
Selama perjalanan menuju rumah kakeknya, Zahra begitu bersemangat karena akan bertemu dengan Kelly, entah mengapa Zahra sangat menyukai kucing gemuk itu, mungkin karena kerjaaanya yang hanya makan dan tidur yang membuat kucing itu sedikit lebih mont*k dari kucing biasanya.
Sebelum tiba dirumah papa Irsyad, aku mampir ke kedai buah dipinggir jalan untuk membeli beberapa buah untuk mertuaku.
Begitu selesai memarkirkan mobil di halaman rumah, Zahra langsung turun dan bergegas menemui yangkungnya yang sedang berada di kolam memberi makan ikan. Aku memperingatkannya supaya tidak berlari, namun sia-sia karena terlihat Zahra sudah berlari menuju kearah kakeknya yang sedang memberi makan ikan koinya.
“Yangkuungg” teriak Zahra sambil berlari menuju kolam ikan yang banyak ikan warna-warninya.
“Ehhhh, cucu Yangkung datang juga akhirnya” ucap papa Irsyad sambil menggendong Zahra dan menguyel-uyel pipi chubby nya.
“Assalamualaikumnya mana?” tanya papa Irsyad.
“Hehehe, lupa Yangkung. Assalamualaikum Yangkung” kata Zahra imut sambil mencium tangan lelaki paruh baya itu.
“Aduuh, manisnya cucu Yangkung” gemas papa Irsyad.
“Waaaahhh, ikannya banyak bangett, Zalaa mau yang melah” Zahra berteriak kegirangan.
“Boleh, nanti Yangkung tangkapin buat dibawa Zahra pulang ya. Tapi janji sama Yangkung kalau bakal jaga ikannya baik-baik” ucap papa Irsyad.
“Janji” ucap Zahra berjanji.
Setelah selesai mengambil buah di kursi belakang, aku menghampiri papa Irsyad yang sedang menggendong Zahra.
“Assalamualaikum pa” ucapku sambil mencium tangan papa Irsyad.
“Waalaikumsalam, putri papa sudah datang ternyata, Abyan nggak ikut nak?” tanya papa Irsyad.
“Mas Abyan lagi banyak pasien pa, jadinya belum bisa kesini” jelasku.
“Oh begitu toh, yaudah gih masuk. Itu mama lagi masak nila goreng, tadi pagi papa mancing sama kang Mamat di empang deket warung pak Darko” jelas Abi Irsyad yang memang dimasa tuanya hobi memancing.
“Waahh pas banget nih, dari kemaren Mas Abyan pingin makan nila goreng yang dari empang langsung katanya biar ikannya lebih enak kalau dimasak, tapi Mas Abyan belum ada cuti libur” ucapku.
Saat sedang asyik berbincang dengan papa Irsyad, mama nita keluar.
“Ehhhhh siapa ini yang datang, papa ini gimana sih, masak putri sama cucu yangti dateng nggak panggil mama. Untung tadi mama denger teriakannya Zahra jadinya buru-buru matiin kompor terus kesini” sela mama nita yang datang dari dalam rumah, masih memakai celemek masaknya.
“Hehehee, Assalamualaikum ma kok tambah cantik sih” ucapku terkekeh sambil menyalami mama mertuaku.
“Waalaikumsalam, ahhh kamu ini bisa aja sha, udah tua ini” kata mama sambil cemberut.
“Lohh Nasha bicara sesuai fakta kok, iya kan pa?” tanyaku pada papa Irsyad.
“Uhhh serratus persen bener, cuma mama yang bisa bikin papa klepek-klepek pokoknya” ucap papa Irsyad.
“Hahaha dasar aki-aki satu ini nggak malu apa diliatin anak sama cucunya?” gemas mama mencubit perut suaminya yang sedikit buncit itu.
“Lagian heran banget sama nih perut, bayinya kapan keluar ya” gumam mama sambil mengelus perut buncit papa Irsyad.
Dan seketika semua tertawa karena ucapan mama, kecuali papa Irsyad yang semakin cemberut.
“Ahh mama, ini semua salah mama tau nggak perut papa sampe bisa buncit gini” lesu papa Irsyad.
“Kok salah mama?” sewot mama.
“Ya iyalah, habisnya mama kalau masak enak terus. Udah tau perut papa nggak ada remnya, mana bisa perut papa berhenti makan” ucap papa.
“Ah sudahlah abaikan aki-aki satu ini, masuk yuk tuh kelly daritadi rebahan terus. Katanya Zahra mau main sama kelly?” tanya mama.
