Atrevald Gang

Atrevald Gang
05. CEKCOK?



..."masih luka yang sama, hanya cara menyakitinya yang berbeda"...


...~Natavhea Kayla anistaya~...


...•...


...•...


...•...


...*****...


Drettt..


Drett..


Alih-alih Terdengar suara ponsel bintang berbunyi. Disana tertera huruf ~z~.


Bintang sengaja menulis nama zero menjadi z diponselnya, karena sesuai yang kalian tahu sendiri, bintang adalah orang yang cueknya diatas rata-rata sekitar 199° Celcius membuatnya sangat malas menulis nama temannya itu, yang sebenarnya hanya 4 huruf.


"Apa" tanyanya.


"lo ngapain sih nyuruh gue kerumah sakit segala"


"lo sakit?


" sakit apa? diabetes? sakit ginjal? sakit usus? mata? gigi? jantung? paru-paru? rongga-rongga? atau sakit hati? "


Bintang sedikit menjauhkan ponselnya dari telinganya, kemudian ia menatap lekat ponselnya dengan tatapan nanar.


Hatinya sangat iba dengan keadaan ponsel mahalnya saat ini, ia benar-benar tidak tega dengan ponselnya yang mampu mengunduh seluruh omongan seorang ~zero arkein pranata~.


" kalo sakit hati, Lo salah minta tolong sama gue"


" yang ada makin parah" ujar zero diseberang telpon berbondong-bondong.


"tapi kalo sakit hati gue sih gak percaya, secara Lo kan homo"


"udah deh gue sibuk!! masih banyak urus-"


"Ruang inap 09" singkat bintang lalu langsung mematikan ponselnya.


...••••...


"Sial banget tuh anak" ujar Zero kesal karena panggilan nya langsung dimatikan begitu saja.


"Lagian buat apa sih nyuruhin gue kerumah sakit segala"


Zero terlihat berpikir sejenak "atau jangan-jangan dia mau ke psikiater? mungkin aja kan dia udah nyadar dengan penyakit homo nya itu"


"Jadi secara nggak langsung dia telfon gue, kali aja minta bantuan"


"Eh tapi tadi dia bilang ruang inap 09? Jangan-jangan emang ada yang sakit" zero teringat akan perkataan bintang terakhir kali sebelum mematikan teleponnya.


Tanpa berpikir panjang zero langsung turun dari mobilnya. Sebenarnya selama ditelpon tadi ia sudah berada di parkiran dekat pekarangan rumah sakit sejak lama.


...*****...


Drett...


Drett..


Tampak ponsel bintang kembali bergetar setelah menyelesaikan panggilan nya dengan zero tadi.


Disana terpapang jelas huruf z dan e \=ze, yang tidak lain adalah nama adiknya.


Bintang segera menggeser tombol hijau dan langsung mengangkat nya.


"Abang udah sampai rumah?" Pertanyaan adiknya barusan membuat bintang mengerutkan keningnya bingung.


"Bukannya kamu dirumah dari tadi? Kenapa tanya? Harusnya kamu udah tau jawabannya apa!"


"Hah dirumah?" Suara zella diseberang sana terdengar sangat bingung. Namun tiba-tiba ia teringat kala dirinya memberi sebuah amanah pada vhea untuk selalu memantau abangnya itu. Setelah lama terdiam akhirnya zella paham, bahwa yang abangnya tanyakan pasti bentuk alasan vhea untuk mengalihkan perhatian bintang.


"I-itu bang, emm anu" terdengar jelas suara zella seperti orang gugup.


"Anu apa" tanya bintang bingung.


"Tadi papa sama mama bawa zella keluar kota, karena papa ada urusan mendadak" bohongnya.


"Maaf karena nggak pamit dulu"


"Urusan apa?"


Pertanyaan bintang mampu membuat rongga tenggorokan zella terasa sangat tercekat. Gadis itu tidak sanggup untuk berbicara lagi, rasanya ia ingin menangis sejadi jadinya saat kembali mengingat papa nya yang tengah terbaring lemas dibrankarnya.


"bi-biasalah bang, urusan kantor" ujar zella mencoba tenang.


Bintang terdiam kemudian kembali berbicara "terus kamu nggak sekolah? Dan kenapa kalian nggak bilang Abang dulu? Atau kalian lupa sama abang?" Tanya bintang berbondong. Ia ingin marah tapi tak bisa.


