
Suasana hening menemani sarapan pagi ini. Carissa yang biasanya rewel dengan menu sarapan, hari ini dia memakan apa yang sudah tersedia.
"Tumben Ica gak protes soal sarapan?" tanya Bunda memperhatikan Carissa.
"Memang lagi kepengen nasi goreng aja, Bun." Sambil mengaduk nasi dalam piring yang masih utuh.
"Kata nya kepengen, tapi kenapa cuma di liatin sama di aduk-aduk doang ... itu bukan bubur, Ca!" tegur Bunda.
Erika melirik adiknya sambil menyunggingkan senyum. "Jangan di godain, Bunda ... Ica masih datang bulan," timpal Erika, terkekeh.
Carissa melirik sinis ke Erika. "Sok tau banget, sih!" Tanpa berpamitan dia meninggalkan dapur dan seisinya.
Bunda dan Erika tercengang menatap Carissa penuh keheranan. Akhir-akhir ini sikap Carissa berbeda. Seperti; hanya keluar kamar seperlunya, jarang mengobrol, mudah tersinggung, dan emosional.
"Gak usah dipikirin, Bun. Anak seusia Carissa memang seperti itu." Erika mengusap lembut tangan Bunda.
Bunda mengangguk dan tersenyum pada Erika. Dia percaya apa yang Erika katakan. Karena diusia Erika yang empat tahun di atas Carissa, pastinya Erika sudah melalui masa-masa seperti itu.
...****...
Carissa masuk ke dalam cafe yang tidak jauh dari rumah. Dia mengambil tempat di paling belakang karena tertutup dan yang pasti tidak terlihat dari luar.
Sebelumnya, Carissa sudah mengganti seragam dengan *hoodie* dan celana panjang. Jadi tidak ada yang curiga atau memperhatikan dia.
"Permisi Kak, ini menu kami untuk hari ini." Seorang pegawai cafe memberinya selembar kertas.
"*Tuna Melt Sandwich* sama *Milk Tea*. Makasih," ucap Carissa sopan.
"Terimakasih, Kak. Segera datang!" Pegawai cafe kembali pada tempatnya.
Sudah tiga Carissa mengunjungi cafe ini berturut-turut. Menghabiskan masa skorsing yang dia dapatkan, akibat rumor tentangnya. *Semoga saja rumor tentangnya tidak sampai keluar sekolah*.
Beruntung cafe ini selalu buka di jam sarapan hingga tengah malam, jadi Carissa tidak perlu luntang-lantung tanpa arah tujuan.
"Pesanan, *Tuna Melt Sandwich and Milk Tea*. Silakan dinikmati, Kak." Pegawai menata pesanan Carissa di meja.
Aroma tuna dan keju yang meleleh menggelitik penciuman Carissa. Tiga hari berturut-turut dia selalu memesan menu yang sama, karena sudah jatuh cinta dengan makanan ini.
Tanpa menunggu lama Carissa langsung menyantap makanannya. Lelehan tuna bercampur keju dan bahan lainnya membuat dia melebarkan mata. Sepertinya mood nya bakalan balik setelah memakan ini.
Alasan Carissa menyukai cafe ini karena bangunannya yang sederhana dan tidak terlalu ramai pengunjung, kecuali hari-hari tertentu. Membuat dia merasa lebih nyaman.
Carissa menyandarkan kepala ke tembok sambil mendengarkan musik menggunakan *headset*. Alunan musik dan suasana cafe membuat dia mengantuk.
Beberapa kali Carissa menguap dan hampir tertidur sampai seseorang menarik *headset* nya. Dia membuka mata karena terkejut dengan aksi orang yang sudah mengganggunya.
Rasa ngantuk Carissa hilang dalam sekejap, namun malah membuat dadanya berdebar dan sakit kepala. Seseorang yang menarik kursi dan duduk tanpa permisi di depan Carissa berekspresi datar.
Carissa menegakkan posisinya tanpa tersenyum sedikitpun. Menatap balik pria di depannya seperti menantang.
"Kamu bolos?" tanya Arya dingin.
Carissa merespon dengan gelengan dan mengalihkan pandangan ke arah meja di sebelahnya. Dia tidak menyangka bertemu orang yang dia kenal di cafe ini. Untung saja bukan Ayah, Bunda, atau Erika yang menemukannya.
"Kalau gak bolos kenapa di sini?" pertanyaan itu lebih seperti menuduh.
"Bukan urusan Bang Arya!" ketus Carissa.
"Kamu sudah bohongin Bunda kamu dengan pura-pura pergi ke sekolah." Ada nada kesal dalam bicara Arya, "Erika bilang sikap kamu berubah dan itu membuat Bunda kamu kepikiran."
Carissa menatap tajam Arya, namun hanya beberapa detik. Setelah itu dia memainkan ponselnya mengabaikan. Arya.
"Kamu kenapa, Ca?" Suara Arya berubah lembut.
"Kalau ada masalah cerita sama orang rumah atau ke Abang." Tidak perduli Carissa mengabaikan dirinya.