“Waaahh kelly dimana yangti?”
“Tuhh didepan TV, yangti lanjut goreng ikannya dulu ya, Zahra main dulu aja sama kelly" kata mama menunjuk kucing gembul itu.
“Nasha bantu ya ma” ucapku sambil menggandeng lengan mama menuju dapur.
Sedangkan Zahra yang setia digendongan sang kakek menuju ruang keluarga untuk melihat Kelly.
Setelah semua makanan tersaji di meja makan, tampak Zahra yang paling menyukai nila goreng, mungkin turunan dari sang ayah, dengan senang hati aku membantu Zahra memisahkan duri dan daging ikannya.
Disaat semua sedang menikmati nila goreng bikinan yangti, pintu ruang tamu ada yang mengetok.
Tookkk tokk tokkk
“Yaudahh, tolong lihat siapa yang datang ya sha” ucap mama.
“Okee ma” setelah membersihkan mulutku dengan tisu aku bergegas keruang tamu dan melihat siapa yang datang.
Terlihat seorang wanita paruh baya yang masih terlihat cantik dengan seorang pemuda disampingnya.
“Assalamualaikum nak, betul ini rumah mbak Nita dan mas Irsyad?” tanya perempuan paruh baya itu.
“Waalaikumsalam tante, benar ini rumah mama Nita dan papa Iryad” jawabku tersenyum
“Siapa yang datang sayang?” tanya mama Nita yang menyusul keruang tamu.
“MasyaAllah Mira, ini beneran kamu kan?” pekik mama senang.
“Hahaha iya nit, MasyaAllah kamu masih cantik aja lama nggak ketemu” tawa tante Mira.
“Ahh bisa aja kamu ini, ehhh ini Adnan ya?” tanya mama Nita.
“Iyaa tante, tante apa kabar?” jawab seseorang yang kuketahui bernama Adnan itu.
“Alhamduliha tante baik, wahh udah besar ya sekarang dulu masih kecil waktu main sama Abyan” kata mama terkekeh. “Lohh Salwa nggak ikut?” sambung umi.
“Salwa besok baru kesini. Dia ikut suaminya di Jakarta, tapi dua tahun lalu suaminya meninggal gara-gara kecelakaan, jadinya sekarang memutuskan buat tinggal disini lagi” kata tante mira sendu.
“Innalililahi” gumamku.
“Maaf ya mir” kata mama tak enak hati.
“Nggakpapa nit, untung saja ada Aydan yang bisa buat salwa semangat lanjutin hidup” jelas tante mira.
“Aydan ?” tanya mama
“Iyaa Aydan, anak salwa dan almarhum suaminya”
“Kasihan sekali salwa. Astagfirullah sampe lupa nyuruh masuk, ayoo masuk mir aku panggilkan Mas Irsayd dulu” ucap mama ingin memanggil papa.
“Biar Nasha yang panggil papa aja ma, sekalian Nasha pamit mau pulang, sebentar lagi Mas Abyan pulang” kataku yang melihat jam menunjukan pukul empat sore. “Sudah lama juga aku disini” batinku.
“Ya sudah pulangnya hati-hati ya bawa mobilnya, itu nila gorengnya sudah mama siapkan di Tupperware, tinggal kamu bawa aja” kata mama.
“Okedeh, kalau gitu Nasha kedalam dulu, mau lihat Zahra sekalian panggil papa” terangku lalu masuk kedalam rumah.
“Dia menantu kamu nit?” tanya tante mira.
“Iyaa mir” ucap mama tersenyum.
“Cantik ya” puji tante mira.
“Hahaha iyaa dong, menantu siapa dulu” kata mama bangga.
Setelah masuk aku melihat Zahra tertidur dipangkuan papa, dengan segera aku menggendong Zahra kemudian memberitahu kalau mama memanggil papa diruang tamu.
Sambil menggendong Zahra aku berpamitan kepada semuanya, namun saat berpamitan pada seseorang yang kuketahui bernama Adnan itu dia terus saja menatapku tajam.
“Ada yang salah ya denganku?” gumamku dalam hati. Ah biarlah masa bodoh, dengan segera aku keluar dan pulang kerumah.
Yuhuuuuuu,,, kira-kira kenapa ya babang Adnan menatap Nasha begitu?? Hmmmmmm,,, cyeee penasaran wkwkwkkk
.
.
Lanjut dulu yuk bacanya, ntar tau kok kenapa dia menatap Nasha begitu😉
.
.
Happy Reading 🤗