![Bangtan Appa [BTS]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/bangtan-appa--bts-.webp)
Tandai typo
Sebelum baca jangan lupa comment asal dan bias kalian siapa:)
Happy Reading-
_____________.
Sore ini jungkook dan anaknya jeon jihan sedang bersantai diruang tamu dengan secangkir kopi milik jungkook dan susu milik jihan. Keduanya tampak asik menonton acara favorite sang anak, Jungkook sesekali mengelus rambut putrinya yang fokus menonton, senyum kecilnya tercetak saat melihat wajah lucu putrinya merengut saat tokoh kartun yang dinonton tertangkap. Lucu, pikirnya.
"Appa" panggilan kecil membuat jungkook mengalihkan tatapannya dari televisi didepannya lalu melihat putri cantiknya
"hng" hanya gumaman membuat jihan menggerutu Karna ayahnya hanya menjawab dengan gumaman, kaki mungilnya dihentakkan membuat Jungkook terkekeh gemas dengan putri cantinya.
"Ada apa sayangnya Appa?, Putri Appa sangat cantik seperti eomma hm" ucap jungkook dengan lembut, tangannya mengusap pipi gemil sang anak dengan pelan, matanya menatap tepat pada bola mata bulat sang putri tersirat kerinduan ditatapan sendu milik Jungkook.
'Putri kita sudah tumbuh besar, matanya cantik seperti mu, sayang aku merindukan mu'.
"Appa jihan ingin bermain dengan appa" ucap jihan lirih membuat jungkok menghela nafas lalu memeluk malaikat kecilnya mengusap halus rambut anaknya, dia ingin sekali bermain tetapi setelah ini dia harus pergi bekerja kembali ada rapat yang tidak bisa ditinggkan.
"Appa sedang sibuk jihan, kau bisa bermain dengan jimho, jina, namyoon, yola, jisung, jungsi, taehyun, dan yungra" ucap jungkook pelan sembari mengusap rambut sang anak dan berharap anaknya mengerti dengan kesibukannya jujur jungkook juga merindukan waktu bersama anaknya itu sudah lama tidak pernah bermain ketaman, jalan-jalan kepantai dan kegiatan anak-ayah lainnya, tapi jika dia tidak bekerja maka dia tidak akan bisa membiayai kehidupan putri kecilnya, Jungkook tidak mau anaknya merasakan kekurangan dalam hal finansial.
Jihan menghela nafas, mata bulatnya berkaca-kaca melihat Jungkook yang hanya memberikan senyum kecil seolah semuanya hanya masalah kecil.
"Appa selalu seperti ini, appa tidak pernah mempunyai waktu untuk ku, Appa selalu sibuk dengan pekerjaan Appa, Jihan juga ingin diperhatikan!" Teriak Jihan membuat Jungkook terkejut melihat anaknya berteriak seraya menangis, hatinya berdegup kencang merasa bersalah.
"Jihan, hei sayang dengarkan Appa nde?, Appa bekerja untuk Jihan, mendapatkan uang untuk sekolah Jihan dan membelikan Jihan mainan, jika tidak bekerja Appa tidak bisa membuat Jihan memakai pakaian bagus, mainan baru, dan sekolah ditempat sebagus sekolah mu" jelas Jungkook secara perlahan.
Jihan menatap Jungkook yang juga tengah menatapnya, kedua matanya sudah basah dengan air mata, tatapan Jihan jelas menunjukkan kekecewaan yang besar.
"Nde appa, jihan akan kerumah jimho oppa saja, aku akan bermain dengan paman Jimin juga" ucap jihan mencoba tersenyum seperti biasa, lalu pergi tanpa melihat jungkook lagi, ada rasa kasihan melihat anaknya seperti itu tetapi dia tidak bisa meninggalkan pekerjaannya. Jihan dan pekerjaannya sama-sama penting untuk saat ini, biarkanlah anaknya mengerti suatu hari nanti.
"Maafkan appa jihan" gumam Jungkook melihat sayu pintu didepannya yang sudah tertutup menelan putrinya disana.
.
.
"Jimho, jina" suara teriakan jihan membuat jimho keluar setelah mendengar teriakan Jihan, putra dari Jimin itu bergegas menghampiri Jihan yang berdiri didepan pintu apartemen sang Appa dengan wajah memerah menahan tangis.
