Adventure In The World Of Creatures

Adventure In The World Of Creatures
Episode 4 ( Penyelidikan Bagian 2 )



Hari sudah sore menjelang malam Aku, Kakak, Adit, dan Dinda baru sampai di hutan yang disebut sebagai jalan satu satunya untuk menuju desa tersebut. Nama hutan tersebut adalah


'Alas Purwo'.


"jangan ada yang tidur ya bermain saja semoga nanti tidak ada hal yang mengganggu"


"Iya kak" Kami mengikuti saran kakak supaya tidak ada yang takut saat masuk hutan lagi.


Mobil mulai memasuki jalan hutan suasana dalam hutan itu sama dan lebih seram lagi karena hari sudah hampir malam, di dalam hutan ada sebuah sungai yang cukup lebar dan sangat panjang aku tidak tahu sungai itu menuju ke mana.


Suara burung hantu mulai terdengar, walaupun kakak mengemudi dengan cepat tapi juga hati hati karena takutnya jalan ada yang rusak.


Ada sesuatu yang mengalihkan pandanganku lagi. Aku melihat ada sebuah pertunjukan teater kesenian di tengah hutan tersebut seperti pertunjukan wayang. Aku belum sadar dan tetap melihat sekumpulan orang-orang yang ramai sedang menonton pertunjukan itu sampai mobil berjalan melintasi tempat itu hingga jauh tidak terlihat lagi.


Dinda menepuk pundak ku, aku langsung terkejut dan sadar dari lamunanku.


"Kamu kenapa Akrila?"


"Eng-enggak, aku enggak kenapa-napa kok"


"Jangan melamun lagi Akrila pamali! ini juga kan lagi di tengah hutan enggak boleh pikiran kosong"


"Iya-iya main lagi saja yuk"


Aku baru tersadar dengan apa yang baru saja aku lihat tadi bagaimana mungkin ada sebuah panggung pertunjukan seni yang di gelar di tengah hutan seperti ini bahkan di sekitarnya juga tidak ada satu rumah pun yang terlihat oleh kami.


Kalo mereka adalah orang-orang desa disini kenapa kakak dan yang lain bersikap seperti tidak terjadi apa-apa dan tidak melihat semua orang-orang itu, kenapa semua kejadian itu hanya aku yang dapat melihatnya, padahal tempat itu sangat terang dan ramai dengan orang-orang, bahkan anak kecil di hutan tadi pagi juga tidak ada yang dapat melihatnya selain aku.


Semua pertanyaan itu terus saja terbayang dalam pikiranku sampai kami tiba di depan sebuah gapura desa yang terbuat dari kayu dan tidak ada penerangan pada gapura tersebut, di gapura tersebut tertulis nama desanya yaitu "Desa Kencana".


Kakak memberhentikan mobil dan keluar dari mobil berjalan menuju gapura, kami menunggu di dalam mobil. Perasaanku tidak enak, firasatku mengatakan seperti ada sesuatu yang tidak beres dengan tempat ini dan para penduduknya. Kakak berjalan keluar sedangkan kami bertiga menunggu di dalam mobil. Kakak berhenti berjalan di depan gapura kemudian memberi salam.


"Halo, Permisi apakah ada penjaga gapura? Kami ingin minta tolong!" Kakak berbicara dengan keras supaya terdengar oleh orang lain dan memecah kesunyian malam.


Kami ketakutan dan terus memperhatikan kakak yang mulai melangkah memasuki desa.


Tiba tiba... Lampu di gapura menyala membuat kami semua kaget dan berteriak di dalam mobil. Kakak juga terkejut tapi berusaha untuk tetap tenang dan mencoba menenangkan kami semua.


"maaf anak-anak semua, selamat datang di desa


kami" Terdengar suara pria dewasa dari dalam desa yang menyambut kami.


Kakak langsung menoleh dan kembali berjalan perlahan-lahan menuju gapura lagi. Pria yang tadi menyambut kami keluar dan berdiri di tengah gapura. Kakak merasa lega mengetahui bahwa desa tersebut ternyata ada penduduknya karena sebelum lampu gapura di nyalakan desa tersebut hanya terlihat seperti desa yang tidak berpenghuni dan sudah ditinggalkan.


"Maaf pak kami datang ke desa ini ingin melakukan sebuah penyelidikan dan penelitian tentang kebudayaan yang ada di desa ini untuk menyelesaikan tugas sekolah"


"Jadi saya mau meminta izin dari bapak supaya di perbolehkan menginap di desa ini dan menjelaskan kepada publik tentang adat budaya di desa bapak"


Kakak mulai menjelaskan maksud kedatangan kami yang mendesak dan tiba di desa mereka pada malam hari ini.


