Are You Okay?

Are You Okay?
Class Meeting



Pembelajaran di tingkat SMP sudah berlalu hingga Ara mencapai kelas akhir tahun ini. Tak terasa ia sudah menjalani tiga tahun di sekolah ini hingga ia sampai pada sebuah acara terakhir sebelum kelulusan yang selalu diadakan tiap tahunnya. Class Meeting. Acara ini mengadakan banyak perlombaan individu maupun berkelompok yang dimeriahkan oleh siswa kelas akhir yang akan lulus setelah mereka semua sukses menjalankan ujian sekolah. Namun, ada beberapa permainan dapat diikuti oleh anak kelas satu dan dua.


Pada keputusan pemilihan organisasi kala itu, Ara akhirnya memilih untuk bergabung ke dalam OSIS dan menjabat sebagai sekretaris. Jaehwa jelas ikut juga karena dia yang paling niat, dia menjabat sebagai wakil ketua, cukup keren Ara akui. Micha? Wanita itu benar-benar mengikuti Ara, ia juga bergabung menjadi anggota osis dan menjabat sebagai sekretaris dua, bisa dibilang dia asisten Ara. Kedua wanita itu jadi semakin dekat karena interaksi mereka yang hampir selalu bertemu dan bekerja sama dalam menjalankan tugas.


Class meeting ini pun yang mengatur acaranya adalah anggota osis, namun angkatan Ara hanya mengambil tugas sedikit saja, karena mereka yang menjadi pemilik acaranya. Sedangkan sisanya diserahkan kepada anggota osis dan pengurus junior lainnya.


Sebelum perlombaan dimulai, semua murid dari kelas satu sampai tiga diwajibkan untuk melakukan senam terlebih dahulu di lapangan sekolah. Saat bel masuk sekolah telah berbunyi, semua murid diarahkan untuk membuat barisan perangakatan, namun angkatan kelas tiga berada di tengah-tengah antara angkatan kelas satu dan dua.


"Ara-ya," panggil Jaehwa pada Ara yang tengah memakai sebuah bandana berbentuk telinga kucing berwarna cokelat sebagai pemanis rambut indahnya.


Ara menoleh. "Hai, Jaehwa, kenapa?"


Jaehwa tersenyum lebar melihat Ara yang terlihat menggemaskan saat memakai bandana di kepalanya.


"Kau lucu sekali memakai itu," puji Jaehwa.


Dengan percaya dirinya, Ara menimpali, "Semua orang tahu itu."


Jaehwa terkekeh. "Kau benar."


"Kau tidak ke lapangan?" tanya Ara.


"Ke lapangan, denganmu. Ayo." Jaehwa mengulurkan tangannya ke udara, menunggu tangan wanita di hadapannya tersemat pada uluruan darinya.


"Hanya mengajak Ara?"


Suara Micha yang tiba-tiba itu membuat Jaehwa terkejut sampai pria itu mengelus dadanya sendiri. Bagaimana tidak, Jaehwa berpikir jika di kelas ini hanya tersisa dirinya dan Ara saja, tapi ternyata ada Micha juga. Micha selalu bersam Ara, tapi sejak tadi wanita itu duduk di bawah meja dan terhalang oleh dua kursi yang membuat Jaehwa tidak menyadari kehadirannya.


Ara menertawakan Jaehwa yang terkejut.


"Kenapa tidak bilang kalau ada dia di sini?" ujar Jaehwa pada Ara.


"Kau tidak bertanya," jawab Ara simpel lalu menatap Micha yang keluar dari kolong meja dan berdiri di samping Ara.


"Jadi, kau akan ke lapangan dengan siapa, Ara?" tanya Micha, wanita itu mendekatkan wajahnya pada Ara dengan senyum lebar namun tidak ada lipatan pada matanya. Bibirnya tersenyum, tapi matanya melotot. Ara paham maksud dari ekspresi ini.


"Tentu saja denganmu, mana mungkin aku pergi dengan dia." Ara menunjuk Jaehwa, sebelah tangannya merangkul pundak Micha. "Malas sekali," lanjut Ara, lalu pergi menuju lapangan bersama Micha, meninggalkan Jaehwa seorang diri di kelas.


Saat Ara dan Micha menuruni anak tangga menuju lantai dasar, Micha sempat menoleh ke belakang dan saat itu juga Jaehwa sudah ada di belakang mereka dengan setengah berlari, melewati keduanya dan berhenti di depan mereka. Otomatis Ara dan Micha pun menghentikan kakinya.


"Ara, apa kau tidak menyadari sesuatu selama ini?" tanya Jaehwa.


Ara menukikkan alisnya dan sempat bertatapan sebentar dengan Micha. "Menyadari apa?"


