
'*Carissa mau Bang Arya putus dengan Kak Erika*.'
'*Abang butuh alasan Ica*.'
"CARISSA PUTRI ELEANOR!!"
Carissa mengangkat kepalanya dan melihat semua murid menatap ke arahnya termasuk guru killer yang berdiri di depan kelas.
"Ica ..." bisik Amanda.
"Kamu tidur lagi di kelas!?"
"Ng-gak, Pak."
"Cuci muka kamu sekarang!"
Amanda menyenggol siku Carissa, menyadarkan sahabatnya yang masih linglung. Carissa mengangguk pelan dan beranjak dari tempatnya.
"Saya izin ke toilet, Pak," pamit Carissa sambil membungkuk.
*
Carissa memegang pinggiran wastafel untuk menopang beban tubuhnya lalu menunduk menenangkan pikiran. Percakapan terakhir antara dirinya dan Arya selalu terngiang dalam kepala. Walau sudah satu bulan lebih mereka tidak pernah lagi bertemu.
Arya menghilang seperti ditelan bumi. Tidak pernah menampakkan batang hidungnya di rumah atau menghubungi Carissa melalui telepon. Mungkin Erika tahu apa yang terjadi pada Arya.
Terkadang Carissa merasa senang karena lebih mudah melupakan perasaannya pada Arya. Terkadang juga dia sangat merindukan Arya.
Carissa memegang perutnya yang kembali kram. Sudah dua minggu dia merasakan kram mentruasi. Dia beranjak dari toilet dengan setengah membungkuk.
"Gue bantu."
Carissa terkejut dengan kemunculan Felix. Cowok itu merangkulnya sampai ke bangku panjang yang tidak jauh dari toilet.
"Thanks," ucap Carissa melihat sekilas Felix disamping.
Felix meresponnya dengan senyuman.
"Gak balik ke kelas?" tanya Carissa.
"Gue dikeluarin dari kelas gara-gara lupa bawa buku paket." Tatapan Felix lurus ke depan. "Lo sendiri?" Beralih menatap Carissa.
"Gue disuruh cuci muka sama Pak Bambang."
"Pasti ketiduran," tebak Felix.
Carissa mengangguk malu, spontan Felix tertawa kecil.
"Ikut gue, yuk!" ajak Felix.
"Mau kemana?" Carissa memasang ekspresi heran.
Bukannya menjawab, Felix justru meninggalkan Carissa. Sempat berpikir sejenak sebelum memutuskan mengikuti Felix dari belakang.
Carissa sangat hafal dengan lorong yang mereka lewati akan membawa mereka ke suatu tempat.
"Lo yakin gak apa-apa?" tanya Carissa ragu. Masalahnya dia tidak pernah melakukan ini.
"Asal gak ketahuan, aman." Felix membuka pagar besi yang sudah usang.
"Lagian mereka gak akan mengira kita di sana," lanjut Felix sambil mempersilahkan Carissa jalan duluan.
"Ayo!" Felix menyentuh pundak Carissa.
Mereka mengarah ke sebuah tenda biru. Satu-satunya angkringan di belakang sekolah yang selalu rame di jam istirahat dan pulang sekolah.
"Lo gak apa-apa, kan, makan di sini?'' tanya Felix memastikan.
"Iya gak apa-apa, kok.'' Carissa mengangguk yakin.
''Tenang aja, semua makanan di sini higienis. Bahan nya juga dari bahan-bahan baru dan berkualitas Lo gak akan terserang diare hanya karena makan disini," jelas Felix.
Carissa hanya mengangguk. Dia fokus memperhatikan menu yang tersedia, ada beberapa macam gorengan dalam etalase, berbagai rasa mie instan goreng dan rebus, dan beberapa jenis minuman panas dan dingin.
Ini pertama kali Carissa duduk disini, walaupun sudah cukup lama tau tempat ini. Udaranya sejuk dan lingkungan nya tenang. Jarang ada kendaraan berlalu lalang, mungkin karena jalan di ujung sana buntu.
"Lo mau makan apa?'' tanya Felix.
"Samain aja kayak punya Lo," jawab Carissa. Sejujurnya dia bingung menentukan makanan yang dia pilih.
Felix sempat terdiam sebentar, setelah itu mengangguk.
"Buk, kayak biasa dua porsi!'' Teriak Felix yang sudah menjadi kebiasaanya.
