
Tookk tokkk tokkk
“Masukk” terdengar suara yang ku kenal dari dalam. Belum sempat mengucap salam, Zahra langsung berlari merebobos masuk pintu ruangan.
“Ayaaaaahhhhh” teriak Zahra dengan riang sambil merentangkan tangan meminta sang ayah untuk menggendongnya.
Terlihat Abyan sedang fokus dengan komputer dan berkas-berkasnya.
“Waaahhh princess ayah sudah pulang sekolah? Gimana sekolahnya hari ini?” tanya Abyan beranjak berdiri lalu menggendong Zahra dan mencium pipinya.
“Ayaah Zalaa dapat bintang lima loh, kata ibu gulu gambal Zala bagus, jadi Zalaa boleh ikut lomba gambal sama mewalnai, nanti Zalaa mau beli buku gambal sama bunda” terangnya antusias sambil memeluk leher Abyan.
“Waaahhh princess ayah memang hebat, ayah bangga sama Zahra” kata Abyan sambil mencium kepala Zahra.
“Eheeemm, Assalamualikum” ucapku memberi salam mengambil tangan Abyan kemudian menciumnya.
“Ehhh ada bunda, Waalaikumsalam bunda” jawab Abyan sambil terkekeh, lalu mencium keningku
“Gituu ya, mentang-mentang sekarang ayah udah pulang dari dinas, bunda jadi dilupain sama princess bunda” kataku pura-pura sedih.
“Hihihii bunda ngambek” bisik Zahra ditelinga Abyan.
“Gimana kalau kita gelitikin bunda?” bisik Abyan dan dijawab anggukan oleh Zahra.
“Satuuu duaaa tigaaa” ucap ayah dan anak itu barengan.
Terdengar suara kebahagiaan dari dalam ruangan itu, para dokter yang mondar- mandir lewat didepan pintu pun tersenyum dan sudah bisa menebak apa yang terjadi di dalam sana.
"Hosshh hosshh,,,, cukup bunda geli hahaha" tawaku memohon ampun karena kegelian, mas Abyan terus saja menggelitikiku sedangkan Zahra tertawa terbahak melihatku tertindas oleh ayahnya.
“Okeee bunda nyerah, kalian yang menang” ucapku capek sambil mendaratkan tubuhku disofa tidur diikuti oleh Zahra dan juga mas Abyan.
“Zalaa lapal bunda” rengek Zahra menarik ujung bajuku
“Astagfirullah, jadi lupa makan siang kan” ucapku sambil menepok pelan dahiku
“Bentar ya sayang, bunda panasin dulu makanannya di microwave” ujarku mengelus rambut Zahra kemudian beranjak menuju dapur mini dekat dengan ruang kerja mas Abyan.
“Mas makan siang sekarang ya? Biar sekalian aku hangatkan makanannya” tanyaku
“Bolehh deh, habis ketawa lapar juga” jawab Abyan yang berlanjut menggelitiki Zahra.
"Hahaha ampun ayahhh" ucap Zahra meronta kegelian.
"Awas monster datang hoarrrmmm" ucap Abyan tertawa.
Setelah menunggu beberapa menit, makanan sudah siap dimakan. Kita bertiga makan dengan lahap sampai-sampai anak dan suaminya itu meminta nambah dua kali.
Setelah kenyang mas Abyan kembali melanjutkan pekerjaan memeriksa data pasien yang tertunda, karena tiga puluh menit lagi dirinya akan melakukan operasi pada salah satu pasiennya.
Nama dokter Abyan memang sudah terkenal oleh para pasien bahkan orangtua dari pasiennya. Ini karena ketampanan dan keberhasilannnya setiap melakukan operasi bedah.
“Mas habis ini aku ijin kerumah mama ya, udah lama aku nggak kesana, mumpung ada waktu mau mampir bentar” kataku menghampiri meja kerja mas Abyan lalu memijat pundaknya.
“Okedeh, nggak nginep kan?” tanya Abyan masih fokus pada komputer.
“Enggak lah, kan besok Zahra masih sekolah, emang kenapa kalau nginep?” tanyaku penasaran.
“Kamu lupa ya nanti malem?” tanya Abyan yang sudah berdiri menghadap kearahku
“Emang ada acara apa mas?” ucapku panik karena mengira telah melupakan sesuatu.
“Acara buat adiknya Zahra” bisik Abyan sambil terkekeh, membuat raut wajahku cemberut karena merasa sudah dibohongi.
“Ishhh kamu nih, seneng banget sih bikin aku panik” ucapku sambil mencubit gemas perut mas Abyan.
