Adventure In The World Of Creatures

Adventure In The World Of Creatures
Episode 7 ( Bangunan Tua Misterius )



Dinda menunggu Akrila di ruang tengah, ia sibuk melihat-lihat isi pesan di dalam ponselnya sambil berbaring di atas kasur. Akrila sudah selesai mandi dan mengganti pakaian.


Akrila keluar dari kamar mandi memakai baju warna merah, hoddie berwarna hitam dan celana panjang berwarna hitam dengan membawa handuk untuk mengeringkan rambut panjangnya yang terurai.


"Oh, sudah selesai? ayo keluar ke kursi taman" ajak Dinda setelah melihat Akrila dengan pakaian yang rapi sedang mempersiapkan peralatan untuk melakukan penelitian.


"Tunggu sebentar aku mau mengeringkan rambutku dahulu" Akrila berdiri di samping pintu kamar kak Arval dan bersandar di dinding.


"Jadi, kalian sudah berkeliling desa ini?"


Akrila membuka pembicaraan, karena suasana masih sepi dan gelap di luar penginapan.


"Belum, kami enggak berani lancang berkeliling desa sebelum kak Arval mendapatkan izin dari penduduk desa terlebih dahulu"


"Ohh... Kak Arval pasti masih berbicara dengan ketua desa" bergumam


"Iya, tapi Akrila. Tadi itu..." Dinda tidak langsung melanjutkan perkataannya.


Ekspresi wajahnya berubah khawatir, ponselnya ia masukkan ke dalam saku celana dan langsung duduk di samping tempat tidur.


"Hah, ada apa?" Akrila berhenti mengeringkan rambutnya, pandangannya fokus memperhatikan ekspresi wajah Dinda yang berubah.


"Tadi, aku dan Adit sengaja ingin mengetahui jalanan lurus dari kursi taman yang mengarah ke samping kanan desa ke belakang akan menuju ke tempat apa?"


"Karena kita hanya ingin tahu jalan itu akan mengarah ke mana? Kita sepakat untuk mencoba menyusuri jalanan tersebut"


Dinda menjelaskan sambil menggambarkan posisi jalan yang ia maksud dengan tangannya.


"Lalu apa yang terjadi?" Akrila penasaran


"Kita terus menyusuri jalan berbatu itu sampai akhir. Tidak tahu berapa lama kita berjalan tapi rasanya jalanan itu jauh sekali, suasananya sangat sunyi dan gelap. Aku melihat banyak ranting-ranting dan akar pohon menjalar di mana-mana seperti di dalam hutan. setelah itu kita baru menyadari kalau jalan itu mengarah ke sebuah bangunan tua!"


"Bangunan tua!? Seperti apa ciri-cirinya?" Akrila bingung


"Bangunan itu sudah sangat tua, bagian depan bangunan itu hancur sebagian, bahkan dindingnya sudah retak semua dan tidak ada satupun cahaya penerangan. Kita bisa melihat karena cahaya dari ponselku"


"benar-benar sangat mengerikan, aku tidak mau membayangkannya lagi!" tidak tenang.


"Kenapa bisa bangunan tersebut rusak parah, Apa penduduk tidak ingin merenovasinya? Seharusnya bangunan itu bisa menjadi fasilitas yang sangat berguna?" Akrila berpikir


"Apa yang kalian lakukan di sana?" tanya Akrila lagi


"Kita mendekat untuk melihat sekeliling bangunan dan isi ruangan di dalam bangunan. Ketika Adit mencoba membuka pintu yang rapuh dan menghasilkan suara berderit itu..."


"Apa yang Adit lihat?" Akrila memotong penjelasan Dinda.


"Adit melihat dari celah pintu, tapi tiba-tiba dia berteriak sangat kencang dan berlari meninggalkanku. Aku sangat kaget seketika ponselku juga mati semua menjadi gelap, aku langsung lari mengikuti Adit meninggalkan tempat itu tanpa mencoba melihat kembali ke dalam bangunan!"