"Bukan gitu bang, tadi papa yang bilang buat--"


Tut


Tut


Sambungan telepon mereka langsung dimatikan sepihak begitu saja oleh bintang tanpa mau mendengarkan penjelasan dari adiknya.


...*****...


Zella hanya tersenyum getir ketika melihat layar ponselnya dimatikan begitu saja oleh bintang tanpa mau mendengarkan penjelasannya"Yah, kok dimatiin sih, padahal aku belum selesai ngomong" lemahnya.


"Abang belum tahu, betapa terpuruknya aku sama mama sekarang" ungkapnya.


Air mata zella yang tadinya sudah mulai mengering, kini kembali jatuh membasahi pipinya dengan derasnya.


"Zell, kamu kenapa nangis" tanya mamanya yang baru pulamg membeli makanan untuk mereka berdua.


Zella mendongak " mah, kayaknya bang bintang marah gara-gara ucapan aku barusan" ucapnya.


"Emang kamu bilang apa sama bintang?"


"Zella cuma bilang sama seperti yang mama suruh tadi"


"Tapi kayaknya abang marah karena kita nggak ngabarin dari awal, padahal kita nggak keluar kota"


"Maafin mama ya zel, mama terpaksa suruh kamu berbohong sama bintang, mama cuma nggak mau kalo bintang, tahu keadaan papa, kamu tahu sendiri kan keadaan bintang juga lagi gak baik baik aja"


"Iya mah zella ngerti kok, tapi gimana sama bang alan? Apa kita juga harus sembunyikan semua ini dari bang alan" tanyanya.


Mamanya terdiam beberapa saat "kayaknya memang harus seperti itu"


...*****...


Suara pintu ruangan itu terbuka lebar. Seorang pria berpakaian putih rapi dan beberapa suster terlihat mengikuti langkah dokter itu.


"Permisi" ujar dokter itu.


"Dok, gimana keadaan vhea sekarang" tanya nara.


" Apakah anda bisa masuk ke ruangan saya terlebih dahulu? Ada yang ingin saya sampaikan" jelasnya .


" Baik dok saya akan segera


keruangan anda" balas nara cepat.


Jujur di dalam hati nara, ia masih sangat khawatir Dengan keadaan vhea saat ini. nara dengan cepat segera mengikuti dokter Riko yang menangani vhea tadi.


Bintang hanya duduk terdiam masih larut dengan pikiranya saat ini. Ia masih penasaran dan bingung dengan keluarganya. Dirinya masih betanya tanya dalam benaknya, mengapa zella beserta mama dan papanya pergi begitu saja tanpa mengabarinya terlebih dahulu?


Alih-alih suara langkah kaki mampu menghentikan lamunan cowok itu. Baru saja bintang mendongak, temannya itu sudah mencerecokinya dengan berbagai macam pertanyaan.


"Lo ngapain sih nyuruh gue kesini"


"Lo kan tau sendiri gue alergi sama cowok homo"


"Jadi buat apa lo nyuruh gue kesini? Jangan bilang lo mau cerita sama gue kalo lo habis ke psikiater dan dokter bilang kalo penyakit homo lo itu gak bisa disembuhkan"


"Tapi apa hubungannya sama ruang inap?"


Zero berpikir sejenak "Siapa yang sakit?" Tanyanya.


"Adek lo" balas bintang seadanya.


"Adek?" Tanya zero memastikan.


"Lo amesia?" Balas bintang balik bertanya.


Zero mengedarkan lamunannya "maksud lo vhea sakit" tanya zero kesekian kalinya.


Bintang melirik zero sekilas "Ya, semua gara-gara papah lo yang banting dia tadi"santainya.


"Lo kalo ngomong dijaga, papa gue gak mungkin kayak gitu bodoh" balas zero mulai tersulut emosi.


Tangannya tidak segan-segan menarik paksa kerah baju sekolah bintang yang kini masih dipakai cowok itu. Zero benar-benar tidak terima papa nya dituduh seperti itu.


"Kenapa? Lo gak terima?" Tanya bintang tersenyum sinis.


"Jelas gue gak terima ban--"


"Lo gak terima karena kelakuan lo sama bokap lo itu sama kan?" Balas bintang Memotong kalimat zero.


Bintang masih sangat ingat ketika dahulu saat keduanya masih kelas 10, Zero pernah menyelingkuhi kekasihnya. Akibatnya kedua pasangan itu bertengkar hebat yang membuat sang gadis hampir bunuh diri, setelah kejadian itu zero tidak pernah terlihat dekat dengan perempuan manapun.


