
Sudah bertahun-tahun lamanya aku bekerja sebagai dokter, namun tidak ada yang tahu kalau aku tidak punya lisensi untuk menjadi seorang dokter. Orang-orang langsung percaya ketika aku mengatakan dapat menyembuhkan seseorang
Mereka mulai berdatangan satu persatu membawa pasiennya. Dengan sejumlah uang yang sangat besar, mereka tidak ragu-ragu membayarku untuk jasa kesehatan.
Padahal aku hanya bermodalkan kenekatan dan ilmu kedokteran yang hanya aku lihat dari media video online saja. Ternyata hasilnya tidak dapat dipercaya. Aku laku di kalangan orang-orang yang bersembunyi dalam kegelapan.
Tidak ada yang tahu tentang pekerjaan mereka, yang pasti ada seorang pembunuh yang ingin aku sembuhkan karena tubuhnya terkena senjata musuh, ada seorang pencuri yang ingin aku sembuhkan karena terkena amuk massa, ada seorang mafia yang ingin aku menyembuhkan anak buahnya.
Tidak hanya orang yang bersembunyi dari kegelapan. Tapi orang-orang biadab juga sering datang kepada klinikku. Entah apa yang mereka pikirkan saat itu, ketika bilang padaku ingin membunuh janinnya sendiri.
Aku harus profesional, jadi aku pun menyanggupi hal itu. Walaupun rasa kasihan tetap terus menghantui diriku. Aku selalu membawa mayat mereka, di pekarangan rumah untuk dikuburkan. Lalu, meminta maaf kepada mereka. Karena aku butuh uang, nyawa mereka ‘kan melayang.
Sesuka-sukanya aku kepada daging, tapi tidak mungkin kan kalau anak kecil, apalagi masih janin begini. Ada-ada saja.
Tidak hanya dalam ilmu kedokteran, aku juga percaya diri dalam kemampuan memasak. Terkadang mengundang orang-orang yang pernah menjadi pelangganku untuk ikut makan bersama, dengan masakan yang dibuat olehku.
Mulai dari penjahat, pembunuh bayaran, anggota geng, mafia, dan pencuri. Semuanya ada dalam satu meja, untuk bersama makan denganku. Tidak hanya dijadikan ajang makan-makan, terkadang mereka juga melakukan transaksi ketika makan.
Aku biarkan saja. Toh, bukan urusanku. Yang penting mereka makan makananku dan tetap berlanggan kepada klinikku.
“Terima kasih telah mengundang kami, Dokter Meto.”
“Haha, silakan tunggu di kursi. Saya akan ambilkan makanannya. Tapi jangan lupa, di meja ini tidak ada peperangan, tidak pembunuhan, dan tidak ada...” Kataku, lantas langsung dipotong oleh mereka sebelum aku selesai menyelesaikan kalimat yang akan aku bacakan. Sepertinya mereka sudah bosan mendengar kata-kata yang sama dariku
“Kejahatan.” Potong mereka.
Daging yang sudah membeku di kulkas, aku ambil. Lalu, diolah dengan bumbu-bumbu lain. Dengan bumbu yang meresap, baunya menyengat ke dalam hidungku. Tidak hanya daging, namun makanan lain pun ikut dimasak dengan saksama.
Hidangan sup, steak daging, sushi, dan yang lainnya dihidangkan di meja. Aku mempersilahkan mereka untuk menutup mulutnya ketika aku akan berbicara di depan meja.
“Hari ini temanku, sahabat satu-satunya, Alex. Telah berpulang ke bumi Tuhan pagi ini. Kematiannya sungguh menyayat hatiku, namun hal itu tidak dapat terelakkan. Toh, dia yang menanam, maka dia juga yang menuai. Malam ini, aku undang kalian untuk makan bersamaku, untuk memperingati kematiannya. Dan menyatukan dirinya dengan diri kita. Dalam hidangan mewah ini.
“Amin.” Jawab mereka serentak.
Setelah selesai makan, biasanya langsung berpesta ria, ditemani banyak wanita sana-sini. Untuk tamu perempuan juga, ada para laki-laki yang sudah disiapkan.
Pesta selesai, mereka pun bubar. Dan aku kembali ke kamar, untuk mempelajari ilmu baru agar tidak tertinggal zaman. Meskipun dari media video online atau tulis ilmiah orang lain, aku tetap mempelajarinya saksama. Tanpa ada kesalahan, jika ada maka reputasiku akan turun.
Harus hati-hati, lakukan dengan cepat, tanpa meninggalkan kesalahan. Lakukan dengan tepat, tanpa melakukan kecacatan. Lakukan dengan cepat, lalu kembali lagi bermalas-malasan.
Sampai suatu hari aku bertemu dengannya, seorang perempuan yang masih mengandung satu bulan, sudah ingin digugurkan. Katanya, ia tidak ingin suaminya tahu ia selingkuh. Karena suaminya itu, mandul sedari lama.
Namun, ia tidak memberitahu suaminya tahu tentang kemandulan yang dideritanya. Oleh karena itu, ia tidak pernah ceritakan hal itu ada suaminya.
Ia pun mencari cara untuk menghasilkan keturunan. Namun, ia kepincut dengan laki-laki yang lebih muda darinya. Hubungan mereka pun berjalan lama, sampai akhirnya ia berakhir hamil anaknya.
Katanya, entah mengapa dia merasa bersalah. Ya tentu dia salah, mana ada perbuatan selingkuh itu benar, kecuali mendapat izin. Tapi dia tidak memberitahukan apa-apa kepada suaminya, bahkan kepada keluarganya sendiri. Dia telah berbohong.
Sudah satu bulan sejak ia menyadari bahwa dirinya hamil, suaminya pun sudah menyadari bahwa ia hamil. Tapi si suami tidak tahu ia mandul. Jadi si suami senang, akhirnya si istri hamil, tapi bukan anaknya.
Si istri menyesal dan datang kepadaku, untuk menggugurkannya, sebelum si suami membawanya pergi ke dokter dan mengetahui bahwa si istri hamil. Aduh... Lagi-lagi datang orang biadab kepadaku. Sudah tahu salah malah dilakukan. Sekalinya mendapat hasil, ia malah menyesal. Ada-ada saja.
Tidak mau menuai apa yang ditanam, eh malah sembunyi tangan.
Meskipun begitu, aku harus profesional. Dia juga memberikan bayaran yang tinggi, mana mungkin aku menolak begitu saja tawarannya. Untuk menghormati si mayat, maka ‘kan aku kebumikan ia dalam tenang.
Wahai raga tanpa roh, maafkanlah perbuatan-perbuatan manusia biadab-biadab ini, sesungguhnya mereka tahu hasilnya, namun tutup mata. Aku berdoa pada-Nya, agar diberikan hukuman seberat-beratnya bagi APRA biadab, dan diberi tempat sebaik-baiknya bagi si raga tanpa roh.
Setelah selesai menguburkan, aku kembali ke rumah dengan membawa bayaran dari si istri. Lalu memasak “bayaran” itu dengan macam-macam olahan yang tersaji di atas meja.