
Satu, dua, tiga, empat, lima. Semua angka-angka itu aku hitung perlahan menyesuaikan dengan satu detik berjalan. Hingga sampai akhirnya, aku mengucapkan angka 100 yang berarti permainan sudah dimulai dan waktuku untuk mencarinya
Karena dia meminta aku memulai di rumah, berarti 30% kemungkinan dia bersembunyi di rumah. Setiap sudut, dua lantai kuinjakkan kaki untuk mencari sosoknya yang telah lama bersembunyi.
Namun, tidak ada. Sedari kecil dia hebat dalam petak umpet, aku memakluminya kalau dia sudah ditemukan. Kalau begitu aku harus memperluas pencarian. Dengan menggunakan 70% kemungkinan lagi bahwa dia bersembunyi di luar rumah
Baiklah, ke mana pun sosokmu pergi. Selama sukmanya belum meninggalkan raganya, artinya aku akan mencari sosoknya ke ujung dunia sekalipun. Sebelum semua itu terjadi, lebih baik aku mempercepat langkah
Satu per satu sudut taman luar, tetapi sosoknya sudah benar-benar hilang dari pandang. Setelah aku mencari tanpa henti selama 2 jam lamanya. Tanpa kusadari, tidak ... Aku hanya tidak ingin menyadari itu. Bahwa dia meninggalkanku.
Biarlah, aku juga tidak bisa memaksanya. Meskipun aku masih tidak bisa mengerti. Mungkin selama ini dia merasa nyaman menjalin hubungan denganku. Kalau begitu biarlah merpati itu terbang.
Namun, ternyata sebelum merpati itu terbang besar. Dia kembali pada sarang, bukan untuk mendekap, tetapi untuk mematukku dengan paruh kuatnya. Tidak hanya itu, dia juga membawa burung-burung lain bersamanya.
“Apa maksudnya ini?” Tanyaku bingung
“Maafkan aku Bel. Perbuatanmu sungguh tidak dapat dimaafkan. Oleh karena itu, aku memanggil polisi untuk menangkapmu sekalian dengan barang bukti nyata yang ada di rumah.”
Polisi-polisi itu mulai tidak sopan masuk ke dalam rumahku dengan paksa tanpa izinku. Tidak boleh, Pekikku dalam hati, yang tak dapat dikeluarkan. Jika aku keluarkan, maka konsekuensi terburuk bakal lebih menghantui.
Mengapa burung merpati itu mematukku?
Aku tidak mengerti.
Tidak lama setelah itu mobil ambulans juga datang, lima yang datang. Satu per satu papan angkat diambil dari mobil. Satu per satu dari ketujuh orang itu diangkut berlumur darah. Satu per satu tatapan penuh keberanian dari orang-orang mulai menusuk.
Polisi pun datang menanyakan namaku, lalu memborgol tanganku di belakang. Entahlah, padahal aku tidak akan kabur. Hanya saja, aku tidak mengerti apa maunya. Padahal semua permintaannya selalu aku penuhi tanpa terkecuali. Namun, mengapa ia malah mengkhianati dengan sehina-hinanya?
Bahkan mereka juga memperlakukan dengan kasar. Entah apa ada dendam kesumat apa kepadaku. Tapi, kejadian ini benar-benar telah menghancurkan hatiku sampai berkeping-keping.
Baiklah, jika itu yang dia mau. Aku akan menuruti permainannya. Ini mungkin adalah permainan baru darinya. Ya lebih baik aku berpikir seperti itu saja.
Mobil terus berjalan berkelok-kelok melewati mobil-mobil lain yang berjalan, satu dua mobil terlewati dengan cepat dibantu oleh sirene membuatnya lebih cepat sampai kepada jeruji besi.
Setelah proses lama dan meja hijau dipikul dan ditetapkan bahwasanya hukuman yang ditentukan adalah hukuman mati. Tentu merasa janggal dengan pengadilan ini, bahkan aku tidak diberi kesempatan mencari pengacara.
Aku ditempatkan di penjara paling buruk di negeri ini. Tidak ada satu pun orang yang mau ke sini. Sebab selain keamanannya yang ketat, penjaga di sini juga mudah melayangkan tangan. Tidak sedikit orang yang keluar dari penjara ini, keluar dengan wajah yang busuk melankolis.
