
Hari senin adalah hari dimana semua siswa sekolah selalu mengeluh karena tidak siap dan malas untuk berangkat pagi ke sekolah setelah menjalani hari libur sebelumnya. Rasanya tubuh mereka masih tetap ingin bersentuh mesra dengan ranjang pun selimut tebal yang meringkup hangat tubuh.
Namun kini berbeda karena sekarang sudah masuk ke tahun ajaran baru, banyak wajah asing yang melewati pagar sekolah untuk masuk ke dalamnya menjadi bagian dari sekolah ini. Mereka semua adalah murid baru. Berjalan santai menuju kelasnya masing-masing bersama teman baru, bercengkrama untuk sekadar mengenalkan diri satu sama lainnya. Tak sedikit dari para murid senior yang menyaksikan penasaran pada semua murid-murid baru ini. Tak heran jika mereka pasti langsung memfokuskan hazelnya jika menemukan objek sempurna yang mereka cari. Si murid baru yang cantik maupun tampan.
Yoon Ara melangkahkan kedua kakinya untuk melewati persegi kayu cokelat untuk masuk ke dalam kelas. Wanita itu sempat berdiam diri sebelum tubuhnya benar-benar masuk ke dalam untuk mengedarkan pandangannya. Melihat suasana kelas yang tidak terlalu ramai karena sebagian dari mereka belum saling kenal. Sama seperti dirinya yang juga seorang murid baru di sekolah ini, Ara berjalan dengan bingung mau duduk di mana, sampai pada saat dirinya ingin mendudukkan bokongnya di kursi belakang, seorang wanita dari kursi depan menoleh ke arahnya dan memanggil dirinya.
"Jangan duduk di belakang, di sana tempatnya para pria." Wanita yang bicara pada Ara menepuk-nepuk meja yang ada tepat di belakang meja tempatnya duduk. "Di sini saja, dekat denganku," ajaknya.
Ara tersenyum ramah dan merasa lega karena ada yang mau mengajaknya bicara lebih dahulu, karena dirinya tidak pandai bercakap-cakap dengan orang baru. Jika tidak ditanya maka wanita itu tidak akan memulai pembicaraan jika bukan hal yang mendesak atau penting. Ara berjalan dengan senang hati menuju kursi yang wanita itu sediakan untuknya.
"Tidak ada yang duduk di sini?" tanya Ara untuk memastikan.
"Tidak ada."
"Terimakasih, aku Yoon Ara." Ara memperkenalkan diri setelah mendudukkan bokongnya di kursi.
"Min Sooyung." Wanita itu tersenyum manis dengan bibir kecilnya. "Kau sudah punya teman di sini?" sambung Sooyung dengan bertanya agar lebih dekat.
Ara menggeleng kecil. "Baru kau saja. Bagaimana denganmu? Sudah dapat banyak teman?"
"Sama sepertimu, tapi aku punya teman satu SD yang masuk sekolah ini juga, namanya Ryu Jaehwa, dia satu kelas juga dengan kita.
Tapi aku tidak tahu dia ke mana padahal aku mencarinya karena tidak kenal siapa-siapa di sini, untungnya aku bertemu denganmu," celoteh Sooyung dengan diakhir wajah kesal pada teman yang ia ceritakan barusan.
"Baiklah, mari kita berteman, Sooyung." Ara berucap dengan mata membentuk setengah bulat.
"Tentu—ah itu dia orangnya." Sooyung langsung mengalihkan ucapannya saat dirinya menemukan sosok yang ia cari-cari sejak tadi.
"Jaehwa, kemari, ada yang mau kenalan denganmu." Sooyung sedikit berteriak pada Jaehwa.
Refleks pandangan Ara pun ikut mengarah pada obsidian yang tengah berdiri di dekat jendela bersama temannya. Senyuman Ara mendadak sirna ketika Jaehwa melemparkan tatapan sinis padanya. Ara mendengus kesal dalam hati, seketika menyesal sudah memberikan senyuman ramah tapi malah mendapatkan balasan seperti itu. Menyebalkan. Salah satu yang menjadi alasan kenapa Ara tidak pernah mau menyapa orang asing terlebih dahulu.