Arya mendengus pelan dan menggeleng. Percuma dia berbicara dengan Carissa di saat seperti ini. Yang ada Carissa justru semakin marah padanya, tanpa tau kesalahannya apa.
"Mbak! Mau pesan!" Arya memanggil pegawai cafe.
Pegawai itu langsung mendatangi Arya dengan membawa lembar menu.
"*Sandwich Telur* *and Caffe Latte*," ucap Arya begitu melihat list menu, "Kamu pesan apa, Ca?" tanya Arya sambil menengok ke Carissa yang masih memainkan ponselnya. Entah apa yang sedang dia lakukan.
"Sudah makan," jawab Carissa tanpa beralih pandangan.
"Tambah *Churros* sama *Orange Juice*, ya, Mbak." Arya tersenyum ramah pada pegawai cafe.
Carissa melirik Arya yang memesan *snack* kesukaannya.
"Baik, Pak. Pesanan anda segera datang," ucap pegawai cafe dengan ramah.
(**Pesan Erika: Sweet Heart, sedang apa**?)
Arya mengambil foto *selfie* memperlihatkan suasana cafe.
(**Balas Erika**: ***Send*** \*\*\*\*Picture\*\*\*\*)
(**Pesan Erika: Itu Cafe yang gak jauh dari rumah, kan**?)
(**Balas Erika: Benar Cutie Pie**.)
"*Sandwich Telur* dan *Caffe Latte, Churros* dan *Orange Juice*, silahkan dinikmati." Pegawai wanita tersenyum ramah sebelum meninggalkan meja mereka.
"Ca, makan dulu sebelum dingin."
"Carissa sudah bilang kalau udah makan. Kenapa di pesankan!?" protes Carissa. Baru saja Arya mau menggigit *Sandwich* miliknya.
"Makan aja, Ca. Nggak enak makan sendirian." Arya meletakkan kembali *Sandwich* demi meladeni Carissa.
"Kalau gitu Carissa pergi aja!" Beranjak dari tempatnya.
"Ca, mau kemana kamu!?" Mulai kesal melihat kelakuan Carissa.
Carissa berjalan ke meja kasir untuk melakukan transaksi pesanan yang belum dia lakukan.
"Punya saya yang tadi berapa, Mbak?"
"Masukan di *bill* saya aja, Mbak, punya dia," sahut Arya yang sudah berdiri di samping Carissa.
"Oh. Total semuanya seratus tiga puluh lima ribu, Pak."
Arya mengeluarkan dua lembar uang berwarna merah, dan menunggu transaksi selesai sambil memperhatikan Carissa yang meninggalkannya.
"Carissa!" sentak Arya sambil berlari kecil mencapai Carissa.
Arya langsung saja mencekal lengan Carissa begitu dia dapat menggapainya. Tanpa mengatakan apapun dia menarik Carissa menuju mobilnya yang terparkir.
"Bang Arya. Lepasin tangan Carissa!" Arya mengeratkan pegangannya ketika Carissa sedikit memberontak.
"Masuk," ucap Arya setelah membuka pintu mobil.
"Mau kemana?" tanya Carissa mulai khawatir.
"Pulang. Mau kemana lagi?" jawab Arya dingin.
"Abang pulang aja sendiri. Carissa belum mau pulang!" tolak Carissa.
"Terus kamu mau ngapain? Keliaran di jalan gak jelas!" intonasi Arya meningkat.
"Bukan urusan Abang!" bentak Carissa.
"Abang kasihan sama Bunda kamu, punya anak pembangkang, keras kepala, dan pembohong kaya kamu!!" ketus Arya sambil menunjuk wajah Carissa.
Arya memaksa masuk Carissa ke dalam mobil, yang ternyata tidak mudah karena Carissa melakukan perlawanan. Terpaksa Arya menggendong Carissa lalu mendudukkannya di kursi.
Arya memacu mobilnya meninggalkan cafe. Melewati jalan yang akan membawa mereka sampai ke rumah. Kebetulan rumah mereka bersebelahan.
"Turunin Ica di sini!"
"Abang sudah bilang di rumah."
Karena Carissa, Arya tidak sempat mencicipi makanan dan minumannya. Dia meninggalkan sarapannya yang masih mengepulkan asap untuk mengejar Carissa.
"Carissa bilang Stop!!" teriak Carissa.
Arya mencengkram setir karena kesal dengan Carissa yang berteriak terus memaksa turun.
"Kamu mau ketemu pacar kamu sampe bela-belain bolos sekolah dan gak mau pulang ke rumah?! Keterlaluan kamu, Chat!!" Bentak Arya yang sudah diselimuti amarah.
Carissa terdiam akibat syok, suara Arya berdentum keras di dadanya. Dia berusaha mengatur nafasnya.
'*Please Carissa jangan kambuh*!!' batin Carissa.
"Ca-rissa di s-skors," lirih Carissa terbata dan berurai air mata.
Setelah mendengar Carissa, Arya memelankan laju mobilnya.