aku akan membawa dirimu keluar."
Acasha membopong tubuh Rana dan membawanya keluar dari kastil itu.
Sementara itu di tempat Evie...
"Hey.. Kenapa Oris?.. Apa ada yang salah?"
Tanya Evie yang kebingungan setelah melihat ekspresi Oris.
"Tidak... Aku hanya sedikit terkejut.... Ayo kita lanjutkan."
Setelah bicara, Oris dan Evie kembali melanjutkan misinya, Evie menyadari bahwa Oris sedang menutupi sesuatu, itu terlihat dari tatapan matanya dan raut wajahnya yang berbeda.
Acara ini akhirnya dimulai, para tamu undangan sudah berdatangan, Evie dan Oris yang menyelinap sebagai pendeta diam diam memperhatikan gerak gerik para tamu dan orang orang yang ada di acara ini.
Beberapa orang terlihat sedang mendorong sebuah lemari besar, dan para tamu membawa tas yang Evie yakini berisi uang.
"Lelang?... Mungkin saja, tapi apa yang akan mereka lelang disini?"
Mereka berdua kembali mengamati jalannya acara, pengamanan yang sangat ketat, beberapa prajurit berjaga di pintu masuk dan keluar, beberapa lagi berada di atap dengan senapan laras panjang mereka.
Acara dimulai, para Prajurit itu menaikkan sebuah lemari besar ke atas panggung, dan para tamu membuka tas mereka yang ternyata berisi uang.
"Harga tertinggi, hanya harga tertinggi yang akan mendapatkan barang ini."
Ini seperti yang Evie kira, ini adalah lelang. Para tamu berseru dengan sangat keras dan memperlihatkan isi tas mereka sambil berteriak.
Salah satu prajurit naik ke atas panggung dan membuka lemari besar tersebut yang ternyata berisi sebuah baju besi emas yang sangat berkilau.
"Oris.. Itu.... "
"Ya Kyros.. Salah satu dari Stone Of Life. Untuk apa mereka menjual nya." Oris berbisik.
Saat lemari dibuka, seseorang dengan perawatan tua naik ke atas panggung dan memperkenalkan benda itu kepada para tamu.
"Ini adalah harta karun untuk manusia. Sebuah baju besi yang sangat spesial, kami menyebutnya... Shield of life."
Disaat pria tua itu menjelaskan tentang benda yang merupakan salah satu dari Stone Of Life, beberapa penjaga mulai melirik ke arah Evie dan Oris.
DEPP...
"Kita terdeteksi Kyros, bersiap untuk kabur."
Ucap Oris berbisik.
Tidak lama tiga penjaga berjalan ke arah kami berdua yang sedang berada di tengah tengah para pendeta, mereka membawa senapan dan pisau.
"Sial.. Habislah aku." ucap Evie dalam hati.
Disaat para penjaga itu sudah dekat Oris mengeluarkan sebuah senapan kecil dari balik jubah pendeta miliknya.
Dengan cepat Oris mendorong Evie/Kyros ke arah belakang panggung dan menembak tiga penjaga yang menuju ke arah kami berdua.
DOORR....
Dua dari tiga penjaga itu tumbang, mendengar suara itu para tamu langsung menutup tas mereka dan berlarian.
Para penjaga yang melihat itu lantas mengambil senapan dan pedang mereka dan langsung berlari dan menyerang Oris.
"KYROS... AMBIL BAJU BAJA ITU DAN KELUAR DARI SINI!!!..."
Mendengar itu Evie/Kyros melompat ke atas panggung, beberapa penjaga menghalangi Evie, namun karena dia berada didalam raga seorang panglima perang Kyros, dengan mudah Evie mendorong para penjaga itu hingga jatuh.
"Huftt.... Huftt... Otot pria ini ternyata berguna juga."
Evie sampai didepan lemari besar itu. Tanpa pikir panjang, dengan kekuatan nya, Evie memecahkan kaca pelindung dan mengambil baju besi itu.
"AYOO... AKU SUDAH MENDAPATKAN NYA."
DOORRR.
DOORRR....
Oris masih sibuk menembaki para penjaga dipintu keluar. Sambil bersembunyi di balik sebuah meja, Oris berteriak kepada Evie dan menyuruhnya untuk memakai baju besi itu.
Dengan sigap Evie memakai baju besi itu dan menghajar para penjaga di pintu keluar.
Saat sedang menghajar para penjaga, salah satu penjaga tadi berusaha menyerang Evie dengan sebuah kapak besar.
Serangan itu kemudian mengenai baju besi nya dan seketika baju besi miliknya bersinar dan mengeluarkan sebuah gelombang tenaga yang membuat penjaga itu Terbanting.
"Apa apaan itu.. Baju besi ini... Bisa memantulkan serangan."
Mengetahui kemampuan baju besi itu alias Shield Of Life, Evie kembali menghajar para penjaga itu, membanting, melempar, Evie menghabisi para penjaga satu persatu.
Oris yang melihatnya kemudian membantu Evie, mereka berdua kini tengah bertempur dengan para pasukan penjaga.
Sesosok pria tua yang berada di atas panggung, hanya diam, dia mengamati Evie dan Oria yang tengah sibuk menghabisi para penjaga.
Sang pria tua itu kemudian mengeluarkan sebuah buku tebal dan tongkat dari balik jubahnya dan membuka buku itu di atas panggung yang sudah berantakan.
Saat sang pria tua itu membuka bukunya dia mulai mengatakan hal hal aneh, Evie dan Oris yang tengah bertarung, melihat sosok pria tua tersebut.
Tidak lama sebuah cahaya yang sangat terang keluar dari buku itu dan menumbuhkan akar akar tanaman yang keluar dari lantai.
"God's Way.... Kalian sudah sampai disini rupanya." ucap pria tua itu sembari menatap Oris.