Sedangkan Abyan tertawa terbahak menghindari cubitan mautku.
“Sakit sayang, kalau mau cubit ntar malem ajaa, biar makin beda sensasinya” ucap Abyan pelan karena takut putrinya itu mendengar perkataanya. Membuat kedua pipiku memerah seketika.
“Ihhh mas Abyan” rengek ku dan bersiap mencubit lagi perut mas Abyan.
Sebelum tanganku menyentuh perutnya, mas Abyan sudah terlebih dulu memegang tanganku dan memelukku dari belakang.
“I love you sayang” bisik Abyan sambil mencium pipiku.
Cuppp
“Love you too imamku” ucapku tersenyum manis lalu memeluk tubuh mas Abyan yang kekar.
“Pasti sayang, InsyaAllah” kata Abyan mengeratkan pelukannya padaku.
Sedangkan Zahra sedang asyik bermain game balon meletus diponsel ayahnya, mengabaikan ayah dan bundanya yang sedang bermesraan.
Tokk tokk tokk
Terdengar suara ketokan pintu, bergegas aku melepaskan pelukan mas Abyan, ya walaupun sedikit tidak rela sih hehe. Mas Abyan berdehem sebentar kemudian menyuruhnya masuk.
“Permisi dok, dokter sudah ditunggu oleh dokter Adit diruang operasi, karena lima belas menit lagi operasi akan segera dimulai” ucap suster yang kuketahui bernama Alya itu.
“Okee lima menit lagi saya kesana” kata Abyan sambil bersiap.
“Baik dok, kalau begitu saya permisi dulu, mari bu Nasha” kata Alya sambil tersenyum kearahku.
“Iyaa sus” jawabku tersenyum kearah Alya.
Setelah Alya keluar dari ruangannya, Abyan menghampiri putri kecilnya itu yang sedang serius bermain game di ponselnya.
"Sayang ayah lanjut kerja dulu ya, nanti pulang kerja ayah bawakan martabak keju kesukaan Zahra” kata Abyan memangku Zahra.
"Okee ayah, cali uang banyak-banyak ya biar Zalaa bisa beli mainan yang banyak” kata Zahra dengan posisi menghadap ke Abyan, terlihat rambut kuncir kudanya yang bergoyang mengikuti gerakan kepalanya.
"Hahaha siap princess" ucap Abyan yang terhibur dengan tingkah laku putrinya.
“Kalau gitu aku sekalian pamit kerumah mama sekarang ya mas” kataku bersiap ke rumah mama.
“Hati-hati dijalan ya sayang, maaf ngga bisa mengantar kalian” kata Abyan berdiri sambil menggendong Zahra.
“Nggakpapa mas,, ayoo Zahraa kita kerumah yangkung sama yangti sekarang?” tanyaku yang diangguki oleh Zahra. Kemuadian Abyan menurunkan Zahra dari gendongannya.
“Salim dulu sama ayah” ujarku
“Zalaa pelgi dulu ya ayah, mau ketemu kelly” kata Zahra dengan cedalnya, anak itu memang belum lancar menyebut huruf R.
(Kelly \= kucing kesayangan omanya Zahra)
“Baiklah princess nanti ayah usahakan pulang cepat ya, biar bisa main-main lagi sama princess" ucap Abyan yang diangguki Zahra.
“Yudah kita pergi sekarang ya? Aku pamit dulu,,, semangat kerjanya ayah” ucapku menyemangati mas Abyan.
“Okee sayang, kalian hati-hati yaa, jangan ngebut bawa mobilnya” pesan Abyan.
“Iyaa mas, siap deh pokoknya. Zahraa pamit dulu sama ayah sayang?” tanyaku menuntun Zahra.
“Dadah ayahhh, muachhh” pamit Zahra sambil mencium pipi ayahnya.
Aku mencium tangan mas Abyan dan dibalas kecupan hangat di keningku.
Setelah mengantar kita berdua sampai ke lift, mas Abyan segera bersiap melakukan operasi karena pasiennya sudah menunggu.
Dengan segera Abyan memakai pakaian pdrm berwarna hijau, masker dan sarung tangannya kemudian bergegas menuju ruang operasi.
----------------------------
Duhhh mimin jadi pingin punya suami dokter😭
.
.
Babang Abyan idaman kaum hawa pokoknya mah😍
.
.
Mari berhalu sejenak wkwkk, lanjut nggak nih??
.
Haahh apa??? lanjut??
.
Yaudahh cuss lanjut eps berikutnya🙌🏻