ABHINAYA SRIKANDI

ABHINAYA SRIKANDI
CHAPTER 7



Rhea : "aku harap kamu gak bakal seenaknya sendiri ndre, karena mungkin aku gak bisa nolongin kamu lagi"


Andre : "tenanglah re, rak perlu khawatir aku janji rak bakal aneh-aneh gawe bungahe awakmu re" (tenanglah re, gak perlu khawatir aku janji gak akan aneh-aneh demi kebahagiaanmu re) tersenyum kepada Rhea.


Rhea : "ora gawe aku tapi gawe awakmu karo Laras" (bukan untukku tapi untukmu dan Laras).


Melihat Andre yang begitu bahagia seperti tanpa ada rasa bersalah Rhea pun meninggalkannya bersama dengan Laras, Andre yang melihat kemarahan dan kekecewaan dari sikap Rhea hanya termenung menghiraukan obrolannya dengan Laras.


Laras : "kangmas.....kangmass ......" (kakak.....kakak....)"


Andre : "eh ha? pripun ra?


Laras : "kangmas ki lho nek dijak ngobrol karo aku mesti ra fokus, tapi nk dijak ngobrol mbak re semangat banget" (kakak ini kalau diajak ngobrol aku pasti gak fokus, tapi kalau diajak ngobrol kak re pasti semangat)


Andre : "ra ngono ra, yowes mas arep mulih sek pak maringke Iki" (gak gitu Ra, ya sudah kakak mau pulang dulu mau memberikan ini)


Laras : "hemm oke deh"


Andre : "assalamualaikum"


Laras : "waalaikumsalam"


Laras : "kenapa mas kenapa....."


Laras terus memandangi arah perginya Andre berfikir keras tentang perbedaan sikap yang ditunjukkan Andre untuknya dan kakaknya.


......................


Bunyi kenalpot motor menggelegar di penjuru malam menandakan pertandingan akan dimulai, semua peserta segera menempatkan motornya ke posisi masing-masing, bendera yang dikibarkan dan lampu yang berubah warna menjadi awal dari hiruk-pikuk di malam purnama ini.


Leon : "bro, kalem aja atau mereka bakal kalah"


Arsa : "ya bagus biar gue dapet semua hadiahnya"


Leon : "gak gitu, dasar jlamprong"


Arsa : "what did you say?"


Leon : "nggih kulo niki tiang jawi, mboten ngertos basa asing" (iya gue itu orang Jawa, gak paham bahasa asing)


Arsa : "wuuuu dasar tripala"


Leon : "hehehe"


Arsa : "tenang, Arjuna sangatlah pandai dalam hal taktik" tersenyum bangga


Leon : "hmm tapi tetep aja gak ada yang nandingin ketampanan Nakula" tersenyum bangga


Arsa : "sebagai adik yang baik dukunglah kakaknya"


Leon : "gak cuma Nakula ketiga saudaranya juga bakal dukung Arjuna"


Leon mencondongkan pandangan ke arah beberapa orang yang menuju ke arah mereka dari kegelapan, yang tak lain adalah ketiga saudara yang Leon sebut.


Mereka adalah Bima seperti namanya dia sangat besar dan kekar selayaknya Bima dalam pewayangan Jawa, lalu ada Yudia sesosok yang bijak, cerdas, amat penyabar, dan jujur selayaknya kakak dari empat saudara Pandawa yakni Yudhistira, dan terakhir ada Tara seorang mahasiswa farmasi yang selalu bergulat dengan obat-obatan, dia pinter sih tapi gue gak tau kenapa dia gak masuk kedokteran, tapi gue akuin dia cukup berguna selayaknya saudara Nakula yakni Sadewa.


...****************...


Oke ketiganya emang sesuai sama karakter mereka, masalahnya gue Leon sendiri kenapa jadi Nakula, gue akuin gue ganteng tapi kenapa peran Arjuna kasih ke Arsa gak cocok sama sekali ma dia, thor gue mau protes !!!!


Diem, lo ganggu gue cerita aja dah mending ikut semangati Arjuna aja, gue mau lanjut ni chapter biar cepet kelar.


...****************...


Bima : "oi jlamprong semangat, nk kalah titenono" (hei jlamprong semangat, kalau kalah tunggu saja nanti)


Arsa : "nggih kakang Brotoseno" (ya kakak Brotoseno)


Melihat percakapan kedua orang itu mereka yang melihat hanya bisa menahan tawa masing-masing.


Ke empat orang yang sedang ada didepan Arsa bukan hanya sesosok teman namun saudara baginya, oleh karenanya Arsa sering menganggap bahwa mereka berlima adalah saudara pandawa yang siap menegakkan kebaikan dan keadilan, ya walaupun agak lebay pelafalannya.


