Belife Span

Belife Span
Belife Span



Di tengah kota yang berkobar terselimut si merah, satu teriakan diikuti teriakan lain dipekikkan. Mobil-mobil terbalik dari sebagaimana harusnya. Tidak hanya itu, meskipun di siang hari sekalipun. Matahari sudah pergi bersembunyi ketakutan melihat kekacauan ini. Begitu pula langit yang mulai berkamuflase di antara awan-awan yang membumbung hitam.


Di tengah kekacauan itu, berdiri satu toko yang terhindar dari segala kekacauan. Tidak ada yang berani menyentuhnya, sebab jika toko itu tidak ada maka satu-satunya sumber keuangan mereka juga akan tidak ada. Sebuah toko spesial yang di mana orang-orang hanya berlalu lalang di depannya.


Toko itu dimiliki oleh seorang lelaki muda, penampilannya seperti umur 20 tahunan. Walaupun tidak ada yang pernah tahu umur dirinya yang sebenarnya. Bukan tidak tahu, tapi tidak ada yang mencarinya. Penting apa juga mencari informasi orang lain, kecuali bermanfaat bagi si pencari informasi.


Di tengah dekapan si merah, toko yang dibangun dengan kayu itu berdiri gagah. Berbeda dengan toko-toko lain yang terbuat dari tembok, yang sudah hancur diamuk massa. Tidak ada yang tahu apa tujuan dari perusakan itu, yang ada di pikirannya mungkin asal hancurkan saja, sebagaimana para tikus berdasi atau orang-orang yang dekat dengan mereka menghancurkan hidup mereka.


Tidak ada yang tahu pasti, apa yang dijual dari toko itu. Tapi yang pasti mereka sering mendengar dari kakek atau dari kakek buyutnya atau dari kakeknya kakek buyut. Atau nenek atau dari nenek buyut atau dari neneknya nenek buyut. Mengatakan hal yang sama bahwa toko itu menjual sesuatu yang akan membuat konsumennya bahagia.


Lantas apa yang orang itu jual?


Selamat datang di Belife Span, sebuah toko kecil yang berada di tengah kota yang kini berada di ambang kehancuran. Bangunannya tidak terlalu besar juga tidak terlalu kecil, dan terbuat dari kayu berbeda dengan toko lain yang sudah bertembok. Hal ini membuat serasa kembali ke masa dulu.


Toko Belife Span adalah sebuah toko yang menjual masa hidup seseorang. Seseorang yang datang ke toko ini dapat menjual masa hidupnya mulai dari umur, kesehatan, dan kebahagiaan. Tidak hanya menjual saja, tapi seseorang yang datang ke toko ini juga dapat membelinya. Tentu harganya harus merogoh kocek yang dalam pula dan tentu saja jika menjualnya akan mendapat harta lebih.


...• • •


...


Seorang laki-laki bercelana hitam dengan kemeja putih tertutup rompi hitam dengan dasi kupu-kupu mengikat lehernya. Dirinya sedang memegang sebuah lap putih, lalu mengelapkannya lap basah itu ke setiap sudut seraya menunggu pelanggan yang datang. Walaupun ia merasa pesimis sebab kekacauan masih berlangsung, pikirnya orang-orang tidak akan berani menyempatkan diri untuk pergi ke luar apalagi ke tengah-tengah kota begini.


Dirinya terus meratapi saksama orang-orang yang terus berteriak di mana-mana dengan masing-masing orasi yang telah disiapkan sejak lama. Sudah satu Minggu terjadi, namun kekacauan ini belum pula reda tampaknya malahan di beberapa sudut intensitasnya semakin meningkat tinggi.


Sedangkan dia, dengan kursi kayu miliknya hanya bisa diam menunggu pelanggan. Meskipun sebenarnya ia tidak mau kekacauan ini terjadi, sebab dengan ini hiburannya akan berkurang. Walaupun salah dia.


...• • •


...


Bel berbunyi seiring dengan pintu kayu itu terbuka perlahan mendecit melengking di telinga. Sudah lama pintu itu ada oleh karena itu bunyinya sudah tidak sedap di dengar. Apalagi jika ada orang besar membukanya mungkin akan langsung roboh. Dia juga memikirkan untuk segera mendekorasi tokonya agar menyesuaikan juga dengan zaman.


