Adventure In The World Of Creatures

Adventure In The World Of Creatures
Episode 3 ( Penyelidikan Bagian 1 )



"Terimakasih kak" Ucap aku dan Adit atas hadiah yang di berikan oleh kakak.


"Nah, adik-adik kakak belajarnya yang lebih rajin lagi ya"


"Iya kak"


"Baik kak, akan ku usahakan hehe" Adit menjawab dengan ragu-ragu dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal, karena dia selalu malas untuk belajar.


"Kakak mau lanjut merapikan pakaian dulu" berjalan kembali ke dalam kamar


Akrila dan Adit kembali ke kamar masing masing untuk mandi.


"hais, nanti malam aku bilangnya sekarang mandi saja dulu" mengambil 1 stel baju tidur dari dalam lemari kaca.


...****************...


(Jam 20.35 malam⏰)


Di kamar, kak Arval setelah mandi sahabatnya yang di jakarta sekelas dari universitas yang sama, Kak Demons menghubunginya...


"Hai Arval, bagaimana perjalananmu pulang tidak ada masalah dan hambatan kan?"


"Tidak ada masalah Demons aku udah sampai di rumah sebelum magrib tadi, Libur tahun ini kamu juga pulang ke rumah orang tua mu kan?"


"Iya nih tapi aku enggak jadi beli tiket penerbangan tadi pagi karena katanya ada masalah kerusakan teknis pada pesawatnya"


"jadi rencananya aku pulang ke Surakarta besok siang"


"ohh gitu ya semoga kamu bisa pulang tanpa hambatan juga ya"


"iya terimakasih..."


Kak Arval dan sahabatnya itu masih membahas banyak hal dalam panggilan telepon


Sedangkan Akrila hendak pergi ke kamar sang kakak, tapi dari depan pintu Akrila melihat kakaknya sedang menerima panggilan dari temannya maka Akrila menunggu berdiri mematung di depan pintu kamar sampai panggilan usai, Kak Arval belum mengetahui kalo dirinya ada di situ.


"Bye ya, sudah malam mau istirahat besok langsung siap siap mudik"


"iya, semoga mimpi indah bye"


(panggilan berakhir)


"Ada-ada saja topik yang dibahas teman-teman di grup" Kak Arval kembali mengecek isi pesan grup WA' nya dan teman temannya.


"Kakak..."


Panggilan Akrila membuat kakak terkejut bahkan sampai menjatuhkan hp yang di pegangnya.


"Akrila ngagetin kakak saja, ada apa?"


"kak, aku mau minta tolong bisa kah kakak besok bantu kami ke desa untuk menyelesaikan tugas makalah"


"Ohh gitu kamu bikin makalah sendiri kah enggak kerja kelompok?"


"Aku sekelompok sama Dinda kak jadi besok jemput Dinda dulu di rumahnya."


"Iya kakak bantu sudah tahu desa mana yang mau di selidiki"


Kakak terus bertanya sambil mengambil hpnya yang terjatuh di lantai dan mengamatinya apakah kaca layar hp pecah, ternyata tidak ada kerusakan.


"Sudah di Desa Kencana, Kabupaten Tulung Agung, provinsi Jawa Timur tempat desanya masuk ke dalam hutan dan memang cuman desa terpencil"


"desa itu cukup terkenal budayanya karena mereka masih melakukan adat budaya yang mereka percaya, tapi banyak yang tidak tahu juga di mana letak yang pasti keberadaan desa itu karena masuk kedalam hutan"


Aku menjelaskan sedikit kepada kakak sebisa mungkin tentang desa itu yang ku cari tahu dari internet dan Website tapi yang membuatku heran di semua website tidak ada yang menyebutkan apa saja bahkan satu pun adat yang ada di desa itu


"Oke besok berangkat pagi jadi sekarang akrila tidur aja kakak masih mau periksa buku tugas"


"Baik kak" Aku berjalan kembali ke kamar dan berbaring di tempat tidur memandang langit langit kamarku rasanya tidak sebar menantikan hari esok.


...----------------...


Saat aku sedang menyapu lantai kamar, Adit menghampiriku aku sudah menduga ia pasti akan mengejekku.


"Wah, kakak ku tumben rajin sekali biasanya tidak rajin seperti ini" Adit bertanya dari samping pintu kamar yang terbuka.


"Iya kenapa? Kamu mau jahilin aku lagi, awas ya aku beritahu kak Arval nanti"


"Iya..iya enggak jahilin kakak kali ini, tapi mungkin lain kali"


"Ih kamu ini mau apa kesini?" Aku kesal dengan jawaban Adit dan melemparinya dengan bantal tidur ku.


"Jangan di lempar bantal sakit tahu... Aku kan enggak mau macam macam!"


"Terus ngapain kamu mengganggu aktivitasku?" Tanyaku kesal sambil memegang tongkat sapu.


