Are You Okay?

Are You Okay?
Hujan



Satu Minggu lagi adalah hari ulang tahun sekolah Ara bersekolah dahulu saat SMP. Semua alumni mendapatkan undangan resmi dari pihak sekolah untuk datang ke acara tersebut, tepatnya pada hari Rabu malam. Jaehwa tentu saja sudah menerima undangan tersebut, bahkan secarik undangan yang didesain sangat indah itu kini tergeletak di atas meja televisi.


"Mau ajak siapa ke acara sekolah nanti?" tanya Na Gyumin, teman satu komunitas tarinya.


Jaehwa mengikuti kelas tari untuk mengasah lebih dalam lagi kemampuan yang telah ia miliki. Di sana ia mendapatkan banyak teman yang juga memiliki hobi yang sama yaitu menari. Berlatih bersama, membuat konten video bersama, bahkan sampai bermain bersama, lebih banyak waktu Jaehwa habiskan bersama teman-teman tarinya.


"Ajak ibu ku, kenapa?" Jaehwa merespon dengan nada yang meninggi, kesal saja acap kali ditanya dengan pertanyaan yang menjorok ke arah pasangan.


Terdengar gelak tawa mengolok dari seberang sana. "Kenapa tidak pergi bersama Ara saja, sepertinya dia masih sendiri."


Jaehwa berdecak, "Kenapa harus dia? Seperti tidak ada wanita lain saja."


"Kau ini jangan terlalu berlebihan menahan gengsi, kau gagal baru satu kali, kau bisa mencoba—"


"Diamlah Gyumin sialan, aku jadi tidak fokus bermain game nya." Teleponnya sejak tadi Jaehwa load speaker, sementara sang empu terus sibuk menggerakkan jarinya untuk menekan-nekan tombol play station, matanya bahkan tidak beralih dari layar.


Gyumin tertawa lagi, "Baiklah-baiklah, jangan sampai kau tidak datang hanya karena Ara datang ke sana ya, wanita itu tidak pernah absen jika sudah menyangkut sekolah tercintanya itu." Gyumin kembali tertawa kembali sebelum akhirnya menutup panggilan telepon.


Jaehwa melirik ponselnya yang sudah tidak lagi mengeluarkan suara bising dari mulut Gyumin. Jaehwa menekan gigi-giginya di dalam kemudian melempar stik play station yang ia pegang ke atas meja.


...*****...


Mendapatkan undangan seperti ini bukanlah kali pertama buat Ara, tapi rasanya wanita itu jadi tidak bersemangat untuk memenuhi undangan itu, atau mungkin jadi tidak ingin datang ke acaranya. Bukan tanpa alasan, dua tahun terakhir berturut, Jaehwa tidak datang ke acara sekolah, padahal Ara sangat menantikan kehadiran pria itu agar bisa kembali bertemu. Hanya pada saat acara-acara reuni seperti ini saja kesempatan yang bisa Ara harapkan agar bisa melihat Jaehwa secara langsung. Ara jadi merasa tidak enak karena kehadirannya mungkin saja jadi alasan kenapa Jaehwa tidak hadir, pria itu tidak ingin melihat dirinya lagi. Ara hanya bis menatap lesu undangan di tangannya, ditambah lagi ia masih harus masuk kelas dimana dosen nya sangat galak dan tidak perhatian.


"Kau kelihatan tidak sehat, Ara." Hajoon datang dan ikut duduk di samping Ara. Keduanya berada di kursi panjang taman kampus tepat di bawah rindangnya pohon.


Ara menatap Hajoon. "Aku tidak apa-apa."


Pandangan Hajoon berlatih pada secarik undangan di tangan Ara. "Itu undangan?" tanyanya.


Ara mengangguk kemudian memberikan undangan itu pada Hajoon. "Aku diundang untuk datang ke acara ulang tahun sekolah ku dulu."


Pria di samping Ara membuka undangan itu dan membacanya. "Lalu kenapa kau nampak tidak suka seperti ini?" Hajoon memposisikan tubuhnya menjadi lurus pada tubuh Ara di sampingannya, meskipun wanita itu tetap menghadap ke depan.


Ara mendengus pelan. "Bukan tidak suka, tapi sepertinya kali ini aku tidak akan datang ke sana."


"Kenapa?" tanya Hajoon, pria itu memiringkan kepalanya.


"Sepertinya ada yang tidak suka dengan kehadiranku. Aku jadi tidak ingin datang ke sana, lagipula aku sudah terlalu sering datang dan mengunjungi sekolah. Jadi, tidak datang kali ini bukankah tidak apa-apa?" ujar Ara.