"Siap Mas Felix." Wanita kisaran empat puluh tahun tersenyum ramah.
Keringat mengucur dari pelipis Carissa. Wajahnya memerah dan hidung berair. "Lo ngerjain gue, ya!" setengah emosi.
"Ini! Gila pedes banget!'' jerit Carissa.
"Kan, Lo yang minta menu nya disamain kayak gue!"
Felix dan Carissa makan mie dengan kuah merah dari cabai, ditambah telur rebus setengah matang. Mau berhenti, tapi rasanya bikin nagih. Kalau dilanjut bikin emosi.
"Kalau gak sanggup, jangan dilanjut!" Felix memperingati Carissa. Khawatir kalau gadis disampingnya pingsan akibat ulahnya.
"Kalau gue sudah terlatih," sambung Felix.
Lima belas menit kemudian dua mangkuk mie pedas habis oleh mereka. Carissa tersenyum puas, gak sia-sia dia ikut dengan Felix. Selain mengenyangkan, pikirannya kembali segar.
"Buk, ini uang nya.'' Felix menyerahkan uang dua puluh ribu rupiah untuk dua mangkok mie instan dengan telur, dan dua gelas es teh.
"Thanks, ya," ucap Carissa di jalan balik ke sekolah.
"Buat apa?" heran Felix.
"Sudah ngajak gue ke tempat tadi terus di traktir makanan."
Felix terkekeh. "Itu bukan apa-apa," jawab Felix, "Lain kali gue ajak Lo makan di tempat yang lebih baik."
Carissa menunduk. Dia merasa tidak enak pada Felix yang masih bersikeras menunggu dan mengharapkan nya.
"Felix," panggil Carissa sebelum cowok itu membuka pagar usang.
"Ya, Carissa, kenapa?"
Felix dengan sabar menunggu Carissa membuka suara.
"Mm ..."
"FELIX, CARISSA!!"
"Bencana," kata Felix pelan ke arah Carissa yang tercengang.
"Kalian berdua!! Ke lapangan!!" teriak guru BK wanita paruh baya.
Felix meraih tangan Carissa dan membawanya berlari pelan.
Di bawah matahari Felix dan Carissa berlari mengitari lapangan. Padahal jam masih menunjuk angka sembilan pagi, tetapi cuaca cukup terik.
"Maafin gue ..." ucap Felix sedikit keras.
"Maaf kenapa?" Carissa menengok Felix yang berlari sejajar dengannya.
"Gara-gara gue, Lo jadi di hukum!"
Carissa tersenyum, "Ini bakalan jadi pengalaman yang gak terlupakan bagi gue," sahut Carissa sumringah.
"Maksud Lo?'' Felix mengkerutkan alis.
"Selama gue sekolah dari TK sampai sekarang, baru ini ngerasain di hukum lari mutarin lapangan."
"Terus?" tanya Felix masih kebingungan.
"Gue ngerasa KEREN pernah ngerasa seperti ini!" Carissa membentangkan tangannya.
Felix tertawa terbahak-bahak. Menurutnya Carissa konyol juga polos. Gadis yang dia cintai selama kurang lebih tiga tahun.
Felix mengikuti Carissa membentangkan tangan seperti burung yang mengepakkan sayapnya.
**
Carissa melompat ke kiri dan ke kanan seperti anak kecil yang sedang gembira. Rambut panjangnya mengikuti ritme geraknya.
"Bunda ... Carissa pulang!'' seru Carissa semangat.
"Bunda ...!'' Carissa mencari sosok wanita penuh kelembutan.
"Bunda lagi gak di rumah, Cha," sahut Erika keluar dari arah dapur.
Erika membawa nampan berisi dua gelas minuman dan cemilan.
"Lagi ada tamu, ya?"
Erika menggeleng. ''Kamu ganti baju terus makan.'' Erika menggerakkan kepalanya ke kiri.
Carissa mengangguk paham. Dia berjalan lebih dulu dari Erika.
Saat sampai diruang keluarga, Carissa syok dengan pemandangan di depannya. Pria yang menggangu pikirannya sedang duduk bersandar pada sofa.
Mata Arya dan Carissa sempat bertemu sebelum Arya menarik kembali tatapannya. Tidak ada suara yang keluar dari mulut Arya. Pria itu hanya diam begitu melihat Carissa.