Zero benar-benar masih merasa sangat bersalah dan trauma dengan kesalahan fatalnya itu.


"EMANG APA YANG PAPA GUE LAKUIN? SAMPE-SAMPE LO NUDUH BOKAP GUE KAYAK GITU? HAH?" ucapan zero semakin meninggi.


"SELINGKUH!!" Tekan bintang.


"LO CARI MATI YA"


BRAK


BUGH


BUGH


Tanpa menunggu Jawaban bintang lagi, zero langsung menyerang bintang dengan pukulan bertubi-tubi. Hingga suara pekikan nara menghentikan langkah tangan zero yang hendak memukul tubuh bintang.


"ZERO" pekik nara.


"Udah!! Kamu itu apa-apaan sih"


"Mah, zero gak terima kalo bintang nuduh papah selingkuh! Dia keterlaluan" balas zero kesal.


"Papamu mu itu memang selingkuh zero!" Jelas mama nya.


Ucapan mama nya barusan membuat tubuh zero mendadak kaku. Ia masih tak percaya jika papa nya memiliki selingkuhan "ma-maksud mama?" Tanya zero masih tak percaya.


"Iya, papa mu selingkuh"


Perlahan nara mulai menceritakan kejadian dari awal hingga akhir yang membuat zeeo merasa bersalah pada bintang karena telah memukul cowok itu bertubi-tubi tanpa meminta penjelasan terlebih dahulu.


Tak lupa pula zero juga sempat membulatkan kedua matanya saat mendengar adik kesayangannya dihantam habis-habisan oleh papa nya hingga masuk rumah sakit. Kini cowok itu juga telah mengerti, mengapa bintang menyuruhnya datang kerumah sakit itu.


"Sekarang kamu minta maaf sama bintang" suruh nara.


"Sory bin, gue beneran gak tau" ucap zero memohon.


Bintang tersenyum sinis " bukannya tadi udah gue kasih tau?" Tanyanya.


Skakmat. Pikiran zero benar-benar bleng saat ini, ia masih tak percaya dengan kejadian yang dialami keluarga nya. Pertanyaan bintang barusan juga membuatnya terdiam membisu ntah harus berbicara apalagi.


Zero melirik bintang sekilas. Dapat dilihat oleh zero betapa babak belurnya teman disampingnya itu akibat ulahnya. Ia menjadi merasa sangat bersalah pada bintang.


"Udah, santai aja" balas bintang datar.


"Tapi muka lo?" Khawatir zero.


Ntah lah akhir-akhir ini tingkah zero menjadi lebih sensitif seperti cewek, mulai dari yang tiba-tiba nyerocos, tiba-tiba marah asal mukul tanpa penjelasan, dan sekarang tiba-tiba khawatir.


Sungguh zero yang membingungkan.


Bintang memegang wajahnya sekilas "Ada yang salah sama muka gue?" Bintang terkekeh pelan melihat ekspresi wajah zero yang terlihat panik dan khawatir.


" Bin lo gak marah kan?" Tanya cowok itu.


"Gak" balas bintang singkat.


Zero menghela napas lega, kemudian cowok itu berbalik badan melihat nara yang terdiam.


"Mah, gimana keadaan vhea sekarang?" Tanya zero khawatir.


"Vhea gapapa zer, kita cuma cukup nunggu dia siuman aja" ujar nara berusaha tenang.


Lagi-lagi zero menghela napasnya " kalo aja zero tau bakal kayak gini, zero yang bakal anter vhea pulang" zero menundukkan kepalanya sedih.


Nara hanya menghela napasnya pelan "Kamu gak usah merasa bersalah, yang namanya musibah gak akan ada yang tau" ujar nara menenangkan zero yang sepertinya sangat merasa bersalah dengan adiknya.


" Lagian bintang ngapain tadi disana? dia diem aja?" Kini mata zero beralih menatap bintang tajam.


Bintang yang melihat hal itu hanya menaikkan bahunya acuh "gue gak tau kalo bakal gini" jelasnya.


Zero hanya diam, mau ia berkata sebanyak apapun bintang tidak akan meresponnya panjang lebar. Lagian itu juga memang salah zero sendiri karena tidak mengantar adiknya yang memang sudah menjadi tanggung jawabnya sebagai seorang kakak.