
Bunyi lembaran kertas terbalik aroma tinta hitam yang mengalir melewati kalbu, disinilah Rhea berada di ruang kelasnya. Dia dan 4 orang temannya tengah bekerja keras menyelesaikan tugas mata kuliah yang diberikan guru killer mereka di hari senin yang menyibukkan ini.
# : "karena tugas ini memerlukan 5 orang narasumber maka tiap orang mengerjakan satu laporan, waktu pengerjaannya 2 minggu jadi kita bisa mengadakan pertemuan setiap 3 hari sekali untuk membahas perkembangan laporan masing-masing, gimana?"
#1 : "gue sih setuju setuju aja, mending lo bagi sekalian kasus-kasus nya!!"
# : " lo...,lo...,lo...,gue..., dan lo Rhea kasus tentang geng motor, kita selesaikan pertemuan kali ini dan lanjutan 3 hari lagi, pastikan kalian mencurahkan segala tenaga kalian untuk tugas kali ini, khususnya lo Rhea"
Rhea : "iyaaaa"
Rasa lelah menjalar ke tubuh Rhea, entah alam ingin memberi tanda apa hari ini Rhea begitu tertekan akan semua hal, matanya tertutup perlahan-lahan menandakan berakhirnya hari ini.
......................
Angin sepoi-sepoi menerbangkan rambut hitam legam seorang gadis yang meringkuk menahan tangisnya, suara lembut seseorang di belakangnya membuat air mata yang selama ini dia tahan mengalir dengan derasnya.
# : "menangislah sepuas mu sayang, aku akan mendengarnya jika semesta tidak bisa mengerti mungkin aku bisa memahami mu, aku harap setelah kau bangun dari mimpi ini senyuman dan kegembiraan akan terukir di wajah manismu ini"
Rhea : "hosh...hosh...hosh... siapa itu kenapa rasanya suara itu gak asing"
Rhea yang kebingungan karena mimpi anehnya mulai menenangkan dan mengatur nafasnya, morning... morning... jam kuku menyuarakan bunyinya menandakan pukul 6 tepat, Rhea bergegas ke kamar mandi dan bersiap untuk kuliah pagi nya.
# : "Assalamualaikum, mbah badhe mapag Rhea" (Assalamualaikum, kek mau jemput Rhea)
Simbah : "waalaikumsalam, duk diluru Andre cepet lho ora telat awakmu ta?" (waalaikumsalam, nak dicari Andre, cepet dong gak telat nanti kamu?)
Rhea : "nggih mbah, Rhea sampun damel sarapan mangkih simbah langsung dahar mawon, Rhea tindak rumiyen" (iya kek, Rhea sudah membuat sarapan nanti kakek langsung makan saja, Rhea berangkat dulu)
Simbah : "ati-ati, le jagake putuku ojo ngasi kegores saitik poho" ( hati-hati, nak jagain cucuku jangan sampai tergores sedikitpun)
Andre : "Andre nggih putunipun jenengan mbah" ( Andre juga cucumu kakek )
Rhea : "udah cepetan kangmas, Rhea telat ini"
Andre dengan motor klasiknya segera melesat kencang mengantarkan Rhea, Andre begitu menyayangi Rhea sebab umur mereka yang tidak terpaut jauh membuat keduanya saling terbuka, bahkan mungkin seperti pohon bambu yang tinggi bermimpi untuk menggapai matahari.
Nayla : "omo omo jinja? ini gak adil, lo harus ngadepin geng motor lagi re?"
Rhea : "mungkin"
Rhea yang lesu hanya termenung mencoba mencerna ucapan Zena, walaupun sebenarnya dia tidak ingin memikirkan nya.
Rhea : "gue gak tau, tapi tugas ini penting buat gue Zen"
Zena : "gue paham re, tapi gak harus sama dia kan? ntar kita bantuin lo deh, tapi lo gak boleh nekat"
Rhea : "thanks ya girls"
Bulu mata lentik mulai menutupkan kelopaknya, dengan angin berhembus menemaninya, pohon rindang yang siap memayunginya kapanpun, memberi ruang seorang gadis untuk mengistirahatkan pikirannya.
Rhea : "siapa itu, mata gue emang ketutup tapi tidak dengan kepekaan gue" ujar Rhea membenahi posisi tidurnya.
# : "dasar nenek lampir beraura campuran ya gini nih"
Rhea : "dan untuk apa seorang Arsa datang menemui nenek lampir ini, apakah dia ingin meminta mantra untuk memikat gadis?"
Arsa : "I've been pulling since childhood so, no need to bother " (gue udah menarik dari kecil jadi, tidak perlu repot-repot)
Rhea : "Alors tu dois vouloir te disputer avec moi !" (kalau begitu, kau pasti ingin berdebat denganku!)
Arsa : "lo itu google translate ya"
Rhea : "of course, that's my food every day" (tentu saja, itu makananku setiap hari)
Arsa yang mendengarnya hanya mencoba tersenyum, membersihkan rumput dan hendak duduk disebelah Rhea.
Rhea : "gak ada yang nyuruh lo duduk!!"
Arsa yang terkejut langsung melompat terpingkal pingkal.
Arsa : "bukan lo juga yang nanem, jadi siapapun berhak disini"
Rhea : "De hecho, pero hay muchos árboles aquí ¿verdad? Puedes elegir uno de ellos, no tiene que ser aquí". (memang, tapi ada begitu banyak pohon disini bukan? lo bisa pilih satu diantara mereka, tidak harus disini).
Mendengar perkataan Rhea yang seperti mesin penterjemah, Arsa hanya bisa menghela nafas panjang dan duduk dibawah pohon yang sama namun disisi yang berbeda dengan Rhea.
Kedua jiwa muda yang lelah itu pun mulai tertidur lelap dibawah langit biru yang membentang memijat otak mereka.