Between Love and Friends

Between Love and Friends
ditolong Presdir Rendy



"apa?? kau wanita rendahan yang tidak tau malu datang ke kantor ini dengan pakaian yang semena-mena? jadi disini siapa yang tidak tau diri?"kata nidar lebih lanjut mengolok-olok Riska sambil menarik rambut Riska dengan sekuat tenaga nya.


Riska kesakitan karna perlakuan nidar yang sangat menjengkelkan itu.


"kau lah yang tidak tau diri" sahut seseorang lelaki tinggi berambut hitam, dengan rambut yang ditata rapi dan mengenakan jas agak kecoklatan serta dua pengawal di belakang nya.


setelah mendengar perkataan itu semua orang menunduk memberi hormat kepada Presdir Rendy.


"apa??"dengan sangat terkejut nidar melihat kebelakang dan mendapati Presdir Rendy yang menatap kearah nya dengan marah.


"ma..maaf Presdir Rendy ini tidak seperti yang kamu lihat i..ini tidak seperti yang kamu pikirkan i..ini hanya lah sebuah kesalahpahaman"kata nidar terbata-bata sambil berbohong.


"baiklah seperti yang kamu katakan"kata Rendy dengan setengah-setengah menjelaskan sambil tertawa sinis.


nidar tertawa kecil dengan lega sembari melihat Presdir Rendy yang sedang tersenyum.


"mulai sekarang lebih baik kamu tidak perlu bekerja disini lagi"lanjut Presdir Rendy.


mendengar perkataan itu membuat nidar sangat terkejut dan memohon untuk tidak dipecat.


"aku sudah mendengar banyak tentang mu, kamu sangat tidak tau diri sekali setelah ketahuan dan kau berani berbohong dihadapan ku dan kau masih berani memohon supaya tidak di pecat? sebenarnya dari dulu aku sudah ingin memecat mu karna aku memiliki urusan yang lebih penting dari mengurus orang-orang seperti mu barulah aku mendapat waktu untuk memecat mu."jelas Presdir Rendy lebih lanjut.


dan nidar pun tak dapat berkata apa-apa lagi setelah perkataan Presdir nya dihadapan semua orang yang membuat nya sangat malu.dan pergi meninggalkan kantor tersebut.


"kau tidak apa-apa?" kata Presdir Rendy sambil meraih tangan Riska dan memapah nya sambil berdiri.


"tidak apa-apa tuan Presdir Rendy,untung saja anda datang dengan tepat waktu." jawab Riska dengan senang.


"mulai saat ini tidak ada yang boleh bertingkah semena-mena dengan Riska karna dia bukan lah lagi bekerja sebagai office boy tetapi sekarang dia bekerja sebagai sekretaris Presdir Joe.


jelas Presdir Rendy sambil berteriak mengumumkan akan jabatan Riska.


semua menunduk setelah mendengar perkataan Presdir Rendy barusan.


dan ada juga yang berbisik-bisik


"hah masa sih Riska tiba-tiba jadi sekretaris?apa gk salah tuh?"ucap seseorang karyawan berbisik ke telinga teman nya.


"kurasa dia itu menggunakan guna-guna kali makanya dia naik jabatan"balas temannya.


"bukannya Riska itu belum tamat SMA yah kok bisa jadi sekretaris secara tiba-tiba".ucap salah satu seseorang.


"kurasa pakai pelicin tuh"ucap seorang lagi.


beberapa saat kemudian saat Presdir Rendy dan Riska serta kedua pengawal nya meninggalkan ruang kantor bawah tempat karyawan bekerja menuju ke ruangan Presdir Rendy untuk mengobati kaki Riska yang sempat tergores dilantai karna dorongan nidar yang cukup kuat.


sementara itu,


orang-orang membicarakan atas kenaikan jabatan Riska yang tiba-tiba dan yang lebih hot nya lagi adalah mereka baru melihat wajah Presdir Rendy secara langsung.setelah sekian lama tidak pernah lagi melihat Presdir Rendy secara langsung.


