
Sudah lima tahun lamanya hubungan pernikahan kami berlangsung, sudah lima tahun lamanya kami hidup di bawah perlindungan atap yang sama, sudah lima tahun lamanya kami berbagi kamar juga berbagi bantal, sudah lima tahun lamanya kami menjalani hidup. Namun, sudah lima tahun lamanya hubungan kami kini terasa hampa tanpa ada momongan. Padahal kedua orang tua kami, orang dirinya dan diriku terus mendesak agar segera mempunyai momongan. Tapi dia tidak bisa.
Pada rapat keluarga yang biasa dilakukan sebulan sekali atau lebih biasanya, sekarang istriku tidak ikut, lelah katanya. Awalnya rapat keluarga itu berlangsung hangat dan tanpa hambatan, tapi semua itu berubah ketika orang tuaku menyinggung kelahiran anak kakakku yang baru lahir kemarin dari pernikahannya yang baru menginjak 2 tahun dan hal itu menyulut api yang harusnya tidak menyala.
Sesuai dugaan lagi-lagi kedua orang tua kami memaksa untuk menyegerakan memiliki momongan. Memangnya aku dianggap apa oleh mereka, memangnya aku ini produsen anak yang bisa menghasilkan anak semudah itu kalau begitu adanya sudah tidak perlu menikah dengan satu wanita tinggal asal tusuk saja bisa memproduksi, anak itu ada untuk memperbaiki generasi bukan hanya untuk dikeluarkan dan memaksanya menghadapi dunia yang keras. Andai aku bisa berkata begitu langsung pada merek, namun percuma saja toh mereka tidak akan mengerti. Aku hanya bisa memberikan anggukan kecil seraya menundukkan kepala ke bawah sepanjang mereka mengoceh ini itu
Melawan opini mereka hanya menghasilkan tidak ada bagai kotoran banteng, apapun alasannya tidak akan pernah digubris. Diperparah dengan pernikahan kakak yang baru berjalan dua tahun dan sudah memiliki momongan membuat posisiku semakin terdesak.
Apalagi dia yang seolah tak acuh dengan masalah ini, kerjanya hanya pergi sana-sini, belanja ini itu, tidur, makan, dan buang hajat. Cuma aku yang benar-benar kerja mati-matian.
Entahlah, pada malam itu entah mengapa emosiku memuncak tinggi membumbung ke langit menumpahkan segala apa yang ada di otak, menumpahkan segala apa yang dirasa agar mereka juga tahu beginilah kondisiku sekarang. Agar orang tuannya tahu bagaimana anaknya itu.
Kakak enak sedari kecil hidup dalam kemanjaan, tapi aku sedari kecil dipenuhi kekerasan dan ketidakadilan. Ia dari SMP punya pacar pun tidak pernah dilarang, aku pacaran ketika SMA sudah dimaki-maki, mau jadi apa kamu di masa depan, katanya. Kala itu aku berpikir bahwa mereka tidak pernah melihat kaca. Giliran nikah dipaksa punya momongan, tapi kakakku tidak malahan disuruh untuk tidak punya anak dulu agar bisa istirahat lebih banyak dan mengejar impian dahulu, ya sudah tidak perlu menikah. Tapi seperti biasanya, aku tidak dapat mengatakan unek-unek.
Malam itu seharusnya malam Selasa yang biasa di mana kami sekeluarga mendiskusikan masalah satu sama lain, tapi malam itu berubah menjadi berdarah. Darah sana-sini mengotori tiap sudut. Baju putihku kini menjadi merah, pisau kinclongku kini kotor bernoda darah. Entahlah, aku tidak bisa berpikir jernih kala itu bak tangan yang sudah kotor ini.
Pantat kembali disenderkan di sofa yang empuk sembari melihat tujuh orang tergeletak tak berdaya, tertutup matanya menuju abadi, tertutup matanya untuk tidak melihat kembali hari esok. Bukan tertutup saja, tapi sudah tidak berfungsi mungkin hanya darah yang masih hidup karena mereka terus menerjang-nerjang pergi keluar dari tubuh lewat luka dari pisau yang tajam, yang sudah aku asah agar tajam sedari pagi untuk malam ini. Sungguh malam indah, di bawah bulan purnama yang merah, darah merah itu juga ikut keluar untuk melihat bulan yang indah.
