
Hari ini Vara menggerutu kesal. Dibawah halte bus depan sekolahnya ia tengah meneduh dengan tatapan kesal mengarah ke jalanan yang basah. Saat pulang sekolah tadi, ia ditawari Cery untuk diantar kan pulang, jelas sekali Vara langsung menolak. Alasannya, karena ia tidak mau merepotkan. Cery sudah membujuk nya berulang-ulang kali sampai menawari untuk ditraktir selama seminggu full! Tapi tetap saja.... Vara tetaplah Vara! Gadis yang selalu merasa tidak ingin merepotkan siapapun.
Alhasil Cery dengan berat hati meninggalkan cewek keras kepala tersebut di halte bus sendirian. Padahal jam sudah menunjukkan pukul 16.09. Sudah cukup sore, bukannya mendapatkan taksi ataupun bus, ia justru mendapatkan rintikan air yang turun semakin deras.
"Coba tadi aku ikut Cery. Pasti aku sudah dirumah sekarang" gumamnya, kecil.
Gimanapun... penyesalan selalu datang diakhir kan?
"Selain itu aku juga dapat traktiran seminggu full. Bukannya malah disini seperti orang bodoh!" Ia menekuk wajahnya.
Bau petrikor menusuk indra penciumannya, semakin kesini bukannya semakin reda justru semakin deras. Vara memakai kembali jaket bomber milik Al yang sempat dilepasnya. Ia duduk sembari memangku tangan, sesekali cewek tersebut menghela nafas kasar ketika tak ada satupun angkutan yang lewat.
Cukup lama ia berada pada posisi tersebut. Bahkan waktu sudah menunjukkan pukul 16.30. Ia belum beranjak dari posisinya. Tangannya yang tadi berada di pipi kini tengah digosokkan satu sama lain, sesekali cewek itu meniupnya. Kentara sekali bahwa ia tengah kedinginan.
Vara menghela nafas.
"Hujan nya pasti akan sampai malam. Kalau begini... gimana aku bisa pulang. Gak mungkin kan aku mau jalan kaki ke rumah..?"
Ia menyenderkan badannya pada sandaran kursi. Kini ia hanya termenung menatap jalanan kosong didepannya. Hanya ditemani nyanyian hujan dan harum nya petrikor. Ia menunggu keajaiban. Keajaiban yang akan membawanya pulang ke rumah.
***
Al baru saja selesai rapat OSIS. Ia melihat jam tangan yang melingkar sempurna di pergelangan tangannya. Ia mendengus kesal. Selalu saja pulang terlambat, pikirnya. Dengan tergesa cowok jakung itu menerobos derasnya hujan dan masuk ke dalam mobilnya yang terparkir dekat dengan gerbang sekolah.
Ia menyalakan mesin mobil lalu menancap gas meninggalkan halaman parkir.
"Cukup sepi" ujarnya.
Cowok itu mengedarkan pandangannya ke jalanan. Hingga matanya terpaku pada perempuan yang tengah bersender putus asa di halte bus. Ia mengenali jaket yang membalut tubuh cewek tersebut adalah jaket miliknya. Langsung saja ia tahu siapa cewek tersebut.
"Ngapain dia masih di sini?"
Pasalnya, sebelum ia benar-benar pergi meninggalkan sekolah, Al sudah memastikan kalau seluruh anak OSIS sudah meninggalkan area sekolah. Yang tersisa hanyalah satpam yang bertugas mengunci ruang kelas seusai sekolah. Kenapa gadis itu disini?
"Jalanan sepi. Biasanya jam segini angkutan sudah jarang lewat ditambah lagi sedang hujan deras"
Ya lagian... sore begini masih ada angkutan? Ditambah lagi sedang hujan deras. Orang-orang pasti lebih memilih dirumah dan menghangatkan tubuh.
Sebagai Ketos yang baik, ia tidak mau anggota sekolahnya kesusahan. Lantas cowok tersebut menurunkan kaca jendela, lalu mengklakson mobil beberapa kali, hingga akhirnya cewek tersebut menengok ke arahnya. Wajahnya tampak berbinar. Bagai mendapat jackpot besar.
"Lo butuh tumpangan?" tanya Al berteriak.
Sejenak Vara mengernyitkan dahinya, suara derasnya hujan rupanya mengalahkan teriakan Al. Cowok itu mengulangi pertanyaannya.
"Bareng gue aja. Jam segini gak ada angkutan lewat" Ujar Al kembali berteriak.
Vara mengangguk. Dengan cepat cewek tersebut berlari menuju mobil Al. Dan dalam waktu singkat ia sudah duduk manis disamping Al. Jaket yang semula menghangatkan tubuhnya kini sudah sebagian yang basah. Bukannya menghangatkan justru sekarang suhu tubuhnya mendingin. Bibirnya bergetar dengan sendirinya.
