
"Hai, Stevan Apa kabarmu? Dan... apa yang kamu lakukan disini?"
"Aku akan mengajakmu pergi dari rumah ini! Akukan sudah berjanji padamu!?"
"Tapi bagaimana caranya Stevan? Seluruh penjaga di rumah ini akan menangkap dan mengurung kita di ruang bawah tanah nantinya!?"
"Saat ini Papa dan Mamamu sedang ke luar daerah perbatasan, kita bisa mengendap-endap supaya tidak terlihat oleh para penjaga dan pelayan"
"Percuma menggunakan cara itu penjaga bayangan hitam akan mengetahui keberadaan kita. Kita bahkan tidak akan bisa melalui pintu utama, tidak ada seorangpun yang mengetahui mantranya kecuali Papa, Mama, dan para penjaga bayangan hitam".
(Akrila berbicara dalam hati)
("Hah, penjaga bayangan hitam? Aku tidak melihat mereka sama sekali di lantai bawah tadi, sebenarnya penjaga bayangan hitam itu seperti apa? dan berjaga di mana?")
"Kita harus mencari buku mantra sihir yang dapat membuka pintu utama dan mengalahkan para penjaga bayangan hitam itu di kamar Papa dan Mamamu terlebih dahulu".
"Ayo, kita harus cepat Aline!" Stevan menarik tangan Aline dan berlari menuju tangga lantai 3.
"Ta-tapi Stevan!"
("Aku tidak boleh tinggal diam di sini. Benar, aku harus mengikuti mereka!")
Akrila berlari menuju lantai 3 mengikuti Stevan dan Aline yang mencoba membuka kunci salah satu kamar yang memiliki pintu berbeda dari seluruh kamar yang ada, lengkap di sertai dengan rantai gembok dan lambang berbentuk pentagram.
"Bagaimana cara membuka gembok rantai dan lambang pentagram ini?"
"Tenang Aline aku sudah mengambil kalung simbol milik salah satu pelayan, kita coba dulu apakah pintu ini akan terbuka"
"Baiklah kita baca mantra yang selalu di gunakan oleh Papa dan Mama untuk melakukan ritual pembukaan"
("Anak laki-laki itu berani mengambil barang milik pelayan. Sebenarnya benda apa saja yang ada di dalam kamar itu?")
Stevan dan Aline membaca mantra pembukaan bersama untuk membuka pintu.
Makhluk kegelapan bersembunyi dalam cahaya bangkitlah,
Bimbing jiwa kami keluar dari kesia-siaan, Menuju ke dalam kegelapan abadi,
Semua yang mati akan bangkit kembali,
Pimpin kami menjadi prajuritmu,
Setia bersamamu membuka pintu neraka.
Rantai yang mengunci pintu kamar itu tiba-tiba terputus semua, gemboknya hancur menyebabkan suara yang keras seperti ledakan. lambang pentagram itu bersinar menyatu dengan simbol kalung dan pintu itu terbuka dengan sendirinya.
Setelah Stevan, Aline dan Akrila masuk kedalam ruangan, pintu itu menutup sendiri dengan sangat keras seperti di banting. Semua kaget tapi di dalam ruangan ini lebih menakutkan karena hanya ada cahaya redup dari ke ketiga lilin di atas meja dan dua lilin menggantung di atas.
"Sekarang bagaimana? Dimana kita dapat menemukan buku mantra sihir itu Stevan?"
"Terpaksa kita harus melakukan ritual pemujaan pemanggilan iblis untuk mendapatkan buku mantra sihir itu"
"Tidak! Jangan Stevan itu berbahaya! Para iblis itu pasti akan meminta balasan atas apa yang kita minta!"
"Tidak ada cara lain, ayo lakukan ritual pemujaan dengan membawa "Tongkat Penghajar", "Sanctum Regnum" sebagai metode untuk membuat kesepakatan Dan memerlukan sebuah batu bernama Ematille serta lima lilin yang telah diberkati.
