
Pantitia Masa Orientasi Siswa memberikan aba-aba untuk melepas burung merpati ke udara, menandakan berakhirnya masa MOS tahun ini. Suara tepuk tangan dan gemuruh teriakan terdengar di lapangan SMA Rajawali.
Vara yang tengah duduk dibawah pohon sedang sibuk membereskan barang-barangnya. Disampingnya ada seorang cewek yang tengah mengipasi tubuhnya dengan tangan. Cewek yang diketahui bernama Cery itu sesekali menggumam tidak suka ketika melihat segerombolan ciwi-ciwi alay sedang meminta berfoto pada si Ketua OSIS.
"Dih alay banget. Kaya gak pernah ketemu cogan aja" gumam nya yang masih bisa didengar Vara.
Vara menutup resleting tasnya, lalu berpura-pura sibuk dengan membersihkan sepatunya yang terkena injakan beberapa anak saat dilapangan tadi.
"Vara... lo ngapa diem aja sih daritadi. Sok-sokan canggung lagi sama gue. Gue kan udah bilang gausah terlalu canggung sama gue," Ujar Cery
Entah mengapa sejak pembukaan masa MOS, cewek dengan rambut sepunggung itu doyan sekali mengganggu Vara, padahal kan mereka baru kenal.
"Aku kan gak kenal kamu, kamu aja yang sok kenal sama aku" cibir Vara yang mendapat gelak tawa dari Cery. Ia mengangkat tubuhnya lalu menarik tangan Vara pelan.
"Gue bukannya sok kenal, tapi lo nya aja yang gak punya jiwa-jiwa friendly. Dah ah... temenin gue makan yok!"
Vara memakai tasnya, "Kemana? Kantin?"
"Iya... gue traktir mie ayam deh. Biar lo gausah canggung lagi sama gue, gue kan anak baik" Jawab Cery tertawa pelan.
"Apa kata kamu deh" kata Vara mulai kesal. Dia melirik Cery. Lalu menarik tangannya. "Lagian aku punya uang sendiri"
"Iya-iya! Yuk ngantin" Cery melangkahkan kaki nya ke arah Kantin, lalu menyampirkan tasnya di bahu kanan.
Vara memutar bola matanya, dan tanpa sengaja tatapannya bertemu dengan salah seorang cowok dipojok lapangan. Kalau tidak salah mengenali, Vara mengetahui cowok itu sebagai ketua OSIS SMA Rajawali.
Vara memalingkan wajahnya, lalu berjalan cepat meninggalkan lapangan menuju kantin. Disana, ia melihat Cery dengan tatapan kesal mengarah padanya.
"Lama banget sih lo!"
"Yang penting aku udah disini" Vara mendudukkan tubuhnya di kursi.
Seorang mbak-mbak kantin mengantarkan dua mangkok mie ayam dan dua gelas es teh. Vara mengeluarkan uang dari saku rok nya, lalu memberikan uang itu kepada mbak-mbak kantin.
"Tadi udah dibayar sama mbak Cery" tolak mbak kantin yang kerap dipanggil mbak Ayu. Perempuan kepala tiga itu langsung pergi setelah menaruh pesanan.
Vara menatap tajam ke arah Cery yang sedang main HP nya. Merasa diperhatikan Cery mengalihkan perhatiannya ke Vara.
"Gausah gitu dong. Kan tadi aku bilang aku punya uang sendiri" ketus Vara.
"Lo cuma bilang ada uang, bukan berarti lo tolak traktiran gue kan?" kata nya dengan senyum menyebalkan.
"Udah lah Var, anggap aja traktiran awal pertemanan" Cery menaik turunkan alisnya. Masih dengan senyum menyebalkan.
"Semoga aja kita gak sekelas, biar gak kenal kamu lagi" ucap Vara kesal, ia mendenguskan nafasnya. Lalu mulai memakan mie ayam.
"Gak amiin, ya Allah." Cery tertawa.
Suara kantin yang tadinya riuh kini senyap seketika bersamaan dengan datangnya gerombolan yang katanya dianggap sebagai The Most Wanted SMA Rajawali.
