About Carissa

About Carissa
ONS (One Night Stand)



Carissa duduk manis mendengarkan sesepuh dengan sangat khusuk. Sesekali mata dengan bulu mata cetar melirik sekilas pada Sweet Heart dan Cutie Pie yang dalam waktu dekat akan menikah.



"Ca..."



"Ica ..."



"Carissa!"



Wanita cantik setengah baya yang bagai putri kerajaan mencubit tangan Carissa.



"Adow!" Mengusap tangan. Rasanya lebih sakit dari sengatan tawon.



"Kamu, tuh, dari tadi cengengesan!" Setengah berbisik.



"Kenapa, sih, kamu?! Kesambet?!"



Carissa terkekeh pelan -- *ya, pelan, karena harus menjadi wanita anggun nan lembut di depan orang banyak*.



"Aing saha?!" linglung sambil melotot.



"Ica ...!" Cubitan maut mendarat lagi di paha kanan Carissa.



"Bercanda, Bunda!" Carissa memegang tangan bundanya.



"Serius! Ini acara penting Kakakmu!" Bunda mengultimatum.



"Iya-iya, ini serius." Carissa mendengus.



'*Ngapain, sih, serius-serius ntar cepat Tua*. *Tapi... Bunda, kan, memang sudah tua*.' Carissa membatin.



Carissa melirik Bunda sambil nyengir. Wajah kaku Bunda udah kayak kanebo kering karena menahan senyum sejak acara dimulai.



Kemudian beralih melihat Sweet Heart -- panggilan sayang kakaknya untuk sang kekasih. Yang menurut Carissa Sweetheart lebih pantas dipanggil Sunshine. Tanpa sengaja, mata mereka bertemu, pria maskulin itu senyum padanya. *Sudah ketebak dong, Cutie Pie-nya siapa*?!



Satu jam kemudian, tanggal pernikahan telah ditentukan dengan dua pilihan waktu: pertama, bulan depan; kedua, minggu depan, dan mereka sepakat untuk minggu depan.



*Jika ada pertanyaan, kenapa terburu-buru?! Apa calonnya hamil?! Jawabannya, BIG NOO*!!



Alasan tepatnya, hanya mereka yang tahu. Padahal, mempersiapkan pernikahan membutuhkan waktu dan tenaga ekstra.



Carissa meninggalkan ruang keluarga dikala semua anggota keluarga berkumpul, dengan alasan tidak enak badan. *Alasan klasik*.



Di dalam kamar, Carissa melampiaskan emosi dengan melempar berbagai barang. Relung di dada dipenuhi rasa kecewa. Pria yang dia cinta selama belasan tahun hanya menjadi angannya saja.



'*SIAL! Kenapa sesakit ini*?!' umpat Carissa tertahan.



Rasanya lebih sakit dari kecelakaan dua tahun silam yang membuat Carissa mendapat tujuh jahitan pada dahinya tanpa meninggalkan bekas.



Carissa memukul-mukul dadanya, berharap rasa sakit segera berangsur hilang. Namun, sebaliknya, sakit semakin bertambah hingga membuat dia sesak napas.



Beruntung otak Carissa dapat bekerja normal dan memberi dia perintah untuk mengambil obat dari dalam laci. Tiga butir obat dengan warna dan ukuran berbeda langsung ditelan sekaligus tanpa air.



Perlahan tubuh Carissa merosot ke lantai putih dengan corak coklat. Dia duduk meringkuk, menenggelamkan wajahnya pada kedua lutut yang ditekuk. Tidak perduli dingin nya suhu kamar yang menusuk hingga ke tulang.



Yang Carissa inginkan sekarang hanya menangis sejadi-jadinya tanpa suara agar tidak ada yang mendengar. *Sangat menyedihkan, bukan*!? Juga, berteriak sekencang-kencangnya melepas beban yang tertinggal.


'I want nobody, nobody but you.'


'I want nobody, nobody, nobody, nobody.'


(Lagu dari Wonder Girls—"Nobody") menjadi nada dering ponsel Carissa.


Carissa mendongakkan kepala, mencari sumber suara yang ternyata ada di atas meja tempat dia bersandar. Terukir nama Amanda—Best Friend Forever-nya sejak SMP (Sekolah Menengah Pertama).



"Manda...!!" rengeknya begitu telpon tersambung.



"*Lo kenapa, Ca*?" nada khawatir dari sebrang telepon.



Carissa menjelaskan panjang lebar tentang kejadian hari ini.



"*Yang sabar, ya*, *Ca*!?" Amanda sangat memahami perasaaan sahabatnya.



"Gue mau menghilang aja dari sini, Nda!" Nangis sesenggukan.



"*Gimana kalau kita ke club? Lo bisa meluapkan semua emosi Lo di sana*!"