“Selamat datang di toko Belife span, di sini kami dapat membeli masa hidup Anda. Atau Anda juga dapat membeli masa hidup dari toko kami. Apa yang Anda butuh kan?”


“emm...”


Pria yang ada di depannya merasa ragu untuk menjawab. Untung saja, dia langsung cepat tanggap dengan mempersilahkan pelanggannya untuk duduk di bangku yang berada tepat di depan mejanya. Ia pun duduk di bangku miliknya, yang saling berhadapan langsung dengan pelanggannya satu sama lain.


“Jadi, apa yang Anda butuh kan?”


“Aku ingin...” Pelanggan itu serasa masih belum yakin dengan keputusannya. Tapi untungnya dia segera menggigit bibirnya untuk mengembalikan kembali tujuan yang sudah ditentukannya sedari malam.


“Aku ingin menjual masa hidupku.”


“Baik, tapi tunggu sebentar.”


Laki-laki beranjak dari bangkunya meninggalkan pelanggan yang berada dalam keadaan cemas, ternyata masih ada keraguan dalam hatinya. Entahlah, semenjak ia menginjakkan kakinya masuk ke dalam pintu toko ini. Maka keputusan sudah tidak bisa diubah kembali. Sementara laki-laki itu sudah dua menit lamanya tidak kunjung datang. Membuat si pelanggan semakin cemas, karena pada dasarnya dia tidak terlalu percaya akan toko yang menjual “masa hidup” ini.


“Tolong jangan beranjak dari bangku Anda.”


Laki-laki itu datang dengan membawa kertas di tangannya. Kemudian, ia duduk kembali seraya menghadapkan kertas yang dibawanya kepada pelanggan. Memintanya untuk melihat isi kertas itu dengan saksama.


Kertas itu tidak lain berisi sebuah perjanjian atau kesepakatan antara kedua pihak. Kurang lebih isinya begini:




Pihak A tidak akan bertanggung jawab dengan apa yang dilakukan atau disebabkan oleh pihak B, setelah pembelian atau penjualan masa hidup di toko






Untuk berjaga-jaga poin nomor 2 bocor, maka pihak A diperbolehkan untuk menghapus ingatan pihak B tentang jalannya jual beli di toko




Masa hidup tidak dapat dikembalikan, akan tetapi bisa dibeli kembali dengan harga dua kali lipat dari harga ketika dijual kepada toko




Pihak A mempunyai wewenang sepenuhnya terhadap hidup seseorang, jika seseorang itu menjual seluruh masa hidupnya




Pihak A tidak bertanggung jawab apabila umur pihak B terus menurun yang disebabkan oleh pihak B yang menjual kesehatannya kepada pihak A.




Pihak B berhak menjual masa hidupnya, waktunya, kebahagiaannya, atau kesehatannya




Pihak B dan A tidak boleh menyimpan rahasia di antara keduanya




“Tolong tandatangani perjanjian ini di bagian bawah kanan.”


“Semua ini untuk apa?”


“Tentu saja ini agar kedua dari kita mendapatkan win-win solution atau semuanya menang. Tidak ada yang rugi dan juga tidak ada yang terlalu diuntungkan. Semuanya setara dalam perjanjian ini.”


“Baiklah ....”


Pelanggan itu menulis dengan sedikit ragu dengan pulpen yang diberikan oleh laki-laki itu padanya.


“Kalau begitu kita mulai dari perkenalan terlebih dahulu.”


“Namaku Bel, hanya Bel tidak ada tambahan lain.”


“Namaku Haze.”


“Oke Haze, berlandaskan poin kedelapan. Sesungguhnya di toko ini, pihak B atau konsumen. Harus menceritakan kisah hidupnya, mau itu bagian suram atau menarik atau sedih. Itu semua terserah, asalkan tidak ada rahasia di antaranya. Mengapa hal ini dilakukan? Yaitu, untuk mengukur kualitas dan menghitung masa hidup Anda. Oleh karena itu, hal ini sangat penting.”


"Baiklah, akan aku ceritakan semuanya."


Dengan penuh keterpaksaan, Haze menerima semua itu semua. Karena dia juga sudah menetapkan hatinya untuk menjual masa hidup dan dirinya juga sudah terikat dengan kesepakatan yang harus ditepati