Sudah beberapa jam, si istri belum juga pergi ke bawah seolah jeritan-jeritan tadi tidak melewati gendang telinganya. Seolah bau busuk yang menyebar ini tidak ikut nimbrung di hidungnya. Seolah keberadaan mereka ini tidak berarti bagi dirinya. Jadi dia tidak pergi ke bawah.
Malam ... Malam tertutup gelap dan diselimuti angin, di sini aku berdiri frustrasi dengan pisau di tanganku berlumuran darah, begitu juga aku.
Lebih baik aku pergi mandi dulu di malam hari, air dingin disiapkan di bath tub dengan sabun yang memenuhi. Aku memasukkan tubuhku ke dalamnya. Membersihkan tiap bagian tubuh yang terkena darah mulai dari tubuh hingga kaki, tidak ada yang terlewat salah satunya. Membersihkan dengan hati-hati dan berkali-kali sampai dirasa bersih.
Lalu pergi kembali ke ruang tengah untuk mengambil pakaian bekas disetrika yang biasanya disimpan di dekat sofa. Untung pakaian-pakaianku tidak terkena cipratan darah, andai terkena sedikit saja mungkin aku akan mengirimi mereka penghakiman berkelanjutan. Setelah itu aku pergi memberangkatkan diri untuk naik ke lantai atas menemui si istri bodohku.
Satu persatu langkah diangkat menaiki tangga perlahan, sudah malam tidak baik berisik. Pisau tidak perlu dibawa, meski dia adalah istri bodohku, aku tetap mencintainya. Pintu kayu itu aku buka menampakkan sosoknya yang tidur tidak berdaya berselimutkan kain putih yang hangat dengan penutup lubang telinga, seolah ia tahu jeritan itu. Tapi tutup telinga untuk tidak ikut campur. Berarti ia tahu.
Baiklah kalau begitu, aku mendekatinya. Mengusap-usap wajahnya yang manis ketika diam, namun dibenci ketika bicara. Sosoknya menggeliat-liat saat aku terus menyentuhnya mungkin sebentar lagi ia akan terbangun. Matanya pun sudah dipaksa olehnya untuk buka. Tentu saja susah toh ia juga sudah tidur dari lama. Pasti malas untuk bangun apalagi di tengah malam begini
Dia pun tersadar wajahnya bingung, mungkin dalam pikirannya memikirkan alasan aku yang mencoba membangunkannya atau mungkin tidak.
“Rapat keluarganya sudah selesai?” Tanyanya dengan suara yang masih belum memiliki banyak jiwa
“Sudah dari tadi, mereka juga sudah pergi tidur” Kataku. Tidur dalam keabadian, maksudnya.
“Bagaimana?”
“Seperti biasa mereka terus membicarakan hal yang sama.”
“Maaf ya, aku malah menyusahkanmu dan malah tidur duluan. Entah kenapa, hari ini sangat lelah sekali seolah tubuh-tubuhku akan copot.”
Dia tersenyum seraya mengatakan hal yang tidak enteng itu. Dipikirnya mungkin aku juga tidak capek. Capek bekerja dan memikirkan ini itu. Sedangkan dia capek apa.
“Ayo tidur sudah malam.” Ajaknya dengan suara lirih
Untuk kali ini saja aku akan menuruti perintahnya lagi. Tidur di bantal sama yang besar. Dengan selimut putih yang besar menghangatkan tubuh kami.
“Boleh aku tanya sesuatu?” Tanyaku penuh harap
“Tanya apa?”
“Apa kamu akan bersamaku sampai akhir?”
“Tentu saja.”
Dengan ini aku bisa tidur dengan nyenyak tanpa harus ada masalah yang terkumpul di kepala. Hari esok sudah tidak ada bagi mereka, yang berarti sudah tidak akan ada lagi beban bagiku. Sudah tidak ada sumber stres bagiku. Sebab mereka sudah dalam keabadian.
