Atrevald Gang

Atrevald Gang
01. DASAR ES BATU



...Cerita ini hanya fiktif belaka, jadi mohon maaf apabila ada kesalahan nama atau tempat🙏...


...Saya tidak minta dimaklumi akibat tulisan yang masih berantakan karena hanya penulis pemula, tapi saya mohon untuk para pembaca agar dapat memberikan kritik atau saran agar saya dapat memperbaiki penulisan yang masih memiliki banyak kesalahan....


...💢💢💢💢...


...Pagi ini mentari bersinar sangat terang, tetapi apakah mungkin mentari dapat menghindar dari senja yang pasti datang?...


...Pada dasarnya semua tawa pasti akan menemukan dimana ia akan tenggelam dan terlelap pada egonya sendiri...


...Aku tau, aku bukan tipe mu...


...Tetapi setidaknya izinkan aku untuk terus mengejarmu...


...*****...


..."Tentang awal dari dia yang tak diinginkan tetapi berujung menjadi sebuah impian"...


...~Natavhea kayla anistaya~...


...•...


...•...


...•...


Happy reading ❤️🤗......


"Aku tau pada dasarnya hidup memang tidak bisa diubah"


"Tapi apa salah, jika aku mencoba merubah kehidupan itu agar menjadi lebih baik?" Pikir Vhea.


Ya ~Natavhea kayla anistaya~ Gadis dengan seribu luka didalamnya. Ia pernah berniat untuk mengakhiri hidupnya, namun ia mengurungkan niatnya setelah bertemu cowok remaja yang tak lain adalah kakak kelasnya yang berhasil membuat nya jatuh hati.


Walau kakak kelasnya tidak menyimpan rasa yang sama terhadapnya, ia tetaplah menyukai kakak kelasnya.


Akibat cinta yang terus menggebu didalam hatinya, membuat dirinya tidak bisa diam dan malah terus-terusan mengejar cinta pertamanya itu meskipun ia sudah ditolak berkali-kali. Sungguh kakak kelas menyebalkan.


Cowok yang kini mulai disukai Natavhea bernama lengkap ~Bintang langit angkasa~ seorang senior putra sekaligus ketua basket disekolah nya. Namanya juga cukup populer dikalangan masyarakat, karena orang tuanya adalah salah satu orang pemilik saham perusahaan terbesar di Jakarta. Perusahaan itu bernama "WISNU GROUP".


Selain itu, ia juga merupakan seorang ketua anggota komplotan geng motor yang bisa dikatakan tidak sedikit jumlahnya. Namun karena wajah tampan amat gemas yang dimiliki oleh seorang Bintang, membuatnya tidak terlihat seperti seorang ketua.


Sifat dingin dan mata tajam yang dimilikinya membuat semua teman-temannya sangat takut dan tidak ada yang berani berurusan dengan nya. Tetapi berbeda sekali dengan kelima sahabatnya yang selalu membuatnya naik pitam, diantara mereka juga tidak ada rasa takut sama sekali ketika bisa membuat Bintang kesal. Mereka hanya tertawa cekikikan apabila berhasil membuat seorang Bintang naik darah.


Perilaku mereka sangat bertolak belakang sekali dengan satu sahabat baik Bintang yang paling dekat dengannya sekaligus satu sifat seperti Bintang. Sahabatnya itu dikenal sebagai manusia kebal dengan hidupnya yang bersifat dingin bagaikan salju yang tak pernah mencair. Sama seperti dirinya.


...*****...


Pagi ini mentari telah mengiringi perjalanan seorang gadis remaja yang tak lain dan tak bukan adalah Natavhea, atau yang biasa dipanggil Vhea.


Gadis itu nampak sedang resah dan sangat gelisah, tidak biasanya ia telat masuk sekolah. Dengan langkah tergesa-gesa ia mulai berjalan kearah belakang sekolah yang dimana disana terdapat sebuah pagar yang biasa dinaiki oleh siswa-siswi SMA pratavana ketika telat masuk sekolah.