Hajoon menelan salivanya, ia mengerjab untuk mengumpulkan keberanian. "K-kalau begitu kau mau jalan denganku Rabu malam nanti?"


Spontan, Ara menatap Hajoon dengan kedua alis yang terangkat. "J-jalan?" Ara mencoba menerka-nerka kenapa Hajoon tiba-tiba mengajaknya jalan berdua seperti ini.


Hajoon mengangguk dan tersenyum canggung. "Rabu malam kau kosong, 'kan?"


"Ya."


"Kau mau, 'kan pergi denganku? Maksudku, daripada kau merasa tidak nyaman jika datang ke acara sekolah, aku bisa mengajakmu jalan-jalan." Hajoon menjelaskan alasannya, berusaha agar terdengar natural.


"Memangnya mau membawaku jalan ke mana?" tanya Ara, wanita itu menatap dedaunan di atas sana.


"Ke manapun tempat yang ingin kau datangi." Ucapan Hajoon terdengar sangat berani.


Ara menyunggingkan bibirnya. Biasanya pria yang seperti ini hanya bicara omong kosong. "Bagaimana jika aku bilang aku ingin pergi ke pantai?"


"Kita akan ke sana."


"Saat malam hari," imbuh Ara.


Hajoon sempat terdiam beberapa detik, untuk tersenyum menatap Ara yang sama sekali tidak menatap dirinya saat ini. Wanita itu lebih tertarik pada dedaunan di sana. "Tentu, kita akan ke pantai saat matahari tenggelam sampai tergantikan oleh bulan yang cantik," ucap Hajoon penuh keyakinan.


Sejak awal melihat Ara, Hajoon telah jatuh hati, namun sampai saat ini pria itu belum berhasil mendapatkan hati Ara. Hajoon tidak ingin terlalu terburu-buru, tidak ingin membuat Ara merasa tidak nyaman dengan tindakan gegabahnya selama mendekati wanita itu.


Ara menatap Hajoon. "Kau serius?"


Hajoon mengangkat tangan kanannya untuk mengelus rambut Ara. Diusapnya dengan sangat lembut. "Untukmu apapun akan aku lakukan, Ara-ya."


Ara terdiam mendengar Hajoon memanggilnya dengan panggilan seperti itu. Ia jadi teringat Jaehwa yang selalu memanggil namanya seperti yang Hajoon ucapkan tadi. Tidak ada pria lain sebelumnya selain Jaehwa yang memanggil dirinya dengan panggilan akrab ini. Dejavu.


"Hei, kau kenapa?" Hajoon melambaikan tangannya untuk menyadarkan Ara dari lamunannya.


Ara mengerjap lalu menggelengkan kepalanya sambi tersenyum tipis. "Terimakasih karena sudah mau mengajakku jalan, Hajoon."


Hajoon tersenyum, tangannya masih tetap mengelus-elus rambut Ara. Wanita itu pun tidak merasa risih atau marah, ia malah merasa nyaman. Sejujurnya, Ara itu sangat suka jika kepalanya dielus-elus seperti ini. Ia jadi merasa sangat disayangi jika mendapatkan elusan lembut di kepalanya.


...*****...


Memasangkan anting sabit semakin membuat Ara terlihat sangat elegan dengan rambut yang ia ikat tinggi. Dengan memakai dress di atas lutut berwarna peach dan juga sepatu yang tidak terlalu tinggi haknya. Ara memandangi wajahnya melalui pantulan cermin di hadapannya, ia takjub sendiri melihat hiasan pada tubuh dan wajahnya. Merasa paling cantik.


Perhatiannya teralih saat mendapatkan pesan masuk dari Hajoon.


"Aku sudah siap? Kirimkan alamatmu, biar aku jemput."


Rabu yang ditunggu Hajoon akhirnya tiba, dimana ia dan Ara akan menikmati matahari tenggelam hingga malam hari nanti.


Ara menggigit bibir bagian dalamnya, menatap pantulan dirinya di cermin sekali lagi, kemudian membalas pesan Hajoon.


"Hajoon, jika aku pakai dress dan sedikit riasan apa tidak apa-apa? Aku hanya ingin mengambil gambar yang bagus di sana."


Tidak perlu waktu lama karena Ara langsung mendapatkan balasannya dari Hajoon.


"Tentu saja, kau boleh memakai apapun yang kau inginkan. Bagaimana pun juga kau akan terlihat cantik."


