Abyan'S Holy Vow Defense

Abyan'S Holy Vow Defense
PART 6 ~FAQIH GALAU



“Bunda ayah mana?” tanya Zahra yang baru bangun tidur sambil mengucek matanya kemudian berjalan kearahku yang sedang membereskan sarapan. Duhhh imutnya anakku.


“Mmmm ayah ke rumah sakit sayang” kataku ragu menatap Zahra. Terlihat matanya mulai memerah siap untuk mengeluarkan air mata dan teriakan toanya.


“Huaaaaaaaa,,,,, ayah nakalll huaaaaa” tangis Zahra sambil duduk dilantai.


Bukannya ikut sedih aku malah merasa lucu dan gemas dengan tingkah laku Zahra.


Terlihat Zahra yang masih memakai pakaian babydoll anak bermotif bear dengan membawa boneka beruang coklat ditangannya duduk mengesot sambil menangis.


“Duh princess bunda kok nangis sih, tuh liat ilernya kemana-mana, mana belum cuci muka lagi” kataku terkekeh meledeknya.


“Huaaaaaaaaa bundaa” tangisnya tambah kencang.


“Hehehe pisss” kataku mengangkat dua jari tanda perdamaian.


“Sayang ayah kan pergi kerja buat bantu orang lain, supaya orang itu bisa cepet sembuh dari sakitnya. Kita juga dapat pahala loh kalau menolong orang yang sedang membutuhkan pertolongan” ucapku lembut mengusap air matanya dipipi.


“Jadi hikss ayah dapat hikss pahala juga?” tanya Zahra dengan sisa tangisnya.


“Iyaa dong, kan ayah membantu orang sakit disana makanya dapat pahala” ucapku.


“Yaudah hikss,, Zalaa maaapin ayah hikss” isaknya.


“Gimana kalau Zahra temani bunda belanja, bunda janji deh nanti Zahra boleh ambil ice cream apa aja”


“Benelan bunda?” tanyanya mulai tersenyum.


“Iyaa, sekarang mandi dulu yukkk. Hmmm,,, udah bau acemmm” ucapku sambil menggendong Zahra dan mencium keteknya. Padahal tidak asem sama sekali malah wangi bedak dan minyak telon khas bayi.


"Hmmm memang beda keringat anak kecil dengan dewasa” kekehku dalam hati.


Selesai memandikan Zahra dan mendandaninya aku segera bersiap, hanya menambahkan sedikit lip balm pada bibir kemudian merapikan rambutku yang sedikit berantakan kemudian meraih tas sling bag kecil kesayanganku. Jangan berpikir aku belum mandi, karena tadi pagi sebelum menyiapkan sarapan aku sudah mandi okee.


Sampai di pusat perbelanjaan terlihat Zahra sangat antusias memilih berbagai macam dan rasa ice cream yang ia suka. Aku tersenyum kemudian melanjutkan memilih sayur yang sudah habis dirumah sambil tetap mengawasi Zahra.


Setelah semua keperluan rumah sudah masuk ke trolly aku berjalan ke kasir. Kulirik jam di hp ku pukul satu siang sudah waktunya mas Abyan makan siang.


Setelah mengiriminya pesan aku memanggil Zahra, terlihat banyaknya ice cream yang dipilih Zahra masuk dalam keranjang belanjaanku.


“Mmmmm banyak juga ya ice creamnya” ucapku dengan mata menyipit ke Zahra.


“Hehee,, boleh ya bund?” rayu Zahra dengan puppy eyes. Huftttt mana kuat aku melihat keimutannya.


“Yaudah boleh, tapi makannya seminggu dua kali”


“Yesss,, makasihh bunda” kata Zahra girang lalu berlari kearah kasir lebih dulu.


“Hati-hati sayang nanti jatuh” ujarku memperingati khawatir kalau dia jatuh.


Brukkkkkk


“Aduhhh” ringis Zahra yang bo**ngnya mencium lantai baru juga aku ngomong sudah terjadi kan, bergegas aku menghampiri Zahra memastikan kalau dia tidak terluka.


“Kamu nggakpapa kan sayang?” tanyaku memeriksa tubuhnya.


“Nggakpapa bunda” ucap Zahra menggelengkan kepala.


“Pintarnya anak bunda nggak nangis” ujarku mengelur rambutnya. Terdengar suara seseorang berdehem.


“Ehmmm” ucapnya.


“Lohh mas Adnan? Kok disini? Ehhh ini beneran mas Adnan kan yang kemaren ketemu dirumah mama nita?” tanyaku.


“Aduhh maafkan Zahra ya mas udah nabrak mas tadi” kataku meminta maaf.


“Hmmm” jawabnya berlalu pergi. Aku melongo melihatnya “Dasar es batu berjalan” batinku sebal.