" Ya, Semua itu dipakai untuk membentuk "Kesepakatan Bintang Segi Lima" agar pelakunya dilindungi dari roh yang telah ia panggil."
"Papa, Mama, dan seluruh penduduk di desa ini sering melakukan ritual pemujaan itu di "Tempat Suci".
Akrila hanya melihat aktivitas kedua anak itu dari sudut pojok pintu ia takut untuk mendekati Stevan dan Aline meskipun ternyata mereka berdua tidak bisa melihat Akrila.
Setelah semua persyaratan yang harus ada telah mereka sediakan di ruangan itu, mereka meletakkan batu Ematille di lantai tengah-tengah lambang pentagram, menyalakan ke lima lilin-lilin di masing-masing sudut pentagram, dan "Tongkat Penghajar" di pegang erat-erat oleh Stevan.
Mereka duduk dan membaca mantra pemanggilan.
"In nomine Dei nostri Satanas Lucifer Excelsa! Dalam nama Setan, penguasa bumi, Raja dari dunia, yang memerintahkan prajurit-prajurit neraka, kami memintamu untuk memberi kuasa kegelapan dalam tangan kami! Buka lebar-lebar gerbang nerakamu dan datanglah dari tempat yang sangat dalam untuk menemui kami sebagai teman dan saudara!"
Sambil membaca mantra Stevan dan Aline melukai telapak tangan mereka dengan sebuah pisau kecil di atas meja secara bergantian untuk memberikan darah mereka kepada iblis sebagai persyaratan terakhir.
Api dari lilin-lilin yang berada di sekeliling mereka bergerak-gerak seperti di tiup angin padahal tidak ada angin yang berhembus kencang dari fentilasi udara, bahkan di ruangan ini juga tidak memiliki jendela.
"Beri kami kekuatan yang kami cari! Beri kami kenikmatan yang kami inginkan! Turuti segala perbuatan dan wujudkanlah impian-impian kami! Kami memohon dalam namamu dan meminta menunjukkan dirimu! Kami melepas Tuhan kami dan menyembah hanya padamu, Oh Pangeran Kegelapan! Engkau yang menghargai yang jahat dan menghukum yang baik! Dengarkan keluhan kami!"
"Dengan seluruh iblis di neraka, kami meminta agar semua yang kami sebutkan tadi agar bisa terwujud! Kami meminta dalam namamu!"
Setelah mereka membaca mantra, semua api lilin-lilin itu bergerak-gerak dan mati kemudian hidup lagi dengan sendirinya, dan mati lagi. Kejadian itu terus berulang-ulang sampai ruangan dan seisi kamar itu berguncang sangat hebat seperti gempa.
"Arggg... Ada apa ini Stevan! Tolong!!"
"Aline... Awas!!"
Barang-barang di dalam ruangan itu berserakan tidak karuan.
kami terduduk gemetar dan ketakutan.
Tiba-tiba dari tengah-tengah lambang pentagram itu muncul sebuah buku yang berdebu dan sudah sangat usang bahkan rapuh mudah tersobek. Buku itu di penuhi dengan darah yang terus mengalir dari garis-garis lambang pentagram.
("Hah, banyak sekali darah yang mengalir!")
"Aline! itu dia buku mantra sihir The devil's death"
"Ayo cepat ambil buku itu kemudian pergi dari ruangan dan rumah ini... huhu" Aline hampir menangis terisak-isak.
"Iya, darahnya semakin banyak"
Stevan berhasil mendapatkan buku itu namun, setelah Stevan menyentuh buku itu ada suara yang berbicara keras, tertawa dan terdengar mengejek.
"Siapa yang berani memanggilku tanpa memberikan korban nyawa!!"
"Tunggulah takdir kalian, kalian semua akan membayar apa yang telah kalian dapatkan di dunia ini dan seluruh keinginan kalian yang terpenuhi, jadilah prajurit nerakaku Hahaha...!"
"Stevan suara siapa itu... Aku takut, hiks... hiks..."
"Tidak usah di pedulikan ayo cepat pergi keluar!!"