Bohong jika Ara tidak salah tingkah jika dirinya dipuji seperti ini, wanita sampai mengembungkan pipinya guna menahan senyum, padahal tidak ada siapapun yang harus ia hindari saat sedang salah tingkah seperti ini sekarang.


"Bisa kau tunggu aku di depan toko makanan hewan di persimpangan cafe Seoul? Aku akan menemui mu di sana."


Ara meletakkan ponselnya di atas meja dan lagi-lagi Hajoon langsung membalasnya.


"Tentu, kabari aku jika sudah sampai ya."


Sekali lagi Ara becermin untuk memeriksa apakah ia sudah rapih atau belum. Di rasa ia sudah puas dan tidak perlu ada tambahan pada riasannya, Ara beranjak dari duduknya dan mengambil tas selempang miliknya di atas kasur.


Tangannya terhenti untuk bergerak saat ia melihat undangan sekolah. Tatapannya jadi sendu. Seharusnya malam ini ia pergi ke acara sekolah, namun dirinya ingin juga Jaehwa bisa datang ke sana tanpa harus merasa canggung. Jadi mau tidak mau ia tidak hadir di acara tersebut, hanya agar Jaehwa bisa datang.


...*****...


Tempat bertemu Ara dengan Hajoon tidak terlalu jauh dari rumah wanita itu. Ara menyuruh Hajoon menunggu di sana karena pria itu tidak akan bisa membawa mobilnya agar sampai di depan rumah Ara karena harus melewati gang kecil, hanya muat untuk sepeda motor saja. Jadi, Ara sedikit berjalan bukanlah masalah besar.


Namun saat dalam perjalanan, Micha menelepon dirinya. Ara langsung menurunkan pundaknya pasrah, pasalnya Ara tidak mendapatkan izin untuk tidak hadir ke acara sekolah dari Micha. Wanita itu bersikeras agar Ara tetap datang.


"Yak kau harus datang ke sini sekarang juga!" Micha terus membujuk Ara.


"Aku tidak bisa Micha—"


"Kenapa, huh? Bukankah kau bilang kau ingin bertemu Jaehwa? Bukankah kau masih cinta padanya?" Micha terus menembaki Ara dengan celotehnya, bahkan Ara sampai menjauhkan ponsel dari telinganya.


Dirasa sudah tidak ada serangan dari Micha, Ara kembali mendekatkan ponsel pada telinganya dan berucap, "Aku memang ingin, tapi tidak akan bisa, Micha. Jaehwa tidak akan ke sana jika aku datang, maka dari itu aku memilih untuk tidak datang agar Jaehwa bisa datang ke sana dengan lepas, tanpa harus canggung atau merasa tidak suka jika melihat kehadiranku," ucap Ara panjang lebar berharap Micha mau mengerti keadaannya saat ini.


"Jaehwa sudah datang ke sekolah, dan dia tidak akan mungkin pergi begitu saja jika kau datang ke sini."


Ara bungkam, pikirannya mulai berkecamuk untuk mendapatkan pilihan apakah ia harus ke sekolah atau tetap pergi bersama Hajoon.


"Kau ingat pembicaraan kita saat di cafe? Kalau kau memang serius, ini adalah kesempatan untukmu." Micha kembali mengompori Ara agar wanita itu tetap datang.


"T-tapi aku su—"


"Tidak usah datang jika kau ragu, Ara. Percayalah, banyak wanita di luar sana yang ingin menjadi pacar Jaehwa," tungkas Micha berhasil membuat Ara terbakar cemburu hanya dengan mendengar kalimat terakhir Micha.


Ara tidak suka jika Jaehwa jadi milik wanita lain. Ara tidak ingin itu terjadi. Ara hanya ingin dirinya saja yang menjadi satu-satunya milik Jaehwa.


Micha memutuskan panggilannya dan langsung mengehentikan taksi di pinggir jalan menuju sekolah.


...*****...


Saat tiba di sekolah, Micha langsung menemani Ara yang baru saja datang untuk masuk ke dalam area sekolah. Ara sempat ternganga dengan semua persiapan acara ini. Semuanya sangat cantik, banyak lampu-lampu dan juga banyak stand makanan dan minuman. Di tengah lapangan ada satu panggung berukuran sedang dengan beberapa alat musik tersedia di atasnya, sepertinya akan ada menampilkan kemampuan bernyanyi dan bermain alat musik di sana. Sudah dapat Ara pastikan acara ini akan berjalan dengan sangat meriah.


