About Claire

About Claire
Alice



Lia POV


Pukul lima pagi alarm di kamarku berbunyi yang membuatku terbangun dan segera mandi.


Setelah mandi aku langsung menggati pakaianku menggunakan seragam sekolahku. Setelah itu, aku menyisir dan mengepang dua rambutku. Terakhir aku menggenakan kacamata.


Sebenarnya mataku tidaklah rusak. Namun, entah karena apa aku mulai suka memakai kacamata. Terhitung sejak aku masuk SMA, aku lebih suka memakai kacamata dan mengepang dua rambutku.


Setelah semua sudah siap aku langsung keluar kamar untuk sarapan dengan keluargaku.


"Selamat pagi ayah, ibu" sapaku sembari mencium kedua pipi mereka berdua.


"Selamat pagi Lia" jawab mereka bersamaan.


"Ayo sarapan, ibu telah membuat nasi goreng dan telur goreng" kata ibu


"Iya bu....nanti aku bawa bekal juga yah seperti biasa" kataku sambil mengambil nasi goreng dan telur goreng ke piringku.


"Iya, susah ibu siapkan. Oh ya Lia, kenapa kami terus memakai kacamata itu dan mengepang dua rambut kamu? Kamu kan lebih cantik jika kamu menggerai dan tidak memakai kacamata itu" kata ibu...


"Iya benar Lia apa yang dikatakan ibumu memang benar dan dengan tampilanmu ini bisa membuat teman-temanmu membully kamu, nak" kata ayah dengan nada khawatirnya.


"Tidak kok ayah,ibu. Aku senang dengan tampilanku seperti ini dan apa salahnya jika aku memakai kacamata dan mengepang rambutku. Tapi, aku juga seperti ini agar aku tidak dikejar-kejar oleh anak-anak laki-laki seperti waktu SMP dulu. Lagipula aku tidak pernah dibully" jawabku panjang lebar disertai senyum yang di paksakan.


"Maafkan aku ayah, ibu sudah berbohong kepada kalian soal pembullyanku di sekolah. Aku tidak ingin kalian khawatir kepadaku" gumamku


Oh yah, memang benar waktu masih SMP banyak sekali anak laki-laki yang mengejarku bahkan mereka yang tidak sekelas denganku rela membolos kelas hanya untuk melihatku dan itu membuatku sangat risih. Jadi, waktu aku masuk SMA aku merubah penampilanku supaya aku tidak dikejar-kejar lagi oleh para anak laki-laki.


Pov end


Setelah selesai makan dan mengisi bekalnya di dalam tas, Lia langsung berpamitan kepada kedua orang tuanya.


"Ayah, Ibu Lia ke sekolah dulu yah" kata Lia dan tak lupa kembali mencium kedua pipi orang tuanya.


"Iya hati-hati di jalan ya nak" kata Emilia ibunya


"Belajar yang benar ya Sayang" tambah ayahnya yaitu Arthur


"Iya iya dadah ayah,ibu" kata Lia sambil melambaikan tangan kepada ayah dan ibunya


Setelah itu, Lia langsung berjalan ke halte Bus yang tidak jauh dari rumahnya.


Tak menunggu lama bis pun datang dan Lia langsung naik Bus itu. Lia mengambil tempat duduk di samping jendela sambil memasang headset ke telinganya.


Yah, walaupun tampilan Lia seperti seorang nerd. Tapi Lia tidak selalu dia membaca buku dimanapun dia berada.


15 menit kemudian


Lia pun segera menuju ke kelasnya. Di sepanjang koridor ia hanya melihat beberapa murid yang lewat karena ini masih sangat pagi. Jadi, murid-murid yang sudah datang di sekolah masih sedikit.


Tak menunggu lama Lia pun sampai di kelasnya...XI MIPA 2 (bacanya sebelas mipa dua). Setelah duduk di tempat duduknya gadis itu pun membuka buku pelajaran kimia dan membacanya ulang karena sebentar kelas Lia akan mengadakan ulangan harian.


Lia harus belajar dan mendapat nilai yang bagus. Ia tidak ingin beasiswanya dicabut karena nilainya menurun.


Sambil membaca buku gadis itu mendengarkan lagu pada headsetnya.


Meskipun mendengarkan lagu, Lia tetap dapat mengerti semua materi yang dia pelajari.


Itu tidak akan mengganggu konsentrasi belajar seorang Lia. Bahkan, itu sudah menjadi kebiasaan gadis tersebut.


Saat tengah fokus belajar tiba-tiba ada orang yang menggebrak mejanya.


'Brakk'


Hal itu membuat Lia kaget dan menoleh kepada orang yang menggebrak mejanya.


Segera Lia melepaskan headset yang tengah dipakainya setelah tau siapanya yang menggebrak mejanya.


Lia pun takut ketika melihat orang yang menggebrak mejanya tadi.


"Kam...kamu mau apa A...Alice?" tanya Lia terbata-bata karena takut kepada orang yang sering membullynya itu.


Ya Alice adalah anak yang sering membully Lia. Bahkan sejak masuk SMA Alice yang pertama kali membully Lia.


"Jangan takut Lia, aku cuma mau kamu membantuku saat ulangan kimia nanti. Kamu kan pintar bahkan kamu bisa mendapat beasiswa full dari sekolah ini" jawab Alice dengan nada sedikit mengejek ketika membicarakan soal beasiswanya Lia.


"Ak...aku tidak bisa...me...memangnya kamu tidak be...belajar? Kan minggu..."


"HEH..... CLAIRE.... ADELIA... JEAGER KAMU MELAWAN PERKATAANKU HAHH? AKU ADALAH  ALICE ISABELLE BENINGTHON ANAK PEMILIK DARI SEKOLAH INI...AKU BISA SAJA MENYURUH AYAHKU UNTUK MENCABUT BEASISWAMU ITU AGAR KAMU TIDAK DAPAT SEKOLAH LAGI DI SINI...MAU?"


Belum selesai berbicara, Alice langsung memotong kalimat Lia dan mengancamnya.


Lia pun langsung melotot kaget ketika mendengar beasiswanya akan dicabut.


Lia tidak mau, ia tidak ingin orang tuanya sedih dan lebih menyusahkan mereka, itu tidak boleh terjadi.


"Ba...baiklah aku...aku akan membantumu. Tapi, kamu janji tidak akan mencabut beasiswaku" jawab Lia.


Meskipun hal yang dilakukannya ini tidak benar tapi Ia tidak punya pilihan lain.


Ia tidak mau beasiswanya dicabut.


"Anak pintar" kata Alice disertai senyum kemenangan.