Aku sudah keluar dari ruangan terkutuk itu sedangkan Stevan dan Aline mencoba berlari keluar.
Bayangan hitam bergerak di dalam arus angin tiba-tiba datang sangat cepat dari seluruh penjuru rumah mengarah ke satu titik yaitu ruang kamar ini.
("Apa lagi semua ini?")
Karena kaget aku terjatuh ke lantai, bayangan hitam itu terlihat seperti asap yang memakai jubah hitam sangat mengerikan karena kepalanya hanya tengkorak yang terbakar dan merah menyala seperti bara api.
"Penjaga bayangan hitam akan menangkap kita. Lari Aline!!"
"Stevan! Stevan!! jangan tinggalkan aku..."
"Pergi...!!, Bawalah "Tongkat Penghajar" untuk melawan para penjaga bayangan hitam itu dan buku ini. Kau harus selamat"
"Aku akan mengalihkan perhatian mereka"
"Penjaga bayangan hitam mengerikan itu adalah roh-roh yang di tugaskan untuk menjaga kamar ini, jika aku pergi bagaimana dengan mu, huhuhu... "
"Aku akan baik-baik saja. Pergilah... Atas janjiku, walau aku mati sampai dunia musnah (kiamat) aku akan tetap menjaga tuan putri... Percayalah!"
"Baiklah Stevan kau tidak boleh mati janji, tolong tetaplah disisiku selamanya, terimakasih"
Aline berlari sangat cepat menuruni tangga menuju pintu utama. Ia berhasil keluar dari rumah dan terus berlari menuju hutan, berusaha pergi sejauh-jauhnya berharap tidak akan pernah kembali lagi ke rumah ini supaya dapat terbebas dari kutukan iblis.
Salam perpisahan yang dapat di lihat Aline dari Stevan untuk yang terakhir kalinya hanyalah senyuman wajahnya berseri untuk menyakinkan semuanya akan membaik dan kegelapan segera sirna.
Tapi itu adalah kebohongan besar karena hatinya yang tulus dapat melakukan hal itu dengan ikhlas.
Stevan tertangkap oleh penjaga bayangan hitam dan di bakar hidup-hidup sebagai hukuman dan pengorbanan nyawa untuk Lucifer atas perjanjian ritual darah yang telah mereka lakukan dan keinginannya untuk tetap bisa bersama Aline sampai dunia musnah sebaliknya juga keinginan Aline yang akan terus menunggu Stevan untuk menjemputnya disuatu saat.
Sesuai perjanjian keinginan mereka terpenuhi. Maka Stevan di bangkitkan kembali menjadi iblis prajurit setia lucifer dan kaki tangan iblis Bephomet yang akan terus hidup mengembara di dunia menyebarkan sifat-sifat perilaku untuk menghasut manusia menjadi penghuni neraka dan terus mencari Aline sampai dunia musnah.
...----------------...
Aku menangis semua kejadian ini nyata adalah memori kenangan dari gadis itu berawal dari keadaan yang mencekam berakhir tragis dan menyedihkan.
Cahaya berubah kegelapan dan semuanya menghilang. Saat tersadar ternyata aku sudah kembali berada di atas kasur penginapan.
"Hah... Aku kembali dan sekarang sudah pagi. Syukurlah aku masih hidup"
Aku tidak percaya semua itu hanyalah mimpi. Aku bertekad akan terus mencari tahu fakta yang tersembunyi sebenarnya, pasti ada sedikit bukti yang tersembunyi di desa ini.
Dinda muncul dari pintu masuk penginapan dan membuyarkan lamunanku.
"Akrila, udah bangun? Ayo mandi, setelah itu berkumpul di kursi taman pertigaan jalan masuk desa"
"Oh, oke-oke aku akan cepat bersiap-siap".
"Iya aku tunggu. Adit sekarang sedang bersama kak Arval"
("Jadi petunjuk pertamaku untuk mencari bukti tersembunyi ini adalah kursi taman di pertigaan jalan masuk desa.")
BERSAMBUNG...