About Carissa

About Carissa
Jalan Bareng Arya



Carissa berjalan pelan melewati koridor sekolah yang masih sepi. Dia sengaja datang sangat pagi untuk menghindari keramaian.



Bel jam istirahat berbunyi lima menit lalu, namun Carissa enggan untuk keluar. Dia teringat kritikan murid-murid yang menyudutkan dirinya atau tatapan tajam mereka.



"Ca, buat Lo," Carissa terkejut dengan kedatangan Felix tiba-tiba.


Felix—cowok yang menyukai Carissa sejak kelas sepuluh.


Carissa menerima roti isi dan susu kotak rasa vanilla dari Felix dengan senang hati. Kebetulan dia juga sedang lapar karena meninggalkan sarapan.



"Gak usak dipikirin! Itu sudah biasa. Masih banyak kok yang kayak Lo, cuman gak ketahuan aja." Felix menduduki meja di sebelah Carissa.



Carissa menoleh ke Felix. "Maksudnya?!"



"Gosip tentang Lo." Felix tersenyum manis.



Carissa mengangguk. Ternyata Felix juga sudah tahu gosip hari ini. Berita tentang dirinya sangat cepat tersebar dari mulut ke mulut, dan tentu nya dari murid-murid yang bertukar informasi melalui chat.



"Mereka yang mengkritik Lo belum tentu baik dari Lo," hibur Felix sambil mengusap punggung Carissa.



"Thanks, ya, cuman Lo yang gak komentar negatif ke gue." Carissa merasa terharu pada kebaikan Felix.



"Gue selalu melihat Lo positif." Felix tertawa pelan.


Lo salah Felix.


"Soal foto Lo di *club* gue sudah minta admin untuk menghapusnya." Felix salah satu anggota grup.



Carissa mengangguk. Segitu baiknya Felix pada dirinya. Padahal dia sudah menolak perasaan Felix berkali-kali.



Entah siapa yang mengambil foto Carissa di *club* malam saat itu. Foto yang memperlihatkan dirinya sedang meneguk minuman beralkohol.



"Em ... Lo tau siapa pengirim foto gue?" tanya Carissa penasaran.



"Seseorang tanpa nama. Tidak ada yang tahu siapa pengirimnya karena dia pakai nomor baru dan ngirimnya pun melalui chat pribadi," jelas Felix, "Lo tau, kan, Grup Rumpi Sekolah tugasnya apa? Makanya mereka masukan foto Lo di Grup untuk dijadikan bahan Mereka."



"Tetap saja mereka menyalahkan foto gue tanpa seizin dari gue," Carissa menggerutu.



"Itu jawaban dari pertanyaan gue yang tadi. Memang Lo bakal ngizinin seandainya mereka meminta izin?! Nggak, kan!"



Carissa menggeleng lalu mendengus kesal. Mau marah atau melabrak tetap saja dia yang salah. Lagian dia tidak tahu pemegang grup sebenarnya. Hanya sebatas tahu kalau Alex admin kedua grup, karena semua dirahasiakan.


...***...


Carissa berjalan lesu sambil tertunduk. Bahkan dia lupa mengucapkan salam sebelum masuk.



"Ca ... kenapa kamu?" tanya Bunda yang duduk di ruang keluarga ditemani Arya.


Lagi-lagi dia!


"Gak kenapa-kenapa, Bun!" Berhenti sebentar lalu lanjut jalan lagi.



"Kamu temenin Bang Arya dulu, ya? Bunda mau pergi arisan."



Carissa menghentikan langkah menatap Bundanya. "Kemana Kak Erika?" tanyanya dengan sinis.



"Masih di toko." Bunda berpamitan pada Arya.



"Bunda pergi dulu, ya, Ca ... jangan lupa makan!" Melenggang pergi tanpa menunggu jawaban dari Carissa.



Hanya tinggal Carissa yang masih mengenakan seragam dan Arya yang duduk di sofa sambil memainkan ponselnya.



Carissa menghembuskan nafas kasar. "Merepotkan saja," cibirnya.



Masuk ke kamar meninggalkan Arya sendiri. Lagian rasa nya pasti canggung jika dia hanya berdua dengan Arya. Apalagi tidak ada siapapun di rumah, karena Ayah Carissa masih di luar kota dan Mbok Astri lagi cuti.


Tok! Tok! Tok!


Carissa sempat melirik sebentar ke arah pintu, namun enggan membukanya.



"Ca, keluar!"



"Bodo amat ... pulang aja sana," ucap Carissa pelan agar tidak kedengaran.



"Abang bilang ke Tante kalau kita—"



Carissa spontan langsung membuka pintu kamarnya. "Kita apa!?" desaknya.



"Kita mau jalan-jalan," jawab Arya sumringah.



Arya tertawa kecil melihat kepanikan Carissa. Dia sudah tahu apa yang ada dalam pikiran gadis di depannya.



"Abang gak ada ngomong yang lain-lain, kan?" tanya Carissa, dingin.



"Nggak, Ca!" jawab Arya lembut.



"Kirain ..." lirih Carissa sebel.