Benar saja kabar burung itu, setiap hari setiap waktu tanpa alasan yang jelas sekali pun mereka datang menyiksaku. Tidak hanya penjaga, tapi tahanan lain juga ikut menikmati. “Rasakan ini! Inilah yang dirasakan keluargamu ketika kamu membunuhnya!” Ucap merek lantang. Iya memang aku membunuh keluargaku sendiri, tapi aku membunuh mereka dengan cepat dan yakin dengan sedikit rasa sakit.
Mulut mereka dengan gampangnya menghakimi padahal dirinya sendiri juga terlibat pada kejahatan yang lebih besar dariku. Memangnya korupsi tidak merugikan orang lain. Memangnya menipu tidak merugikan orang lain. Memangnya mencuri tidak merugikan orang lain. Memangnya menculik tidak merugikan orang lain.
Segala kejahatan pastilah merugikan orang lain. Tapi mereka dengan dada yang diangkat tinggi menghakimiku tanpa tahu apa-apa. Entahlah, mereka mungkin sudah tidak punya cermin di rumahnya. Kasihan sekali.
Rudapaksa, penyiksaan susah menjadi makanan sehari-hariku. Agar diriku masih memiliki kewarasan. Para penjaga setiap hari akan membawaku sebuah tempat, yang bahkan aku sendiri tidak mengetahuinya. Sebab, aku selalu dipakaikan kain hitam di kepala saat dikirim ke sana.
Di tempat itu ada seorang dokter, katanya. Dia bernama Meto, sudah tua wujudnya. Namun, ia memiliki semangat seperti anak muda. Orangnya sangat berisik dan menanyaiku banyak hal. Setelah selesai, dia selalu diberi sebuah kantong keresek hitam yang besar. Aku selalu penasaran, namun selalu dilarang oleh mereka, yang pasti keresek hitam itu selalu bau busuk.
Ini sudah satu tahun lebih terlewati, aku menghitung waktu dengan menggores tembok satu kali setiap hari. Dengan total 365 goresan lebih menempel di tembok. Mereka tidak marah, ya sudah aku selalu lanjutkan.
Sebuah rumor berkeliaran, ada yang mengatakan telah terjadi hal mengerikan di luar sana. Ada juga yang mengatakan bahwa kiamat sudah datang. Ada juga yang lain mengatakan bahwa kebebasan akan segera mendatangi mereka.
Perasaan roller coaster terus menghantui para tahanan seperti kami. Ada yang berharap, ada yang ketakutan, dan ada yang lebih memilih mati di sel tahanan.
Para penjaga juga setiap hari semakin mengurang. Sebagian para tahanan memulai rencana mereka untuk pertama kalinya menerobos keluar satu-satunya penjara paling ketat di seantero negeri.
Aku juga ikut.
Katanya seorang pahlawan akan muncul, yang bakal menjadi juru kunci dari pelarian ini. Para tahanan yang mempunyai sedikit harapan juga mulai ikut merencanakan pelarian.
Satu hari setelahnya rencana mulai dijalankan. Satu per satu penjaga mulai dilumpuhkan, begitu juga di pihak kami. Satu per satu tahanan dilumpuhkan dengan besi panas yang meluncur tepat ke dada, kepala, dan seluruh bagian tubuh.
Tidak mau kalah, kami pun merampas senjata mereka.
Terjadilah perang besar di sel tahanan. Dengan jumlah korban yang sudah tidak terhitung banyaknya. Menurut arloji jam yang kami dapatkan dari salah satu penjaga, peperangan ini berlangsung enam jam. Tidak hanya berbalas besi panas, tapi pukulan juga ikut dilancarkan. Karena amunisi yang kurang juga membuatnya tidak terlalu berguna.
Ketika berada di mulut penjara. Aku melihat sosoknya yang gagah dan tampak pemberani. Sang pahlawan kami, yang membawa kami dari kegelapan menuju cahaya. Sang Moses yang membawa kami dari satu pulau ke pulau lain melewati air yang dibelah olehnya.