
“Dan aku pun datang ke sini, bertemu denganmu. Dan akan menjual semua umurku.”
Katanya seraya menelan ludah yang sudah terkumpul banyak di mulutnya, sebab cerita panjang yang ia ceritakan terus menerus kepada Bel.
Bel menatap tajam matanya, tidak banyak bicara. Hanya mengetuk-ngetuk pulpen miliknya menabrak meja. Matanya lamat-lamat, mencoba mencerna semua cerita yang diceritakan Haze kepadanya.
Lantas ia pun mendapat satu kesimpulan
Otaknya sih ini kena, katanya dalam hati. Ia tidak berani mengucapkan langsung hal ini kepada Haze. Takut tersinggung atau apa, lebih baik diam saja. Karena dia juga seorang penjual yang sudah berpengalaman, maka sudah tidak terlalu terkejut lagi mendengar cerita aneh seperti ini. Malahan dia lumayan senang, setelah sekian lama akhirnya ia mendapat kembali pelanggan yang menarik. Beberapa waktu yang lalu, yang datang hanya orang-orang yang sudah bosan hidup dan tidak melakukan banyak hal dalam hidupnya.
Menurut Bel, itulah masa hidup paling tidak berkualitas.
“Apakah sudah cukup aku bercerita?” Tanyanya.
“Tentu saja, tidak ada yang masalah dengan itu. Malahan aku akan mematok harga besar untuk masa hidupmu.” Tangan Bel bergerak merogoh kantong sakunya.
“Aku ingin kamu memakai ini, agar aku bisa tahu berapa sisa hidupmu, dan setelah itu aku akan mematok harga untuknya.”
Bel memberikan benda semacam earphone untuk dipasang di telinga Haze. Haze pun menurut, sebab ia sudah seratus persen yakin untuk menjual seluruh umurnya. Toh, tidak ada yang peduli lagi dengannya. Bukan juga sebenarnya, yang benar sudah tidak ada seseorang lagi di sisinya. Keluarganya mati, dan istrinya sudah pergi entah ke mana, meninggalkannya tanpa izin.
“Aku sudah memasangnya.” Ucap Haze
“Baguslah, jangan lepaskan benda itu sekitar 2-3 menit.”
“Tapi apa kamu yakin akan menjual seluruh umurmu?”
“Tentu saja”
“Sebenarnya menjual seluruh umur itu tidak dapat dilakukan, sebab aku bukan Tuhan yang bisa mencabut nyawa seseorang. Akan tetapi, aku dapat mempercepat kematian seseorang.”
“Maksudnya?”
“Meskipun umurmu dijual semua, kamu tidak akan mati dalam beberapa hari. Akan ada waktu sampai satu bulan, dan ketika satu bulan terlewati, kamu akan mati.”
Haze merenung sekejap, namun tetap yakin dengan keputusan awalnya. Meskipun, itu harus menunggu satu bulan untuk mati.
“Oleh karena itu aku mempunyai penawaran”
“Penawaran?”
Dan paket ketiga adalah paket lengkap. Semua umurmu, kesehatan, dan kebahagiaan akan diambil semua. Tapi tetap kematianmu yang sebenarnya datang satu bulan kemudian. Paket mana yang ‘kan kamu pilih?”
Haze mulai ingat bahwa toko ini bisa membeli kebahagiaan dan kesehatan darinya. Sejenak ia memikirkan, banyak sekali kebimbangan yang mulai menyerang satu persatu di otaknya.
“Aku memilih paket ketiga.”
“Apa kamu yakin? Harusnya kamu tahu sendiri, tanpa kebahagiaan dan kesehatan, apalagi waktu kematianmu satu bulan lagi. Tidak hanya memberi kegilaan, tapi juga akan memberikan neraka yang sesungguhnya. Meskipun begitu, apa kamu tetap yakin?”
“Yakin.” Jawabnya tegas, membuat Bel yang sedari tadi terus mengkonfirmasi ulang pun diam. Dan kepalanya mengangguk pelan tanda ia sudah mengerti situasinya.
“Umur yang tersisa dalam dirimu, tinggal 28 tahun lagi. Jika diakumulasikan dengan kesehatan dan kebahagiaan, maka jumlah besar akan kamu terima. Kepada siapa uang-uang ini akan dikirim?”
Haze kembali bergeming memikirkan ulang, untuk siapa uang ini. Toh keluarga sudah tidak ada, teman juga sudah tidak ada, dan kerabat pun sudah tidak ada, karena pindah kota. Ia pun bingung.
Sejenak memijat pelipisnya pelan, lalu menatap kembali wajah Bel. Dengan tatapan yang penuh percaya diri, ia berkata: “Donasikan saja uang-uang itu, kepada petugas yang terbunuh olehku, jika masih ada sisa beri saja uang-uang itu kepada para anak yatim atau orang-orang miskin di luar sana. Agar uang itu tetap bermanfaat.”
Bel tersenyum tipis, ia senang ternyata masih ada kebaikan dalam dirinya, meskipun dalam cerita yang ia ceritakan menggambarkan betapa gilanya ia, namun semua itu berbeda ketika ia berbicara tentang uang. Tapi Bel tetaplah penjual, ia harus tetap profesional dalam melakukan pekerjaannya. Tidak boleh terpengaruh oleh hal eksternal maupun internalnya.
“Baiklah, sekarang kamu pulang. Tunggu saja sampai rasa sakit itu mendatangimu. Itu tandanya transaksi antara kita sudah berhasil.”
“Begitu saja?”
“Iya, tapi jangan ingat jangan pernah melepaskan benda yang ada di telingamu itu. Jika dilepaskan, maka tandanya transaksi kita gagal.”
“Baiklah.”
Setelah bersalaman, Haze pergi meninggalkan toko, bersamaan dengan suara bel yang berdenging. Sementara Bel, membersihkan kertas-kertas yang berserakan bekas transaksi tadi yang dilakukannya.
Tidak lama kemudian, setelah kepergian Haze yang sudah hilang dari pandang. Masuklah seorang laki-laki bertubuh tinggi dari balik pintu. Tentu Bel sudah waspada, takut-takut pintu akan rusak didorongnya. Ternyata tidak, sebab si pelanggan kedua tahu bahwa pintu itu akan roboh.
“Selamat datang di toko Belife Span, di sini kami dapat membeli masa hidup Anda. Atau Anda juga dapat membeli masa hidup dari toko kami. Apa yang Anda butuh kan?”
“Saya ingin menjual semua kebahagiaan saya.”
“Silakan duduk.”