About Carissa

About Carissa
Foto di Grup Rumpi Sekolah



Carissa baru pulang sekolah dan ingin segera beristirahat. Namun, pemandangan yang dia lihat justru membuat mood-nya semakin kacau.


'Sepertinya Arya sudah melupakan semua kejadian dua hari lalu. Lagian apa yang harus Carissa harapkan?!'


Erika dan Arya sedang duduk di ruang keluarga terlihat mesra. Mereka bahkan tidak menyadari kehadiran Carissa yang melintas di depan mereka.


Brak!


Tanpa sengaja Carissa menutup pintu kamar dengan keras. Dia yakin dua orang di luar sana pasti terkejut mendengarnya.


Rasa lapar Carissa seketika hilang begitu saja. Akhir-akhir ini dia sering bertemu Arya walau hanya bertatapan tanpa ngobrol seperti dulu.


Tok!


Tok!


Tok!


"Ca ... kamu gak makan?"


Menengok pintu yang tertutup rapat. "Nggak, Bun! Ica gak lapar!!"


"Masa sih, kamu gak lapar!?" heran Bunda


"Bunda masak makanan kesukaan kamu, loh ..." rayu Bunda, "Yakin gak mau makan?!"


"Nggak Bunda!" tolak Carissa dengan berat hati sambil memegang perut.


"Kalau gitu Bunda kasih Bombom aja!" Terdengar langkah kaki menjauh.


Mendengar nama Bombom membuat mood Carissa kembali.


"Enak aja kasih ke Bombom!" Menoleh ke pintu.


Bombom—Bulldog punya tetangga yang sering ia kerjain di samping rumah.


Carissa berjalan keluar sebelum Bunda memberi Bombom makanan kesukaannya. Dia masih menyimpan dendam pada Bombom karena telah membawa lari Dottie—boneka kucing kesayangannya.


'Sial! Kenapa mereka di sini juga!' umpat Carissa dalam hati.


Sudah berusaha menghindar, namun mereka malah dipertemukan di meja makan. Kali ini Dewi Keberuntungan tidak di pihak Carissa.


Adegan suap-suapan membuat Carissa mendidih seperti air yang di masak Mbok Astri di atas kompor. Cih ... mereka pasti sengaja melakukannya!


Belum lagi adegan Erika membersihkan bibir Arya dari saus. Lalu mengelus wajah tampan Arya yang memiliki rahang tegas.


Tiba-tiba Arya yang ketahuan di perhatikan, tersenyum pada Carissa. Membuat dia langsung mengalihkan perhatian agar tidak ketahuan kakaknya.


Napa, sih, Ca ngeliatin segitunya?! Kamu cemburu? Ya iyalah, cemburu. Arya first love nya Carissa, yang sayangnya hanya dapat dipendam sendiri.


Trang!


Bantingan sendok dan garpu milik Carissa mengingatkan mereka bahwa tempat dan waktu saat ini bukan hanya milik berdua.


Erika dan Arya menatap Carissa penuh tanya.


"Kenapa sih, Dek, dari tadi emosian mulu?" pertanyaan Erika justru membuat Carissa semakin kesal.


Gue gak suka ngeliat kalian mesra-mesraan di depan gue! Kira-kira begitu yang mau Carissa katakan.


Carissa meninggalkan meja makan tanpa menjawab pertanyaan Erika. Kalau pun dia menjawab pasti akan ada pertanyaan berikutnya, berikutnya, dan berikutnya. Bisa lama waktu yang dia habiskan bersama mereka.


"Ca." Carissa sengaja tidak merespon panggilan itu dengan pura-pura tidak mendengar karna fokus mencuci bekas alat makannya.


"Ica!" Panggilan berikutnya terdapat penekanan dari intonasi Arya. Carissa tahu persis Arya sedang berdiri di ambang pintu dapur.


Carissa berencana meninggalkan dapur. Namun, dengan gerakan cepat Arya menarik tangannya dan menyandarkan tubuhnya di pintu.


Sekarang kedua tangan kekar Arya mengurung Carissa. Membuat jantung gadis itu semakin tidak karuan. "Kenapa menghindar?" tanya Arya menatap mata Carissa.


Carissa menggeleng. "Dari siapa?" tanya Carissa balik.


"Abang." Arya memasang ekspresi wajah dingin.


Carissa tertawa pelan."Abang kenapa, sih?"


Arya menghela napas. "Kamu yang kenapa, Ca?! Apa gara-gara malam itu kamu jadi menghindar dari Abang?!"