Sooyung berdecak kesal juga, lalu berucap dengan bibirnya yang mencibir, "Apa-apaan dia, mentang-mentang sudah mendapatkan banyak teman."
Ara kembali menatap Sooyung. "Apa dia memang seperti itu?"
"Tidak. Aku sudah kenal lama dengannya, dia pria yang baik," jawab Sooyung penuh ketulusan dalam ucapannya.
Mendengar Sooyung berkata demikian membuat Ara kembali berpikir positif jika Jaehwa mungkin tidak suka dengan orang asing yang tiba-tiba ingin berkenalan padanya, terkhusus untuk wanita. Mungkin saja.
...ΩΩΩ...
"Permainan tadi sebenarnya hanyalah permainan anak-anak, tapi entah kenapa guru park tadi dapat membawakannya sampai menjadi sangat menyenangkan," kata Sooyung.
"Kau benar, dia hebat dalam melakukannya. Itu juga membuat kita jadi kenal satu sama lain. Aku suka dengannya," timpal Ara.
Kini keduanya tengah berada di kantin, menikmati makanan di jam istirahat yang sudah Ara maupun Sooyung nantikan karena keduanya tidak sarapan tadi pagi, perutnya jadi terasa sangat lapar saat di kelas.
"Bagaimana dengan dia?" Sooyung melemparkan pertanyaan ambigu pada Ara.
Wanita di hadapannya menukik alis menerka siapa yang Sooyung maksud. "Siapa?"
"Jaehwa. Bagaimana dengan dia? Apa kau menyukainya?" Sooyung memasukkan satu sendok penuh nasi dengan daging di atasnya ke dalam mulutnya sampai pipinya membulat.
Ara terkekeh kecil melihat Sooyung yang sangat lahap ini. "Kenapa kau menanyakan itu? Mana mungkin aku bisa suka pada orang baru, bahkan kenalan secara langsung saja belum."
Ara jadi teringat kembali saat Jaehwa menatap sinis padanya. Apapun alasannya, Ara tetaplah seorang remaja wanita yang tentu saja akan sakit hati dan kesal jika mendapatkan tatapan seperti itu tanpa alasan dari seorang pria.
"Aku mengerti. Aku akan membantumu agar bisa berkenalan dengannya secara langsung." Sooyung hanya menawarkan niat baiknya.
"Tidak perlu. Cukup kau saja yang menjadi temanku, Sooyung." Ara mencubit gemas kedua pipi Sooyung yang melembung karena nasi di dalamnya.
"Nanti pulang denganku, Bibi yang menyuruhnya." Tiba-tiba saja Jaehwa berdiri di antara Ara dan Sooyung. Pria itu bicara pada Sooyung.
"Kenapa?" tanya Sooyung pada Jaehwa.
"Ibu mu sedang di rumahku, jadi dia menyuruhku untuk membawamu sekalian." Jaehwa memberikan alasan pada Sooyung, sementara wanita itu hanya mengangguk dan mengacungkan ibu jari.
"Merepotkan," cibir Jaehwa begitu ia hendak pergi, pria itu sempat menatap Ara beberapa detik dengan kedua tangan yang ia masukkan ke dalam saku celana.
"Kau yang tadi ingin berkenalan denganku ya?" tanya Jaehwa pada Ara.
Ara yang tiba-tiba diajak bicara dengan Jaehwa mendadak tidak dapat merespon pertanyaan pria itu dengan benar. "Huh?" Pada akhirnya Ara hanya bisa mengeluarkan suara tidak jelas.
"Ryu Jaehwa." Pria itu langsung pergi begitu saja setelah memperkenalkan dirinya tanpa ingin mendengar Ara untuk balik memperkenalkan diri padanya.
"Tebar pesona sekali sih." Ara jadi semakin geram dengan Jaehwa. Mood makannya tiba-tiba hilang begitu saja.
Sooyung hanya menertawakan Ara. "Dia memang seperti itu pada wanita yang baru ia kenal. Ingin menunjukkan sifat dan sikap yang menurutnya terlihat keren dimata wanita-wanita. Padahal aslinya sangat mines."
"Tidak mau punya teman seperti dia." Kalimat ini terucap begitu saja dari bukaan mulut Ara.