
Minggu ini cuaca selalu buruk karena musim hujan sebab itu Akrila bahkan tidak bisa berlibur akhir pekan bersama teman temannya padahal mereka berencana pergi ke pantai bersama, tapi rencana itu pun akhirnya di batalkan.
Di sekolah Akrila hanya bisa duduk di atas kursi belajarnya sambil memandang ke arah luar jendela yang hanya tampak air yang terus berjatuhan membasahi permukaan tanah dan semua pepohonan, ia merasa sangat bosan dengan waktu istirahat karna tak ada yang dapat ia lakukan.
"Hai, Akrila melamun saja terus?" sapa Dinda.
"main yok, sama teman teman yang lain juga tuh!" Dinda mengajak Akrila sambil menepuk pundak Akrila
"gak ah, lagi enggak mood nih"
"cuacanya gak mendukung, hujan terus" desah Akrila.
"Ehh, ayolah biar enggak murung terus karena rencana rekreasi kemarin gagal total" Seru Dinda berharap.
"lya..iya ayo" Akrila menyetujui ajakan Dinda dan langsung bangkit berjalan menuju bangku Arfan.
"Nah gitu dong, teman teman banyak yang cari kamu juga nih gara gara kamu udah enggak ikut di grup akhir akhir ini" Dinda memberitahu Akrila sambil setengah berlari menyusul langkah Akrila.
Dinda dan Akrila sampai di bangku Arfan yang berada di kelas B-12.
"Nah, ini kemana saja kamu Rila enggak muncul di grup terus" ucap Qazwa menyambut kedatangan Akrila dan Dinda.
"Lagi bete!! Lagian udah gak asik lagi di grup gak ada yang bisa di bahas" jawab Akrila tidak senang.
"karena mager di dalam rumah mulu musim hujan, untung enggak banjir!" Akrila mendengus kesal.
"Iya bener, Sungai belakang rumah ku hampir meluap airnya karena hujan enggak ada jedanya" Sean yang selalu pendiam akhirnya buka suara.
"Dahlah, bahas topik yang lain saja" sahut Dinda.
"Oke Nonaa~~" jawab semua anggota grup dengan suara lantang dan kompak.
(Pukul 13.30 Sore, Jam Pulang Sekolah)
Akrila melangkah keluar pintu membawa tas berwarna merah dan mengenakan jas hujan berwarna ungu bermotif bunga-bunga, dibelakangnya tampak Dinda yang sedang berlari menyusul Akrila dengan memakai jas hujan berwarna merah.
"Oy, tungguin lah ayo pulang bareng!?" Dinda berbicara keras di telinga Akrila sambil sedikit mendorong Akrila dari belakang.
"Yaudah ayo!! Tapi enggak usah sambil dorong dorong juga kali. Sakit tahu!" Akrila memegang punggungnya karena sakit.
"Oke, maaf hehehe" Dinda tertawa cekikikan melihat Akrila.
"Nanti sampai di pintu utama sekolah langsung lari ya" perintah Akrila mengatur rencana.
"Oke" sahut Dinda.
"Sekarang...LARIIiiii!!" teriak Akrila memberi aba aba untuk Dinda.
Mereka tidak sadar bahwa Pak Adi guru Matematika mengawasi mereka dari tadi.
"Is..is..Udah hujan semua jalanan jadi licin malah lari-lari" Batin Pak Adi.
"Hei...Nak, jangan Lari-lari jalanannya licin nanti jatuhh..." teriak Pak Adi kepada Dinda dan Akrila dari koridor.
Sontak Akrila dan Dinda kaget mereka berbalik badan melihat Pak Adi yang berada di koridor.
"Baik Pak, Maaf!!" jawab kedua siswi SMA itu kompak dari tengah lapangan yang sedang hujan deras.
Kemudian Pak Adi melanjutkan langkahnya menuju ruangan guru. Dinda dan Akrila yang sudah di tegur jadi melanjutkan langkahnya menuju rumah dengan hati hati dan waspada karena mereka tidak mau di marahin lagi.