Dengan sangat berhati hati, ia perlahan mulai memanjat pagar itu dengan sedikit kesusahan.


"Sumpah ini pager atau tiang listrik sih, licin amat" Gerutu Vhea.


Grekk


Bugh


"Aaaaaaaaaaaaa" Teriakan gadis itu menggema didalam pagar sekolah.


Ya, Vhea berhasil masuk kedalam pagar tersebut, tetapi karena ia kurang berhati-hati dalam menuruni pagar, membuat dirinya terpeleset dan terjatuh kebawah pagar.


Untungnya ada seorang siswa laki-laki yang baru saja keluar dari bilik toilet, dan tanpa sengaja mendengar teriakannya. Tanpa aba aba cowok itu langsung berlari menuju kearah belakang sekolah dan mulai mencari keberadaan seseorang yang barusan berteriak.


Matanya menelisik setiap inci tempat itu, dan matanya berhenti disatu titik dimana ia melihat seseorang tergeletak dan mulai bangkit dari sana. Disitu terlihat sangat jelas seorang gadis remaja tengah membersihkan bajunya yang kotor akibat tumpukan sampah yang berada disana.


"Sial banget sih gue hari ini"


"Mana bau banget lagi nih lubang sampah" kesal Vhea.


Yap, mungkin Vhea akan lebih baik jika jatuh diatas tanah yang terhubung langsung dengan pagar dari pada harus berurusan dengan lubang sampah yang memang sudah ada sejak pertama kali ia masuk sekolah.


Cowok yang melihat kejadian itu adalah bintang, sang pangeran es dengan 257 pintu didalamnya. Tanpa disadari bibir cowok itu mulai terangkat dan bersuara.


"Lo ngapain disitu, mau jadi pemulung gembel?" Tanya Bintang yang masih berusaha menahan tawanya.


Ia tak ingin image nya hilang begitu saja hanya karena menertawakan seorang gadis yang masuk ke lubang sampah.


Namun Bintang memang tidak bisa menjaga image nya sebagai cowok dingin apabila sudah dipertemukan dengan seorang Natavhea.


Mata Vhea mulai mencari keberadaan suara seseorang yang tiba-tiba muncul ntah dari mana. Tatapannya berhenti ketika melihat kakak kelasnya tengah menatapnya sambil menahan tawa "Dasar kakak kelas kurang ajar, bantuin kek kalo lihat adek kelasnya jatuh"


"Jangan cuma diliatin dong" Kesal Vhea.


Lagi lagi Bintang masih menahan tawanya "Lagian lo ngapain disitu" Ejeknya.


Vhea melirik Bintang tajam "Lo gak lihat gue jatuh?"


"Hah?"


"Bantuin gue keluar kek dari sini" Pinta Vhea.


Bintang hanya tersenyum bingung "Lo kan jatuh sendiri, jadi keluar sendiri lah"


"Woiii" Teriak Vhea.


"Dasar kakak kelas bego, bukannya nolongin malah ninggalin" Pekik Vhea.


"Es batu nyebelin"


"Awas aja lo yah" Cerocos Vhea.


...*****...


"Bin lo dari mana aja, lama amat" Tanya Zero-kakak Vhea.


"Dari toilet" Ucap Bintang dingin.


"Lo habis berak atau habis hamilin anak orang sih? Gak biasanya lo selama ini" Ceplos Ken santai.


"Mpphhh"


"Jhahhh" Ken meludah dengan napas yang memburu.


"Woi lo apa apaan sih, pake nyumpelin mulut gue sama kaos kaki segala, mana bau lagi" Kesal Ken pada Arkan yang tiba-tiba menyumpal mulutnya menggunakan kaos kaki miliknya.


"Lo bego atau gimana sih, gak bisa banget apa jaga tuh bibir kalo ngomong, asal ceplas-ceplos aja"


"Untung Bintang baik, kalo nggak lo udah di baku hantam sama dia" Ancam Arkan.