"Cepat juga kau tiba di sini?" Micha melihat penampilan Ara dari atas sampai bawah. "Tidak mungkin kau bersiap-siap begitu cepat setelah bicara denganku di telepon, 'kan?" imbuhnya.


Ara menatap sinin Micha. "Bukan urusan—astaga aku melupakan sesuatu." Ara segera merogoh tasnya untuk mengambil ponsel agar ia bisa mengabari Hajoon. Pria itu pasti masih menunggunya di sana. Ara terlalu terbawa suasana tadi sampai ia bertindak spontan untuk pergi ke sini tanpa memikirkan Hajoon.


Sialnya Micha tidak memberi kesempatan Ara untuk memegang ponsel, Micha malah mengambil alih tasnya dan membawa Ara untuk pergi dan berdiri di dekat perkumpulan Jaehwa dengan teman-teman lainnya.


Kalau sudah sedekat ini Ara jadi tidak bisa bergerak dengan baik, bahkan otaknya seperti sudah tidak dapat berfungsi. Percayalah, saat ini Ara hanya bisa berdiri mematung, tatapannya mengarah pada Jaehwa yang mengenakan kemeja berwarna senada dengan dirinya. Peach. Ini suatu kebetulan yang sangat diluar dugaan Ara, namun jauh di dalam lubuk hati, Ara sangat senang. Setidaknya mereka jadi terlihat seperti sepasang kekasih yang mengenakan pakaian serasi seperti ini.


Oh Tuhan, siapapun tolong jangan biarkan Jaehwa menyadari jika dirinya tengah menatap takjub pria yang ia sukai. Jaehwa benar-benar tampil dengan sangat sempurna. Rasanya Ara tidak rela jika wajah Jaehwa dinikmati oleh banyak pasang mata betina di sini.


Bodohnya Ara terus berpikir seperti itu dalam lamunannya, sampai ia tidak menyadari dengan cepat jika Jaehwa sudah memutar tubuhnya dan pria itu melihat dirinya yang sedang menatapnya lamat-lamat.


"Ara, jangan terlalu tegang, biasa saja." Micha mendorong tubuh Ara pelan, membuyarkan lamunan wanita itu.


Ara mengerjakan matanya dan menelan salivanya. Mengontrol dirinya dan membuang muka agar tidak menatap Jaehwa lebih lama. Ara mengalihkan pandangannya menuju arah lain, namun ekor matanya masih bisa menangkap objek utama yang menjadi pusat perhatiannya sejak tadi tengah berjalan menjauh dari tempatnya sebelumnya. Menjauh dari perkumpulan temannya maupun dari tempat Ara dan Micha.


Ara mengusap wajahnya gusar dan menghela napas kasar. "Sudah ku katan aku tidak bisa. Kau lihat itu, dia bahkan langsung pergi begitu tahu aku ada di sini," keluh Ara lada Micha.


Micha masih terus mengawasi Jaehwa yang pergi ke halaman belakang sekolah, lalu kembali fokus pada temannya yang frustasi ini. "Jangan menyerah, kita ikuti dia." Micha menarik lengan Ara untuk mengikuti arah Jaehwa pergi.


"Lepas, Micha."


"Kau ini mudah sekali menyerah sih," kesal Micha.


Ara memutar bola matanya, "Bukannya seperti itu, aku tidak seagresif dirimu, Micha. Ini sulit bagiku dan hasil dari apa yang kita lakukan saat ini akan sangat mengganggu pikiranku nantinya."


"Kau benar, akan sangat mengganggu pikiranmu jika hasilnya tidak sesuai dengan ekspektasi, namun kali ini kau akan dibuat sangat terganggu karena Jaehwa akan menjadi milikmu." Micha masih bersemangat untuk menyatukan Ara dengan Jaehwa.


Ara tidak bisa membantah Micha lagi, wanita itu terlalu gigih untuknya. Ara hanya mampu mengikuti tubuh Micha menuju tempat Jaehwa, di halaman belakang sekolah.


Saat tiba di halaman belakang, awalnya mereka berdua tidak melihat ada siapa-siapa di sana, pencahayaannya pun redup karena siapa juga yang akan ke sini pada malam hari sekalipun sedang ada acara di sekolah ini.