"Carissa gak kenapa-kenapa juga gak menghindar dari Abang. Dan gak ada hubungannya sama malam itu, cuma perasaan Abang aja kali." Mendorong pelan dada Arya agar sedikit menjauh.


Tahu Carissa menolak Arya semakin memajukan badannya. "Kenapa gak pernah jawab panggilan dan balas pesan Abang?"


Carissa langsung tahu maksud Arya. Dia memang sengaja mengabaikan panggilan-panggilan dan pesan-pesan itu.


"Sengaja!! Ada masalah?!" ketus Carissa.


"Hush ... kalau ada yang dengar gimana!? kesal Carissa sambil memukul dada pria itu.


" Bagus! Abang jadi gak kepikiran kamu terus. Abang dihantui rasa bersalah, Cha!" Menghembuskan nafas berat.


"Pernikahan kami di undur sampai tiga bulan ke depan ..." lirih Arya yang mulai mengendorkan jarak mereka.


"Kenapa?" penasaran bercampur senang.


"Ada yang harus Abang pastikan!" ucap Arya serius.


"Soal apa?!" Carissa memiliki rasa curiga yang dimaksud Arya adalah tentang mereka malam itu. Perasaannya mulai tidak karuan.


"Kamu gak perlu tau!" Arya meninggalkan Carissa.


Carissa menggeleng dan mencekal pergelangan tangan Arya. "Jawab dulu!" tuntutnya.


"Bukan tentang kita." Tatapan Arya meredup.


Carissa melepaskan tangan Arya dan berlalu mendahului pria itu.


Tidak tahu kenapa perasaan Carissa sakit ketika Arya mengatakan bukan tentang mereka. Padahal dia sedikit berharap pria itu melakukan sesuatu mengenai mereka.


Ting!


(Pesan Arya: Mulai sekarang respon panggilan dan pesan Abang!)


Carissa menimbang ponsel di tangannya. Bingung antara membalas pesan Arya atau abaikan saja.


(Pesan Arya: Kalau nggak, Abang bakal bongkar rahasia tentang kita!)


Carissa membelalakkan mata membaca pesan terakhir Arya. Pria itu mengancamnya dengan sesuatu yang tidak bisa dia bantah.


(Membalas Arya: Tutup aja mulut Abang)


(Pesan Arya: Good Girl)


Sifat mengancam Arya tidak pernah berubah dari dulu. Dia selalu menggunakan rahasia-rahasia Carissa agar gadis itu nurut padanya.


Salah Carissa adalah terkadang menjadikan Arya sebagai tempat curahan hatinya.


Rahasia-rahasia Carissa sejak balita sampai dia lulus SMP (Sekolah Menengah Pertama) ada di tangan Arya. Pria yang selalu memberi nasehat dan solusi dari semua masalahnya.


Arya yang terpaut usia dua belas tahun dengan Carissa. Membuat dia nyaman berada di dekat pria yang sudah dia anggap seperti abang sendiri.


Ting!


Ting!


Ting!


Dering panggilan masuk ...


Baru saja ditinggal mandi sebentar ponsel Carissa sudah di penuhi oleh notifikasi dan panggilan tidak terjawab.


Carissa membuka pesan dari urutan paling atas.


(Pesan Amanda: Cha ini bukan Lo kan!?)


Amanda mengirim foto yang membuat dirinya hampir terkena serangan jantung.


(Balas Amanda: Dari mana Lo dapat?)


Suhu minus 23° tidak mempengaruhi Carissa yang keluar keringat, padahal dia baru saja mandi.


Harap-harap cemas dia menunggu balasan pesan dari sahabatnya.


(Pesan Amanda: Grup Rumpi Sekolah)


Deg!


Carissa memang tidak masuk ke dalam grup itu. Begitu juga dengan Amanda, kalau pun gadis itu tau pasti dia mendapat informasi dari Alex—pacar Amanda sekaligus admin kedua dari grup.


Grup Rumpi Sekolah merupakan grup yang menyajikan dan mengulik berita hangat tentang penghuni di SMA Harapan Bangsa. Tidak memandang murid, guru, satpam, tukang kebun bahkan pedagang di kantin.


Grup yang sudah aktif selama enam tahun dan telah dipegang oleh generasi tingkat ke dua.


Oh May God!!


Carissa meninju bantal di pangkuannya berkali-kali. Besok dia akan jadi pusat perhatian di sekolah menghadapi tatapan tajam dan kritikan pedas.


Performa Carissa sebagai siswi teladan hilang dalam sekejap karena sebuah foto.