
Pagi ini aku berniat datang ke Caffe, sudah lama juga aku tidak kesana. Setelah mas Abyan dan Zahra pergi aku segera bersiap. Aku memilih dress berwarna cream tanpa lengan dengan tali dipinggang, ditambah bandana berwarna senada kubiarkan rambut panjang coklat ku tergerai setelah itu barulah berangkat.
Tiba di Acha’s Caffe, aku segera memakirkan mobilku tepat dibawah pohon yang lumayan rindang, lalu masuk ke caffe dan melihat hari ini lumayan ramai. Baru saja dua langkah memasuki Caffe, terdengar suara cempreng memanggilku.
“Mbaaa Nashaaaa” teriak Dinda sambil berlari menghampiriku, Dinda merupakan salah satu karyawan kepercayaanku yang memiliki suara khas yang cempreng.
“Astagfirullah Dinda, mbak kaget tau” jawabku sambil mengelus dada karena kaget mendengan teriakan Dinda yang sudah ku anggap seperti adik sendiri.
“Lagian kamu ini, dateng tuh ngucapin salam atau sambutan, nah ini malah dikagetin, untung mbak nggak punya penyakit jantung” sambungku.
Sedangkan Dinda hanya tersenyum dengan wajah tanpa dosa sambil menunjukan gigi gingsulnya. Wajarlah karena saat ini kita bedua menjadi pusat perhatiaan karena suara cepreng Dinda yang menarik perhatian.
“Habisnyaa, udah seminggu ini mbak Nasha nggak dateng ke caffe, kan berasa ada yang kurang gitu, biasanya kalau waktu istirahat mbak Nasha yang suka traktir Dinda hehe”ucap Dinda malu-malu.
“Ohhh jadi kangen sama traktirannya bukan sama orangnya? Kalau gitu mbak nggak mau lagi traktir kamu” ucapku sambil berjalan keruangan atas.
“Eehhh kok gitu, yaahhh jangan dong mbak, nanti Dinda gak bisa nyisihin uang untuk beli obat buat ibu dirumah” kata Dinda dengan tampang memelasnya.
Dinda adalah seorang perempuan berumur 19 tahun, ia sudah lulus sekolah satu tahun yang lalu. Ayahnya sudah meninggal sejak Dinda masih SMP, dan sekarang ia hanya tinggal bersama ibunya yang sedang sakit.
Saat Dinda pulang sekolah dulu, ia menemukan ibunya sudah pingsan dikamar mandi, hari itu hujan deras Dinda meminta tolong warga untuk membantu membawa ibunya kerumah sakit dan secara tidak sengaja Nasha sedang berada di Indomaret dekat dengan rumah Dinda, kemudian ia bertanya kepada warga apa yang terjadi.
Dengan menembus hujan Nasha datang kerumah Dinda dan menawarkan tumpangan untuk mengantarkan ibu Dinda kerumah sakit milik keluarga suaminya. Saat tengah menunggu ibunya diperiksa, Dinda bercerita jika tadi dirinya ingin memberitahu ibunya bahwa dirinya telah lulus dengan nilai yang tinggi, namun saat ia pulang malah dirinya yang terkejut melihat sang ibu sudah tergeletak tak berdaya dikamar mandi. Dinda ingin mencari pekerjaan untuk membantu biaya hidup dirinya dan sang ibu untuk kedepannya.
Nasha yang mendengar itupun menjadi tersentuh. Ia menawarkan pekerjaan untuk Dinda dengan menjadi karyawan di Caffe miliknya. Mendengar hal itu Dinda tersenyum kegirangan, ia pun dengan cepat menyetujuinya. Itulah awal mula Nasha bertemu dengan Dinda.
“Hahahah, mbak bercanda din, kamu tuu kaya nggak kenal mbak ajaa” ucap Nasha sambil mngacak rambut Dinda.
“Ihhh mbak, jangan diberantakin rambut Dinda” kata Dinda cemberut.
“Hehehe iyaa-iyaa, yaudahh mbak keatas dulu ya, mau ngecek laporan keuangan minggu ini, kamu yang semangat kerjanya” kataku menyemangati.
“Siapp mbak, Dinda semangat banget ini” ucap Dinda mengangkat tangan tanda semangat empat lima.
“Yaudah mbak keatas ya”
“Okee mbak” jawab Dinda
Jam sudah menunjukan pukul 09.30 WIB, waktunya menjemput putri kecilku di sekolah. Dengan segera aku membereskan meja yang terdapat kertas-kertas laporan keungan minggu ini, mengumpulkannya menjadi satu kemudian ku masukan kedalam map merah yang terdapat di rak sebelah kiriku. Kemudian mengambil hp dan juga kunci mobilku lalu bergegas turun kebawah menemui Dindaa.
