
Al menatap Vara yang masih menyilangkan tangannya. Gadis tersebut menunduk malu dibelakang punggung Cery.
Dengan segera Al melepas jaket bomber nya lalu menyerahkannya pada Vara, "Pake"
Tanpa membuang waktu lagi, Vara dengan cepat memakai jaket tersebut. Keadaan di kantin mulai stabil, mereka mulai kembali pada aktivitas masing-masing. Tapi tetap saja, sebagian dari mereka masih saja membicarakan kejadian barusan.
Al memberi kode dengan matanya agar Cery dan Vara mengikutinya. Al membawa mereka ke arah taman samping sekolah. Jangan lupakan Arya dan Vino yang setia mengekor dibelakangnya.
Merasa mendapatkan kesempatan untuk mendekati Cery, Arya pun melancarkan aksi PDKT nya.
"Halo Cery"
"Lo kelas sepuluh berapa?"
Cery mendiamkannya.
"Lo ikut ekskul apa?"
Diam.
Vino yang hobby meledek Arya pun tergelak keras. "Yah lo dikacangin" ledek cowok jenaka tersebut.
Arya menggerutu kesal, "Diem lo!"
Mereka melanjutkan langkahnya tanpa ada yang berbicara. Al yang memang cowok dingin tak mau buka suara. Vara yang masih sedikit malu hanya bisa diam menunduk. Dan Cery yang masih diselimuti kabut kekesalan. Sementara Arya dan Vino yang patuh mengekor dibelakang mereka.
Mereka sampai di taman samping sekolah, tiba-tiba...
PLAAK!!!
Suara tamparan.
Cery menampar Arya.
!!!
"Lo kenapa nampar gue, Cer?" Tanya Arya dengan tangan yang sibuk mengusap-usap pipinya yang memerah.
"Sakit tahu"
"Lo gak usah **** ya!!" Cery menginjak kaki Arya dengan keras.
Arya meringis, "Ssh... lo kenapa si?"
Vara yang tidak tega melihat wajah Arya yang kesakitan segera membujuk Cery. "Cer udah..."
"Kasihan tuh dia kesakitan... lagian kamu kenapa marah-marah sama dia?"
Cery mendiamkan Vara, ia terus menekan sepatunya agar lebih keras menginjak kaki Arya.
"Ini semua salah lo!! Kalo lo gak ngebut di gerbang, yang nyebabin rok gue ke angkat. Gue gak mungkin dihadang dan diledekin sama geng abal-abal itu tadi pagi!!!"
"Sorry... lagian gue gak maksud kaya gitu ko-- AU!!" Arya mengerang sakit disaat kakinya makin diinjak oleh Cery.
"Dan kejadian balas dendam gue barusan gak akan pernah terjadi, kalo lo gak kebut-kebutan!!!"
Vino yang daritadi diam meringis takut. Ia menyenggol pelan tangan Al "Hentiin Al.. kasian tuh Arya kesakitan"
Al menghela nafas.
"Gue ngajak kalian kesini bukan untuk berantem" ucap nya dingin. Sontak semua pandang mata menatapnya, Arya menghela nafasnya disaat secara perlahan kaki Cery mulai meninggalkan sepatunya.
"Gue disini mau kasih peringatan lisan buat Cery dan Vara"
"Aku....?" Vara mengernyit.
"Kalian siswi baru disini. Berikan kesan yang baik, bukannya malah berantem dengan kakak kelas" Al memasang tampang dingin, seperti ciri khasnya.
"Gak bisa gitu dong!!! Jelas-jelas tadi pagi gue korbannya!" Cery yang merasa tidak terima dihakimi kembali angkat suara.
"Kalau kalian diam saja tadi, gue gak akan kasih teguran lisan sama kalian"
"Dan gue sama Vara tertindas? Itu mau lo!!"
"Ck... batu bener ya lo" Al melirik Cery sekilas. Lalu menatap Vara, "Kedepannya lo jauhin Rysa dan geng nya. Dia gak mungkin lepasin kalian gitu aja. Dan gue gak mungkin ada setiap saat untuk nolong kalian"
Cery melotot tajam, "Gue bisa lindungin diri gue dan Vara. Kita GAK BUTUH bantuan lo!"
Cery menarik tangan Vara, "Ayo Var!"
Sebelum benar-benar pergi dari sana, Cery melayangkan tatapan tajam nya pada Arya dan bergumam, "Urusan kita belom selesai"
Setelah keduanya hilang dari pandangan. Arya angkat suara, "Calon pacar gue barbar juga ya" ucapnya dengan senyum bodoh.
***
"Jadi dia pengendara motor yang buat kamu kesal?"
Cery mengangguk.
"Gue kesal banget tadi pagi, ditambah lagi geng badgirl buat gue double kesalnya" Cery mendengus dengan berapi-api.
"Tapi kayaknya cowok itu suka sama kamu" Vara berasumsi. Pasalnya, meskipun ia tak melihat saat-saat Arya yang mencoba PDKT dengan Cery. Tapi ia kan mendengar.
