
Annyeong!!
Sekian lama gak up akhirnya up lagi😂
Gimana?
Kangen gak sama Al dan Vara?
Mereka kangen lohh sama kalian😁
Sorry🙏🙏
Belakangan ini mood nulis aku lagi redup😥
Gak tahu kenapa🤷🤷
Sebenarnya aku kemarin pengin up, udh nulis setengah bab tapi data novel toon nya terpaksa aku hapus.
Trus login lagi, ehhhh...
trnyata draft nya juga ikut ke hapus.
Kan jadi sedih😥😥
Tapi aku baca in comen kalian
dan.....
Jiwa menulis ku langsung kembali meronta-ronta...🤣🤣🤣
dan akhirnya...
jadilah chapter ini😄
HAPPY READING💞
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Kemarin Vara tidak sempat masuk sekolah. Why? Sekedar penjelasan, Vara memiliki tubuh sensitif terhadap udara dingin dan juga air hujan. Beberapa tetes hujan yang mengenai tubuhnya maka tubuhnya langsung kontraksi. Alhasil dia menjadi demam. Ditambah lagi tamu bulanan nya sedang singgah. Sudah jelas kan, kenapa kemarin saat bersama Al bawaannya Vara selalu kesal?
Tapi hari ini ia sudah sehat, dan sudah bisa masuk sekolah kembali. Seperti saat ini, kegiatan rutinnya setiap hari, yaitu ngomel dengan Cery.
"Ish! sebentar aja" ajak Vara.
"Gak mau! Gue masih kesel sama temennya Al. Siapa tuh namanya...." Cery berfikir keras.
"Arya" jawab Vara.
"Nah itu. Gue lihat muka nya dari jauh aja udah eneg! Apalagi lihat dia dari dekat, bisa muntah gue" Cery melirik sebal kearah Vara.
"Ayolah... aku cuma pengin anterin jaket punya Al aja" bujuk Vara lagi.
"His! gue gak mau!" tolak Cery.
"Itu kan kejadian udah kemarin lusa. Lupain aja, dia juga udah dapat imbas nya. Pasti kemarin salah satu jari kaki nya remuk kamu injak begitu"
Cery tidak menjawab. Ia melirik kesal kearah Vara, lalu mendengus keras, "Gak! Gue mau daftar karate nanti. Lo sendiri aja sana!" Cery berlalu tanpa menghiraukan Vara, ia keluar dari ruang kelas menuju stand pendaftaran ekskul.
Hari ini memang dibukanya pendaftaran ekskul. Pendaftaran ekskul di Rajawali High School hanya dibuka setahun sekali, yaitu setiap tahun ajaran baru. Selepas hari ini, tidak ada yang diperbolehkan mendaftar ekskul lagi. Dan bagi yang tidak masuk ke sekolah bisa melakukan pendaftaran ekskul secara online lewat situs web Rajawali High School.
Karena itu, hari ini tidak ada mata pelajaran. Alias JAMKOS!!!
Vara sendiri berminat memasuki ekskul OSIS dan juga ekskul IPA. Setiap siswa diwajibkan mengikuti 2 ekskul setiap tahunnya.
Vara menghela nafas. Ia menaruh jaket Al ke dalam tas nya. Dalam hati ia berfikir. Sekarang sedang pendaftaran ekskul, pasti Al selaku Ketua OSIS sedang sibuk - sibuk nya. Mungkin sepulang sekolah ia bisa memberikan jaket nya pada Al.
Ia memantapkan hatinya, lalu menuju stand pendaftaran OSIS. Antriannya cukup panjang, untung saja Vara berada pada antrian bagian tengah. Tak bisa ia bayangkan jika ia berada pada antrian paling belakang. Harus berapa lama ia berjemur di bawah terik matahati?
Tiba giliran ia mendaftar. Setelah mengisi formulir ia diminta menuju ruang OSIS untuk mengadakan ujian lisan dengan Ketua OSIS dan pembina OSIS secara langsung! Untung saja Vara mengadakan ujiannya dengan Al, bukannya dengan sang guru killer sekaligus pembina OSIS, Bu Tutti!
Al mengajukan beberapa pertanyaan yang bisa dijawab Vara dengan mudah. Beberapa pertanyaan dari Al sempat memojokkan Vara, tapi Vara masih dapat mengatasinya. Sudah 10 menit Vara berada diruangan tersebut. Ujian lisan nya telah berakhir. Sebelum keluar, Vara melirik ke arah meja Bu Tutti yang berada cukup jauh dari jangkauan mereka.
"Mmm.... Al?" tegur Vara dengan tatapan ke arah meja Bu Tutti.
Al menyenderkan punggung nya ke kursi lalu menyilangkan tangannya di depan dada. "Ada apa?"
"Lo disini buat di kasih pertanyaan bukan untuk ngasih pertanyaan" ia memijat pangkal hidungnya, lalu menatap Vara tajam.
"Aku gak mau ngomong banyak - banyak kok" Vara tersenyum kecil, "Nanti pulang sekolah jam setengah 4 aku tunggu di parkiran"
"Sebentar aja, gak lama kok"
Al mengangguk, "Udah kan? Pergi sana!"
