
Alunan musik terdengar merdu mengisi ruangan, menelisik masuk ke dalam rungu setiap insan yang tengah asik bertepuk tangan sambil berdiri menghadap pada sebuah kue ulang tahun berwarna putih. Di sana terlihat seorang wanita yang memakai dres putih juga tengah memakai sebuah mahkota di kepalanya. Rambutnya diikat tinggi namun tetap meninggalkan sedikit rambut di samping pelipisnya yang dibuat Curly. Semakin membuatnya terlihat cantik dan menggemaskan dalam satu wajah.
"Tiup lilinnya."
Sorakan dan tepukan tangan terdengar begitu ramai dan penuh kegembiraan saat Ara meniupkan lilin pada hari ulang tahunnya yang ke sembilan belas tahun. Wanita itu memotong kuenya menjadi bagian kecil, diletakkannya pada piring yang cantik lalu menyuapi ayah dan ibunya.
Ara menatap semua teman-temannya yang ia undang ke hari istimewanya ini. Tersenyum senang. "Terimakasih sudah datang ke acara ulang tahunku. Bersenang-senanglah sampai kalian kelelahan di sini." Ara mengangkat tangannya yang memegang gelas berisi minuman soda, lalu semuanya mengikuti dan menikmati pestanya dengan menari, bernyanyi dan melakukan game lainnya yang sangat seru.
Kedua orang tua Ara memeluk wanita itu dan mengecupnya dengan penuh kasih. Setelah itu keduanya meninggalkan tempat acara. Beberapa teman-teman perempuan Ara menghampiri wanita itu itu mengucapkan selamat.
Ara tidak pernah merayakan hari ulang tahunnya selama ini, dan ini adalah pertama kalinya ia merasakannya. Hari kelahirannya dibuat mewah dan dihadiri oleh orang-orang yang sayang padanya.
Sembilan belas tahun yang berarti Ara bukan lagi remaja labil seperti saat masih sekolah dahulu. Meskipun masa pendidikannya sudah selesai, wanita itu tetap ingin melanjutkannya di sebuah universitas yang ada di Seoul, meskipun dirinya tidak suka belajar. Setidaknya harus bisa mendapatkan gelar sarjana agar orang tuanya bangga pada putri satu-satunya mereka.
"Selamat ulang tahun, Ara. Kau terlihat sangat cantik malam ini." Bae Hajoon, pria tinggi dengan kacamata yang menggantung pada pangkal hidung itu menghampiri Ara, sebelah tangannya memegang paper bag kecil berwarna merah muda.
Ara melambaikan tangan pada teman-temannya yang sebelumnya mengobrol dengannya saat mereka pergi, lalu menoleh pada Hajoon dengan senyuman manis. "Terimakasih, Hajoon, kau juga terlihat sangat keren malam ini." Ara membalasnya dengan pujian juga.
"Ini hadiah dariku," ucap Hajoon, pria itu memberikan paper bag yang ia bawa sebagai hadiah untuk Ara.
Ara menerimanya. "Terimakasih."
Ara mengkerutkan keningnya bingung melihat Hajoon yang mengarahkan pandangannya ke pipi dirinya. "Kenapa? Riasanku luntur ya?" tanya Ara panik, dia akan malu jika itu benar-benar luntur.
"Aku tidak yakin, tapi sepertinya ada noda lipstik di pipimu."
Ara membulatkan matanya, mulutnya pun demikian dan langsung teringat pada ibunya yang menciumnya tadi. "Ah pasti karena ibuku mencium ku tadi. Aku tidak tahu jika lipstiknya menempel." Ara hendak menghapusnya menggunakan tangan, namun Hajoon langsung menangkisnya dan mengeluarkan sapu tangan dari saku celananya.
"Jangan biarkan tanganmu kotor di hari spesialmu." Hajoon menyeka noda lipstik di pipi Ara menggunakan sapu tangan miliknya. Objek yang yang tengah dibersihkan itu malah diam membeku tidak bisa bergerak karena sikap Hajoon yang tiba-tiba seperti ini.
"Pacaran sajalah kalian, pendekatannya jangan lama-lama, Hajoon!" Seseorang yang berdiri di dekat meja keik menginterupsi keduanya. Hajoon langsung menurunkan tangannya, menatap temannya yang berteriak tadi dengan tatapan maut. Sementara yang lainnya hanya tertawa menyaksikan Hajoon dan Ara yang jadi canggung.
"S-sudah bersih," kata Hajoon yang langsung memasukkan kembali sapu tangannya pada saku.
Ara mengangguk kecil, lalu tersenyum agar suasananya kembali santai. "Iya, terimakasih."
"Ara! Jaehwa sedang siaran langsung di Instagram. Kau benar-benar tidak mengundangnya?" Micha yang baru saja datang, terlambat, langsung berteriak heboh dan menuju Ara yang masih berdiri bersama Hajoon.
"Yak pelankan suaramu, Micha." Ara menempelkan jari telunjuknya di bibirnya sendiri, menyuruh Micha untuk tidak berteriak.
Ara menatap Hajoon, merasa tidak enak. "Maaf ya, dia memang seperti ini."
Mereka bertiga satu kampus, Micha selalu bersama Ara sejak SMP. Mulai kenal Hajoon saat mereka sudah masuk semester dua, karena Ara tidak tahu kalau ternyata pria itu satu kampus dan satu fakultas juga. Ara tidak terlalu memerhatikan orang lain yang tidak ia kenal. Hajoon yang memperkenalkan diri pada Ara dan mereka menjadi teman sekarang.
Hajoon mengangguk kecil, lalu ia pamit untuk meninggalkan keduanya.