Di pagi hari esoknya saat kubuka mata terbangun oleh cahaya matahari, sosok dirinya sudah hilang dari pandang. Aku panik karenanya, mencari-cari dia ke mana-mana. Tapi tidak ada, setelah langsung bergegas ke lantai bawah untuk mengecek tujuh orang yang tidur abadi. Ternyata dia berada di sana dekat tujuh orang itu sedang duduk. Apakah dia menangis saking bahagianya ya? Atau dia sedih?
Hahaha tidak mungkin, karena aku tahu dia pun tahu tentang semua ini. Mana mungkin dia bersedih atas kematian orang yang dibencinya. Pikirku.
Kekhawatiran ku terbukti benar, dia sedih bukan kepalang. Tangannya yang kecil mulai memukul-mukul badanku dan air mata tidak henti-henti turun. Berkali-kali dia juga menggigitku. Sedangkan aku berdiri di sana bergeming tidak mengerti dengan apa yang terjadi.
“Apa yang sudah kamu lakukan?” Katanya sembari terus memukul aku
“Aku mengirim mereka kepada keabadian dan raga mereka sebentar lagi akan dijemput para ulat. Bukankah ini yang kamu mau? Bukannya dengan ini tidak akan ada lagi gangguan dalam hubungan kita? Bukannya dengan ini kita bisa hidup tenang tanpa paksaan lagi?”
“Tapi bukan begini caranya”
Aku tidak mengerti.
“Tenangkan dirimu dulu, jangan memukulku terus. Sakit tahu!” Jawabku dengan nada bercanda, meskipun pukulannya tidak terasa sama sekali
Aku meraih pundaknya yang sedari tadi terus bergetar hebat mencoba menangkan hatinya yang sepertinya sudah roboh dari awal. Aku membawanya duduk di atas sofa beralaskan mayat-mayat mereka yang tergeletak.
Dia terus menutup mulut dengan tangannya, entah mungkin sedang menahan rasa muak yang ada dalam dirinya. Wajar saja, pikirku. Aku berlutut, di bawah lututku ada kakakku yang sudah tidur. Baru tersadar kini bahwa ruangan untuk sofa ini sempit sekali. Mungkin aku harus mendekorasinya.
Kembali pada sosoknya yang tidak henti-hentinya menangis.
“Sudahlah, ikhlaskan saja. Nanti mereka akan tenang di alam sana.”
“Kamu!” Sentaknya mengagetkan aku
“Masih bisa bicara begitu setelah membunuh semuanya.”
Saat itu aku marah, tidak mengerti lagi.
“Ya sudah kamu maunya bagaimana?”
“Sudah tidak ada yang bisa diperbuat lagi, mereka tidak akan kembali lagi.”
“Sudah tahu begitu kenapa masih menangis?”
Dia tidak menjawab melanjutkan tangisnya lebih keras. Untung saja rumah ini jauh dari tetangga, tidak mungkin ada orang yang datang ke sini. Entahlah, kakek yang membuat rumah luas ini. Mungkin tujuannya sama, yaitu agar tidak terganggu atau mengganggu tetangga yang lain.
Sudah lumayan lama waktu berlalu, akhirnya ia sudah berada di ujung tangisnya. Ia menyeka air mata yang jatuh satu dua dari mata. Tubuhnya juga sudah tidak terlalu bergetar.
“Kita main petak umpet yuk!”
Ajaknya tiba-tiba dengan senyum yang menggores wajahnya
“Maksudnya?”
“Ketika masa pacaran kita dulu, bukannya kita sering main-main begini? Apa salahnya jika sesekali bermain lagi. Mumpung cuacanya juga mendukung, dan sekalian juga olahraga pagi untuk menghangatkan badan.”
Aku tidak mengerti. Padahal tadi dia menangis hebat, eh sekarang malah tersenyum begitu. Aku tidak mengerti. Padahal dia sekalinya menangis, maka akan susah sembuhnya. Tapi, ini terlalu cepat rasanya dia bangkit dari keterpurukan. Aku tidak mengerti. Padahal tadi dia marah besar padaku tetapi kini ia malah mengajakku bermain bersama. Aku tidak mengerti...
Apakah mungkin ada udang dibalik batu, jika memang begitu aku harus menolak permainan ini. Tapi, jika aku menolaknya. Maka aku akan menyakiti hatinya lagi. Padahal dia sudah susah-susah mengajakku bermain, kalau begitu aku harus menerima permainan itu.