
Tidak ada yang spesial setelah itu, hanya orang-orang dari gang tertentu, yang terluka dan minta padaku untuk diobati. Atau seorang pencuri yang menitipkan barang curiannya padaku. Atau seorang pembunuh yang ingin aku untuk mengautopsi korbannya, padahal dia sendiri yang menghancurkan mayat itu.
Semua kebosanan itu berubah ketika bertemu lagi dengan salah satu pasien yang menarik, dua bulan setelahnya. Dia dibopong oleh dua petugas dengan kasar, tubuhnya penuh luka, dan sepertinya otaknya juga sudah kegeser.
“Selamat datang,” sambutku
“Dokter Meto, maaf malam-malam begini mengunjungimu. Tapi hal gawat telah terjadi. Salah satu tahanan di penjara kami, sepertinya sudah agak gila. Untuk mempertahankan reputasi sebagai penjara terbaik di seantero negeri. Saya ingin Dokter menyembuhkan dirinya,” Ucapnya panjang
“Bayarannya?” tanyaku seraya melirik cermat pada pasien yang akan diobati.
“Tenang saja, kepala sipir kami akan membayar Anda dengan sebaik-baiknya dengan kualitas yang tinggi, dan tentu uang dengan jumlah besar juga.”
“Bagus, bawa dia ke ruanganku.”
Sesuai dengan yang aku perintahkan, mereka menyeret si pasien masuk menuju ruanganku, tanpa izin. Toh, mereka juga salah satu langgananku, jadi tidak perlu ada izin-izin lagi untuk masuk ke ruanganku. Mereka semua sudah menganggap aku sebagai teman.
“Kami sudah bawa ia ke kamar Anda, dan akan kami bawa kembali besok pagi. Saya mohon sangat kepada Dokter Meto untuk menyembuhkannya.”
“Aku bukanlah Tuhan, aku hanyalah manusia, tidak mungkin aku dapat menyembuhkan seseorang. Yang bisa aku lakukan hanyalah mengurangi rasa sakitnya. Hanya itu saja.”
“Baiklah, terserah Anda. Yang kami inginkan hanyalah pasien kami kembali semula, meski lima puluh persen cacat pun tidak apa. Sebab ia mainan kesukaan kepala sipir.”
Mainankah? Sungguh malang sekali si pasien ini, ketika seseorang menjadi mainan kesukaan bagi seseorang yang berada di dunia malam, pastilah hidupnya tidak akan tenang apalagi aman. Pastilah dia selalu dihantui mereka, dibelenggu, tidak hanya dipenjara namun hatinya juga sudah terbelenggu oleh mereka.
Luka di mana-mana, luka ungu, luka merah, luka hitam, dan luka-luka lainnya. Satu persatu menempel di badannya. Juga kayaknya dia adalah korban dirudapaksa. Bahkan ini lebih biadab dari pada mereka yang meninggalkan raga tanpa roh.
Mereka lebih biadab.
Tidak aku sangka mereka benar-benar sudah naik ke taraf ini, padahal sejauh yang aku tahu. Mereka hanya menjual obat-obatan dan senjata-senjata yang diedarkan oleh mereka, dibuatnya oleh orang lain.
Kasihan sekali dia. Dipaksa orang tua mempunyai anak, dan istrinya malah pergi meninggalkan. Bukan petugas itu saja yang biadab, ternyata keluarganya juga biadab.
Meskipun akhirnya dia membunuh keluarganya sendiri. Namun, itu wajar saja, pikirku.
“Datanglah setiap Minggu ke tempatku, minta saja pada mereka, mereka pasti memberikan izin. Datanglah dengan dalih berkonsultasi, nanti kita susun rencana agar kamu dapat kabur dari sana.”
Besoknya kedua petugas datang, membawanya balik ke jeruji besi. Seiring punggungnya hilang dari pandang, aku mulai menyusun rencana agar dia dapat kabur dari penjara.
Dimulai dengan memakai koneksiku dengan para pencari informasi, mencari informasi tentang pria itu, dari nama—informasi pribadi lainnya. Walaupun awalnya mereka menolak, sebab tahu konsekuensi yang didapat jika melawan para antek tikus berdasi.
Setelah diancam—diancam tidak bisa datang ke klikku dan akan membocorkan seluruh kejahatannya—mereka pun menerimanya.
“Baiklah jika itu yang Anda inginkan.” Mereka pergi mencari informasi, memang butuh waktu yang teramat untuk mendapat informasi seorang saja. Tapi informasi pria itu ternyata lebih sulit didapat, karena sipir-sipir itu meminta para tikus berdasi agar mengunci segala informasinya.
Lantas aku pun bertanya kepada pria itu, yang sudah datang seminggu sekali ke tempatku. Dia pun menolak membuka mulut. Hidupku akan hancur, katanya dengan wajah yang ketakutan.
Enam bulan kemudian, barulah dapat informasi yang lengkap, tidak juga. Banyak informasi darinya yang hilang, seperti kisah masa lalu, kelahiran, dan nama aslinya juga dihapus.
Biarlah, yang penting saja dulu untuk sekarang.
Lahir tiga puluh tahun lalu di keluarga terpandang, meski disensor di sini nama keluarganya. Menikah dengan adik sepupunya, dan sudah berjalan selama lima tahun. Tidak mempunyai anak, adik, atau pun kakak.
Entah mengapa, ada yang janggal. Bukan janggal, tapi seperti ada informasi yang aku lewatkan. Aku pun pergi melihat data para pasien, selama setahun ini.
Satu persatu data pasien, aku jabarkan. Dalam setahun ini yang datang ke klinik adalah yang terbanyak dari tahun-tahun sebelumnya. Yang berarti akan susah untuk mengkonfirmasi satu-satu informasi.
Butuh waktu lama, sekitar 1 bulan kemudian, akhirnya aku menemukannya. Si pasien biadab yang datang enam bulan lalu. Ternyata adalah istri dari si pria ini, atau Haze—namanya yang dipalsukan—si pasien yang ingin aku bantu.