"Kenapa masih di area sekolah?" Tanya Al dengan tatapan seperti biasanya, dingin.
"Aku dari tadi di halte. Memangnya orang kalau lagi di halte ngapain?" jawab Vara.
"Nungguin angkutan" ucap Al.
"Itu tau. Kalau aku masih di halte tandanya belum dapet angkutan. Gitu aja ditanya in" gerutunya.
Al tidak menggubris ucapan Vara. Cowok itu menatap lurus kedepan lalu mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang.
"Di mana?"
"Apanya yang dimana? Kalau nanya itu jangan setengah-setengah dong. Aku kan gak ngerti" kesal Vara.
Kenapa? Kenapa dari tadi Vara bawaannya kesal?
"Rumah lo" ujar Al dengan dingin.
"Dari perempatan depan sana belok kiri terus berhenti di rumah ke 6" ucap Vara menjelaskan.
"Perumahan elite?" gumam Al yang masih bisa didengar oleh Vara.
"Kenapa? ada yang salah?" Tanya Vara ketus.
Kenapa cewek ini? batin Al.
Perumahan elite adalah perumahan khusus orang-orang kaya. Kalau Vara tinggal disana, berarti cewek itu adalah salah satu keluarga yang mampu. Lantas? Kenapa dia naik angkutan umum? Biasanya orang-orang mampu kan sudah membeli mobil.
Al terus memacu mobil nya sampai ke perempatan jalan, ia belok kiri. Al menurunkan laju kendaraannya, lalu melirik Vara sekilas. Cewek itu diam sambil bersandar ke kursi mobil. Matanya terpejam rapat. Dan bibirnya tak henti bergetar.
"Udah sampai"
Vara membuka matanya lalu melihat ke sekelilingnya. Mobil Al berhenti dirumah minimalis berlantai 2 dengan cat berwarna putih.
"Makasih ya udah antar aku pulang. Jaketnya aku cuci dulu besok aku kembalikan" Vara membuka mobil lalu memakai tudung hoddie nya. Diluar sana masih tampak hujan makin menderas saja. Gadis itu membuka pagar rumah lalu masuk kedalam rumahnya.
***
Sampai di kamarnya, Vara membersihkan dirinya lalu memakai piyama tidur. Cewek itu membaringkan tubuhnya lalu memakai selimut. Badannya cukup kedinginan akibat bersentuhan dengan air hujan.
Ckleek...
Suara pintu kamar terbuka. Bunda Sharen tampak membawakan teh hangat dan juga bubur dalam satu nampan.
"Kehujanan ya?" Tanya Sharen sembari tersenyum.
Sharen mengecup kening anak nya.
Vara mengangguk lemas.
"Kamu makan ini dulu ya. Hangatin tubuh kamu terus istirahat"
Lagi-lagi Vara cuma bisa mengangguk. Ia seperti tak bertenaga lagi untuk berbicara.
"Mau bunda suapin?" Tanya Sharen.
"Gausah bunda. Vara bisa sendiri kok" akhirnya kalimat tersebut keluar juga dengan susahnya.
"Yaudah. Kamu harus makan ya. Bunda tinggal dulu,kalau butuh bantuan panggil bunda ya"
Merasa anaknya butuh istirahat Sharen pun meninggalkan Vara di dalam kamar. Vara memejamkan rapat matanya. Ia menghela nafas, lalu bangkit untuk memakan makanan yang bunda nya bawakan barusan. Lidah nya terasa pahit,namun ia terus memaksakan agar tak membuat bundanya khawatir.
Habis.
Dengan susah payah akhirnya gadis tersebut dapat menghabiskannya. Vara meringis kecil, saat dirasa kepalanya mulai berdenyut. Ia memutuskan untuk beristirahat sejenak. Vara memejamkan matanya kemudian terlarut pada alam bawah sadarnya.
**Ups... sorry dorry gess..
kemarin aku gak sempat up, karena kemari kuota ku habis😂😂🤣
terus baru beli tadi malam,
tadinya mau malam tadi update
tapi mata ku gak bisa diajak kompromi...
jadinyaa ya... baru bisa up pagi ini.
hehe... maap yaa
aku usahain nanti up tepat waktu.
soalnya kan Chewy udah janji mau up tiap hari✌ semasa lockdown gini...
aku usahain juga sore atau malam nanti up lagi...
tapi ya aku gak bisa janji...
pantengin terus aja ya...
klik favorite, jempol, dan comment sesuka hati kalian, asalkan jangan pake kata\-kata kasar ya.
dukung chewy terus... caranya dengan vote seikhlasnya
makin banyak vote makin semangat up😁
Oh iya... rate bintang 5 sekalian ya...
oke see you in the next chapter
bye bye**