Are You Okay?

Are You Okay?
Kebaikan



Embusan angin pagi terasa sangat segar menyapa kulit Ara yang tengah bermain manis dengan ponsel pintarnya di sebuah halte bus. Dengan seragam dan tas sekolah yang ia gendong di punggungnya, Ara siap berangkat ke sekolah di hari keduanya menjadi murid baru tingkat SMP. Ara tak menyangka jika waktu berjalan begitu cepat dan membuatnya menjadi gadis remaja yang akan melalui banyak kisah di kehidupan dengan suasana sekolah baru ini.


Ara memasukkan ponselnya ke dalam saku seragam dan berdiri dari duduknya saat dirinya melihat bus yang ia tunggu sudah tiba. Hari ini busnya cukup ramai penumpang, tidak biasanya sampai Ara tidak mendapatkan tempat duduk dan harus berdiri. Ara sangat tidak suka naik bus sambil berdiri seperti ini. Membuat kakinya keram dan kepalanya menjadi pening karena darah rendah yang ia miliki.


Jarak sekolah lumayan jauh, semoga saja kepalanya tidak pening selama masih berada di dalam bus ini. Sekitar sepuluh menit di perjalanan, saat Ara mulai merasakan ada yang salah dengan perutnya dan mencoba menahannya dengan sebelah tangan agar rasa sakitnya dapat ia tahan, seorang pria yang tadinya duduk di kursi di hadapan Ara bangkit, membuat wanita itu sedikit bergeser agar tidak bertabrakan tubuh dengan pria itu. Ara masih belum sadar bahwa pria itu adalah Jaehwa karena wanita itu sedikit menunduk menatap dasar.


"Duduklah," ucap Jaehwa mempersilakan Ara agar duduk.


Hari ini Jaehwa naik bus untuk berangkat sekolah, biasanya ia diantar oleh supir, namun karena ada masalah pada mobilnya dan harus dibawa ke bengkel, pria itu terpaksa naik kendaraan umum dan berakhir di sini. Pria itupun tidak menyangka akan satu bus dengan Ara. Selama dirinya duduk, ia menyumpal rungunya dengan alat kecil yang mengeluarkan suara musik sambil memejamkan mata, kepalanya pun sedikit menunduk. Karena itu mungkin rambut lebat Jaehwa jadi menghalangi wajahnya dari atas dan membuat Ara tidak mengenalinya karena tidak terlihat.


Namun saat Jaehwa membuka mata untuk melihat sudah sampai mana bus nya berjalan karena tidak ingin tujuannya terlewat, ia tidak sengaja melihat sepasang kaki yang bergerak gusar, itu membuat dirinya langsung melihat siapa pemilik kaki tersebut dan melihat Ara dengan wajah yang seperti menahan sakit. Jiwa kepemimpinannya sebagai seorang pria berkobar seketika melihat wanita lemah yang membutuhkan pahlawan seperti dirinya untuk memberikan tempat duduk pada wanita itu.


Ara menatap Jaehwa, cukup terkejut karena bertemu dengannya. Tanpa berpikir panjang wanita itu langsung duduk di tempat Jaehwa duduk tadi karena dirinya sudah tidak dapat menahan rasa sakit pada perutnya lebih lama.


"Terimakasih." Ara menatap Jaehwa dengan senyum ala kadarnya kemudian kembali mengalihkan pandangannya ke depan.


Sementara itu, Jaehwa malah terus memandanginya dengan senyum yang berusaha ia sembunyikan.


ΩΩΩ


Sesampainya di sekolah, Ara langsung menuju ke kantin untuk membeli sarapan. Perutnya benar-benar tidak bisa diajak kerja sama untuk berhenti mengeluarkan rasa sakit berlebihan.


"Kenapa sakit sekali, padahal sudah terbiasa tidak sarapan." Ara mendengus kesal sembari membayar roti yang ia beli. "Apa karena aku tidak makan semalam?" tanyanya pada diri sendiri.


Sejak pulang sekolah kemarin sampai pagi ini, Ara tidak memberi asupan makanan lagi pada perutnya, dan efeknya baru ia rasakan saat ini. Benar-benar sakit sampai membuatnya tidak bisa berjalan dengan baik. Ara harus berjalan sedikit bungkuk untuk menekan perutnya sampai ke dalam kelas, langsung duduk di kursinya dan memakan roti dengan pelan. Rasanya ketika giginya mengunyah saja sakitnya jadi semakin parah.


"Yang benar saja, aku sudah makan tapi kenapa malah tambah sakit?" keluh Ara, suaranya merintih kecil. Tubuhnya semakin membungkuk hingga kepalanya menempel di atas meja, kedua tangannya melingkar menekan perut di bawah sana. Mata Ara mulai berkaca-kaca karena memang rasa sakitnya bukan main.


"Kau kenapa? Kau sakit, huh?" Sooyung langsung menghampiri Ara begitu sampai di kelas tanpa meletakkan tasnya dahulu di kursinya.


"Perutku sakit sekali," rengek Ara, linangan air mata keluar begitu saja dari sebelah matanya. Padahal Ara tidak ingin menangis, tapi respon tubuhnya terlalu berlebihan sampai mengeluarkan air mata seperti ini.


"Perutmu sakit? Aku antar ke UKS, kau bisa berjalan?" tanya Sooyung dengan khawatir.


