Abyan'S Holy Vow Defense

Abyan'S Holy Vow Defense
PART 1 (KEBAHAGIAAN NASHA)



Setelah sampai di taman, aku mengajaknya duduk dibangku sambil menikmati ice cream vanilla yang tadi kubelikan saat perjalanan kesini. Kulihat Zahra tampak sedikit murung, aku yakin pasti memikirkan ayahnya. Anak ini kalau sudah bertemu ayahnya mirip kertas sama perangko, nempel terus, pasti bundanya terlupakan.


Terlihat hp ku bergetar didalam tas, bergegas aku membukanya dan tersenyum setelah tahu siapa yang mengirimkan pesan itu. Kuletakan kembali ponselku kedalam tas dan mencoba mengajak Zahra berbicara.


“Ehmm, Zahra kenapa? Kok kelihatan sedih?” tanyaku sambil menahan tawa.


“Zalaa kangen ayah bunda, ayah jahat ninggalin Zalaaa sendilian” ucap Zahra hampir menangis.


“Ehh, nggak boleh nangis dong princess bunda, nanti nggak cantik lagi. Tuh liat siapa yang datang” ucapku menunjuk seseorang. Dengan segera Zahra berdiri dan berlari menuju kearah seseorang itu.


"Ayaahhh" teriak Zahra berlari menghampiri ayahnya yang baru saja turun dari mobilnya.


"Halooo pincessnya ayah" ucap seorang lelaki sambil mengangkat tubuh sang anak kemudian menciumi perutnya.


"Hahahaha, geli ayaahhh cukuupp" ucap sang anak sambil mencium pipi ayahnya.


Cuppp


"Zalaa lindu ayah" ujar Zahra memeluk erat leher sang ayah.


ABYAN POV~


Aku tersenyum sambil mengeratkan gendongan pada putri kecilku. Yaaa Azahra Maura Al-Ghiffari adalah gadis kecil yang sangat aku cintai dan sayangi, putri pertamaku dan juga Nasha.


Putriku tampak imut menggemaskan mengenakan atasan putih tanpa lengan, celana biru pendek, dengan topi dan tas punggung sekolahnya. Walaupun masih berusia 4 tahun, Zahra sudah sekolah di salah satu Playground yang ada di Kota Bandung.


“Aduh princess ayah kok semakin berat sih dua minggu nggak ketemu, pasti makannya banyak nih” ucap Abyan sambil mengunyel-unyel pipi tembem Zahra. Sedangkan yang diunyel-unyel hanya tertawa cekikikan.


"Heyy, dimana bunda bear kita?" tanyaku


"Hahaha,, itu bunda" tawa Zahra menunjuk salah seorang perempuan yang sedang duduk dibangku taman sambil tersenyum menatapku dan Zahra.


"Ayoo kesana, sebelum bunda bear marah" ucapku cekikikan sambil menurunkan tubuh gembul Zahra dan menuntun tangannya menuju tempat Nasha berada. Sambil berjalan, Zahra menceritakan kalau dirinya menang lomba mewarnai di sekolah.


*****


Sedangkan di salah satu bangku taman kota itu, ada seorang perempuan yang sejak tadi menemani anaknya makan ice cream, terlihat putri kecilnya berlari menghampiri seorang lelaki yang baru saja turun dari mobilnya. Ya Arumi Nasha Razeta adalah namanya, istri dari seorang Muhammad Abyan Al Ghiffari dan juga seorang ibu dari Azahra Muara Al Ghiffari.


Menjadi istri dari seorang Abyan dan juga seorang ibu bagi Maura adalah kebahagiaan tersendiri yang sangat ia syukuri. Memiliki suami yang sangat mencintainya serta putri yang sangat menggemaskan, betapa beruntungnya dirinya.


Nasha memperhatikan interaksi antar keduanya sambil tersenyum, putrinya itu memang sangat manja dengan sang ayah. Zahra bahkan menangis sehari semalam ketika mengetahui sang ayah yang akan dinas keluar kota di salah satu Rumah Sakit yang ada di Jakarta, sedang ia dan putrinya berada di Bandung.


Lima tahun menjalani bahtera rumah tangga dengan Abyan, tak pernah sedikitpun ia menyesal telah menikah dengan Abyan, justru sebaliknya dirinya merasakan kebahagiaan yang tak terkira hidup bersama dengan Abyan, apalagi ditambah dengan kelahiran putri kecilnya.


"Bundaaa" teriak Zahra berlari mengampiri Nasha yang tengah duduk di bangku taman.


"Kenapa Princess?" tanyaku cekikikan dalam hati, pasti ngambek nih.


"Bunda bohongin Zalaa, katanya ayah nggak bisa datang" ucap Zahra cemberut.


"Hahaha tapi Zahra seneng kan ayah disisni, maaf deh" kataku sambil memegang kedua telingaku tanda permintaan maaf.


“Ada syalatnya, Zalaa mau boneka bear” ucap Zahra.


“Iyaa, nanti ayah yang beliin” ucap Abyan yang baru saja menyusul kemudian duduk dan mencium keningku.


"Aku kangen kamu" bisik Abyan ditelinga Nasha, kata-kata Abyan membuat pipiku merona.


"Apaan sih mas, iseng banget deh" jawabku sambil mencubit kecil perut Mas Abyan.


"Idihh pegang-pegang, jadi nggak sabar nanti malem" bisik Abyan tersenyum sambil menaikturunkan alisnya.


"Maaasss, ihh, jangan rese', ada Zahra disini" elakku


"Hahahaha, kok merah ya pipinya, makin cantik deh" kata Abyan cekikikan sambil mengelus pipi Nasha.


Sedangkan Zahra hanya menatap dua orang tersebut dengan mata polosnya.


