Are You Okay?

Are You Okay?
Organisasi



Setibanya Ara di kelas, wanita itu terus memerhatikan pintu untuk melihat apakah Jaehwa sudah datang atau belum. Jemarinya sibuk menutukkan huruf-huruf pada ponselnya untuk mengirim banyak pesan pertanyaan pada Sooyung. Pasalnya wanita yang baru menjadi temannya belum lama ini mengirim pesan yang membuat Ara terkejut dan tidak percaya. Sooyung mengirimkam pesan semalam, wanita itu mengabari Ara kalau dirinya tidak bisa melanjutkan sekolah di sekolah ini lagi, Sooyung pindah sekolah karena ayahnya dipindah tugaskan di luar kota, ia dan ibunya mau tidak mau harus ikut pindah juga.


Sialnya Ara malah baru membaca pesan itu saat di sekolah. Semalam ia tidur lebih cepat dan belum membuka ponsel sama sekali pagi ini.


Sekali lagi Ara menolehkan kepalanya ke arah pintu, timingnya sangat tepat bersamaan dengan Jaehwa yang baru tiba.


"Jaehwa," panggil Ara, tangannya berayun memerintah Jaehwa untuk menghampirinya.


"Apa?" kata Jaehwa.


"Sooyung benar akan pindah sekolah?" Karena Sooyung dekat dengan Jaehwa, pria itu pasti tahu soal ini. Ara hanya tidak percaya saja jika Sooyung benar-benar akan pindah. Ia akan bertanya pada Jaehwa untuk memastikan karena sejak tadi Sooyung tidak membalas pesan darinya, teleponnya juga tidak diangkat.


"Pindah?"


Jaehwa malah balik bertanya, membuat Ara menukik bingung jadinya. "Apa maksudmu? Kau tidak tahu?"


Jaehwa melempar tasnya ke atas meja miliknya di belakang sana. Lemparan yang bagus, mendarat tepat di atasnya. Jaehwa kembali menatap Ara. "Dia bilang begitu padamu?"


Ara mengangguk lalu menunjukkan pesan dari Sooyung. Jaehwa membacanya.


"Aku tidak tahu, dia tidak bilang apapun padaku." Jaehwa duduk di kursi Sooyung, di depan Ara.


"Bukankah kalian dekat?"


"Kita dekat, tapi tidak dekat juga. Ya seperti itulah pokoknya." Jawaban Jaehwa sama sekali tidak menjawab pertanyaan dari Ara. Wanita itu jadi merasa sia-sia sudah bertanya.


"Yasudah, terimakasih," ucap Ara untuk mengakhiri pembicaraan keduanya.


✿⁠ ⁠⁰⁠ ⁠o⁠ ⁠⁰⁠ ⁠✿


Ara izin ke toilet saat jam pelajaran baru saja berlangsung karena ada panggilan alam yang tidak bisa ia tahan. Masalah pada perutnya tidak pernah habis rasanya, Ara sampai berdecih kesal sendiri selama di kamar mandi. Setelah selesai dengan urusan alamnya dan hendak keluar dari kamar mandi, Ara terperanjat melihat Jaehwa yang berdiri—bersandar pada dinding dekat pintu keluar.


"Yak bikin kaget saja," omel Ara.


Jaehwa berdiri tegap menghadap Ara, pandangannya mengarah pada perut wanita itu. "Perut mu sakit lagi?" tanya Jaehwa.


"Kenapa? Kau khawatir padaku ya?"


"Iya."


Niatnya hanya ingin mengolok Jaehwa dengan sikapnya yang selalu perhatian padanya belakangan ini, tapi wanita itu malah jadi canggung sendiri dengan jawaban pria itu.


Cengiran penuh gurauan tadi kini berubah menjadi senyuman halus kelewat canggung, Ara berucap sambil menepuk-nepuk kecil perutnya, "Bukan karena telat makan lagi, hanya panggilan alam saja." Pada akhirnya Ara terkekeh kecil guna membuang kecanggungan.


