
Semuanya sudah siap, mulai dari peralatan musik, kostum dan riasan, semuanya sudah pas. Jaehwa berdiri di tengah taman dengan rumput hijau pendek yang menjadi alasnya. Di hadapannya terdapat sebuah tripod lengkap dengan kamera ponsel yang telah ia setting untuk merekam sebuah video. Jaehwa akan melakukan dance cover dari sebuah group yang tengah naik daun saat ini. Memanfaatkan kelebihannya dalam menari, ia ingin dirinya menjadi terkenal dan memiliki penghasilan atas kerja kerasnya dari hal yang juga sangat ia sukai. Menari dan bernyanyi.
Suasana taman di sini cukup ramai karena hari ini adalah hari libur akhir pekan. Rimbunnya dedaunan dari pohon yang ada sangat mendukung untuk Jaehwa karena dirinya tidak akan merasa kepanasan karena matahari, mungkin panas karena ia akan berkeringat saat menari nanti. Setidaknya itu lebih baik.
Sepertinya perhatian beberapa orang mulai terpancing untuk menggerakkan kaki mereka agar mendekat dan menyaksikan kegiatan Jaehwa. Pria itu sudah dalam posisi untuk mulai menari dengan ekspresi yang sangat keren dan opening yang cukup membuat beberapa wanita yang melihatnya dibuat untuk menutup mulut—kagum. Jaehwa menarik kerah kemeja hitam yang ia pakai hingga memperlihatkan dadanya, tentu saja itu membuat banyak perhatian orang-orang sekitar. Bagus sekali, seperti yang pria itu harapkan.
*****
Pemilik mata cokelat indah itu tengah menonton siaran langsung dari akun Instagram Jaehwa yang sedang menari di taman dengan banyak orang yang menyaksikan. Jaehwa melakukan siaran langsung sekaligus merekamnya melalui ponsel lainnya. Tanpa disadari, Ara selalu tersenyum dan dibuat salah tingkah sendiri acap kali dirinya melihat Jaehwa melakukan tarian yang keren dan melakukan hal yang mencolok seperti menjadi pria seksi untuk menarik perhatian. Benar-benar membuat Ara jadi semakin ingin menegaskan jika dirinya jatuh hati pada pria itu.
Jaehwa terlihat sangat keren saat tengah menari, sejak dahulu selalu seperti ini. Rasanya seperti pria itu memiliki sesuatu yang dapat memikat banyak wanita dengan apapun yang ia miliki, dan Ara menjadi salah satu korban dari pemikat itu sendiri.
Ara mengulum bibirnya untuk menahan agar tidak tersenyum terlalu lebar, bahkan bola matanya sesekali berputar ketika wanita itu merasa tidak kuat untuk menatap Jaehwa lebih lama, walaupun tidak secara langsung.
"Kenapa kau jadi sekeren ini, huh?" tanya Ara pada Jaehwa yang sejatinya tidak akan bisa menjawab pertanyaan wanita itu.
Ara menyesap kopi capuccino yang ia pesan beberapa menit yang lalu, ia tengah berada di sebuah cafe yang letaknya tepat di depan kampus. Siang ini tidak ada jam kelas, jadi ia pergi ke cafe sampai kelas berikutnya dimulai.
"Siapa yang keren?" Micha datang dengan tangan yang menepuk punggung Ara secara tiba-tiba hingga membuat wanita itu terkejut bahkan sampai tersedak kopi yang ia minum.
Ara terbatuk-batuk, kemudian menatap sinis Micha. "Tidak bisakah kau datang dengan lebih tenang?" Ara mengeluarkan tisu dari dalam tasnya untuk menyeka cipratan kopi di atas meja.
Micha meringis, "Maaf maaf," ucapnya sembari duduk di hadapan Ara. "Siapa yang kau sebut keren?" Micha sedikit mengangkat kepala dan memajukan tubuhnya untuk melihat ponsel Ara, namun bukan Ara namanya jika ia langsung memberitahu Micha. Ara memilih untuk mematikan ponselnya dan meletakkannya di atas meja dengan posisi terbalik menjadi layarnya yang di bawah.
Micha berdecak kecewa, dan duduk kembali, kemudian memanggil pelayan untuk memesan kopi juga.
"Kau lihat siaran langsung Jaehwa? Aku mendapatkan notifnya tapi belum sempat menontonnya. Aku akan melihatnya sedang apa dia di sana—"
Ara kembali menatap tajam pada Micha dan merebut ponsel milik Micha dari tangannya. "Hanya siaran biasa, tidak usah kau lihat!"
Micha terkejut, mulutnya terbuka karena tidak siap saat ponselnya dirampas begitu saja, dirinya hampir jantungan takut ponsel kesayangannya jatuh dan rusak. "Yak apa yang kau lakukan?" Micha merampas kembali barang pintar miliknya dengan bibir yang dimajukan geram.
"Terserah aku lah, mau mau aku melihatnya atau tidak, bukan urusanmu," sarkas Micha melawan perkataan Ara.
Ara memutar bola matanya, "Terserah kau saja."
"Selamat menikmati," ucap seorang pelayan yang mengantarkan kopi pesanan Micha.