Jaehwa mengembuskan napasnya kasar. "Ada yang suka padamu, inisialnya J."


Ara sama sekali tidak mengetahui hal ini. Namun yang jadi pertanyaan Ara, untuk apa Jaehwa memberitahunya dan mengapa harus dia yang mengatakannya.


"J?" Ara menyebutkan ulang inisial pria yang Jaehwa maksud.


"Tapi bukan aku," tungkas Jaehwa mengkoreksi jawaban yang sebenarnya Ara sama sekali tidak berpikir bahwa orang yang menyukainya adalah Jaehwa sendiri. Sama sekali tidak berpikir ke sana.


Namun karena Jaehwa sudah mengatakan jika itu bukan dirinya, otak Ara spontan berpikir pria yang bernama dengan awalan huruf J itu siapa.


"Dia satu kelas dengan kita? Jooan? Jaein?" Ara menyebutkan dua nama pria yang satu kelas dengannya. Di kelas Ara hanya ada tiga pria yang namanya berawalan huruf J terlepas dari marganya.


Jaehwa berjalan mundur sembari mengangkat kedua bahunya, lalu pergi begitu saja.


Ara berdecih. "Apasih, tidak jelas sekali dia," cibirnya karena Jaehwa langsung pergi begitu saja.


Micha yang hanya diam saja sedari tadi kini jadi menatap Ara cukup lama dengan mata yang menyipit. Menelisik.


"Apa?" ketus Ara.


"Kau ini benar-benar tidak peka sekali, sih. Aku jadi kasihan padanya kalau begini." Setelah berkata seperti ini, Micha berjalan mendahului Ara.


Sedangkan Ara, ia masih berdiam di tempat, melipat kedua tangannya di depan dada dengan mulut yang mengkerut kesal. "Apasih? Kenapa mereka bicara dengan kalimat yang ambigu seperti itu? Aku, 'kan tidak paham maksudnya."


...***...


Separuh dari acara telah berlangsung sesuai rencana, kini telah masuk pada jam istirahat, semua murid berlomba-lomba ke kantin untuk mendapatkan makanan maupun minuman yang dapat mengisi energi mereka kembali sebelum melanjutkan acara berikutnya.


Ara tengah duduk di koridor sekolah sembari meneguk sebotol minuman dingin yang Micha berikan padanya sebelum wanita itu pergi untuk menemui guru di kantor, katanya ada perlu.


Saat Ara kembali meneguk minuman, sudut matanya tak sengaja menatap Jaehwa yang tengah bercengkrama dengan dua orang alumni sekolah ini. Pihak sekolah mengizinkan para alumni untuk menghadiri acara class meeting ini agar suasana semakin meriah dengan banyaknya orang yang hadir. Dan dua wanita alumni yang tengah berdiri di hadapan Jaehwa adalah kakak kelas yang sangat dekat dengan pria itu. Sangat dekat. Jadi wajar saja jika mereka mengobrol bersama saat ini. Sepertinya obrolan mereka sangat seru karena Ada dapat melihat kalau dua alumni itu tertawa.


Ara mengenal alumni itu juga, hanya saja tidak terlalu dekat, tapi pernah mengobrol sesekali saat mereka masih bersekolah di sini.


Jujur saja, penglihatan Ara hanya tertuju pada Jaehwa saja. Wanita itu seperti melihat ada yang berbeda dari Jaehwa saat ini, pria itu jadi terlihat begitu keren saat rambut panjangnya setengah basah akibat keringat. Ara sendiri sampai tidak sadar jika ia meneguk habis minuman yang ia miliki sekaligus, padahal sebelumnya baru ia minum sedikit. Sepertinya Ara sudah tidak waras.


Ara mengerjap dan memalingkan pandangannya ke arah lain, botol yang terus berada pada bibirnya langsung ia lepas saat kedua alumni itu menatap dirinya. Seolah-olah mereka sedang membicarakan dirinya. Padahal Ara tidak tahu kebenarannya, tapi ia malah merasa demikian setelah ditatap seperti tadi.


...***...


"Apa harus aku yang memberitahu mu kalau Jaehwa menyukai mu sebagai seorang wanita?"


"Apa kau sebegitu tidak pekanya dengan perhatian-perhatian kecil yang Jaehwa berikan padamu adalah bentuk dari rasa sukanya padamu?"


Sial!


Ucapan-ucapan yang terlontar dari dua mulut alumni teman Jaehwa itu terus berputar di kepala Ara beberapa hari ini. Setelah acara class meeting selesai, dua teman alumni Jaehwa menghampiri dirinya yang tengah membereskan beberapa peralatan acara. Mereka mengatakan hal itu, bahwa Jaehwa menyukai dirinya sebagai wanita.


