Atrevald Gang

Atrevald Gang
06. ADA APA?



..."apapun masalahnya, berdamai dengan keadaan adalah solusinya"...


...~Bintang langit angkasa~...


...*****...


...Happy reading ❤️...


Pagi ini matahari terlihat bersinar sangat terang. Bersamaan dengan itu juga, seorang gadis dengan tangan yang masih terisi selang infus kini telah tersadar dari tidurnya setelah melewati waktu selama beberapa jam.


Matanya perlahan mulai terbuka, tangannya perlahan menyentuh pipi sang mamah yang masih tertidur lelap. Pergerakan tangannya mampu membuat sang empu terbangun dari tidurnya.


Nara mulai mengerjapkan kedua matanya melihat sang putri yang kini telah terbangun sambil menatap kearahnya "vhea, kamu udah sadar" tanya nara.


" Udah kok, mamah pasti capek banget ya nungguin vhea" tanya sang gadis merasa bersalah.


Nara tersenyum melihat raut wajah vhea " sayang, kamu itu baru sadar jadi gak usah mikir aneh-aneh kayak gitu"


"Emang pertanyaan vhea aneh ya mah"


"Bukan gitu sayang, tapi kamu itu bicara seolah-olah kamu yang paling salah, padahal mamah gak pernah sedikitpun ngerasa capek" jelasnya.


"Tapi mah--"


"Udah vhe, gak usah mikirin itu dulu"


"Sekarang kamu makan dulu ya" ujar nara lembut.


Vhea menggelengkan kepalanya "vhea gak laper mah" balasnya lemah.


Nara yang melihat itu malah ikut mengelengkan kepalanya tak habis pikir dengan vhea "vhea kamu baru sadar, kamu juga udah pingsan dalam waktu yang lama, jadi kamu harus makan biar cepet sehat" ucap nara.


"Mah vhe--" belum sempat menyelesaikan perkataannya bintang yang baru masuk ke ruangannya memotong pembicaraan vhea dan nara.


"Permisi tante" ujar bintang sopan.


Nara yang masih sibuk membujuk vhea menoleh saat mendengar suara bintang yang memanggilnya.


"Iya bin, ada apa?" Tanyanya.


"Saya permisi pulang bentar tan, mau ganti baju dulu, nanti saya akan dateng kesini lagi" izin bintang.


Nara mengangguk " yaudah kamu pulang aja gapapa, kalo kamu masih capek kamu bisa dateng besok aja, vhea biar sama tante dan zero" ujarnya.


"Gak kebalik mah?" Ucap vhea bingung.


Nara mengerutkan keningnya " apanya yang kebalik"


"Vhea biir simi tinti din ziri" ujarnya kesal.


Nara yang mendengar penuturan putrinya langsung paham.


"Ya emang harus gitu kan?"


"Ya tapi--"


"Ah udahlah vhea capek" kesalnya.


Bintang hanya mengerutkan keningnya tak paham dengan ucapan keduanya "lo kenapa, kesurupan hantu beranak?" Ujar vhea saat melihat kening bintang yang berkerut.


"Paan sih lo, gak jelas" balas bintang datar.


"Lo tuh yang gak jelas"


"Lo"


"Elo"


"Lo yang gak jelas napa malah jadi ngomongin gue" jawab bintang tak santai.


"Lah emang lo ga je---"


"Udah udah, kalian Kenapa jadi berantem sih kayak anak kecil tau gak" potong nara.


"Bintang duluan mah, pokoknya mamah harus beri dia pelajaran!!" rengek vhea dengan nada manja nya.


"Kok jadi gue sih" kesal bintang.


Nara yang melihat itu hanya geleng-geleng kepala. Ia benar-benar sangat lelah jika sudah mempertemukan putrinya dengan bintang anak dari sahabatnya. Sifat mereka tidak akan pernah bisa menjadi dewasa jika sudah dipertemukan.


"Udah udah, gak boleh ribut lagi"


"Bener tuh tan, saya juga sebenernya gak mau, tapi vhea nya aja yang suka ngajak ribut" balas bintang santai membuat vhea memelototkan kedua matanya tajam menatap bintang.


"Lo--" vhea menyipitkan matanya sambil menujuk bintang dengan jari telunjuknya.


Mulutnya tak berhenti bergerak seperti hendak menerkam dan memakan mangsanya.


"BINTAAANG, LO YANG NGAJAKIN GUE RIBUT TERUS"


"LO YANG BUAT GUE KESEL TIAP SAAT"


"LO YANG BUAT GUE BAD MOOD, DAN SEKARANG LO NGOMONGIN GUE?" Teriak vhea namun tak dihiraukan oleh bintang yang kini telah berlalu dari ruangannya.


"Ih dasar cowok nyebelin!" Gerutunya.


"Vhea udah, bintang kan dah pergi kenapa masih ngomongin dia terus sih, lagian kamu gak sopan loh ngomong kayak gitu ke kakak kelas" bujuk nara agar anaknya berhenti berbicara.


"Mamah belain dia?" Dengus Vhea kesal.


Nara menggelengkan kepalanya " nggak gitu vhea, maksud mamah bintang kan tadi udah bantu mamah buat bawa kamu kesini jadi kamu gak boleh ngomongin dia terus"


"Harusnya kamu bilang makasih dong sama dia" jelasnya.


"Lagian aku gak pernah minta buat ditolongin sama tuh bocah, dianya aja yang mau nolongin"


"Vhea" Tegur sang mamah.


"Iya iya vhea gak bakal gitu lagi deh"


...*****...


Disisi lain, terlihat arkan dan ken yang sedang menggedor-gedor pintu rumah bintang dengan sangat keras tanpa rasa takut jika akan menggangu ketenangan sang pemilik rumah.


Dor...dor...dor.....