"Aku mau tanya kak Akrila apa benar nanti kakak pergi menginap ke suatu desa untuk menyelesaikan tugas?"


"Iya, memangnya kenapa?"


"Apa aku boleh ikut kakak, kan kak Arval juga ikut boleh ya kak aku mau tahu desa misterius itu"


"Kata teman teman ku desa itu sangat mistis loh"


Tanya Adit penasaran.


"hmm... kamu juga penasaran ya baiklah kamu boleh ikut tapi kamu enggak boleh pergi jauh jauh dari yang lain"


"Dan kamu juga harus minta izin dulu sama ibu kalo mau ikut kami"


"Baik kak aku segera turun menemui ibu" Adit langsung berlari dengan cepat menuju dapur di sana ibu sedang menyiapkan sarapan.


"Semoga di sana dia tidak bersikap macam macam". Aku memasukkan buku-buku dan alat tulis yang akan kubawa ke dalam tas, setelah itu tas aku letakkan ke dalam bagasi mobil.


Setelah sarapan kami bertiga langsung berangkat menjemput Dinda. Adit di perbolehkan ikut oleh ibu dengan syarat tidak boleh nakal, menjaga sikap, dan menjaga lisan saat berbicara di tempat manapun.


Kak Arval terus mengemudikan mobil dari jalan raya besar sampai ke sebuah jalan yang mulai sempit dan masuk ke dalam hutan yang sangat lebat daunnya suasana di dalam hutan sangat sunyi, mencekam, bahkan pandangan di sekeliling gelap karena tidak ada cela dari daun daun pohon yang membuat sinar matahari dapat masuk menerangi pagi hari di dalam hutan tersebut.


"Hutan ini gelap sekali aku jadi takut" Dinda terus saja melihat ke arah luar jendela mobil, tampak pohon pohon hutan ini sangat besar tapi kokoh.


"Sudah jangan di pikirkan nanti sampai di desa izin sama tetuah desa biar kakak yang izin kalian tunggu di dalam mobil dulu ya"


"Baik kak" Jawab kami serempak


Perjalanannya ternyata masih sangat jauh ku kira akan cepat sampai. Aku bosan jadi aku bermain hp, Kakak fokus mengemudi, Adit yang duduk di depan sebelah kakak juga bermain hp sambil mendengarkan musik, sedangkan Dinda tertidur di sebelahku.


Saat sedang mengamati foto yang ku ambil di dalam mobil bersama Dinda di hutan itu sangat jelas di belakang kami luar mobil tampak sesosok anak kecil perempuan terbang melayang dengan rambut yang terurai menutupi wajahnya. Aku sangat kaget dan hampir berteriak tapi aku menutup mulutku dengan tangan, sejak melihat foto itu aku takut dan hanya duduk terpaku, gemetaran, dan merinding fokus melihat isi hp yang dalam genggamanku itu.


hampir 3 jam perjalanan di dalam hutan ini aku mulai mengantuk dan hampir tertidur tiba-tiba aku tersadar karena kaget mendengar suara lirih tangisan anak kecil dari satu pohon besar, sontak aku langsung menoleh melihat pohon itu tidak tahu kenapa tiba-tiba tubuhku kaku tidak bisa di gerakkan dan mataku melihat di samping pohon ada sosok anak kecil itu. Iya benar, dia menangis darah dan tampak seperti bayangan di atas pohon seorang anak kecil perempuan yang gantung diri di salah satu dahan pohon.


Ada suara lirih berbisik di telingaku.


"Jangan pergi ke desa itu huhu..."


Suara itu bercampur dengan hembusan angin, badan ku masih tidak bisa di gerakkan!


Aku langsung berteriak.


"AAAHHKK..."


"Akrila...Akrila kamu kenapa?" Kakak kaget karena teriakan ku dan langsung bertanya, Dinda juga kaget dan terbangun


Badan ku sudah bisa di gerakkan kulihat Kakak, Adit, dan Dinda menatapku dengan wajah khawatir. Aku lalu menceritakan apa yang ku lihat dan ku dengar tadi, Dinda dan Adit mulai ketakutan, kami bertiga jadi enggan meneruskan perjalanan menuju desa itu untuk menyelesaikan tugas sekolah. Tapi Kakak menyakinkan kami untuk melanjutkan perjalanan ke desa tersebut,


"kita harus selalu waspada dan berhati-hati agar tidak di gangguan makhluk halus di mana pun tempat dan kapan pun"


Kakak menasihati kami sambil mengemudikan mobil, Aku masih ketakutan dan langsung mendengarkan musik untuk menenangkan pikiranku. Dinda tidak tidur lagi dia menemaniku dan mengajak aku bermain hp bersama untuk melepas kesunyian di salam hutan itu.


Kami sudah keluar dari hutan sekarang berada di jalan raya lebar ketakutan aku sedikit menghilang karena suasana jalan raya ramai dengan kendaraan yang berlalu lalang.


BERSAMBUNG...