About Carissa

About Carissa
Permintaan Carissa



Carissa menjatuhkan tubuh ke atas kasur setelah seharian beraktifitas. Untung saja Arya tidak jadi mengantarnya pulang, pria itu membelokan mobilnya dan melaju membelah jalanan Kota.



Sempat cemas Arya akan mengantarnya ke sekolah, dan berbuat sesuatu agar Carissa bisa masuk sekolah tanpa melewati masa skorsing. Seperti yang pernah Arya lakukan ketika Carissa masih SMP.


Flashback 13 jam lalu ....


Carissa duduk diam di dalam mobil yang dilajukan Arya. Dia merasa sedikit lega karena Arya mengambil jalan yang bukan menuju sekolahnya.



'*Dia mau ke mana, sih, sebenarnya*?' batin Carissa sambil melirik Arya.



Satu jam berlalu. Arya memarkirkan mobilnya di depan gedung besar bertuliskan sebuah nama perusahaan yang tidak asing di ingatan Carissa.



"Ayo turun!" ucap Arya menyadarkan Carissa.



"Mau ngapain?" tanya Carissa heran.



Tanpa menjawab pertanyaan dari Carissa, Arya berjalan lebih dulu. Carissa hanya bisa mengumpat dalam hati karena sudah lelah bertengkar.



Di belakang Arya, Carissa memperhatikan seluruh pegawai menghormati Arya layaknya seorang atasan. Bahkan Arya berjalan dengan gagah dan percaya diri, sambil menyapa balik pegawai yang menyapa dirinya.



'*Ck. Pemandangan macam apa ini, sudah kaya di drama aja*.'



"Mana ada bos perusahaan berpenampilan seperti dia," monolog Carissa sangat pelan.



Carissa mengamati penampilan Arya dari kepala sampai kaki. Yang hanya memakai *sweater* warna krem dan celana bahan warna hitam.



"Maaf Nona, ada yang bisa saya bantu?" pertanyaan itu membuat Carissa berhenti sambil melihat sekelilingnya.



Carissa yang kebingungan spontan melirik Arya yang berdiri di depan lift. Arya menahan senyum sambil menaikkan sebelah alisnya.



"Tidak apa-apa Mila, dia adik sekaligus asisten saya." Arya menatap lembut ke arah Mila, namun berbeda saat menatap Carissa.



Raut wajah Mila berubah drastis. "Maaf Pak Arya, saya tidak tahu. Maafkan saya Nona." Mila menunduk dan membungkuk karena merasa bersalah.



Arya mengangguk sebagai jawaban dari permintaan maaf Mila. Lalu menyuruh Carissa mengikutinya masuk ke ruangan bertuliskan CEO (*Chief Executive Officer*).



Carissa terperangah mengetahui profesi Arya yang sebenarnya. Dia pikir selama ini Arya bekerja *freelance*, atau seorang karyawan biasa, karena penampilannya yang terlalu biasa-biasa saja.



"Karena saya sudah membantu kamu, sebagai imbalannya kamu harus menjadi asisten saya selama masih di sini." Arya duduk di kursi kebesarannya.



Carissa melongo. '*Apaan dia pake panggilan saya dan kamu. Terus, jadi asisten*.' Carissa menjerit dalam hati.


Flashback off.


"Ais ... Bang Arya benar-benar sempurna." Carissa menyunggingkan senyum.



Carissa mengerjapkan mata beberapa kali memastikan pengelihatannya benar berbayang. Sejenak dia mengistirahatkan matanya dengan terpejam.



Tiba-tiba haus melanda Carissa, membuat dia keluar kamar untuk mengakhiri dahaganya. Hanya dalam hitungan detik segelas air dingin lolos sempurna mengaliri kerongkongan.



"Ica!" teriakan Bunda membawa Carissa beranjak, namun telinganya berdenging dan pengelihatan menggelap.


Prang!


Carissa tersungkur kelantai bersamaan dengan gelas yang jatuh dari genggaman.



"Carissa! Kamu kenapa, Sayang!"



"Ica, sadar, Nak. Ica, Sayang."



Samar-samar Carissa masih dapat mendengar suara Bunda. Dia ingin menjawab '*Its Okay, Bunda. Ica baik-baik saja*.' tetapi hanya sampai di dalam hati. Suara tangisan Bunda membuat Carissa menitikkan air mata sampai dia kehilangan kesadaran.


...***...


Bunda dengan setia menemani Carissa sambil menggenggam tangannya.



"Aaa ..." suara lemah Carissa. Dia berusaha membuka kedua matanya.



"Carissa ..." lirih Bunda, mencium punggung tangan Carissa.



"Carissa ... bagian mana yang sakit, Nak?"



Carissa melirik pelan pemilik suara familiar. Ternyata di dalam kamar tidak hanya ada dia dan Bunda. Namun Arya dan Tante Anggia—Mama Arya sedang berdiri dengan raut khawatir.



"Tante," ucap Carissa pelan.



Carissa mengingat jelas apa yang terjadi padanya saat di dapur. Dia juga yakin jika Bunda yang memanggil Tante Anggia ke rumah untuk memeriksanya, meskipun Tante Anggia seorang Dokter Kandungan.



