
Dengan tangannya, satu dua lebih orang selamat dari penjara yang tidak hanya mengikat raga, namun Sukma juga. Dengan tangan kuatnya itu dia membuka jeruji besi. Tanpa ragu meneriaki kami agar lebih cepat untuk pergi ke luar.
Namun, pemandangan di luar sudah tidak dikenal lagi. Kota kami yang terkenal indah, kini berwarna hitam penuh asap di mana-mana. Aku bisa merasakan awan yang sedang tersedu sedan meratapi, namun tak dapat mengeluarkan air matanya. Sebab, matahari juga sudah sembunyi sedari lama.
Si pahlawan mengajakku pergi menjauh dari kekacauan dengan mobilnya. Kami berdua pergi ke sebuah pedesaan. Di sana, kami mengambil beberapa persediaan makanan dan juga beberapa senjata untuk melindungi diri. Kemudian, kembali lagi ke kota.
Di sore hari itu kekacauan sudah tidak dapat terbendung lagi, mayat yang tergeletak pun hanya dapat dilirik sebelah mata. Mereka terlalu sibuk meneriakkan narasinya. Apalagi bila narasinya disiapkan sedari malam, pasti sayang jika kesempatan ini dilewatkan begitu saja dengan menyelamatkan orang-orang yang bahkan mereka sendiri tidak kenal satu sama lain. Keprimanusiaan dalam sekejap menghilang dari permukaan.
Sang pahlawan membantu sekuat tenaga untuk mengevakuasi warga yang tidak bersalah. Meskipun dia bukanlah penjabat atau apapun dalam pemerintahan. Tapi dia tetap membantu warga di tengah kekacauan seperti ini, walaupun nyawanya juga akan terancam.
Aku juga ikut membantunya. Sang pahlawan tak bertopeng, tidak seperti mereka yang malah bertopeng untuk selalu “mencuci tangan.” Mulai sekarang aku akan mengikuti sang pahlawan, sampai mati memisahkan kita. Terdengar menjijikkan, tapi janji itu tidak akan aku ingkar.
Ya awalnya begitu. Menemaninya sampai mati. Ternyata perkataanku benar, aku benar-benar menemaninya sampai nafas terakhir darinya dihembuskan.
Tubuhnya yang besar dan beroto itu kini tergeletak di aspal jalan bersimbah darah, tidak dapat melakukan apa-apa. Orang-orang yang diselamatkan olehnya membentuk bulatan sempurna mengelilinginya.
Untuk mengenang jasanya, kami mencoba memberikan perlindungan terakhir dari aparat keparat itu. Kami sudah tidak peduli lagi dengan nyawa kami, hanya saja yang kami inginkan hanyalah kematian tenang baginya.
Sepertinya mereka sudah kehabisan akal dan hilang harga diri sebab kotanya diporak-porandakan. Oleh karena itu mereka sampai berani menarik pelatuk untuk meluncurkan besi panas.
Tidak lama, sebuah mobil pemadam kebakaran dikerahkan. Mereka membasahi kami agar bubar dari tengah jalan.
Kayaknya mereka ini memang tidak punya hati, orang-orang sedang sedih. Mereka malah menampakkan uratnya. Tapi terima kasih telah membasahi kami, dengan ini kami bisa menyembunyikan air mat mata kami. Agar dirinya bisa tenang di alam sana, berada di sisi-Nya yang abadi. Dalam dekapan-Nya yang memberikan kedudukan teratas bagi sang pahlawan kami.
Sang pahlawan kami, yang membawa kami dari kegelapan menuju cahaya. Sang Moses yang membawa kami dari satu pulau ke pulau lain melewati air yang dibelah olehnya. Istirahatlah dengan tenang, di hati kami yang mengenang.
Kehidupanku seketika hancur lebur dibuatnya, aku pergi kembali kepadaku yang berada jauh di tengah kota. Mabuk merupakan makanan sehari-hari, tidak ada pekerjaan lain lagi. Sampai aku juga lupa bahwa aku punya istri.
Ya sebenarnya tidak lupa juga, hanya berusaha melupakan. Karena aku tahu pasti dia sudah menemukan orang yang cocok dengannya. Tidak perlu persetujuanku, sebab pernikahanku dengannya juga tidak butuh persetujuan darinya. Ini imbas dari perbuatanku di masa lalu.
