
Alleta berjalan dengan santai melewati koridor sekolah untuk menuju kekelasnya karna sudah satu minggu jadi alleta sudah mulai terbiasa. Saat melewati lapangan alleta tak sengaja melihat kerumunan para siswa ditengah lapangan. Alleta yang ingin tahupun akhirnya mendekat dan betapa terkejutnya alleta saat mengetahui bahwa satu diantara ketiga cowok yang kemarin dia tanyai sedang berantem.
"lo nggak terima?" tanya salah satu diantara keduanya dengan santainya.
"kalo iya kenapa? Maksud lo itu apa pake mukulin anak geng gue segala" jelas cowo dengan name tag Revando alinski.
"cihh.. Nggak sudi gue" jawab dia dengan sombong.
Revan yang sudah tersulut emosipun akhirnya adu pukul dengan dia. Yang membuat alleta semakin bingung adalah kenapa tidak ada yang menghentikan mereka?
"STOPPPP!!!!!" teriak alleta sekenceng mungkin.
"cukup! Kalian berdua gila? Berantem kok disekolah berantem tuh sana di ring tinju jangan disini!" jelas alleta denga suara nyaring "semuanya bubar! Bubar alleta bilang!! atau alleta bilang ke kepala sekolah!" benar saja ancaman alleta itu membuat kerumunan itu bubar.
"dan buat kalian berdua ayo ikut alleta biar alleta obatin luka kalian" jelas alleta dan menarik kadua pergelangan tangan cowok itu menuju UKS.
"kamu namanya revan? Sini duduk sebelah letta biar letta obatin kamu dulu" revan menurut saja dengan perintah alleta padahal revan itu keras kepala dan susah untuk menurut kepada orang lain apalagi perempuan.
"lain kali tuh jangan berantem yah jadinya kan kayak gini" ucap alleta yang masih telaten mengobati luka revan "kenalin aku alleta azallea winsen. Revan bisa panggilnya letta" jelas alleta sambil tersenyum kearah revan.
'manis banget senyumnya' batin revan.
"gue revando alinski, jadi lo adeknya gibran? " jawab revan datar yang dibalas anggukan oleh alleta.
"udah. udah selesai sekarang gantian temen kamu yang satu lagi. Kamu sini duduk biar Letta obatin" panggil alleta sembari menepuk kursi didepannya. Cowok itupun berjalan mendekati alleta.
"sini duduk biar Letta obatin. Nama kamu siapa? Kamu cowo yang kemaren sama kevan sama daffa kan? Nama aku Alleta azalea winsen" ucap letta sembari tersenyum manis kearahnya .
"Elbara Melvino Argadritama"
Alleta yang mendengar itu hanya mengangguk-anggukan kepalanya tanda mengerti sembari mengobati luka bara.
~
"lettaaaaaaaa..." teriak nyaring milik maura membuat Alleta yang baru berada didepan pintu kelas langsung menutup telinganya.
"kenapa sih maura? Letta kan baru sampe maura udah teriak-teriak aja sih" gerutu alleta yang dibalas cengiran oleh maura.
"iya tau maura apaan coba pake teriak segala" timpal pricill
"elah lo diem dulu sil. Letta lo tau nggak?"
"nggak lah kan maura belum ngasih tau ke letta" jawab alleta.
"ih onta makanya dengerin dulu" jelas maura yang kesal "lo tu setres ya ta lo berani-beraninya ngeberentiin singa sama es kutub sekolah yang lagi berantem. Udah gitu mereka nurut-nurut aja lagi lo bawa ke UKS lo nggak takut apa sih?" lanjut maura.
"es kutub? Singa? " tanya alleta polos.
"bara sama revan ta maksudnya" jelas pricill.
"oh mereka. Ya kali ada orang berantem kita diem aja cuma ngeliatin?"
"lo itu gila beneran ta dengan cara lo ngeberentiin mereka berantem tu sama aja lo masuk kandang singa" jelas maura.
"nggak ada cewek yang berani ngedekatin mereka berdua bahkan hanya untuk sekedar ngobrol lah ini lo malah ngeberentiin mereka yang lagi berantem" jelas maura.
"maura, alleta cuman ngeberentiin mereka berantem bukan ngajak mereka berantem" bela alleta tak mau kalah.
"serah lo deh ta. Hati-hati aja lo digangguin singa" pasrah maura.
"eh maura kan letta nggak ngajak singa berantem" dengan polos jawaban alleta membuat maura geram.
"alleta singanya itu maksudnya bara sama revan kalo udah marah" jelas pricill dengan sabar "lagian lo ra udah tau si alleta polos ngomong pake bahasa alien segala" kesal pricill sambil menoyor kepala maura.
"aduh sakit tau sil" gerutu maura.
Setelah jam pelajaran selesai bel pulang pun berbunyi. Seluruh siswa W'School berhamburan keluar gerbang untuk pulang kerumah masing-masing.
~
Alleta yang tengah duduk dihalte depan sekolahnya untuk menunggu angkot lewat karna gibran masih ada urusan katanya. terkejut saat sebuah motor ninja berwarna merah terparkir tepat didepan halte tempat alleta duduk.
"naik" ucap cowok yang masih duduk diatas motornya itu.
"le..tta..letta nggak mau" jawab alleta terbata-bata.
"keburu ujan"
"nggak papa kok letta suka ujan-ujanan" jawab alleta berusaha tenang.
"gue nggak nerima penolakan. Cepet naik!" ucapnya dingin dan sedikit keras.
"ta.. Tapi letta nggak kenal kamu. Letta takut diculik" jawab alleta polos.
'gila ni cewek polos banget bahkan dia ngira gue mau nyulik dia'batin bara.
Yap cowok itu Bara. Barapun membuka helmnya dan memperlihatkan wajah tampan miliknya.
"ba.. Bara?" cicit alleta.
" naik keburu ujan" suruh bara. Yang dibalas anggukan oleh alleta.
Hingga akhirnya hujan turun dan membuat mereka harus meneduh disebuat halte. Diantara mereka tidak ada yang berusaha membuka suara. Sampai akhirnya suara petir membuat alleta menjerit.
"Aaaaaaa!!!" jerit alleta membuat bara menoleh kearah alleta "bunda.. Hiks.. Hiks.. Letta ta.. Kut.. Hiks.. Abang "tangis alleta semakin pecah ketika mendengar suara petir. Bara yang melihat itu segera melepas jaketnya dan memasangkannya dibadan mungil alleta karna bibir alleta yang sudah pucat.
"nggak usah takut" ucap bara sembari merengkuh tubuh mungil alleta. Bara bingung dengan dirinya biasanya dia tidak ingin disentuh perempuan manapun kecuali bunda dan adek perempuannya. Ini malah bara bersikap manis kepada alleta .
"letta.. Hiks..takut..hiks..ba.. Raa" ucap alleta terbata-bata "leta boleh yah pinjem dada bara dulu bentar aja letta takut petir bara" jelas alleta dengan bibir bergetar. Bara hanya mengganggukan kepalanya sebagai jawaban.
'gue nyaman deket sama lo'batin bara.
Ketika bara ingin mengajak alleta pulang ternyata alleta sudah tidur dalam dada bidang milik bara. Akhirnya bara memutuskan menelvon kevan untuk membawakan mobil.