About Carissa

About Carissa
Its Okay & I am Okay!



Carissa duduk meringkuk di atas ranjang. Mencerna apa yang telah dia lewatkan semalam. Dia sangat syok terbangun tanpa busana dengan pria yang sangat dia kenal.


Bukannya mengurangi beban dia justru menambah beban pikiran dan keluarga. Semua yang terjadi semalam benar diluar kendalinya.


Terlintas potongan kecil peristiwa menjijikan dalam angan. Ketika Carissa menggerayangi tubuh Arya dan berlaku tak senonoh.


Oh My God!! Cobaan apa lagi ini? Tidak, ini bukan cobaan, tetapi kesalahan fatal yang dia perbuat!


Carissa nangis sesenggukan menyesali sesuatu yang tidak mungkin bisa kembali. Dia memukul-mukul kepalanya berkali-kali dengan dengan tangan terkepal.


"Stop, Ca!" Sentak Arya memegang tangan Carissa. Dia baru saja kembali dari membeli sarapan dan minuman untuk mereka.


"Lepasin tangan Ica!" tegasnya.


Carissa merapatkan selimut yang melilit tubuh agar tidak mudah merosot. Tidak ingin mengulang kesalahan untuk ke dua kalinya. Tangisannya pecah ketika Arya duduk di hadapannya.


"Maafin Abang, Ca ..." lirih Arya.


Carissa tidak bisa berkata-kata. Tenggorokan nya bagai tercekat, sulit untuk mengeluarkan suara. Sebenarnya dia ingin memaki-maki Arya bajingan. Atau menimpuk, menendang, mencekik, bahkan membunuhnya. Tapi, lagi-lagi dia bukan manusia sekejam itu. Palingan dia akan menyentil ginjal Arya, jika bisa.


"Abang akan bertanggung jawab!" kata Arya sebagai lelaki gentleman.


"Abang janji, Ca!" sambung pria gentleman.


'Nyatanya tidak semudah itu!' batin Carissa.


Carissa mendongak melihat Arya menundukkan kepala. Pria itu menangis hingga kedua bahunya berguncang dan terisak.


"Tolong beri Abang sedikit waktu untuk menyelesaikan masalah kita."


Carissa merasa iba padahal dia lebih mengenaskan mengusap pundak Arya.


"Its Okay!" ucap Carissa untuk menenangkan Arya.


Bukankah seharusnya dia yang mendengar kata itu dari seseorang?!


"Ini hanya kecelakaan." Jawaban bodoh dari seorang Carissa. Kecelakaan yang lukanya selalu membekas dalam diri sendiri.


Dan begonya Carissa malah menghibur Arya yang merenggut kesucian dan menghancurkan masa depannya.


Mentang-mentang Arya merupakan pria yang dia cinta sekaligus yang mencampakkannya.


Tidak! Bukan mencampakkan karena Carissa tidak pernah menyatakan perasaannya pada Arya!


"Ca, boleh Abang ngomong sesuatu?" tanya Arya perlahan.


Carissa mengangguk sebagai jawaban.


"Tolong rahasiakan ini sementara. Tunggu Abang sendiri yang akan bilang ke keluarga kita!" pinta Arya lembut. Masih tersisa air mata di sudut matanya.


"Abang akan mengatur semua secepatnya!" Mengusap rambut Carissa yang berantakan.


Dalam hati Carissa mengelak karena pernikahan Arya dan Erika—kakaknya akan dilakukan minggu depan.


Mereka berpikiran sama, akan ada yang tersakiti diantara mereka terutama keluarga.


Bagaimana perasaan Erika? Sudah pasti hancur seperti kaca yang pecah berkeping-keping dan tidak pernah bisa kembali seperti semula.


Mungkin Erika tidak akan menganggap Carissa sebagai adik lagi atau lebih parah nya namanya akan di coret dari Kartu Keluarga.


"Ica ..." panggil Arya.


Arya menaikkan sebelah alisnya menuntut jawaban.


Carissa menggeleng cepat. "Sampai kapan pun jangan beritahu tentang kejadian ini terutama Kak Erika!" tegasnya.


Arya mengerutkan kening mengisyaratkan kebingungan.


"Abang gak perlu melakukan apapun atau bertanggung jawab!" Menunduk karena tidak ingin Arya melihatnya.


"I'm Okay! Semua yang terjadi karena tidak sengaja. Tidak akan terjadi apa-apa!" Keluar isakan kecil dari mulut Carissa.