Namun, kini hidupku hampa. Tidak ada harta untuk membeli makanan, tidak ada istri untuk memasak lagi, tidak ada lagi orang yang berada di sisiku. Bahkan keluargaku, yang paling sering berkata bahwa mereka berada di sisiku pun kini tidak ada. Entahlah, selama di penjara juga mereka tidak pernah ada yang mengunjungiku. Mereka memang terbiasa untuk melepas ekornya ketika ada yang busuk agar tidak ikut busuk.
Berjalan mondar-mandir, malah sekarang aku ikut dengan pengamuk massa. Tidak perlu ada alasan, aku sendiri saja tidak tahu mengapa mereka berdemo. Yang aku tahu hanyalah hancurkan ini, hancurkan itu, bakar ini, dan bakar itu. Baiklah mungkin sekarang inilah kebahagiaanku.
Aku hanya perlu mengikuti perintah mereka, jangan ada protes. Tinggal hancurkan dan bersenang-senang. Nanti juga mereka membayarku dengan bayaran yang amat tinggi harganya. Turun ...! Turun ...! Hanya kata itulah yang terus terngiang-ngiang di kepalaku dari apa yang sering mereka ucapkan.
Namanya juga manusia, ketika seseorang tidak lagi berguna pastilah disingkirkan agar tidak terlalu membebankan yang lainnya. Namanya juga manusia, ketika ada orang yang berkuasa melihat orang lain terlalu kuat padahal tidak berkuasa pastilah mereka takut. Namanya juga manusia, ketika ada orang yang dirasa terlalu mengabdi pastilah dikhianati. Sudah biasa.
Mereka menyeretku menuju gudang, aku tidak tahu di mana lokasinya. Dua orang pemimpin pedemo itu dengan satu orang yang berotot besar, yang dipanggil algojo. Datang untuk menyiksaku setiap waktu.
Namun, setelah dua pemimpin itu pergi. Si algojo melepaskanku. “Engkau pernah menyelamatkanku di penjara, maafkan aku membalas budi dengan cara yang seperti ini,” katanya, ternyata ia adalah orang yang kabur dari penjara bersamaan denganku. Mengapa aku tidak menyadarinya?
“Terima kasih.” Ucapku
“Tidak, harusnya aku yang berterima kasih dan meminta maaf pada waktu yang sama.”
Tidak perlu menjawab lagi perkataannya, aku pun pergi begitu saja. Menyudahi drama yang terus terjadi di hidupku, dalam kurun waktu satu tahun saja. Hidupku sudah benar-benar sangat berbeda. Dari seorang suami menjadi penjahat dan orang yang paling diburu pemerintahan setelah kabur dari penjara dan menjadi kambing hitam dalam demo, serta perusuh, juga kematian beberapa petugas yang disebabkan olehku.
Aku pun pergi dari hiruknya kota, awalnya sih begitu. Semuanya berubah ketika sosok memakai jubah hitam itu datang menemuiku. Tidak datang juga sebenarnya, hanya menungguku di tiang listrik depan rumah. Entah sedang apa dia, awalnya tidak aku hiraukan. Namun, setelah beberapa jam diamati sosoknya terus terpaku di sana.
Aku pun penasaran, lantas menanyakan segala hal padanya. Tapi yang hanya dijawabnya hanya satu jawaban, “kalau kamu akan mendengarkan ceritaku maka aku akan menjawab segala pertanyaanmu itu.”
Ya hanya satu cerita biar saja, pikirku. Kesan ‘jarang ngomong’ yang aku dapat darinya, ternyata salah. Ia adalah orang paling banyak bicara yang pernah aku temui. Setelah selesai bertanya dan menjawab, giliranku mendengarkan ceritanya.
Terlalu naif untuk dipikirkan, ternyata cerita yang ia bacakan sangatlah panjang dan membosankan. Satu hal yang aku ingat, ia bilang bahwa ada di tengah kota ini ada satu toko yang menjual masa hidup seseorang. “Jika kamu merasa tidak ada gunanya hidup, jual saja pada dia.” Katanya, lalu meninggalkanku