Pertandingan telah dimulai dan ya benar saja dugaan Leon, Arsa itu ganas jika tentang balapan apalagi motor dia gak mikir kanan kiri karena terlanjur fokus menang. Dan pada akhirnya Arsa mendapatkan juara pertama, Leon yang melihatnya hanya menggelengkan kepala sembari menepuk jidatnya.


Leon : "Lo itu apaan katanya gak demen uang tapi malah juara pertama"


Arsa : "ya, berarti gue gak bisa di kalahin dong simpel kan?"


Leon : "boten ngoten konsepipun permadi" menepuk jidat


Yudia : "sudah lah, mending itu lo tuker sama pemain lain lo juga gak butuh uang itu kan? mereka mungkin lebih butuh"


Arsa : "ni kek Yudi dong kasih solusi bukan ngolok-olok mulu"


Arsa akhirnya menghampiri sang juara 3 untuk menukar hadiah mereka sayangnya...


Juara 3 : "gak, ini eksklusif lebih berharga dari uang, gak bakal gue tuker"


Arsa : "gue tambahin kalau kurang"


Juara 3 : "gue gak bakal kepincut"


Leon yang mendengarnya tertawa terbahak-bahak mendengar apa yang dia bayangkan benar-benar terjadi.


Arsa : "diem lo tripala"


Arsa : "dengar, gue bakal kasih apa yang lo mau tapi buku itu buat gue!"


Juara 3 : "gue bilang gak ya gak, minggir gue mau pergi"


Leon : "mending uang itu lo simpen terus lo beli deh tu buku"


Arsa : "tu buku yang pertama kali dicetak, lo nyadar gak si seberapa berharganya tu buku?"


Leon : "gue tau tapi, lo gak bisa maksa orang buat apa yang lo mau !!"


Arsa yang mendengar perkataan Leon hanya bisa pasrah, dia dan ke empat sahabatnya akhirnya pulang, saat diperjalanan tiba-tiba Arsa melihat seorang wanita paruh baya tengah bertengkar dengan juara 3 yang dia temui tadi.


Wanita paruh baya : "kamu tau kan kita, butuh uang itu untuk biaya rumah sakit adik kamu, kenapa kamu justru keras kepala dan menolak menukar hadiahnya??"


Juara 3 : "maaf buk, tapi ini juga buku favorit ku buku inilah yang memotivasi semangatku selama ini"


Mendengar percakapan antara kedua orang tersebut Arsa segera mematikan mesin motornya dan tanpa ragu mendekati mereka.


Arsa : "maaf ibu, saya tadi tanpa sengaja mendengar percakapan kalian dan ini" menyodorkan amplop penuh uang


Arsa : "ini uang dari pertandingan tadi semoga uang ini bisa bermanfaat untuk anak ibu yang sedang dirawat, mohon diterima ya buk"


Juara 3 : "gak perlu kami gak perlu sumbangan dari anda"


Wanita paruh baya : "mending kamu diem"


Arsa : "dengar saya itu hidup berkecukupan uang ini sebenarnya bukan tujuan saya ikut perlombaan ini, jika dengan uang ini saya bisa membantu seseorang bukankah uang ini menjadi lebih berkah? jadi jangan menganggap ini sumbangan hanya saja saya menyalurkan ke tempat yang lebih tepat"


Wanita paruh baya : "den ini beneran?"


Arsa : "iya ibu, dan ya saya tidak akan memintamu untuk menukarkannya dengan buku itu jadi jangan risau, baiklah saya permisi dulu ya assalamualaikum"


Wanita paruh baya : "waalaikumsalam"


Arsa meninggalkan tempat itu saat ingin memakai helm dia dihentikan dengan ucapan seseorang..


# : "hei, tunggu"


Arsa : "kenapa?"


# : "ini bukunya, gue sadar harusnya gue gak egois"


Arsa : "Lo serius?"


Juara 3 : (menganggukkan kepala)


Arsa : "ya udah gue terima ya terimakasih juga buat bukunya"


Yudia : "hm nama lo siapa?"


Juara 3 : "Surya"


Tara : "Surya, lo mau gabung geng motor kita gak?"


Leon : "eh bro jangan asal asalan gitu dong"


Bima : "jlamprong setuju kayaknya, gimana bro?"


Arsa : (menganggukkan kepala) "menurut lo gimana yud?"


Yudia : (menganggukkan kepala)


Leon : "eh hei..."


Surya : (berfikir keras)


Arsa : "lo boleh pikir-pikir dulu, hubungi aja gue kalau tertarik" menyodorkan kartu nama


Surya menerima kartu nama tersebut, akankah dia bergabung dengan geng Arsa? akankah dia mengikat diri ke dalam kisah ini? malam yang dipenuhi sinar rembulan ini pada akhirnya menutup cerita hari ini.