Carissa menggeleng cepat sambil melotot. "Jangan coba-coba!" Mengepalkan tangan di depan wajah Arya.



Arya menangkap kepalan tangan Carissa dengan telapak tangannya yang lebar. Sampai bisa membungkus seluruh kepalan tangan Carissa yang masih saja melotot padanya.



"Padahal Abang berharap kamu menginginkan Abang mengatakannya," bisik Arya setengah membungkuk agar sampai ke telinga Carissa.



Carissa merinding saat Arya berbisik di telinganya. Hembusan nafas Arya menyapu leher dan tengkuknya. Dengan cepat Carissa mendorong tubuh Arya tapi tidak berhasil.



"Ica mau tidur! Jadi mendingan sekarang Abang keluar!" sentak Carissa.



Arya menegakkan tubuh lalu menghembuskan nafas pelan. "Padahal Abang mau bawa kamu jalan-jalan."



Carissa mendongak. "Kenapa gak ajak Kak Erika aja, tunangan Kakak?"



"Kalau dia mau, kita sudah jalan dari tadi." Menatap balik Arya.



"Erika bilang lagi sibuk ngurus butik. Memang dia gak cerita kalau butik mendiang mamanya hampir tutup? Makanya dia bakalan sibuk untuk kedepannya," jelas Arya tanpa diminta.



Carissa tidak mengacuhkan tentang butik Erika. Yang dia tangkap adalah waktu kebersamaan Erika dan Arya jadi berkurang. Tanpa rasa iba dia tersenyum.



"Jadi ... mau ikut Abang jalan-jalan?" tanya Arya saat melihat Carissa tersenyum.



Memasang ekspresi datar. "Ya ... lagian Ica juga lagi bosan dan stres banget!"



Arya tahu jika Carissa sedang memiliki masalah hanya dengan mendengar ucapannya barusan.



"Ya udah, Abang tunggu di depan." Arya mengusap kepala Carissa. Seperti yang biasa dia lakukan sejak dulu.



Carissa mematung menatap punggung gagah Arya yang terbalut *hoodie*. Kenapa rasanya dia tidak ingin jauh dari Arya. Dan hembusan nafas Arya tadi terngiang dalam ingatannya.


...***...


Arya melajukan mobil membelah jalan yang sepi. Sesekali dia melirik Carissa yang duduk di sebelahnya. Dia ikut tersenyum saat melihat Carissa senyam-senyum sambil menatap ponsel dalam genggamannya.



"Kamu punya pacar, Ca?" tanya Arya.



Carissa menoleh kaget. "Mau tau aja, sih, Bang!" Memasukkan ponselnya ke dalam tas.



"Kalau punya kenalin ke Abang." Melirik Carissa.



"Ngapain ngenalin ke Abang!?" ketus Carissa.



"Biar Abang bisa nilai pacar kamu baik buat kamu atau nggak." Masih dengan nada lembut walau Carissa membalasnya dengan ketus.



"Memang Abang siapa mau nilai pacar aku?!" Membuang muka ke arah jendela di samping.



"Ya, Abang kamu, lah!" jawab Arya enteng.



"Carissa gak punya saudara laki-laki!" Masih dengan nada ketus.



"Kan, Abang nanti jadi Abang ipar kamu." Menatap lurus kedepan.



"Tepatnya, sepupu ipar! Karena Kak Erika cuman Kakak sepupu Carissa!" Menatap Arya tidak suka.



Carissa menyentuh dadanya. Ucapan terakhir Arya membuat jantungnya terasa sakit, di ikuti nafas yang mulai sesak. Dia merasa seperti ikan yang terjebak di daratan.



"Akh ..." Carissa meremas baju depannya.



"Ca ... kamu baik-baik aja?" tanya Arya khawatir saat melihat Carissa meremas bajunya sambil meringis.



Arya menepikan mobil dipinggir jalan, membuka *seatbelt* miliknya, dan langsung mendekati Carissa yang memejamkan mata.



"Carissa ..." panggil Arya lembut.



Arya mengusap lembut pipi Carissa, tangan satunya menggenggam tangan Carissa yang cengkeramannya sangat kuat. Keringat dingin mulai keluar dari pori-pori Carissa.



Merasa ada yang tidak beres Arya kembali ke posisinya. "Kita ke rumah sakit sekarang!" Namun, gerakannya terhenti karena Carissa menahan tangannya.



Carissa menggeleng pelan ke arah Arya. "Tolong ambilkan obat dalam tas Ica," pintanya dengan suara lemah dan nafas tersengal.



Dengan cepat Arya melakukan apa yang di minta Carissa. Tiga butir obat sudah dalam genggamannya. Dia langsung membantu Carissa untuk menelan obat-obatan itu. Tidak tahu jenis obat-obatan apa, yang dia yakini Carissa tidak mungkin meracuni dirinya sendiri.



Banyak pertanyaan bermunculan dalam benak Arya. Namun, dia sadar ini bukan situasi yang tepat untuk bertanya. Sejenak dia menatap Carissa yang masih memejamkan mata.



Arya menghembuskan napas berat, menghempaskan punggung pada sandaran kursi. Lalu mengusap kasar wajahnya.