"Ada apa jihan?" tanya jimho melihat jihan didepannya yang memeluk boneka beruang berwarna coklat, bibirnya mengerucut khas Jihan jika sedang sedih.
"Aku ingin menginap" ucap jihan pelan dibalas anggukan oleh jimho lalu menarik tangan jihan untuk masuk kedalam, jimho menuntun Jihan sampai diduduk di sofa.
"Sebentar lagi paman akan berangkat bekerja" ucap jimin membuat jihan mengalihkan pandangannya melihat wajah kecewa jimho, salah. Ternyata pamannya -jimin- sama gilanya kerja seperti jungkook appanya.
"Kenapa malam paman?" tany jihan diangguki jimho, sedangkan jimin tersenyum tipis melihat jimho melalui lirikan mata, memastikan jawabanya tepat untuk menjelaskan kepada anak-anak didepannya.
"Karna malam ini klien appa datang dari amerika" ucap jimin membuat jimho menggangguk pasrah sudah biasa bagi jimho ditinggal tengah malam oleh jimin, sedangkan Jihan hanya menatap keduanya.
Mereka jimho, jihna dan jihan sudah berada dikamar dengan mainan masing-masing. Jihan dengan boneka beruang besar yang dimiliki jihna, jimho dengan robot-robotannya, dan jihna dengan mainan masak-masaknya.
"Oppa" panggilan jihan membuat jimho menoleh melihat wajah sendu milik jihan, dengan cepat jimho mendekati Jihan yang tampak menahan air matanya, dengan perlahan jimho memeluk adiknya itu.
"Wae? kau sedang sedih?" tanya jihna diangguki jihan pelan, jihna mengerti lalu ikut memeluk Jihan sesekali mengusap kepala jihna mencoba memberikan ketenangan.
"Appa selalu sibuk dengen pekerjaan kantornya" ucapan jihan membuat jihna dan jimho saling melirik lalu menggangguk paham.
"Jimin appa juga seperti itu" ucap jihna pelan mencoba menenangkan jihan.
"Tapi jimho dan jihna tidak pernah mengeluh karna jimho dan jihna juga perlu uang untuk sekolah, makan dan membeli mainan" ucap jimho mengusap kepala jihan pelan mencoba menasehati jihan, sesekali melirik jihna yang juga ikut melihatnya.
"Jadi jihan tidak boleh sedih jika jihan tidak dibelikan mainan kalo paman jungkook tidak bekerja" ucap jihna menambahkan membuat jihan menangis lalu memeluk jimho, jihna hanya tersenyum kecil melihat jimho menenangkan adik mereka dengan perlahan, ada rasa bersyukur memiliki saudara seperti jimho yang memiliki pikiran yang dewasa.
"Jangan menangis, jika aku salah aku minta maaf" sahut jihna melihat sendu jihan yang terisak.
"Seharusnya jihan tidak marah kepada appa, jihan juga ingin dibelikan mainan terima kasih jimho oppa, jihna eonni" ucap jihan dengan lirih menatap jimho dan jihna bergantian dibalas anggukan oleh sikembar, keduanya tersenyum setelah bisa membuat Jihan mengerti.
"Sudah jangan menangis sebaiknya kalian tidur" ucap jimho diangguki jihna dan Jihan. Keduanya bergegas merapikan tempat tidur dan memejamkan mata menjemput mimpi malam ini.
tanpa mereka sadari jimin melihat dan mendengar keluh kesah anak-anaknya. Air matanya tak bisa ditahan, dadanya terasa sesak melihat anak-anak harus tumbuh dewasa lebih cepat dibandingkan umurnya, ada rasa bersalah amat dalam tetapi Jimin tidak bisa berbuat sesuatu.
"Maafkan appa nde?" gumam jimin lirih lalu berjalan keluar dari apartemennya.
Bagaimana pun dia harus bekerja dan memberikan kehidupan yang baik untuk anak-anaknya. Walau dia harus kehilangan waktu berharga dengan kedua malaikatnya.
__________.
Jangan lupa comment☺
Haiii apa kabar?☺
ARMY.... comment kuy😁