Tapi Jaehwa benar-benar berjalan ke arah sini. Ara dan Micha memperlambat geraknya, berusaha agar tidak menimbulkan suara. Seharusnya tidak perlu melakukan ini, tapi karena tempatnya yang agak mencekam, reflek membuat keduanya seolah-olah tengah berada di sebuah tempat yang sangat bahaya dan mengancam nyawa jika mereka menimbulkan suara.


Langkah keduanya terhenti saat mendengar suara di balik dinding di depan sana. Kedua mata Ara maupun Micha memicing untuk menajamkan matanya untun melihat bayangan di sana.


"Itu Jaehwa, dia di sana," ucap Micha menunjuk tubuh bagian belakang Jaehwa yang terlihat separuh dari balik dinding.


"Lu kita mau apa?" tanya Ara. Jujur dirinya sungguh tidak tahu harus berbuat apa.


Micha menegakkan tubuhnya lalu menganggap sebelah bibir atasnya, lagi-lagi menghela napas jengah. "Kau temui Jaehwa lalu ajak dia minum bersama atau menari bersama. Mulailah kembali kedekatan kalian, buat dia kembali merasa nyaman denganmu sampai akhirnya kalian bisa kembali seperti dulu. Dengan begitu besar harapan kau bisa jadi pacarnya," kata Micha.


"Kau yakin?" tanya Ara, karena dirinya tidak seyakin Micha.


Micha mengangguk mantap. "Kita tidak akan tahu hasilnya jika kau tidak mencobanya dari sini."


Ara menunduk, berpikir jika ucapan Micha ada benarnya juga. Ia tidak akan tahu hasilnya jika ia tidak mencobanya langsung. Ia harap ini adalah waktu yang tepat untuk kembali membuat Jaehwa suka padanya lagi.


Ara menatap Micha. "Tapi jika gagal lagi, aku tidak ingin melanjutkannya," ucapnya pada Micha.


"Tentu."


Ara melangkahkan kakinya menuju Jaehwa yang masih berdiri di balik dinding, sementara Micha hanya menunggu Ara di tempat yang agar jauh agar tidak mengganggu keduanya.


"Jaehwa—"


Namun saat Ara sudah sampai tepat di belakang pria itu, wajah Ara yang awalnya berseri langsung berubah menjadi memerah menahan tangis. Ara menutup mulutnya, tidak menyangka dengan apa yang ia lihat. Jaehwa tengah berciuman dengan seorang wanita di sana. Mereka bercumbu dengan sangat napsu, tidak, lebih tepatnya Jaehwa yang yang terlihat seperti itu karena pria itu sangat antusias untuk terus mendapatkan apa yang ia inginkan dari wanita yang bersamanya.


Tak bisa tertahankan, Ara meloloskan air mata. Sesak sekali rasanya melihat pria yang ia cintai malah bercumbu dengan wanita lain.


Semesta pun sepertinya turut berdukacita atas sakit hatinya Ara, karena tiba-tiba saja hujan turun dan membasahi semua yang ada di sekolah ini. Karena halaman belakang sekolah tak beratap, otomatis semuanya jadi basah. Ara segera berlari meninggalkan lokasi sedetik saat Jaehwa menyudahi kegiatannya. Entah pria itu melihat Ara atau tidak, wanita itu tidak perduli lagi. Sudah terlalu sakit hati sekarang.


"Ara, apa yang terjadi? Kau mau ke mana?" Micha ikut menyusul Ara yang langsung meninggalkannya.


...*****...


Di sisi lain, Hajoon masih setia menunggu kehadiran Ara yang sampai detik ini tidak kunjung datang. Hajoon sudah berkali-kali menghubungi Ara dan mengirimkan pesan juga, namun tidak ada balasan dari wanita itu. Sampai saat hujan turun pun, Hajoon rela keluar masuk mobil hanya untuk mencari Ara yang siapa tahu saja wanita itu terjebak hujan dan tengah berteduh di salah satu toko atau di manapun itu. Namun tidak ada hasilnya.


Bajunya sudah basah sebagian karena hujan ini disertai angin yang membuat air hujan yang turun dengan arah yang tidak lurus.


"Ara-ya kau di mana, huh? Jangan membuatku khawatir."


"Telepon aku jika kau terjebak hujan, aku akan menjemputmu."


"Aku akan tetap menunggumu sampai kau datang, jadi kau tidak perlu khawatir ya, kau bisa datang saat hujannya sudah reda."


"Aku masih menunggumu, tolong kabari aku."


"Aku masih di sini."


Sudah banyak pesan yang Hajoon kirimkan, namun tidak ada satupun balasan dari wanita yang ia tunggu-tunggu.