dan pembicaraan yang lebih lanjut adalah Presdir baru yang bernama Joe .saat pertama kali melihat Presdir Joe semua orang yang ada di kantor sangat kagum dan sangat senang kepada Presdir Joe karena sikapnya yang ramah kepada semua orang dan dia yang murah senyum, saat tersenyum membuat orang-orang kagum karna cantik nya Joe terlihat saat sedang tersenyum.


sama hal nya dengan Presdir Rendy yang sangat dikagumi darinya adalah sikap toleransi dan penuh dengan tanggung jawab serta Presdir Rendy yang juga tampan membuat orang-orang sangat mengidolakan Presdir Rendy.


sementara itu di ruangan Presdir Rendy,


"terimakasih tuan Presdir Rendy telah menolongku" kata Riska dengan penuh berterima kasih.


setelah melihat senyuman Rendy yang ramah itu jantung Riska tiba-tiba berdetak dengan kencang.sambil memandangi Presdir Rendy mengobati luka di kaki nya sambil tersenyum.


"oke sudah siap"kata Rendy dengan lega.


"sebentar lagi lukamu akan kering dan kamu bisa berjalan normal seperti biasa"lanjut Rendy menjelaskan pada Riska sambil melihat Riska yang sedang melamun menatap nya .


"hey...hey.."Rendy mengayunkan tangan nya kedepan Riska untuk memecahkan lamunan riska.


"ah...maaf tuan..saya minta maaf karena saya sedang melamun" jawab Riska terbata-bata


"emang kamu sedang lamunin apa?"tanya Rendy pada Riska .


"deg..deg..deg..deg.."suara detak jantung Riska.


"emmm..mm..maaf tuan tidak apa-apa"jawab Riska dengan canggung.


"oiya saya harus keruangan Presdir Joe dulu"kata Riska dengan wajah yang merona, sambil meninggalkan ruangan Presdir Rendy.


sesampainya di ruangan Presdir Joe.


Riska berpikir sejenak sambil duduk dengan menyantap segelas kopi yang ada di meja sambil melamun .


didalam lamunan riska terbayang-bayang wajah Presdir Rendy yang sejak pertama kali bertemu,dan saat dia menolong Riska sejak pagi tadi dan sampai-sampai mengobati kaki Riska yang terluka.


beberapa menit kemudian.


"hey..hey..hey ."Joe membangun kan Riska dalam lamunan dengan mengayunkan tangan nya di depan wajah Riska ..


"eh...hey.. Joe sejak kapan kamu datang?"kata Riska ketika ia sadar dari lamunannya.


"aku memang sudah dari sini sejak tadi,dan aku melihat mu duduk di kursi sambil melamun dengan menghabiskan kopi milikku."kata Joe dengan jujur.


"eh..maaf aku lupa kalau kopi ini adalah milik mu,aku akan buatkan yang baru untuk mu."kata Riska dengan terkejut sambil mengambil gelas yang barusan dia minum.


"hahaha...tidak apa-apa Riska jangan repot-repot,aku tidak menyuruh mu untuk mengambil kopinya kembali"kata Joe dengan tertawa sambil menahan pergerakan Riska .


"hehe baiklah jika itu maumu"kata Riska dengan malu.


"dari tadi aku melihat mu melamun,emang dari tadi kamu lamunin apa sih?"kata Joe dengan penasaran.


"ah..itu..anu..aku hanya sedang terbawa-bawa dengan komik yang aku baca semalam."kata Riska dengan berbohong.


"yakin? " sahut Joe dengan nada tidak percaya.


"..hehe ehm" Riska hanya tersenyum canggung dengan keadaan pipinya nya yang merah merona.


"*kenapa aku berbohong pada Joe? seharusnya aku jujur saja kan padanya .aku hanya tinggal mengatakan kalau aku menyukai Presdir Rendy.


ahh..tidak..tidak ..mungkin aku malu jika Joe mengetahui nya.aku pun belum tau pasti ada apa dengan ku.tapi yang pasti aku tahu bahwa aku mungkin sedang jatuh cinta.


hmmm Joe adalah sahabatku ..aku harus memberitahu nya*."


kata Riska dalam hatinya.