Lagipula ini terasa aneh, Ara tidak melihat wajah lelucon pada Jaehwa, melainkan ekspresi serius namun dapat terlihat bahwa pria itu khawatir pada Ara.


"Bilang padaku jika perutmu sakit lagi, ya." Jaehwa mengelus lembut pucuk surai Ara.


Ara membelalakkan matanya, badannya seketika membeku saking tidak berekspektasi dirinya akan dielus seperti ini oleh Jaehwa.


"Ayo ke kelas," ajak Jaehwa, pria itu berjalan mendahului Ara.


"Sepertinya otaknya tergesek benda tajam." Ara bergidik geli dengan sikap Jaehwa itu.


Saat Ara dan Jaehwa sudah masuk kembali ke kelas, tidak lama setelahnya wali kelas masuk untuk memberitahu mereka semua bahwa ada murid baru di kelas ini. Wali kelas tersebut mepersilakan murid baru itu untuk masuk ke dalam kelas dan diminta untuk berkenalan.


Murid baru itu seorang wanita. Ara jadi teringat pada Sooyung, jika ada murid baru seperti ini maka kabar pindahnya Sooyung memanglah benar adanya.


"Salam kenal semuanya, namaku Go Micha."


Nama yang cantik menurut Ara. Murid baru itu memiliki gummy smile yang menggemaskan, terlihat saat ia tersenyum.


"Kau bisa duduk di kursi yang kosong di sana." Wali kelas tersebut menunjuk kursi kosong di depan Ara, kursi milik Sooyung sebelumnya.


Micha membungkuk hormat pada wali kelas sebelum beranjak menuju kursinya.


"Guru pelajaran pertama akan segera masuk, Ketua Kelas jangan lupa untuk mengumpulkan ponsel semuanya ke depan," ujar Wali Kelas kemudian pergi berlalu.


Ketua kelas langsung mengambil keranjang kecil dari bawah meja guru lalu berkeliling untuk meminta semua anak kelas agar memasukkan ponsel ke dalam keranjang yang ia bawa.


"Hai, aku Micha, salam kenal ya." Micha menyapa Ara yang baru saja meletakkan ponselnya pada ranjang.


Ara menatap Micha sembari tersenyum. "Aku Yoon Ara."


"Tentu saja mau, kita satu kelas berarti semua yang ada di sini adalah temanmu mulai sekarang, Micha." Ara tersenyum memperlihatkan giginya.


"Kau sangat ramah, Ara. Aku jadi tidak canggung lagi, mohon bantuannya ya." Micha sedikit membungkukkan badannya pada Ara, sedangkan wanita itu melambai panik karena teman barunya malah membungkuk seperti itu, padahal mereka seumuran. Jadi merasa tidak enak.


Seorang wanita muda sebagai guru matematika masuk ke dalam kelas. Semua keriuhan langsung berhenti dan secara bersamaan memberikan salam setelah sang ketua kelas memimpin untuk memulai.


"Aku tidak akan mengisi jam ini terlalu lama, hanya memberikan catatan materi baru untuk kalian salin di buku. Setelah itu kalian akan disuruh untuk mengisi formulir organisasi yang akan kalian ikuti selama bersekolah di sini." Guru tersebut langsung menuliskan rumus-rumus di papan tulis.


"Kau akan ikut organisasi apa?" Micha bertanya pada Ara.


Ara mengulum bibirnya beberapa detik untuk memikirkan jawabannya. "Aku tidak ada niatan untuk mengikuti organisasi apapun."


"Kenapa?" tanya Micha ingin tahu.


"Ikut kegiatan seperti itu pasti akan menguras banyak tenaga dan pikiran, aku tidak mau repot-repot untuk melakukan hal itu." Ara membuka buku dan mulai menulis seperti yang ada di papan tulis.