"Jadi, kau juga tidak tahu apa yang ada di dalam bangunan?"


"Aku tidak tahu, saat itu aku sudah sangat panik ingin cepat pergi dari bangunan dan jalanan itu kembali ke penginapan"


"Tapi kenapa penduduk membuat bangunan di tengah hutan, siapa yang menggunakan bangunannya?" Dinda masih bingung.


"Aku tidak tahu mungkin dulu bangunan itu di gunakan untuk tempat musyawarah atau rapat pemerintah desa?" Akrila mencoba menebak fungsi bangunan yang di lihat oleh Dinda dan Adit.


"Tapi kenapa di tengah hutan? Kawasan desa ini 'kan masih luas apa tidak ada tempat yang lain?"


"Bukannya kau bilang jalanannya jauh dan berbatu, kenapa bisa cepat sekali kalian berdua kembali sampai ke desa?" Akrila tidak menjawab pertanyaan Dinda.


"Aku juga tidak tahu, saat kembali ke desa rasanya jalanan ini menjadi lebih pendek bahkan tidak sampai 10 menit berjalan"


Semua pertanyaan mereka tidak mendapatkan jawaban yang tepat.


Karena kejadian yang di alami Dinda dan Adit di anggap tidak wajar, mereka mencoba melupakannya dan membersihkan rumah penginapan.


(Pintu terbuka...)


"Hah... lama sekali kakak ini?" Adit tiba-tiba muncul dari pintu masuk.


"Akhhh..." Akrila dan Dinda kaget


"Kenapa berteriak? Aku bukan hantu?"


"Adit... Kamu bikin kaget saja!" teriak Akrila


"Baiklah-baiklah, maafkan aku nona-nona" Adit duduk berlutut di lantai meminta ampun.


"Kakak perempuan dua orang ini memang sangat menakutkan saat marah, habislah aku!"


"Huh... Kali ini kau kami lepaskan!" menghela nafas berat.


"Sungguh!?" sangat berharap


"Iya jangan sampai membuat kita berubah pikiran, sekarang di mana kak Arval?" Akrila menahan amarah, sedangkan Dinda membawa sapu yang hampir patah pegangannya karena kesal dan bersiap memukul Adit.


"Kak Arval masih bersama bapak- bapak yang kemarin, aku tidak tahu kemana?"


"Aku di suruh kembali ke penginapan oleh kak Arval karena aku takut, kemudian kak Arval pergi bersama beberapa penduduk desa yang lain" Adit masih terduduk di lantai.


"Dasar penakut!" Akrila menjitak kepala Adit


"Aduh, Ini sakit... Kalau kakak berani cari saja kak Arval sendiri, aku tidak suka dengan penduduk dan desa ini!" hampir menangis.


"Bangunan tua?"


"Ya... Dinda sudah menceritakan semua kejadian yang kalian alami"


"Di dalam bangunan tua itu sangat kotor banyak dedaunan dan tumbuhan-tumbuhan menjalar, ada banyak pula meja, kursi dan tali tambang" Adit menjelaskan


"Apakah bangunan itu sekolah?" Dinda bertanya


"Mungkin. Tapi yang membuatku berteriak adalah aku melihat sesosok makhluk besar, sangat besar berwarna hitam sedang duduk memakan tulang-tulang dan daging manusia!"


Adit memperagakan cara makhluk itu makan walau makhluk itu membelakanginya


"APA!!!" teriak Akrila dan Dinda bersama


"Benar! Di dalam ada banyak sekali tumpukan tulang-tulang dan tengkorak manusia!"


"Kau tidak salah lihat?" Akrila khawatir


"Tentu saja tidak. Aku tidak berani berbohong, kakak percayalah!"


"Akrila apa yang harus kita lakukan sekarang, memberitahu kak Arval? Sekarang sudah jam 7 pagi" Dinda takut dan ingin segera pulang


"Jangan... Kita jangan memberitahu kak Arval, kakak pasti akan marah karena kalian tidak mematuhi perintah kakak"


"Lalu, apa yang harus kita lakukan setelah mengetahui segalanya, penghuni desa ini sangat berbahaya Akrila!"