"Apa yang kamu rasakan sekarang?" Tante Anggia mendekat ke Carissa. Dia melakukan pengecekan menggunakan *stetoskop*.



"Icha rasa kecapean aja, Tante," jawab Carissa sambil melirik Arya.



"Pasti kamu banyak kegiatan sekolah." Tante Anggia merapikan anak rambut Carissa. "Tante ngerti kamu sudah kelas dua belas SMA dan bentar lagi ujian kelulusan. Walaupun begitu, kamu tetap harus istirahat yang cukup, makan teratur, dan jaga kesehatan." Nasehat dan senyum Tante Anggia sangat tulus.




Arya mendekati Carissa dan duduk di sisi ranjang samping Carissa. Dia memperhatikan wajah pucat Carissa dengan tatapan yang tidak bisa di artikan.



"Kamu baik-baik aja? Apa gak sebaiknya ke rumah sakit?" tanya Arya pelan.



Carissa menggeleng. "Menurut Bang Arya?! Tentu saja tidak baik. Tapi gak harus sampai ke rumah sakit," jawab Carissa, "Ini gara-gara Bang Arya jadikan Carissa pembantu!" Carissa memiringkan badan membelakangi Arya.



Arya menyentuh pundak Carissa. "Maafin Abang, Cha. Abang bakal tebus dengan apapun yang kamu mau." Arya mencoba negosiasi. Perasaannya saat ini diliputi rasa bersalah.



"Arya."



Carissa mendengus pelan dan memejamkan mata saat mendengar Erika masuk ke kamarnya.



"Ica udah tidur, ya?" tanya Erika pelan.



"Baru aja tidur," sahut Arya, menggeser duduknya.



"Oh gitu. Tadi Bunda nelpon kalau Ica tiba-tiba pingsan." Erika duduk yang ditempati Arya tadi. "Ica kenapa? Dia baik-baik aja, kan?"



"Ica baik-baik aja, kamu gak perlu khawatir."



Erika membenarkan selimut Carissa. Lalu meletakkan boneka kucing besar di depan Carissa. Boneka itu selalu Carissa peluk untuk menemani tidurnya.



"Akhir-akhir ini kita jarang bersama. Aku kangen kamu Arya," ucap Erika, sangat lembut.



"Aku juga kangen banget sama *Cutie Pie*."



Carissa melirik dengan ekor mata, pasangan itu tengah berpelukan di belakangnya. Terlintas pikiran jahat untuk mengakhiri pelukan mereka, lalu menyunggingkan senyum.



"A." Carissa langsung membekap mulutnya menggunakan tangan.



Rencana Carissa untuk pura-pura bersin terhenti oleh aksi pasangan yang sedang bercumbu mesra. Dia dapat melihat jelas dari ekor matanya.



Tangan Arya menahan tengkuk Erika dan tangan Erika melingkari leher Arya. Ciuman yang begitu lama dan semakin panas. Membuat hati dan otak Carissa ikut terbakar.



"Kita gak bisa lanjutin di sini. Bahaya kalau tiba-tiba Carissa bangun atau bunda masuk ke sini," ucap Erika dengan nafas tersengal.



"Ke kamar aku aja," sambung Erika.



"Terserah kamu, Sayang." Suara Arya terdengar nyelekit di telinga Carissa.



Carissa berbalik badan setelah terdengar suara pintu ditutup. Air matanya melesat semakin cepat. Dia menutup rapat mulut agar tidak mengeluarkan suara.



*Setiap luka pasti terasa sakit, jadi wajar saja jika kita menangis karena tidak mampu menahannya*.



Malam semakin larut dan sunyi. Carissa masih betah di halaman samping rumah, duduk memandang langit yang hambar.



"Kenapa masih di luar?"



"Udaranya dingin, Cha, masuk sana istirahat. Kamu juga lagi sakit."



Carissa hanya diam tanpa menanggapi sedikitpun kehadiran Arya.



"Ngeliatin apa, sih, Cha serius banget." Arya duduk di samping Carissa dan melihat ke atas.



"Langit nya mendung jadi gak kelihatan apa-apa," kata Arya yang masih mengamati langit.



Karena tidak ada respon dan juga khawatir, Arya mencoba mengguncang pelan bahu Carissa. "Ica ..." panggil Arya pelan dan lembut.



Arya sedikit terkejut karena Carissa menepis tangannya dengan kuat.



"Carissa mau sendiri," kata Carissa, dingin.



Arya menunduk dan memaklumi sikap Carissa yang kesal padanya. "Abang minta maaf soal di kantor," sahut Arya, "Kamu mau apa? Barang, uang, atau Abang traktir makan kesukaan kamu sepuasnya, atau apa, em?" Menatap Carissa lembut.



"Carissa mau minta yang lain," jawab Carissa tanpa menatap.



"Boleh. Kamu mau apa? Bilang aja." Menunggu jawaban Carissa.



Carissa menatap Arya. "Carissa mau Bang Arya putus dengan Kak Erika!" jawab Carissa dengan cepat dan jelas.



"Abang butuh alasan Ica." Arya begitu tenang menanggapi permintaan Carissa.