"Bunda, ayoo pulang! Zalaa lapal" rengek Zahra menarik tanganku untuk berdiri.


"Zahra udah lapar ya? Kita pulang yuk, bunda masakin makanan kesukaan Zahra sebagai permintaan maaf karena udah bohongin Zahra" ucapku sambil berdiri dan mengusap sedikit bagian belakangku yang terlihat sedikit agak kotor. Kemudian bergegas menggandeng tangan mungil milik Zahra.


"Ayah ditinggal nih?" tanya Abyan dengan cemberut menatap kedua perempuan yang sangat disayanginya.


"Zalaa nggak mau sama Ayah, Ayah jahat udah ninggalin bunda sama Zalaa sendilian dilumah" ucap Zahra dengan memonyongkan bibirnya dan tangan bersedekap.


"Utuutuuuu jadi princessnya ayah marah nih?, yaudah ngga jadi beli boneka bear deh, nanti ayah beli mobil-mobilan buat Rio aja"


"Nggak boleh, lio suka nakal, suka ambil mainan Zalaa" Mata Zahra memerah mendengar ucapan ayahnya diikuti dengan hidung yang kembang-kempis siap untuk menangis.


"Mas ihh, suka banget sih ngisengin anaknya" ucapku sambil mencubit lengan Mas Abyan


"Auuuuu sakit bund, merah loh ini" rengek Abyan dengan mengusap bekas cubitan Nasha.


"Wleekk lasainn habisna Ayah nakal" ledek Zahra sambil memeletkan lidahnya


"Awasss ya kamu, Ayah mau jadi monster yang mau menculik princess, Arrgghhhhh" kata Abyan yang bersiap ingin menangkap putrinya.


"Aaaaaaaaaa bundaa, tolong Zalaaa" ucap Zahra tertawa sambil berlari ke mobil ayahnya.


Aku hanya tersenyum sambil geleng-geleng kepala melihat tingkah laku dua orang kesayanganku itu. Yang satu sangat cengeng, dan yang satunya lagi suka menggoda dan membuat anaknya itu menangis karena ngambek. Untung dirinya tidak mempunyai penyakit migran.


"Bundaa ayoo pulang" teriak Zahra sambil mengeluarkan kepalanya dari kaca mobil.


"Okee sayang" ucapku. Dengan segera aku berjalan cepat menuju ayah dan anak itu.


Didalam mobil pun Zahra terus bertanya apa saja mainan yang dibawa ayahnya, mulai dari Barbie berambut pirang, buku dongeng ibu tiri jahat (Cinderella), sampai stiker warna-warni yang ingin dia bagikan juga kepada teman-temannya.


"Ini aja deh stikelnya, ehhh yang ini ajaa, tapi Zala jugaa sukaa, jadi bingung" ucap Zahra yang sibuk memilih stiker mana yang akan dibagikan ke temannya.


"Gimana kalau stiker Spiderman ini, kan Zahra ngga suka sama gambar keropi" ucapku menunjuk stiker spiderman. "Abang Rio dikasih juga ya, kan stikernya banyak" lanjutku


"Ndaa mauu, lio nakal"


"Panggilnya abang Rio sayang, kan lebih tua abang Rio daripada Zahra" kata Abyan tersenyum sambil mengelus kepala putrinya, sedangkan tangan yang satu lagi digunakan untuk menyetir mobil.


"Lagian bukan maksud abang Rio nakal sayang, dia cuma mau ajak Zahra main, tapi Zahra selalu tolak sambil teriak-teriak" terang Nasha yang tengah memangku Zahra.


"Kasihan kan kalau abang Rio ngga dikasih, sedangkan teman-teman Zahra yang lain dikasih, coba Zahra bayangkan kalau diposisi abang Rio, pasti sedih kan? sambungku


"Huuuhhh, yaudah deh nanti Zalaa kasihh ke abang Lio, tapi dikit ajaa" jawab Zahra cemberut.


"Gapapaa dikit, yang penting haruss?" tanyaku.


"Ikhlass bunda" ucap Zahra.


"Pinternyaa anak bundaa" ucapku tersenyum.


"Eehhh anak ayah juga dong, masak anak bunda aja, iyaa ngga princess? tanya Abyan


"Ndaa mau, Zalaa anak bundaa aja"


"Ohh gitu ya sekarang, awas aja sampe rumah, ayah jadi monster lagi yang siap menculik princess"


"Hihihiiii, Zalaa sayang kok sama ayahhh, suelll ngga boong"


"Udah-udah, sekarang pincesnya bobok dulu ya dimobil, nanti sampe rumah bunda bantuin lagi pilih stikernya" kata Nasha.


"Oke bunda, muahhhh" cium Zahra dipipi Nasha.


Abyan memperhatikan keduanya dengan tersenyum, "Makasih ya sayang, udah jadi bunda yang baik untuk putri kitaa, maaf akhir-akhir ini aku sering sibuk sama pekerjaanku, jadi ngga punya waktu yang lebih untuk kalian berdua kecuali waktu cutiku"


"Aku ngerti kok mas, nggapapa yang terpenting Zahra ngga kekurangan kasih sayang dari ayahnya" kataku sambil mengambil salah satu tangan Abyan dan mengecup dengan mesra.


"Anna Uhibukka Fillah sayang" kata Abyan sambil mencium balik tangan Nasha.


"Ahabbakilladzi ahbabtani ilahuu imamku" jawab Nasha tersenyum menatap sang suami.


 


Alhamdulillah part 1 selesaiii, gimana nih part 1 nya??


.


.


Semoga ngga ngebosenin yahhh,


Yuukk langsung aja baca part selanjuttnyaaa🙌🏻


Selamat Membaca!