Ara mencoba berdiri namun tidak bisa, perutnya sakit sekali. "Tidak bisa—"


"Minggir." Jaehwa menyuruh Sooyung untuk bergeser agar dirinya dapat membantu Ara ke UKS. Pria itu menempatkan kedua tangannya di punggung dan lipatan kaki Ara untuk menggendongnya.


Sooyung mengerjapkan matanya karena tidak menyangka dengan apa yang Jaehwa lakukan sekarang. Sama halnya dengan Ara, wanita itu melebarkan matanya dan terus menatap wajah Jaehwa dari bawah. Terkejut. Ara hanya bisa diam tak mampu berbicara selam Jaehwa membawanya keluar dari kelas.


"Minggir semuanya, beri jalan!" Terdengar Sooyung yang berjalan di depan keduanya sembari berteriak agar yang lainnya dapat memberi jalan.


"Ini terlalu berlebihan, aku bisa berjalan sendiri." Ara meminta pada Jaehwa agar ia diturunkan, namun pria itu sengaja tidak mendengarkannya.


"Aku hanya sakit perut biasa, turunkan aku, Jaehwa," kukuh Ara.


Jaehwa membalas tatapan Ara lalu berucap, "Kalau kau berjalan rasa sakitnya akan terasa, lebih baik seperti ini."


"Apa yang sakit?" tanya dokter itu langsung pada intinya.


"Perutnya sakit, tapi dia sudah makan roti tadi." Jaehwa yang menjawab, mendahului Ara yang posisinya sebagai pasien di sini.


"Biar aku periksa dahulu. Kalian berdua kembali ke kelas, sebentar lagi kelas akan dimulai," titah sang dokter.


Ara mengangguk pada Sooyung, memberitahu wanita itu kalau ia tidak apa-apa jika ditinggal sendiri.


"Aku pergi ya," kata Sooyung lalu pergi.


Sementara itu Jaehwa menatap khawatir pada Ara, kemudian ikut keluar tanpa mengatakan apapun lagi.


***


Pergantian jam telah tiba dimana jam terakhir akan segera dimulai. Ara yang sudah merasa baikan memilih untuk kembali ke kelas dan mengikuti pelajaran sampai pulang nanti. Ara tidak menyangka jika dirinya bisa tertidur begitu lama di UKS sampai hanya tersisa dua jam terakhir untuk pelajaran terakhir. Saat dirinya melewati pintu kelas dan berjalan menuju mejanya, Sooyung langsung menghampirinya dan membantu wanita itu berjalan. Sooyung benar-benar teman yang sangat perhatian, padahal Ara merasa sudah lebih baik tapi masih saja diperlakukan seperti orang yang baru saja menjalani operasi.


"Aku sudah tidak apa, Sooyung," ucap Ara.


"Sungguh? Perut mu sudah tidak sakit?" Sooyung memastikan kebenarannya.


Ara mengangguk mantap. Keduanya duduk di kursinya masing-masing, Sooyung setengah memiringkan tubuhnya agar bisa bertatap muka dengan Ara.


"Dokter bilang apa? Kau sakit apa?" Sooyung ini sangat cerewet ternyata, tapi Ara suka karena itu tandanya Sooyung peduli padanya.


"Dokter bilang aku telat makan sehingga sakit lambung ku kambuh, tapi aku sudah diberi obat dan sudah membaik sekarang."


Sooyung berdesis. "Jangan lewatkan jam makan mu lagi atau kau akan seperti ini lagi, paham?"


"Paham, Ibu." Ara menanggapi Sooyung dengan gurauan dengan memanggilnya ibu.


"Anak pintar." Sooyung kembali menimpalinya dan keduanya tertawa.


Sooyung memutar tubuhnya ke depan dan kembali sibuk sendiri dengan temannya yang lain. Ara sedikit menoleh ke belakang, tepatnya ke arah Jaehwa yang sedang mengobrol dengan yang lainnya. Menatapnya lama, sengaja agar pria itu peka dan menatapnya kembali.


"Terimakasih." Ara berujar tanpa suara pada Jaehwa yang akhirnya menatap dirinya disela perbincangan. Pria itu hanya tersenyum lalu mengalihkan pandangannya lagi pada yang lain.


Suasana gaduh di kelas ini langsung sunyi saat seorang guru masuk ke dalam kelas dengan beberapa buku tersemat mesra di genggaman tangannya. Pria paruh baya itu sudah siap untuk memberikan ilmu-ilmu yang ia miliki pada anak didiknya di jam terakhir ini. Jam yang sering dijuluki jam membosankan dan dihindarkan oleh para murid karena mereka sudah kelelahan dan ingin segera pulang.


"Tolong bersihkan papan tulisnya." Guru tersebut memerintahkan pada siapapun untuk membersihkan papan tulis, dan dengan inisiatif tinggi Jaehwa berdiri untuk menjadi sukarelawan. Saat Jaehwa melewati meja Ara, pria itu meletakkan sebuah kertas di atasnya dan tersenyum pada Ara.


"Biar aku saja yang membersihkannya." Pria itu berucap pada sang guru.


Saat Jaehwa membersihkan papan tulis di depan, Ara membuka selembaran kertas itu dan membaca tulisan di dalamnya.


"Jangan sakit lagi, Ara-ya."