Mereka duduk di pojokan kantin. Salah seorang siswa dengan tampang jenaka memanggil Mbak Ayu.
"Wiih... Mbak Ayu udah lama gak ketemu makin cantik aja yaa" ucap Vino setelah Mbak Ayu pergi.
"Inget woy! Dia udah punya dua anak, doyan banget lo istri orang" kata Arya, menoyor kepala Vino. "Al aja yang lebih ganteng dari lo gak pernah godain cewek-cewek. Lah elo... muka nge-pas sok-sokan goda" cibir Arya.
"Tck... Al itu udah dari zigot emang kayak kulkas. Punya muka ganteng gak dipake buat seneng-seneng" Ucap Vino dengan pandangan kesal.
"Dasar lo nya aja playboy!" sarkas Arya.
Al mengalihkan tatapannya dari Arya dan Vino. Melihat mereka hanya membuang waktu, pikir Al. Lagi-lagi tatapannya jatuh kepada cewek yang sedang memakan mie ayam sambil sesekali melotot ke arah temannya. Cewek yang sama yang beradu tatapan dengannya tadi di lapangan sekolah.
"Sstt Vara..."
Tiba-tiba Cery menghentikan celotehannya. Vara bingung. Pasalnya barusan saja Cery meledek rambutnya yang hanya sebahu. Ia mengatakan rambut cewek itu seharusnya panjang, biar makin cantik. Jelas saja langsung ditolak mentah-mentah oleh Vara, menurutnya rambut panjang itu bikin gerah dan rambut panjang itu gak bisa mengukur kecantikan seseorang. Kecantikan itu diukur oleh hati dan sifat yang dimiliki setiap orang. Menurut Vara itu definisi cantik yang sebenarnya.
"Kenapa? udah sadar tentang definisi cantik yang sebenarnya?" ucap Vara,tersenyum meledek.
Cery melayangkan tatapan kesal kearahnya, "Nggak! Cantik itu diukur sesuai dengan panjang rambutnya" keukeuh Cery.
"Apa katamu deh"
"Lagian bukan itu yang mau gue omongin sekarang" Ucap Cery dengan hati-hati.
"Apa sih? kamu kok sok misterius gitu"
"Coba geh lo nengok ke kanan, ada yang lagi perhatiin lo tuh" kata Cery dengan senyum jahil. "Kayanya gue punya kartu AS buat ngeledek lo lagi nih"
Vara mengerjap bingung, "Emang ada ap--" Vara menoleh ke arah kanan dan menemukan sepasang mata tengah menatap kearahnya, otomatis ucapannya berhenti.
Kali ini cowok itu yang tidak lain adalah si ketua OSIS langsung memutus kontak matanya dan kembali fokus ke teman-temannya yang asik beradu mulut dengan heboh.
"Ciyeee... lo kenal Al ya?"
"Al? Siapa? Aku gak kenal" Vara mengedikkan bahunya.
"Lah gak mau ngaku..." Cery tertawa pelan "Itu loh, yang barusan tatap tatapan sama lo. Si Al ketua OSIS" Ledek Cery.
"Oh.. aku aja baru tahu namanya dari kamu. Lagian aku gak ada apa-apa sama dia. Gak sengaja tatapan kali" Vara memfokuskan kembali perhatiannya pada mie ayam yang tersisa setengah di mangkok nya.
"Ng.. nggak tuh"
"Lo gak demen cogan!? Maksud lo, elo demennya sama cowok jelek?"
"Ya gak gitu juga" Vara mendengus kesal. Entah mengapa cewek dihadapannya ini senang sekali meledeknya.
"Ngaku deh lo... lo demen cogan kan"
Vara diam. Dan Cery mengartikan itu sebagai tanda yang artinya Vara benar-benar menyukai cogan. Padahal yang sebenarnya Vara hanya ingin memendam kekesalannya pada Cery.
"Ok fix... lo doyan cogan" Cery tertawa renyah. Dan lagi, Vara hanya bisa mendengus.