Micha masih menghadapi pada Ara, namun tidak bicara sama sekali.


"Kenapa? Kau ingin ikut organisasi?" Kini Ara yang bertanya pada Micha.


"Sebenarnya ingin mencoba, tapi aku tidak kenal yang lain. Aku mengikutimu saja."


"Mana boleh seperti itu. Kau harus mengikuti kata hatimu sendiri, jangan ikuti aku." Ara menggelengkan kepalanya samar.


"Lihat nanti saja," ujar Micha, wanita itu kembali menghadap depan dan mulai menulis.


✿⁠ ⁠⁰⁠ ⁠o⁠ ⁠⁰⁠ ⁠✿


"Sudah mengisi formulir? Mau ikut organisasi apa, Ara-ya?" tanya Jaehwa.


Saat di kantin, Ara dan Micha pergi makan bersama. Satu meja. Sepertinya Micha akan menggantikan posisi Sooyung mulai sekarang. Ara dan Micha langsung menoleh pada Jaehwa saat pria itu ikut duduk bersama mereka, tepatnya di samping Ara.


"Belum, aku tidak akan ikut apapun," jawab Ara.


Jaehwa menyuap satu sendok nasi ke dalam mulutnya. "Kenapa?" tanyanya lagi sambil terus mengunyah.


"Tidak tertarik."


"Ikut saja, aku juga akan ikut. Aku akan mencalonkan diri sebagai ketua OSIS." Jaehwa tertawa setelahnya.


"Kau ingin ikut organisasi, 'kan? Ikut saja, ada dia yang akan membantumu." Ara bicara pada Micha yang sedari tadi hanya mendengarkan pembicaraannya dengan Jaehwa sembari memakan makanannya.


Micha menatap Ara terkejut. "Aku?"


"Iya kau," kata Ara.


"Kau murid pindahan yang tadi ya? Aku Ryu Jaehwa." Jaehwa memperkenalkan diri dengan ramah.


Micha hanya mengangguk canggung. "Micha."


"Aku akan ikut jika kau ikut saja," sambung Micha.


Baru saja Ara ingin bicara, namun Jaehwa sudah lebih dulu berkoar. "Kalian berdua ikut saja, kalian tidak kan tahu rasanya menjadi pengurus acara sekolah. Kalian akan mendapatkan banyak pengalaman dan kenang-kenangan. Kita juga akan mendapatkan nilai lebih dari keaktifan kita selama di sekolah, salah satunya mengikuti organisasi. Kau yakin tidak ingin ikut?" tanyanya memastikan pada Ara.


Pria itu sudah pantas menjadi anggota osis karena pandai mempromosikan organisasinya pada orang lain dengan imingan menarik.


"Nilai tambahan?" Sepertinya Ara mulai memakan umpan yang Jaehwa berikan.


Jaehwa mulai antusias menanggapi segala pertanyaan dari Ara. Pria itu langsung duduk tegap menghadap wanita di sampingnya dengan mata berbinar siap untuk mendengarkan pertanyaan selanjutnya.


"Pasti tugas-tugasnya susah. Akan lebih sering pulang terlambat. Pusing. Lelah. Belum lagi jika ada acara, bukankah akan semakin sulit? Aku tidak yakin akan bertahan lama jika ikut organisasi," racau Ara membayangkan apa yang akan ia rasakan jika ia memilih untuk gabung ke dalam organisasi sekolah.


"Justru karena akan lebih sering pulang terlambat, itu artinya kau akan jadi lebih sering dan lebih lama lagi bertemu denganku," kata Jaehwa.


Ara menaikkan sebelah alisnya.


"Maksudku bersama anggota yang lainnya. Aku jamin kau tidak akan menyesalinya. Apa tidak sayang jika nilai tambahan itu kau abaikan begitu saja?" Jaehwa benar-benar bermulut manis sekali. Ara berhasil dibuat bimbang sekarang.


"Akan kupikirkan."