"Begitu ya, hmm... kalo masalah itu saya harus bertanya dahulu kepada sesepuh dan penduduk desa ini yang lain"


Kakak sedikit bingung dengan pernyataan bapak itu, berpikir bagaimana jika tidak di perbolehkan nantinya?


"Tapi karena hari sudah malam adik adik saya perbolehkan dulu menginap di penginapan desa kami sampai keputusannya esok hari"


"Oh.. baik pak, Terimakasih"


"Saya akan mengajak adik-adik saya ikut masuk"


"Ayo turun dulu! Kita malam ini menginap di desa ini, kalo tentang tugasnya masih di perundingkan oleh para penduduk desa besok"


"Baik kak" Jawab kami singkat tanpa bertanya tanya tentang hal yang lain lagi.


"Mari masuk!!" Bapak itu bersikap ramah dengan mempersilahkan kami masuk ke dalam desa.


Bapak itu memandu kami menunjukkan tempat untuk kami menginap sedangkan kakak memindahkan tempat parkir mobil.


"Tempatnya menyeramkan ya?" Aku bertanya kepada Dinda, seluruh badanku merinding dan gemetaran.


"Iya sepi rumah-rumah yang lainnya, padahal ada penghuninya!" Dinda penasaran kenapa tidak ada penduduk yang terlihat.


"Kakak aku takut! Aku tidak mau dekat-dekat dengan bapak itu!" Seru Adit ketakutan.


"Sutt... Tenang Adit sini pegang tangan kakak kamu jalan di tengah-tengah kami saja"


"Iya kak" jawab Adit.


Kak Arval menyusul kami di belakang, kami berbicara berbisik-bisik takut terdengar oleh bapak itu dan orang lain.


"Nah, kalian malam ini menginap di sini istirahatlah setelah perjalanan panjang. Saya pergi dulu!" ucap sang bapak bersikap ramah.


"Baik pak, terimakasih!" Kami bertiga menjawab dengan anggukan kepala, aku masih menatap wajah bapak itu dengan jelas supaya mengingat wajahnya.


Setelah masuk menaruh barang barang dan pakaian, malam itu kami semua membersihkan tempat itu juga karena tempatnya benar-benar sangat kotor.


(Selesai di bersihkan dan terlihat rapi)


"Huhh... Lelah sekali, aku mau langsung tidur saja!" Adit langsung merebahkan badannya di atas kasur.


"Bapak tadi misterius sekali ya?" Aku terus memikirkan bapak tadi seperti ada yang di rahasiakan olehnya.


"Hah... Akrila apa yang kamu pikirkan?" Dinda masih berdiri sambil memegang sapu di tangannya setelah membersihkan lantai yang kotor.


Kak Arval sedang di luar penginapan membuang sampah yang tadi kita kumpulkan ke halaman belakang karena di sana ada sebuah lubang yang lebar dan cukup dalam, Awalnya kami juga heran untuk apa ada lubang sedalam ini di belakang penginapan tapi kami semua berpikir positif "mungkin hanya tempat untuk membuang sampah saja".


"Tempat yang kotor ini tadi dan bapak itu ada yang aneh!"


"Kamu benar! Tapi kita tidak tahu apa pun yang lain lagi kecuali informasi yang kita dapat dari Webside?" Dinda menjadi bingung.


Kak Arval masuk ke dalam kamar menaruh HP dan jam tangannya bersiap untuk tidur.


"Sudah ayo tidur semua, kakak sangat lelah ini. Lihatlah kakak sudah susah payah membantu kalian!" perintah kakak mengingatkan.


Jujur aku jadi kasihan dengan kakak gimana lelahnya mengemudi mobil seharian. Aku bahkan belum bisa mengendarai motor.


"Iya kak, Adit ternyata sudah tidur pantas saja dia dari tadi tidak menjawab satu pun pertanyaan dari aku." gumam Akrila.


"Aku mau tidur dulu, Selamat malam semuanya" seru Dinda kepada teman-temannya.


"Selamat malam juga Dinda" Aku mengambil selimut tidurku dari dalam lemari kayu yang sudah tua dan usang.


Aku merebahkan badanku di atas kasur, keinginanku supaya bisa cepat tertidur dan menutup mataku.


Tapi nyatanya aku tidak bisa tertidur malam ini karena ada seseorang yang menggangguku.


BERSAMBUNG...