***
Al bingung. Sebenarnya apa yang menyebabkan ia dan cewek itu bisa secara kebetulan saling bertatapan. Ia pun tidak tahu alasan gadis tersebut juga bisa menatapnya. Yang lebih sialnya... Arya dan Vino juga tanpa sengaja melihat mereka bertatapan. Alhasil kini dirinya menjadi bual-bualan temannya sendiri.
"Si kulkas ternyata suka sama cewek juga" ledek Vino.
"Gue gak ada apa-apa sama dia" sanggah Al cepat.
"Kalo gak salah... cewek itu anggota MOS tahun ini." Ujar Arya.
"Menurut gue sih... selera lo bagus juga Al. Anaknya emang gak secantik Audy ataupun se sexy Kirana. Tapi menurut gue predikat cewek termanis bakalan di embat sama dia. Senyumnya... anti badai!!" kata Vino beropini.
Lagi-lagi Arya menoyor kepala Vino, "Apasih lo! Maen noyor-noyor aja, demen ya lo sama kepala gue!" kesal Vino, ia memegang kepalanya yang terasa pusing, karena daritadi Arya terus menoyor kepalanya.
"Kalian berisik! Kenapa gak pulang aja? Kalian gak ada urusan disini" Tiga kalimat yang mampu membuat Arya dan Vino menganga.
"Tega ya lo Al! kita kan emang gak ada urusan sama OSIS tapi kita disini mau mengenal ciwi-ciwi yang mau jadi adek kelas kita" ucap Vino dengan tampang sok sedihnya.
"Dasar jiwa-jiwa playboy!"
Selepas mengatakan itu kini gantian Vino yang noyor Arya. "He, kutu kupret! Lo kan setuju tadi malam, kata lo mau cari ciwi cantik aduhai"
Arya bersedekap, "Emang! Tapi gue udah dapet satu target"
"Satu doang? Yaaa... kalo gue sih kurang" Vino meledeknya.
"Gue kan bukan playboy, makanya gue targetin satu aja. Beda sama lo! Dari baru jadi embrio aja udah ketara jiwa playboy nya"
"Serah lo deh serah!! Tapi by the way... siapa sih target lo?" Vino melontarkan pertanyaan dengan alis mengangkat sebelah. Sementara Al? Biasa. Hanya diam dan memperhatikan.
Sebenarnya Al juga bingung... kenapa ia bisa bersahabat dari kecil dengan dua orang dihadapannya ini?
"Cewek pirang tadi, temennya ceweknya Al" jawab Arya,tersenyum bangga.
"Ohh cewek itu, lumayan sih menurut gue, tapi gue gak tertarik, keliatan dari cara dia ngomong sama cewek Al tadi,orangnya bawel. Ribet!"
"Gue gak butuh opini lo, bambank!!!" kesal Arya. Ia kembali menoyor kepala Vino.
"Gue bukan cowoknya cewek tadi, jadi berhenti nyambung-nyambungin gue sama cewek itu" singkat, namun penuh ketegasan. Itulah Al.
Al memutar bola matanya ke arah tempat dimana Vara duduk tadi. Namun yang ia cari sudah tidak ada disana. Tentu saja Vara sudah pergi, bersama temannya tadi.
Al mengalihkan pandangannya sebelum ketahuan sedang mencari sosok gadis tersebut oleh kedua temannya. Ia hanya bingung, kenapa ia dan gadis tersebut selalu kebetulan bertatapan?
***
***Hokyaaa!!!
Sorry guys kalo kurang panjang.
Sorry kalo ada typo...
soalnya aku nulis ini sambil begadang,
harap maklum yahhh
aku terlalu excited kepengin update*...
Gimana kesan pertama kalian tentang chapter pertama ini?
*comment yaaa...
Aku juga mau bilang soal jadwal update*...
JADWAL UPDATE "ALVARA"
√ Seminggu dua chapter
√ Tidak menentu hari apa updatenya
√ Bisa jadi nanti saat up lebih dari 2 chapter (saat author lagi baik/mood nulis bagus)
okeyyy....
TINGGALKAN JEJAK KALIAN DENGAN KLIK JEMPOL DIKIRI BAWAH YA**....