Sampai di pertigaan gang mereka berpisah dan melewati gang menuju rumah masing masing
"Duluan ya, sampai jumpa besok!!"
"Iya, sampai jumpa besok juga di sekolahan!!"
Dinda menjawab sambil mengayunkan tangan ke arah Akrila untuk menyampaikan salam perpisahan. Dinda menuju gang Cempaka di sebelah kiri sedangkan Akrila menuju gang Mawar di sebelah kanan.
Karena sudah berpisah dengan Dinda, Akrila berjalan menuju rumah seorang diri di dalam sebuah jalanan gang sempit yang sunyi, licin, banyak genangan air dan terdapat banyak pohon pohon besar yang rindang di tepi jalan tetapi hujan masih turun dengan lebatnya.
Karena merasakan tempat yang ia lewati sunyi dan semakin mencekam perasaan di dalam hatinya mulai menjadi gelisah, ia menjadi was- was takut jika tiba-tiba ada seseorang yang ingin mencelakainya, tiba tiba...
"BRAAK..." Suara barang jatuh
"Hah! Suara apa itu?" la kaget dan langsung memberhentikan langkah kakinya untuk melihat ke belakang mencari dari mana asal suara itu di sekitarnya, karena tidak melihat siapa-siapa dan barang jatuh di belakang dan samping kiri-kanannya, dia menjadi takut...
Masih dengan posisinya yang menghadap kebelakang Akrila mulai berancang-ancang untuk lari, pergi dari tempat sunyi dan mencekam itu. Saat Akrila mulai berlari ke depan yaitu jalan tujuannya ia mendengar lagi suara benda jatuh itu...
BRAAK...DUUK... BRAAK..." Suara itu terdengar lagi tiga kali.
Membuat Akrila berteriak di dalam gang sempit itu sambil berlari dengan sangat cepat menciptakan dengan jelas sebuah suara keras langkah kaki di saat turun hujan yang deras, ia terus berlari sampai di depan pagar rumahnya. Dengan cepat ia membuka kunci pagar rumahnya yang di kunci dari dalam.
Akrila mengetuk pintu rumah dengan keras dan cepat, ia nampak masih sangat ketakutan dan terus melihat ke belakang. Jantungnya terus berdegup kencang "Dag Dig Dug", nafasnya ngos- ngosan karena terus berlari
Mama membuka pintu rumah dengan cepat-cepat.
"Nak..nak..kamu kenapa, kok ketakutan? nafas kamu juga ngos-ngosan?" Mama melihat wajah anak keduanya itu dengan heran dan khawatir.
Walaupun mama bertanya di depan pintu tapi Akrila terlebih dahulu masuk kedalam rumah menaruh sepatunya yang basah di dalam rak sepatu dan melepas jas hujan basah yang ia gunakan kemudian ia gantung di pojok rumah, mulutnya menggigil kedinginan..
Akrila masih menenangkan diri dan mengatur nafasnya, mama langsung memberikan selimut untuk Akrila yang kehujanan dan memasangnya di badan Akrila yang masih menggigil itu...
Setelah tenang, nafasnya kembali normal, dan tidak sedikit kedinginan lagi, Akrila mulai menceritakan seluruh kejadian tadi kepada mamanya....
Mama mendengarkan cerita Akrila dengan saksama dan mengangguk angguk tanda mengerti
"Jadii giituu ke-ke jaadiannyaa mama" ucap Akrila terbata bata karena sedikit menggigil.
"Mungkin ada orang yang lagi iseng disitu kali..." jawab mama menenangkan Akrila.
"Kalo iya tapikan bahaya mah, kalo orangnya jahat gimana?" sahut Akrila beralasan.
"Iya harus hati hati juga jadi kalo kamu ngalamin kejadian kayak tadi lagi langsung lari aja ya kalo ada rumah warga bisa langsung minta tolong" ucap mama mengingatkan Akrila
"Iya mah" Akrila memegang erat selimut di badannya karena masih kedinginan.