"Hehe, abang Bintang yang baik, maafin dedek ken ya, adek janji gak bakal Ngomong gitu lagi kok" Ucap Ken seperti anak kecil sambil menempelkan satu jari telunjuk nya dengan jari tengahnya.


"Lo gak dapet makan siang 5 bulan" Balas Bintang yang sedang mengotak-atik kan ponselnya tanpa berniat menatap kearah Ken sedikitpun.


Ken sangat tidak puas dengan jawaban bintang yang sangat dingin dan kejam. Padahal ia hanya keceplosan bicara seperti itu yang menurutnya sepele. Tetapi tidak bagi Bintang, menurutnya ia juga harus menjaga ucapan para sahabatnya agar tidak salah jalan dan tidak sesad seperti Ken. Ya walaupun dirinya sendiri juga sering sesad.


Namun apalah daya Bintang yang hanya seorang diri, ketiga sahabatnya memang benar-benar sesad dan tak bisa di omongi.


Berbeda sekali dengan 1 sahabatnya yang sama-sama es seperti dirinya. Sahabatnya yang tak lain adalah Arga.


salah satu sahabatnya yang dinginnya mungkin melebihi Bintang. Namun, jangan dihiraukan lagi akan kepintarannya. Ia sangat pandai dalam semua mata pelajaran, bahkan dirinya sempat dibawa ke pusat kota untuk mengikuti acara Olimpiade matematika. Dan benar sekali, ia memenangkan olimpiade itu dengan memegang sebuah mendali penghargaan dengan memperoleh peringkat tertinggi, yakni juara 1.


"Abang bintang yang baik, kalo dedek gak dapet makan siang, berarti bisa dong dapet makan pagi" Bujuk ken ambigu yang masih menempelkan kedua jarinya.


"Gak!!" Singkat Bintang.


Ken hanya mengerucutkan bibirnya sangat kesal dengan Bintang, sementara kedua temannya tertawa cekikikan melihat tingkahnya.


Perlahan Ken mulai menekuk jari telunjuknya dan mengacungkan jari tengahnya kearah Bintang.


"The **** men" Kesal Ken pada Bintang.


Bintang menatapnya sekilas dan kembali mengalihkan penglihatannya pada layar ponselnya.


"Yang sabar aja ntar lo nonton kita makan aja, gue siap lahir batin ditonton sama lo" Hibur Zero menahan tawa sambil merangkul bahu Ken.


Ken menepis rangkulan Zero dari bahunya


" gak usah sok peduli" Kesal Ken.


"Yah adek ken merajuk"


"Babang bintang, adek ken merajuk nih, hibur dong biar tambah kesal" Teriak Arkan pada Bintang, namun tak dihiraukan oleh sang empu.


"Gue kekelas" Singkat Arga yang baru mengeluarkan suara setelah lama terdiam.


"Ngapain?" Tanya Bintang.


"Menurut lo" Ujar Arga balik bertanya.


"Gue ikut"


Kemudian mereka berdua berjalan menuju kelasnya, sementara ketiga sahabatnya masih terdiam dengan kekesalan masing-masing.


"Sumpah demi apa gue bisa dapet temen kayak mereka berdua, yang dinginnya tingkat dewa" Gerutu Arkan sebal.


"Gue juga gak nyangka banget, mereka dengan santainya berjalan ngelewatin kita, gak nyapa sedikitpun atau ngajak kita kekelas bareng" Cerocos Zero.


"Sekarang lu pada, ngerti kan yang gue maksud" Ucap Ken menaikan salah satu alisnya.


"Gak" Teriak Arkan dan Zero bersamaan.


"Sial" Umpat Ken.


...*****...


...•...


...•...


...•...


Lanjut gak nih?


Jangan lupa vote dan komennya ya gaes!!


Ikuti terus alur ceritanya dijamin gak bakal kecewa🤗❤️