Ara sama sekali tidak berpikir bahwa Jaehwa lah yang menyukai dirinya, bukan orang lain. Sekarang ia paham kenapa saat itu Jaehwa mengatakan bahwa ada yang menyukainya dengan inisial J, tapi kenapa anehnya Jaehwa malah langsung menepis kenyataan kalau bukan dirinya lah yang ia maksud. Itu, 'kan membuat Ara semakin tidak berpikir bahwa pria itu orangnya.


Setelah diingat-ingat lagi, memang benar jika Jaehwa selalu memberikan perhatian-perhatian kecil padanya. Selalu menggoda dirinya, entah membuat dirinya kesal, mengerjainya dengan mengambil tasnya lalu ditaruh di atas loker yang tinggi agar dirinya tidak bisa menggapai, ataupun yang lainnya. Ara tidak sadar jika semua itu adalah tanda yang Jaehwa berikan padanya, tanda untuk menunjukkan pada Ara kalau pria itu jatuh hati padanya.


Namun Ara tidak tahu maksud dari semua itu.


Awalnya Ara hanya bersikap biasa saja, tapi setelah mengetahui hal itu, ia jadi kepikiran Jaehwa terus. Setelah ia tahu hal ini pun Jaehwa jadi tidak ada kabar lagi, pria itu tidak menghubunginya lagi. Biasanya Jaehwa selalu mengirim pesan acak atau menelpon untuk mengatakan hal tidak penting pada Ara, tapi sekarang sudah tidak lagi.


Ara mencoba mengumpulkan keberanian untuk menghubungi Jaehwa lebih dahulu, ia ingin menanyakan kebenaran tentang apa yang alumni-alumni itu katakan padanya, Ara ingin mendengarnya dari Jaehwa langsung.


Ara menutukkan jarinya untuk mencari nama Jaehwa pada kontaknya dan menelannya.


Angin malam di balkon kamar ini sangat mendukung kegugupan Ara sekarang. Entah kenapa ia jadi gugup seperti ini, padahal Jaehwa hanyalah temannya. Sial, otaknya tidak bisa berpikir cermat.


Cukup lama Ara menunggu respon, akhirnya Jaehwa menerima panggilan telepon darinya.


"Halo." Jaehwa langsung bersuara dari seberang sana.


"K-kau sibuk ya?" Kaku sekali pertanyaan Ara.


"Tidak, kenapa?"


Ara mengkerutkan keningnya. Intonasi bicara dan kata-katanya, ini seperti bukan Jaehwa. Ini terlalu cuek dan terdengar terburu-buru untuk menyudahi pembicaraan yang bahkan baru saja dimulai.


Maka dari itu, Ara langsung bicara pada intinya.


"Boleh aku bertanya sesuatu padamu?" tanya Ara.


Jaehwa mengizinkannya, namun dengan gumaman saja.


Ara tidak langsung bertanya, wanita itu malah sibuk menggigit kukunya karena malu untuk bertanya.


"Jadi tidak—"


"A-apa benar kau suka padaku?" tungkas Ara memotong kalimat Jaehwa. Ara memejamkan matanya tidak percaya dirinya benar-benar bertanya seperti ini. Padahal dirinya hanya sedang bertanya untuk memastikan sesuatu, bukan sedang menembak seseorang untuk menjadi pacarnya, tapi ia malah berdebar sendiri jadinya.


Jaehwa tidak langsung menjawab, terdengar helaaan halus dari pria itu. "Benar, lalu kenapa?"


Kenapa Jaehwa jadi terdengar dingin sekali—pikir Ara.


"Kenapa kau tidak bilang padaku langsung?" kata Ara.


"Memangnya jika aku mengatakannya langsung, kau mau jadi pacarku? Tidak, 'kan?"


Ara terdiam sendiri mendengar ucapan Jaehwa. Cukup lama.


"Aku—"


Terlambat menjawab, Jaehwa mematikan teleponnya secara sepihak. Wanita itu menatap lamat nama Jaehwa pada ponselnya dengan kepala yang penuh dengan pertanyaan apa yang harus ia lakukan sekarang. Ia jadi bimbang sendiri karena perasaan Jaehwa padanya. Karena sebenarnya ia memang tidak ada rasa apapun pada pria itu. Ara hanya menganggap Jaehwa sebagai temannya saja.


Jaehwa benar, ada kemungkinan jika dirinya menolak cinta pria itu jika Jaehwa mengatakannya langsung pada dirinya. Itu akan membuat pria itu sakit hati, lebih baik tidak mengatakannya atau memberitahu kebenarannya lewat perantara saja, dan Ara tidak perlu memberikan jawaban apapun.


Benar begitu saja.