"Terimakasih," balas Micha ramah.
Sambil menyesap kopi miliknya, Micha membuka notif Instagram Jaehwa tadi yang belum sempat ia lihat. Ara memandangi Micha yang tengah menonton Jaehwa meng-cover tarian group idol di sana.
Jaehwa masih melakukan siaran langsung, tapi mata Micha malah menatap pada Ara, menyipitkan matanya penuh kecurigaan.
"Apa?" tegas Ara.
"Sekarang aku tahu apa alasanmu melarang ku untuk menonton Jaehwa." Micha tersenyum tipis, matanya masih menyipit, wajahnya ia bawa agar lebih dekat pada Ara.
"Apa maksudmu?"
"T-tidak aku tidak—"
Micha mencubit sebelah pipi Ara dengan gemas. "Ya ampun temanku jika sudah buta akan cinta jadi sepelit ini ya sampai-sampai pria yang dicintainya tidak boleh dilihat oleh wanita lain." Micha berceloteh dengan tangannya yang bergerak gemas sekali.
Ara kesal karena diolok demikian, ia menepis tangan Micha dari wajahnya. "Aku tidak seperti yang kau ucapkan. Aku tidak pelit dan aku—"
"Sangat mencintai Jaehwa," tungkas Micha untuk menyambung kalimat Ara yang ia potong.
"MICHA!" Ara memukul-mukul wanita di hadapannya. Rasanya ia sangat geram diolok-olok seperti itu.
"Hei jika tidak seperti itu kenapa kau harus marah sampai memukul ku?" tutur Micha, ia sudah berdiri di samping meja, agak jauh dari Ara untuk menghindari pukulan wanita itu.
Ara terdiam. Benar juga apa yang Micha katakan, kenapa dirinya harus merasa kesal sampai seperti ini. Ara menelan salivanya, dirinya telah salah dalam memberikan gerakan di sini.
Ara menyandarkan punggungnya pada kursi lalu mengembuskan napasnya lelah. "Aku tidak tahu, aku bingung sendiri. Apa yang harus aku lakukan, huh?" Dengan perubahan yang di luar perkiraan Micha, Ara malah menjadi orang yang sangat frustasi sekarang.
Micha kembali duduk. Diam beberapa saat, memandangi Ara yang memejamkan matanya, namun keningnya mengkerut. "Jadi, kau benar-benar mencintainya, 'kan? Kau selalu merasa kesal dan iri jika Jaehwa berinteraksi dengan wanita lain. Kau juga merasa tidak rela jika Jaehwa jadi mendapatkan banyak perhatian dari wanita di luar sana. Apa aku benar?" Kali ini Micha berucap cukup serius untuk menanggapi kegelisahan Ara.
Ara membuka matanya, menengadah untuk menatap langit-langit cafe. "Aku tidak ingin mengakuinya, tapi semua yang kau katakan memang benar. Aku merasakan itu semua."
Ara kembali melihat Micha, tatapannya sangat kelihatan jika wanita itu tengah kebingungan dengan perasaannya sendiri. "Apa yang harus aku lakukan? Aku tidak ingin perasaan ini terus berlanjut, Micha," imbuh Ara.
Micha memiringkan kepalanya. "Kenapa berkata seperti itu? Kau tidak ingin mendapatkan Jaehwa?"
Ara menggeleng samar. "Bukan tidak mau, aku sangat sangat ingin mendapatkannya, tapi bukankah kau sendiri sudah tahu jika semua itu mustahil? Dia tidak lagi mencintai ku, namun sekarang malah aku yang dibuat jatuh dan sulit sekali rasanya untuk melupakannya."
Micha bangkit dari duduknya, berjalan hingga tubuhnya berada tepat di samping Ara. Micha merangkul punggung Ara dan mengusap-usap memberi keyakinan. "Kau pasti bisa, aku akan membantumu untuk mendapatkannya."
"Kau seyakin itu?" tanya Ara.
"Kenapa kau tidak yakin begini?" Micha balik bertanya.
"Dia sudah terkenal, jadi kemungkinan besar untuk aku mendapatkannya akan sangat sulit." Ara mengatakan rasa ketakutan yang ia pendam dan membuatnya bingung selama ini.
Micha memegang rahang Ara lalu ia putar agar menatapnya. "Sekarang aku tanya padamu, kau mencintai Jaehwa atau tidak?"
"Kenapa bertanya?" Suara yang Ara keluarkan tidak begitu jelas karena bibirnya yang menjadi bulat akibat dekapan tangan Micha.
"Jawab saja!" desak Micha.
Ara melirik ke samping, tidak ingin menjawab Micha.
"YAK!" bentak Micha, suaranya meninggi sampai beberapa pengunjung menoleh ke arah mereka.
Karena bentakan Micha itu, spontan Ara menjawab sambil terpejam, "Iya aku mencintainya. Aku mencintai Jaehwa."
Micha melepaskan dekapan tangannya, lalu tersenyum. "Bagus, jika kau mengatakan seperti tadi, itu tandanya kau akan mendapatkannya seperti yang kau harapkan, percaya padaku."