"Kita harus bersikap seperti tidak terjadi apa-apa dan tetap melakukan penelitian untuk tugas sekolah supaya tidak ada yang curiga, jika sudah selesai kita harus cepat-cepat pergi"


"Apakah cara itu akan berhasil kak? Aku sudah takut"


"Pasti berhasil, sekarang kita di penginapan saja jangan ada yang keluar sebelum kak Arval kembali" tegas Akrila


"Baiklah" Dinda dan Adit setuju walau perasaan mereka semua tidak tenang.


Pintu masuk yang sudah di kunci oleh Dinda ada yang mengetuk dari luar.


Tok...tok...tok...


"Siapa itu? Kak Arval?" Dinda berjalan berniat membukakan pintu.


"Tunggu! Jangan di buka terlebih dahulu, itu bukan kakak" Akrila mencegah dan menghalangi langkah Dinda.


"Kak Arval membawa dan menyimpan kunci cadangan yang di berikan oleh bapak kemarin, seharusnya kakak bisa membuka kunci pintu sendiri dengan kunci cadangan! Lebih baik kita tunggu lebih lama lagi" Akrila bicara dengan suara pelan.


Suara ketukkan dari luar pintu masuk berhenti, berpindah ke pintu belakang. Tidak ada yang membukakan, suara itu berpindah lagi ke jendela yang tertutup. Kemudian suara ketukan itu menghilang.


"Apa dia sudah pergi?" Dinda berbisik.


"Belum, aku mendengar sebuah suara!"


Seluruh bagian dinding, pintu masuk, pintu keluar dan jendela penginapan itu di ketuk dan muncul banyak tangan dari luar menembus ke dalam dinding kayu membuat semua benda bergetar. Tidak hanya dua tangan tapi banyak sekali, ada tangan di mana-mana.


Mereka bertiga kaget dan berkumpul di tengah-tengah ruangan, Adit berlari memeluk Akrila.


"Akrila, bagaimana ini? Ada berapa banyak mereka semua?" Dinda panik


"Ak-Aku juga tidak tahu, kita harus bertahan di sini!"


"Makhluk apa itu kak? Mereka semua bukan manusia! Aku takut!" Adit semakin erat memeluk Akrila


"Tenang Adit tidak ada yang bisa melukai kita! Percaya dengan kakak"


Semua tangan itu tiba-tiba menghilang, kembali ada suara seseorang yang mengetuk pintu masuk.


"Sekarang kita lihat, apakah itu Kak Arval atau bukan!" Akrila, Dinda dan Adit bersama-sama berjalan perlahan mendekati pintu masuk.


Masing-masing dari mereka membawa senjata untuk melindungi diri. Adit membawa gunting, Dinda membawa sapu yang patah menjadi dua dan Akrila membawa raket listrik.


"Ada apa? Kenapa lama sekali membuka pintunya?" Kak arval masuk dan membuka pintu dengan kunci cadangan.


"Huh... syukurlah teryata kakak!" Akrila, Dinda, dan Adit menghela nafas panjang.


"Jawab terlebih dahulu, kenapa semuanya terlihat sangat panik?" kak Arval menjadi kesal


"Ah... Hehe, ti-tidak ada apa-apa kak" Akrila menjawab dengan terbata-bata, Dinda dan adit bersembunyi di belakang Akrila.


"Jika ada masalah atau bahaya bilang saja pada kakak, tidak usah takut. Kakak yang akan mengatasi, mengerti!"


"Baik kak!" mereka bertiga menjawab dengan tegas dan bersemangat.


Kak Arval berjalan melalui mereka menuju kamarnya.


"Baiklah karena tidak terjadi apa-apa, kakak akan bersiap-siap" membuka lemari mengambil handuk dan pakaian


Akrila, Adit dan Dinda hanya tertawa kecil untuk


menyembunyikan rasa bersalah karena berbohong kepada kak arval.


BERSAMBUNG...