"WOI BINTANG, KELUAR LO" Panggil ken dengan penuh emosi.


"WOI ANYING CEPETAN BEGO, BUKA PINTUNYA" Tambah arkan.


"Ngapain sih lo berdua berisik tau" Balas bintang yang kini telah berada dibelakang mereka.


Ken dan arkan yang mendengar suara sahabatnya yang sudah mereka tunggu sedari tadi, langsung menghampiri bintang dan ken menarik tubuhnya secara paksa.


Wajahnya yang merah karena amarah membuat bintang mengerutkan keningnya tak paham.


"Anj**g dari mana aja lo" pekik ken sambil menarik kerah baju bintang yang masih mengenakan seragam sekolah.


"Gue habis dari rs, kalian kenapa sih?" Tanyanya bingung.


"Markas lagi gak baik-baik aja, dan lo sebagai ketua malah santai banget" tekan arkan.


"Ada apa sama markas?" Tanya bintang masih santai.


"Mereka nyerang lagi" kali ini bukan arkan yang menjawab, tapi ken.


"Kurang ajar" decak bintang mulai emosi.


"Kita berangkat sekarang" tegasnya.


Ken yang masih terbawa emosi dengan sikap santai ketuanya, membuatnya tak segan-segan menonjok bintang tanpa rasa takut.


Bugh


Tonjokan itu berhasil mengenai sudut bibir bintang hingga berhasil membuat sudut bibirnya mengeluarkan cairan kental berwarna merah.


Sang empu hanya diam saja tak menanggapi bekas tonjokan ken yang kini telah mengalir darah segar disudut bibirnya.


Setelah diam beberapa saat, bintang beralih menatap wajah arkan yang terlihat menahan emosinya yang mungkin akan meluap kapan saja.


"Bisa-bisanya gue punya ketua bangsat kayak lo" emosi Ken.


"Cabut" perintah Bintang tanpa mengindahkan ucapan Ken.


Ken dan Arkan yang masih menahan amarah hanya terdiam, dan beberapa detik berikutnya mereka meraih kunci motornya masing-masing didalam saku jaketnya mulai mengikuti langkah sang ketua.


...*****...


Bugh


Bugh


Bugh


Belum reda nyeri disudut bibirnya, bintang harus kembali merasakan pukulan bertubi-tubi yang menyerang sekujur tubuhnya dari kedua sahabatnya bernama atharel dan gibran selaku anggota inti dari ~atrevald gang~ hingga membuat tubuhnya babak belur tak berbentuk.


Bintang hanya menatap mereka tajam tanpa berniat membalasnya. Ia mengusap area bibirnya yang terasa nyeri.


"KETUA KURANG AJAR LO"


"GUE GAK NYANGKA PUNYA KETUA GAK BERTANGGUNG JAWAB KAYAK LO" sengit gibran emosi.


"KETUA MACAM APA LO, SEMUA BERKAS REVALD UDAH BERHASIL MEREKA CURI"


"SEMUA RENCANA KITA BAKAL HANCUR!" tekan atha tak kalah sengit seperti Gibran.


Sunyi mulai mengelilingi mereka berenam. Semuanya terlihat terdiam dengan emosi masing-masing yang masih memuncak. Hingga sebuah suara menghentikan lamunan mereka "UDAH-UDAH, KITA BISA SELESAIKAN SEMUA BAIK-BAIK!!" kali ini bukan atha atau pun gibran yang bersuara, melainkan Arga yang sedari tadi terdiam.


Semua atensi melirik Arga dengan tatapan tajam "SELESAIKAN BAIK-BAIK GIMANA, KETUA LO ITU NGGAK BERTANGGUNG JAWAB BEGO!!" Balas ken pada arga dengan emosi yang meluap.


"Ketua Lo juga" balas arga menurunkan suaranya, tidak seperti tadi.


"Gue nyesel milih dia sebagai ketua" sesal arkan melirik bintang yang masih diam.


"Wakil? Dimana dia" ujar atha yang membuat semuanya mengerlingkan pandangan mencari wakilnya. Dan benar saja, wakil ketuanya tidak ada di sana. "Gak usah cari dia, dia lagi gak baik-baik aja" sahut bintang.


Ken melirik bintang dengan tatapan sinis "Lo pikir kita lagi baik-baik aja? hah?" Balasnya.


"Keluarganya lebih penting, biarin dia urusin keluarganya dulu!" Jawab bintang tak ingin kalah.


"Yang punya masalah disini bukan cuma dia tap-" ucapan Arkan terhenti karena Gibran memotongnya.


"CUKUP!! GUE CAPEK RIBUT TERUS SAMA KALIAN!! BISA DEWASA GAK SIH KALIAN?"


"DARIPADA BERANTEM TERUS KAYAK GINI LEBIH BAIK KITA OMONGIN SEMUA BAIK-BAIK" ujar gibran yang mulai bersahabat dengan keadaan.


"DAN LO--" tunjuk gibran pada bintang.


"GUE MASIH ANGGEP LO SEBAGAI KETUA, JADI SEKARANG TERSERAH LO MAU APA!"


Bintang masih terdiam tak menanggapi ucapan gibran. Ia masih mengamati markasnya yang kini telah berantakan akibat musuh bebuyutannya yang bernama ~avarez~. Ia juga emosi seperti anggota lainnya, tetapi sebagai ketua atrevald dirinya harus tetap selalu menjaga etika nya agar tidak memperpanjang masalah.


"KITA BERESIN SEMUANYA DULU!! SOAL MASALAH INI, KITA BICARAKAN NANTI" tegas bintang membuat instruksi. Semuanya masih bungkam, namun sejurus kemudian mereka beranjak dari tempatnya dan mulai mengikuti instruksi dari ketuanya untuk membereskan markas.