Vara pun bergegas pergi meninggalkan ruang OSIS. Ia kembali lagi ke stand pendaftaran ekskul dan mencari stand ekskul IPA. Antriannya sudah lumayan sepi, mungkin karena sudah jam istirahat. Ia mengeluarkan HP nya lalu mencari nama seseorang.
Vara
*Cery, kamu dimana?
Masih antri*?
Cery
Lo dimana? Sini ke kantin*.
Vara
*Iya. Sebentar.
Aku mau daftar IPA dulu*.
Cery
Ok. gue tunggu.
Vara memasukkan kembali HP nya ke dalam saku rok yang ia kenakan. Lalu mulai berdiri pada antrian ekskul IPA. Kurang lebih 5 menit ia menunggu, tiba giliran ia mendaftar. Pendaftaran kali ini tidak ada ujian apapun, setelah mengisi formulir ia sudah resmi menjadi anggota ekskul IPA.
Perut Vara berbunyi, ia sedikit meringis. Langsung saja ia menuju kantin dan menemui Cery yang saat itu sedang duduk di meja tengah. Tempat yang Cery duduki cukup strategis, sehingga memudahkan Vara mencari nya.
"Sudah daftar nya?" Tanya Cery.
Vara mengangguk, "Iya. Kamu daftar ekskul apa?"
"Gue... ikut karate sama..." Cery menjeda ucapannya.
"Ekskul band" lanjutnya lagi.
"Wah... kamu suka musik ya ternyata" Vara tersenyum kecil.
"Lo sendiri?" Cery menangkup pipi nya dan menatap Vara.
"Aku? Aku daftar anggota OSIS sama IPA" jawab Vara yang langsung mendapat gelak tawa dari Cery.
"Hahaha... serius lo ikut OSIS?" tanya Cery di sela - sela tawanya.
"Yaiyalah. Emang muka ku kelihatan bohong"
"Tujuan lo ikut OSIS apaan coba?"
"Ya untuk ngehukum orang-orang kaya kamu! Gak taat aturan sekolah!" Vara mendelik kesal.
"Gue itu taat aturan tau!" Cery menyandarkan tubuhnya pada kursi.
"Taat aturan apanya!"
Vara menginjak sepatu Cery, "Ini sepatu kamu warna putih! Harusnya warna hitam!"
"Rambut kamu. Gak boleh di warna in, kaus kaki kamu harusnya panjang, bukannya pendek! Kamu juga bawa make up ke sekolah, itu kan dilarang tahu!" Vara menyebutkan kesalahan Cery.
Cery memutar bola matanya, "Sepatu putih? Ini nih lagi trend tahu! Sekolah ini aja kudet, gak fleksibel!"
"Sekolah internasional sekolah yang selalu berkembang ikutin zaman. Tapi tetap aja murid disana diwajibin pake sepatu hitam, bukannya putih" ujar Vara.
"Ya ya ya. Apa kata lo deh"
"Terus, lo bilang rambut gue pirang? Gue pirang ini dari SMP, sekolah lama gue gak musingin hal itu" Cery menyeringai kecil.
"Gimana dengan kaus kaki kamu? Aturan disini harusnya pake kaus kaki panjang"
"Terserah gue lah! Gue yang beli, gue yang pake, lo yang sewot!" Cery mendelik kesal.
"Kamu tuh ya! Gak taat aturan banget!"
"Terserah gue" Cery tersenyum sinis.
"Besok kamu harus pake seragam yang benar, gak boleh ketat kaya gitu" Vara menunjuk seragam Cery yang cukup ketat.
Cery tergelak, "Ini nih bikin gue tambah seksi tau"
Vara memutar bola matanya, "Gak boleh bawa make up lagi! Nanti kalau ada razia disita tau rasa kamu"
"Gue bisa beli lagi kok" jawab Cery.
"His! Kamu ini harus taat aturan, kalau gak nanti kamu dihukum tahu!" Vara meminum es nya yang baru saja datang.
Cery tertawa ringan, "Lo polos banget ya! Aturan itu ada untuk dilanggar, bukannya untuk diikutin!"
"Aturan dari mana itu!?" Kata Vara, kesal.
"Lagian ya, masa putih abu-abu itu gak seru kalo gak dihukum tahu! Penuhi masa SMA lo dengan warna - warni" ujar Cery.
"Warna - warni apanya!!" Vara melotot kesal.
"Warna - warni hukuman lah... hahaha" Cery tertawa lepas, membuat beberapa penghuni kantin yang mendengarnya mencibir kecil.
Vara menggeleng pelan, ia menghela nafas mendengar jalan pikiran Cery yang benar - benar bertolak belakang dengannya. Tanpa pikir panjang, Vara segera menghabiskan batagor yang telah dipesan oleh Cery sebelum ia datang ke kantin tadi. Sesekali ia melirik ke arah Cery yang masih saja tertawa lepas.
"Gak malu apa ketawa terus" gumam Vara.