"Oke! Kita ketemu di tempat biasa." Menarik air di hidungnya.


Club.


Sudah dua jam lebih Carissa menunggu, namun sahabatnya belum juga menampakkan batang hidungnya. Bahkan nomor gadis itu tidak bisa dihubungi. Terpaksa dia menghabiskan sebotol alkohol sendirian.



Minuman beralkohol membuat kepala Carissa sangat pusing. Dia memutuskan pergi dari tempat terkutuk ini. Apalagi pria-pria bertampang *mesum* mulai mendekatinya.



"Sendiri saja, nih, Cantik? Abang temenin mau, ya?"



"Sini sama Om, aja!"



"Cantik gini sayang banget didiemin!"



"Ikut Abang, yuk!"



"Tarif semalam berapa?!"



Carissa berdiri sempoyongan, berniat menghindari para *bedebah* itu. Namun, pria-pria *bajingan* itu lebih dulu menghalangi jalannya.



"Mau kemana sih buru-buru!?" Salah satu dari mereka merentangkan tangan.



"Awas lo, ya! Jangan macam-macam sama gue!" Ancam Carissa.



"Minum dulu sini, Abang traktir. Sekalian abang antar pulang."



"Pergi kalian semua!! Brengsek!!" Mengayunkan tas ke depan, ke samping, lalu ke belakang.



Ha ha ha! *bedebah* itu malah tertawa melihat tingkah Carissa.



"Mm ...." Carissa menutup mulutnya rapat, ketika satu dari pria itu mencekoki nya sesuatu.



Walaupun berusaha menahan, namun ada saja air yang lolos melewati kerongkongan Carissa. Apalagi, kedua pipinya dicengkeram hingga meninggalkan bekas dan rasa nyeri.



*Kurang ajar*!



Dua pria menyeret Carissa melewati sebuah lorong yang memiliki banyak pintu dengan nomor berurutan di sisi kanan dan kiri.



*Persetan dengan pintu*. Carissa berusaha lepas dari dua pria kejam yang membawanya entah kemana. Dengan sisa-sisa tenaga dia memberontak.



Ketika dia sudah tidak berdaya, menyerah dengan keadaan dan pasrah pada takdir . Tiba-tiba ...


Bug!


Bug!


Bug!


Terdengar dentuman seperti benda yang dihantam. Juga suara bariton pria yang memekakkan telinga memberi peringatan. Carissa tidak dapat melihat jelas dengan jelas karena pengelihatannya memburam.



Tidak lama Carissa merasa tubuhnya terangkat dan melayang di udara. Tercium aroma maskulin bercampur bau alkohol yang menyengat. Yang pasti bukan bau *menjijikan* pria-pria *brengsek* tadi.



"Huh ..." lenguhan spontan keluar dari mulut Carissa.



Carissa merasakan gerah dan panas yang tidak biasa. Sesuatu dalam dirinya memberontak ingin melakukan suatu hal dilarang.



"*Please... help me*!" Berharap pria itu dapat menolong atau memberi solusi.



Carissa melingkarkan tangan pada leher pria yang menggendongnya. Sesekali dia mengeluarkan suara de sa han tanpa dapat dia kontrol. *Oh, \*\*\*\*! Apa yang terjadi*?!



Pria itu meletakkan tubuh Carissa di atas ranjang yang lumayan empuk.



Rasa panas tidak tertahankan membuat Carissa ingin menanggalkan satu persatu pakaiannya.



"*No*! Tahan sebentar lagi!" Interupsi pria itu sambil memegang tangan Carissa.


Sialnya sentuhan itu membuat Carissa menginginkan yang lebih.


Carissa menarik tangan pria itu agar mendekat.



"*Touch Me*!" bisik Carissa menggoda.



Dengan berani Carissa mengecup bibir pria didepannya. Lalu menggerayangi tubuh pria itu dengan agresif. Dia tidak dapat berpikiran jernih lagi. Hasrat yang memuncak harus segera tersalurkan.



Carissa tertidur pulas setelah mendapat apa yang dia inginkan. Tubuh polosnya ditutup selimut tebal oleh pria yang menjadi partnernya.



Pria itu berdiri termenung di balkon kamar, sambil sesekali menghisap rokok elektronik. Pandangan nya buram tertutup oleh air mata yang menggenang.



"Maafin abang Cha ..." lirih pria itu meneteskan air mata.



Pria itu sangat mengenal gadis yang baru saja dia renggut kesuciannya. Gadis baik, lembut, ceria, penyayang, dan penurut. Gadis kecil yang dulu sering dia ajak bermain, jajan atau jalan-jalan ke taman. Gadis yang sudah dia anggap adik sendiri selama lima belas tahun ini.