Bukannya bermaksud untuk menguping. Tetapi Vara kan berjalan disebelah Cery. Jadi,mau tak mau Vara dapat mendengar percakapan mereka.
"Siapa? Arya? Cih. Ogah gue sama dia" Lagi-lagi Cery mendengus. "Gue tuh nahan kesal saat dia coba deketin gue. Tadi gue udah coba biar gak hajar dia, tapi tetep aja gak bisa. Gue kesel sih liat watados nya"
"Kasian tau dia! Sudah cukup kali kamu nampar cowok itu. Malah kamu injak juga kakinya"
Vara membayangkan kejadian tadi, ia sebenarnya cukup kaget dengan aksi gila teman barunya itu. Melihat Arya ditampar sudah ingin membuatnya berteriak, ditambah lagi dengan injakan dan suara kesakitannya Arya. Vara meringis membayangkan kejadian itu.
"Itu biar dia kapok! Para cowok-cowok kan sukanya rendahin cewek. Jadi biar tahu aja dia, bahwa semua cewek itu gak semuanya lemah!"
Perkataan Cery benar. Sebagian cowok-cowok yang pernah Vara temui memang selalu menganggap remeh para perempuan. Padahal tidak semua perempuan begitu. Contohnya saja, cewek di depannya ini. Cery terlalu barbar untuk disebut perempuan.
"Kamu benar..."
"Nah kan! Bener kan gue?"
Vara menggeleng keras. Tidak semua cowok begitu, Vara teringat kembali kenangan manis bersama almarhum ayahnya. Ayahnya pribadi yang baik, ia selalu memberi wejangan yang mampu membuat dirinya ada diposisi yang sekarang. Ayahnya seseorang yang menjaga perkataannya, tak ada seorang pun yang mampu berkata kasar jika mengenalnya.
"Enggak tuh. Gak semua cowok gitu"
"Gimana sih lo plinplan banget. Intinya semua cowok itu brengsek!"
"Tapi ayahku gak brengsek tuh. Dia selalu menghargai setiap perempuan. Ayahku gak brengsek!" Vara menyangkal dengan tegas.
"Ya dia kan ayah lo. Mana mungkin lah seorang ayah nyakitin anaknya" Cery sedikit mendengus. Berbicara dengan Vara rupanya menguras emosi.
"Tapi tadi kamu bilang semua cowok. Berarti ayahku termasuk, dong"
Ampun tuhan...
"Serah lo deh serah Var!"
Untunglah... Cery masih bisa menahan dirinya. Baru kali ini ada seseorang yang berhasil menang adu mulut dengannya. Biasanya cewek maupun cowok yang berhadapan dengannya selalu kalah jika adu mulut dengannya. Tapi ini! Vara mampu menandinginya, bahkan mampu membuat emosinya tersulut.
Untung teman!!!
Cery menggerutu dalam hati.
"Pantes Amel tadi kesel sama lo"
"Kenapa?"
"Lo juara debat soalnya!" Cery mendengus keras. Sebagian anak-anak lain didalam kelas mampu mendengar dengusan tersebut. Daritadi tidak ada guru yang masuk, sebabnya guru-guru masih rapat terkait mapel dan tahun ajaran baru. Sebagian anak merasa bosan sementara lainnya justru berseru senang karena dapat jam kosong dihari kedua sekolahnya.
Tapi, ngomong-ngomong....
"Jaket bomber nya Al?"
"Kenapa emang? Gak aku ambil kok. Besok aku balikin sama dia. Kamu temani aku ya"
Nah nah!!!
Gak tahu diri...
Sudah buat kesal Cery, dan tanpa rasa bersalah Vara justru meminta bantuannya... Benar-benar!!!
**Hulaaa...
Geyss janjinya aku di facebook kan aku mau up tiap hari semasa lockdown gini...
Tapi sorry bats yaa
kemarin Chewy gak sempat up
Ada dua hal soalnya yg buat Chewy gak up:
1. Bantuin ibu di dapur
2. Kena marah sama ibu gara\-gara main HP terus
Padahal kan aku kemarin tuh udh nulis 500 kata...
tapi gak sempat lanjutin.
Sorry ya.
Lain kali Chewy nanti usahain up tiap hari
walopun harus begadang✌✌
But... apa sih yang gak buat ALVARA LOVERS.
Begadang nungguin chat dari dia aja aku sanggup.
Eaaaa...😂😂
Sorry ya kalo ada typo bertebaran...
Terlalu excited sih...
Berhubungan hari ini aku up dihari kemenangan
aku mau ucapin
HAPPPY EID MUBARRAK😇😇
bagi yang menjalankan...
MINAL AIDIN WALFAIDZIN
MON MAAP LAHIR DAN BATIN
Maapin Chewy ya yang udah PHP\-in kalian.
Trus gak kasih kabar lagi😅😅
Dah deh
See you in the next episode...
BYE BYE**