"Lupakan yang sudah terjadi hari ini dan berjalan seperti biasanya saja!" Air mata Carissa tidak bisa dibendung lagi.


"Carissa belum siap menikah. Carissa juga masih sekolah dan masih banyak yang mau Ica kejar." Sesenggukan tapi masih berusaha untuk bicara.


Kalau Arya pria lajang pasti jalannya berbeda!


Arya menangkup wajah Carissa dan mengusap air mata yang mengalir deras. Ini pertama kalinya dia melihat gadis kecil yang dulu sering dia timang-timang menangis di hadapannya setelah sekian lama.


"Maaf Carissa ... Maafin Abang!" Arya menyandarkan kepala Carissa ke dada bidangnya.


Samar-samar Arya dapat melihat tanda merah hasil buatannya pada leher dan pundak Carissa yang tertutup oleh selimut dan rambut.


Jemari lentik Arya menyisir rambut panjang Carissa. Mengusap punggung gadis itu dan mencium pucuk kepalanya.


Flashback.


Arya tidak sengaja melihat Carissa keluar melalui jendela kamar, padahal gadis itu bilang sedang sakit dan masuk kamar lebih dulu. Karena gerak-geriknya mencurigakan dia memutuskan mengikuti adik tunangannya.


Dia terkejut ketika Carissa menggunakan taxi berhenti di sebuah Club Malam, bukan club besar ternama. Rasa penasaran membawa Arya ikut masuk ke dalam.


Dari meja bartender Arya memantau Carissa yang duduk sendiri ditemani sebotol alkohol. Tampangnya sangat berantakan belum pernah dia melihat tetangga masa kecilnya seperti itu.


Yang Arya tahu Carissa gadis ceria dan gak neko-neko. Sejak kapan gadis itu ke club dan minum? pertanyaan dalam benak seorang Arya.


Dua jam berlalu. Tatapannya tidak pernah lepas dari Carissa yang mulai meracau tidak jelas. Tiba-tiba lima orang pria atau lebih menghampiri Carissa dan mengganggunya.


Arya masih dapat menahan diri karena Carissa mampu melakukan perlawanan. Namun dia mulai memanas ketika salah satu dari mereka memaksa Carissa meminum sesuatu yang terlihat tidak wajar. Seorang pria tertangkap mencampurkan sesuatu ke dalam minuman.


Ketika Arya mau menghampiri mereka, dua pria menarik Carissa secara paksa. Tidak ingin gegabah dan membuat keributan di keramaian dia menunggu hingga di tempat yang cukup sepi.


Tidak nyangka pria-pria itu berniat membawa Carissa ke sebuah kamar. Tau kejadian selanjutnya akan seperti apa. Arya langsung menghajar pria-pria itu dengan brutal dan tanpa ampun.


Membayangkan saja apa yang terjadi pada Carissa sudah membuat tenaga Arya semakin besar walau dia hanya seorang diri. Apa jadinya jika dia tidak mengikuti Carissa diam-diam.


"Jangan pernah muncul di hadapanku atau gadis itu lagi!!" bentaknya.


"Jika aku melihat kalian sekali lagi, aku gak akan segan menghabisi nyawa kalian!" Ancaman penuh amarah.


Arya langsung mengangkat tubuh lemas Carissa. Aroma alkohol menyeruak dari mulut Carissa yang meracau, gadis itu benar mabok.


Hanya dengan melihat kondisi Carissa, Arya tahu cairan apa yang pria brengsek itu berikan ke gadis itu. Cairan perangsang.


Karena tidak memungkinkan membawa Carissa pulang dengan kondisinya sekarang. Arya memutuskan menyewa kamar di hotel kecil bersebelahan dengan club.


Arya merebahkan Carissa di atas kasur sambil menutupi tubuh gadis itu menggunakan selimut. Gadis itu menjadi sangat agresif tidak terkendali dan terus berusaha melepas pakaiannya.


Arya meminta Carissa untuk bertahan selama dokter yang dia panggil masih dalam perjalanan. Sambil terus memikirkan solusi untuk gadis itu.


Sebagai pria normal tentu saja membuat Arya diambang frustasi. Apalagi melihat kondisi Carissa yang membuat nafsunya meningkat dan meracau meminta tolong padanya.


"Please ... Bantu aku! Ini menyiksaku." Suara Carissa diselingi de sa han.


Arya mengerang frustasi sambil memegang tangan Carissa yang berusaha melepas pakaian. Lalu terkejut karena gadis itu dengan cepat menarik tangannya dan mengecupnya brutal.