Begitu sampai rumah aku menatap barang yang tadi kubeli di dalam kulkas, Sedangkan Zahra terlihat sedang menikmati ice cream sambil menonton kartun Masha and The Bear kesukaanya. Aku berniat membuat sayur kangkung dan ayam goreng untuk makan siang kali ini, saat sedang asyik memasak tiba-tiba bel rumah berbunyi.


Ting Tong


Terlihat Zahra berlari membukakan pintu. “Om Faqihhhh” girang Zahra.


“Halo ponakan om yang cantik” ucap faqih menggendong Zahra. “Duh kok makin berat sih” tambahnya sembil mencium pipi bulat Zahra.


“Bunda mana?” tanya Faqih masuk ke dalam rumah.


“Tuh di dapul lagi masak” kata Zahra. Faqih menurunkan Zahra dari gendongannya di sofa dan berniat menyusulku didapur.


“Loh bang faqih?” tanyaku keluar lebih dulu dari dapur sambil ayam goreng yang sudah selesai kumasak.


“Hmmm harumnya” kata Faqih mencium aroma ayam goreng. “Abang numpang makan disini ya dek” ujarnya.


“Ishh Abang nih, kasihan kak viona dirumah kalau Abang makan disini” kataku.


“Ahh bawel, ambilin Abang piring atuh” perintahnya.


“Iyaa iyaa” ucapku cemberut mengambil piring didapur.


“Heheh makasih adik bontotku,,, Zahraaa sini makan sama om sayang” teriak faqih memanggil Zahra.


“Abaaang,,,,, jangan panggil bontot atuh, malu-maluin aja sih” rengekku dengan sebal.


“Lohhh emang bener kan kamu adik bontot abang?” tanya faqih dengan wajah tanpa dosanya.


Ya memang benar sih aku anak terakhir, tapi tidak usah memanggilku adik botot juga, walaupun itu panggilan kesayangan tapi tetap saja malu kalau orang lain tahu.


“Ishhh abang mah, sebelll” kataku merajuk.


“Hahaha tuh liat bunda kamu kalau ngambek jelek banget” kata faqih kepada Zahra yang baru datang dari ruang tv.


“Bunda kenapa?” tanya Zahra mentapku polos. Ihh gemasnya pingin kumakan pipi bakpaonya.


“Nggakpapa sayang, yuk makan” ucapku tersenyum dan melirik sebal kearah Faqih. Sedangkan faqih hanya tersenyum menahan tawa.


Selesai makan aku menidurkan Zahra dikamarnya sedangakn faqih merenung berada diruang tengah, setelah memastikan Zahra tertidur aku membuatkan teh hangat untuk kak faqih.


Terlihat diluar langit mulai mendung “sebentar lagi pasti hujan turun” gumamku. Dan benar saja tak lama setelah itu hujan turun sangat deras disertai angina yang lumayan kencang.


“Teh nya bang” kataku menyodorkan segelas teh hangat untuknya. Faqih menerimanya tersenyum kemudian melamun kembali.


“Abang kenapa? Ada masalah?” tanyaku yang merasa kak faqih sedang ada masalah.


“Huftttt” terdengar suara helaan nafas beratnya. “Abang bingung dek” ujarnya lirih.


“Bingung kenapa? Coba cerita sama adek” kataku.


“Abang merasa sedih setiap kali viona meminta abang untuk menikah lagi. Kamu tahu sendiri sampai sekarang kami belum juga dikaruniai seorang anak” ujarnya sedih. “Apalagi disaat viona bertemu zahra, dia merasa menjadi manusia tidak sempurna karena belum bisa memberi kakak keturunan” sambungnya.


Aku ikut sedih mendengarnya, tanganku mengusap bahu kakakku supaya lebih tenang.


“Besok biar adek yang bicara sama kak vio, mungkin kalau aku yang bicara kak vio bakal paham kalau hidup itu tak selamanya mulus, apalagi berumah tangga pasti ada aja cobaanya” ucapku tersenyum.


Viona adalah sahabatku selain regina dan ryan sejak sma, dia menikah dengan kak faqih setelah lulus dari kuliah. Awalnya aku tidak mau memanggilnya kakak, namun karena aku menghormati kak faqih jadinya memanggilnya dengan sebutan kakak.


Faqih tersenyum menatapku. “Makaasih ya dek udah mau dengerin keluh-kesah kakak” katanya mengacak rambutku.


“Eitttts nggak gratis ya, pokoknya abang harus traktir adek apapun yang adek minta” kataku terkekeh licik.


“Dasar si bontot yang perhitungan” dengus Faqih. Aku tertawa mendengarnya.


 


Semangat babang Faqih, perjalanan hidup tak selalu mulus💪


.


.


Tuhan pasti telah merencanakan yang terbaik buat babang dan kak vio🤗


.


.


Jangan lupa like & comment 👍


Biar Mimin tambah semangat nulisnya 😊