“Din, ini uang buat kamu beli makan yaa, mbak ngga bisa nemenin kamu, mau jemput Zahra, udah mepet soalnya” aku memberikan uang berwarna biru kepada Dinda.
“Wahhhh gede banget mbak uangnya, aku ngga ada kembaliannnya”
“Ngapapa buat kamu aja kembaliannya, yaudah mbak pamit dulu ya Assalamualaikum” ucapku.
“Waalaikumsalam, ati-ati mbak jangan ngebut” teriak Dinda yang lumayan keras karena aku sudah berjalan agak jauh. Aku hanya melambaikan tangan.
Setelah sampai disekolah, aku melihat anak-anak baru keluar dari ruang kelasnya. Bergegas aku turun dari mobil untuk menunggu putri kecilku keluar sembari bersender pada mobil, mataku menajam dan menyipit menatap satu persatu anak yang keluar dari ruang kelas.
“Bundaaaaa” teriak Zahra sambil berlari kearahku, akhirnya yang ditunggu keluar juga.
“Haii princess, aduhh seneng banget kayaknya?” tanyaku sambil mengelap keringat yang ada didahi Zahra.
“Bundaa, Zalaa dapat bintang lima mewalnainya, kata ibu gulu Zala mau ikut lomba mewalnai, Zalaa tadi gambal gunung gedeee banget telus ada lumahnya juga” cerita Zahra dengan antusias.
“Ohh ya? Pinter banget sih anak bunda, terus ibu guru bilang apalagi?”
“Waahhh kalau gitu nanti dirumah Zahra belajar mewarnai lagi ya? Nanti sebelum pulang bunda beliin buku mewarnai yang baru, tapi sekarang kita ke tempat ayah dulu ya, mau nganterin bekal buat ayah. Ayah belum makan siang soalnya, kan sebentar lagi jam makan siang, Zahra juga lapar kan?” tanyaku.
“Asikkkkk ke tempat ayah, pasti ada Yangkung juga kan bund?” tanya Zahra (Yangkung \= Eyang Kakung)
Papa Irsyad merupakan pemilik rumah sakit Al Ghifari tempat Abyan sekarang bekerja. Beliau hanya memiliki seorang putra yaitu Abyan.
“Yangkung udah nggak kerja di rumah sakit sayang soalnya sekarang Yangkung nggak boleh kecapekan” kataku menjelaskan.
"Nanti setelah dari rumah sakit kita mampir kok kerumah Yangkung, tapi sekarang kerumah sakit dulu ya ketemu ayah" sambungku
“Yaudah ayoo belangkat bunda, Zalaa mau celita ke ayah kalau Zala dapet bintang banyak-banyak” ucap Zahra sambil masuk ke mobil.
“Siapp berangkat princess?” tanyaku setelah selesai memasang sabuk pengaman Zahra.
“Letsssss Gooo” teriak Zahra dengan tertawa.
Selama perjalanan Zahra bercerita jika teman-temannya sangat suka diberi oleh-oleh stiker olehnya terutama Rio. Zahra juga bercerita kalau rio sangat baik hari ini, mungkin gara-gara terlalu senang mendapat stiker jadinya melupakan pertengkaran mereka sejenak.
Aku terkekeh dalam hati, lama juga tidak bertemu dengan duo curutku itu, siapa lagi kalau bukan Regina dan Ryan.
“Sayang besok kerumah Rio yuk, temani bunda ketemu sama tante Regina dan om Ryan” ajakku sambil fokus menyetir mobil.
“Asikkkk, okee bunda, katanya lio juga mau kasih mainan buat Zalaa” kata Zahra
“Okee, besok sekalian bunda bawain baju ganti buat Zahra, biar besok kita langsung kesana nggak usah pulang dulu” ujarku
“Okee bunda” kata Zahra
Setelah sampai dihalaman parkir rumah sakit, aku dan Zahra segera ,masuk ke lift menuju ruang kerja Mas Abyan yang terletak dilantai paling atas, lantai yang diperuntukan hanya untuk keluarga Al Ghiffari. Selama melewati jalan menuju ke lift, banyak suster dan staff, baik OB maupun satpam yang menyapanya.
Aku membalas dengan senyuman dan memberikan semangat kepada karyawan yang bekerja di rumah sakit itu.
Setelah sampai dilantai paling atas, aku membaca papan nama yang terletak didepan pintu ruangan milik suamiku itu. "dr. M.Abyan Al Ghiffari.,Sp.B"
Yukkk bisaa yukkkk🙌🏻
.
.
Masih tahap pengenalan kehidupan Nasha ya guyss wkkwk.
.
Jangan lupa like & commen😉
.
.
Semangat menjalani PPKM & tetap staf safe everyone 🌻