"yasudah kamu cepat ke kamar saja terus ganti bajunya biar enggak sakit"
"Kalo sudah kita makan siang bareng bareng ya?"
"Iya mah" Akrila mengangguk mengerti
Adik laki laki Akrila yang masih berumur 10 tahun kelas 5 SD bernama Adit pun ikut turun dari lantai dua menemui mama dan kakaknya yang sedang berbicara serius di ruang tamu.
"Kakak kenapa?" Adit bertanya sambil berjalan turun dari anak tangga.
"Ini, kakak mu kehujanan tadi pulang sekolah, jadi cepat ke kamar ganti baju terus makan siang bersama." mama menjawab pertanyaan Adit.
"Ohh...gitu ayo kak aku antar ke kamar kakak di lantai dua" seru Adit berbaik hati.
"Iya ayo" Akrila bangkit dari kursi dan menghampiri adiknya yang berdiri di depan tangga lantai dua.
Kemudian mama pergi kembali ke dapur meneruskan masaknya untuk makan siang dan mencuci piring yang kotor.
"Dek, kamu kalo pulang sekolah juga ngelewatin jalan gang mawar sempit itu kan?" Akrila bertanya kepada Adit sambil terus berjalan menuju kamarnya.
"lya dong kak, emangnya ada apa?" Adit heran dengan pertanyaan kakaknya itu.
"Kamu kalo lewat situ pas sepi enggak ada orang pernah dengar barang jatuh sendiri enggak?"
Akrila bertanya untuk mendapatkan informasi dari adiknya yang juga selalu melewati jalan yang sama dengannya.
"Enggak kok kak, serem deh kalo dengar barang jatuh sendiri enggak ada orang 'kan bikin kaget!" jelas Adit.
"Nah... iya itu, tadi kakak ngalamin hal itu di situ kaget banget jadi cepat-cepat lari"
"kalo gitu seremlah pas hujan lagi, jangan jangan kakak di ikutin hantunya sampai ke rumah. Wah, gimana tuh kak?" Adit menakut nakuti kakaknya dengan pertanyaannya yang membuat Akrila kesal.
"ihhhh...omongan kamu tuh jangan kayak gitu dong ih...!" Mengayunkan tangan hendak menjitak dahi si Adit.
Tapi Adit langsung melarikan diri ke kamarnya dengan cepat dan langsung mengunci pintu kamarnya mengetahui bahwa dirinya dalam bahaya dan masalah basar.
Akrila mengejar Adit sampai di depan pintu kamar adit, Akrila yang kesal langsung menggedor gedor pintu kamar Adit.
"Heh...keluar, cepat kamu kesini!!" teriak Akrila dari luar pintu kamar Adit.
"Dorr... Dorr... Dorr...!!" (suara pintu)
"Enggak mau...enggak mau... soalnya ada moster raksasa lagi ngamuk" Adit tertawa cekikian di dalam kamar, namun Akrila semakin kesal karena di ejek.
mama yang mendengar suara pintu yang terus di gedor-gedor dengan keras pun berbicara.
"Akrila!! Adit!! Hayo jangan bertengkar sayang... udah..., apa sih masalahnya ayo sini cepat turun makan siang!" mama mencoba meleraikan pertengkaran ke dua anaknya.
"Iya Mah!" kedua kakak beradik itu menjawab dengan kompak perintah mama mereka, tapi sebenarnya mereka masih bermusuhan.
"Lihat saja kamu Adit kalo masih nakal lagi ku jitak 10 kali nanti dahi kamu, awas...Ingat!!" ancam Akrila.
"coba saja kakak kalo bisa!" tantang Adit.
"hihh...dasar kamu itu!!" gerutu Akrila, ia berhenti menggedor gedor pintu kamar Adit lalu berjalan menuju kamarnya untuk mengganti baju seragamnya dengan baju rumah.
BERSAMBUNG...