"Kau tidak mengundangnya? Kau masih suka padanya, 'kan sampai sekarang? Harusnya kau mengundangnya." Micha terus menyerang Ara dengan pembahasan Jaehwa. Wanita itu bahkan tidak sadar jika tadi ada Hajoon karena ia fokus pada ponselnya yang menampilkan Jaehwa yang sedang siaran langsung.
"Tidak perlu membahasnya, mana hadiah untukku. Kau sudah datang terlambat malah tidak mengucapkan selamat padaku. Teman macam apa kau." Ara merajuk dan membelakangi Micha.
Ara langsung memasang senyuman senang. "Terimakasih, Micha."
"Tapi kau benar-benar tidak mengundang Jaehwa?" Micha kembali menanyakan hal yang sama.
"Tidak," jawab Ara cuek.
"Kau masih suka padanya?" tanya Micha lagi.
Ara terdiam, tidak tahu harus menjawab apa. Ia bingung dengan perasaannya sendiri.
Selepas dari Ara yang mengetahui kalau Jaehwa menyukai dirinya pada saat itu, keduanya jadi tidak lagi saling berhubungan. Tidak ada yang mengirimi pesan maupun telepon seperti dahulu. Keduanya hidup dengan kesibukannya masing-masing, namun lambat laun, Ara selalu kepikiran Jaehwa. Wanita itu tidak berani untuk menghubungi Jaehwa lebih dahulu.
Semakin sering ia memikirkan Jaehwa, semakin sering pula ia menangis dikala dirinya merasa rindu akan Jaehwa yang selalu bersamanya saat sekolah. Karen Ara selalu merasa demikian, ia bingung apakah ini artinya ia jadi menyukai Jaehwa. Jika iya, mana mungkin bisa, karena mereka tidak berhubungan lagi setelah masalah waktu itu sampai sekarang, bertemu pun tidak lagi.
Meras frustasi dengan sikapnya sendiri, Ara melampiaskannya dengan cara bercerita pada Micha. Semuanya tanpa terkecual. Tentang bagaimana dirinya yang bisa dengan tiba-tiba jadi kepikiran Jaehwa, apakah pria itu sudah makan, apa yang sedang Jaehwa lakukan, ke man pria itu pergi. Semuanya selalu berputar di kepala Ara, sampai wanit itu mendiagnosa sendiri kalau dirinya telah jatuh hati pad Jaehwa. Pria yang tidak ia sukai saat ia disukai olehnya.
Micha dengan sikapnya yang cukup menyebalkan tentu saja sempat membuat Ara mendiamkannya beberapa hari karena temannya itu memberi tahu Jaehwa kalau Ara menyukainya. Lebih tepatnya karena jawaban dari Ryan yang membuat Ara marah pada Micha.
Jaehwa tidak lagi menyukai Ara.
Jika saja Micha tidak memberi tahu Jaehwa, Ara tidak akan mendengar jawaban yang menyakitkan seperti itu. Lebih baik untuk tidak mengetahui jawabannya sampai kapan pun jika Ara pikir lagi.
Tapi jika Ara mengetahui jawaban Jaehwa lebih cepat, itu ada bagusnya juga karena ia bisa tahu apa yang harus ia lakukan jika Jaehwa masih menyukainya ataupun sebaliknya. Seharusnya seperti itu, sialnya Ara malah terjebak pad rasa cinta yang membuatnya sekarat akan jeratan pesona yang Jaehwa pancarkan.
Ara jadi teringat saat Jaehwa mengcover tarian dari group KPop yang sedang naik daun pada saat acara sekolah. Ara merasa terpukau. Ara melihat temannya yang sedang berpose di depan vas dengan bunga yang indah di tengah ruangan, wanita itu tersenyum simpul, kembali teringat saat ia mengambil potret di sekolah seorang diri, namun saat ia melihat hasilnya ternyata ada Jaehwa di belakangnya yang ikut terpotret. Jaehwa mengganggunya dengan membuat telinga kelinci menggunakan kedua tangannya—membiarkan jari telunjuk dan tengah tetap berdiri sehingga mirip seperti teling.
"Aku bingung dengan perasaan aneh ini, Micha. Aku tidak yakin jika aku benar-benar mencintainya." Ara menatap Micha, tidak lama ia pergi meninggalkan Micha seorang diri.
Ekspresi bahagia Ara jadi hilang tergantikan dengan raut wajah yang sedih. Micha merasa bersalah di sini dan meringis menyesali ucapannya ini. "Seharusnya aku tidak membahas soal Jaehwa." Micha menepuk bibirnya sendiri lalu mengikuti ke mana Ara pegi.
Hajoon melihat Ara dan Micha yang tiba-tiba saja berjalan tergesa-gesa. Pria itu menahan lengan Micha ketika wanita itu hendak melewatinya.
"Ada apa dengan Ara?" tanya Hajoon khawatir terjadi sesuatu pada Ara.
Micha menggaruk tengkuknya. "Sepertinya dia marah padaku."
Hajoon menyipitkan matanya. "Kenapa? Kalian bertengkar?"
"Itu karena aku membahas soal Jaehwa." Micha menoleh ke arah belakang Hajoon untuk melihat ke mana Ara pergi.
"Siapa Jaehwa?" Hajoon masih terus meleparkan pertanyaan.
Micha berdecak kesal. "Pria yang Ara sukai. Jangan bertanya lagi, aku harus mengejar Ara." Micha menepis tangan Hajoon darinya agar bisa pergi.
Hajoon menelan salivanya sendiri, kepalanya menunduk dengan kepalan tangan yang ia eratkan. Rasanya ia kesal mendengar hal itu.
"Jadi dia sedang jatuh cinta pada pria lain?!"